
Huang Mingxiang sedang menikmati buah anggur di dalam kamarnya sambil menunggu kepulangan Xiao Muqing. Semenjak kaki pria itu sembuh, dia kini menjadi pria yang super sibuk. Banyak sekali panggilan dari Istana, dia mulai aktif kembali di dunia politik Kekaisaran. Belum lagi pasukan Xiao Wangfu yang terus menerus disebut oleh para pejabat, pria itu benar-benar sangat sibuk. Pagi-pagi sekali sudah harus mengunjungi Istana, lalu kembali saat langit sudah tidak terlalu panas seperti di tengah-tengah siang hari.
Su Mama sedang sibuk di dapur, Huang Mingxiang sempat meminta ayam panggang buatan wanita tua hangat itu. Yui pun turut membantu, dia penasaran bagaimana cara membuatnya, karena memang rasanya yang sangat enak sekali. Sedangkan Baili Ruyi, wanita itu berjaga di depan pintu kamar Huang Mingxiang sambil membaca buku novel yang sedang sangat terkenal di Ibu Kota.
Tok ... Tok ....
Suara ketukan dari jendela terdengar, Huang Mingxiang menaikkan alis kirinya. Siapa yang berani mengetuk jendela seperti itu? Xiao Muqing? Tidak mungkin, pria itu tidak akan melakukan tindakan konyol seperti ini. Dan lagi, Xiao Muqing masih terbilang lama untuk kembali dari Istana.
Huang Mingxiang berdiri, kini dia sudah boleh berjalan dengan kakinya sendiri. Tidak seperti awal kali mereka turun dari gunung Lang Tao, Xiao Muqing benar-benar melarangnya melakukan gerakan yang tidak perlu dan menyuruhnya hanya fokus makan dan tidur.
Huang Mingxiang menarik tusuk rambut Phoenix miliknya, lalu meletakkan tangannya yang menggenggam tusuk rambut itu di belakang punggung. Berjaga-jaga, takut yang mengetuk adalah pembunuh. Saat ini Huang Mingxiang sudah tidak seperti dulu yang hanya bisa mengelak dan menangkis, dia sekarang sudah bisa menyerang balik bahkan membunuh. Kemampuannya meningkat pesat sejak kepergiannya menuju gunung Lang Tao.
Huang Mingxiang berdiri di samping jendela, lalu membuka pintu jendela dengan cepat dan kembali muncul di depan jendela sambil menghunuskan tusuk rambutnya. Seperti sebuah cahaya, sosok itu masuk dengan cepat.
"Reflek dan kemampuan Wangfei ternyata sudah sangat meningkat, ini pertama kalinya kita bertemu sejak saya memberikan kepingan kelopak bunga Gold God, bukan?" Suara merdu seorang pria terdengar, suara ini tidak asing. Huang Mingxiang segera berbalik dan matanya menangkap sosok Rong Wangxia.
Rong Wangxia tersenyum, angin yang masuk melalui jendela kini telah membuat rambut panjang peraknya berkibar. Sosoknya terlihat sangat indah, hanya kecantikan Utusan Agung lah yang dapat menyaingi wajah Rong Wangxia. Seluruh wanita di daratan ini bahkan kalau cantik oleh wajah mereka berdua.
"Tuan Muda Rong, anda tentu tahu apa hukumannya karena telah berani menyelinap ke--"
"Kamar seorang wanita yang sudah menikah? Kamar Xiao Wangfei? Ke dalam Xiao Wangfu?" Potong Rong Wangxia, ini pertama kalinya dia bertingkah semena-mena di hadapan Huang Mingxiang.
Huang Mingxiang bingung, sejak kapan Rong Wangxia bersikap seperti ini? Pria itu biasanya selalu menghormatinya dan tidak pernah memotong ucapannya. Tetapi ... hari ini dia terlihat berbeda.
Melihat raut wajah bingung bercampur kesal milik Huang Mingxiang, Rong Wangxia tersenyum. "Wangfei, saya kemari tidak bermaksud buruk. Saya ingin mengucapkan salam perpisahan dengan anda."
"Salam perpisahan?" tanya Huang Mingxiang.
__ADS_1
Rong Wangxia mengangguk. "Benar, salam perpisahan. Hari ini saya benar-benar akan pergi ke luar Kekaisaran menuju Kekaisaran Barat."
Huang Mingxiang tertegun. Secepat itukah? Seingatnya Rong Wangxia memiliki waktu setidaknya tiga bulan untuk berada di Kekaisaran, namun kini dia baru dua bulan di sini.
"Raut wajah anda itu ... bukan karena tidak rela melepas saya, bukan?" tanya Rong Wangxia, membuat Huang Mingxiang segera menormalkan raut wajahnya dan menatap Rong Wangxia kesal.
Rong Wangxia terkekeh, lalu membungkuk singkat. "Saya bercanda, Wangfei."
"Jika ingin mengucapkan salam perpisahan, bukankah anda bisa mendatangi pintu Xiao Wangfu dengan lebih resmi dan benar? Tindakan anda ini seperti pencuri!" ujar Huang Mingxiang, lalu kembali duduk di sofa-nya dan mengambil satu buah anggur dan mulai mengupas kulitnya.
Rong Wangxia mengikuti langkahnya, lalu menjawab,"Saya ingin mengucapkan salam perpisahan tanpa terikat dengan peraturan bangsawan dan keluarga Kekaisaran. Saya ingin mengucapkan perpisahan yang normal, seperti teman. Jika tidak bisa menjadi pasangan anda, bukankah ... berteman juga bukan sesuatu yang buruk?" Pria itu sekilas tersenyum pahit di akhir kalimatnya.
Huang Mingxiang tertegun, kemudian mengangguk singkat. "Tentu, dan ... aku ingin mengucapkan terima kasih lagi padamu." Huang Mingxiang lalu menyodorkan buah anggur yang sudah dia kupas kulitnya secara pribadi untuk Rong Wangxia.
Rong Wangxia tertegun, menatap anggur itu. Huang Mingxiang masih tersenyum, lalu mengatakan,"Di negara Barat, memberikan anggur dengan kulit yang sudah dikupas secara pribadi adalah bentuk penghormatan dan kasih sayang sebagai kerabat dekat, bukan?"
Rong Wangxia tersenyum, kali ini senyumannya terkesan lembut. Tidak jahil atau licik seperti senyuman kesehariannya. Rong Wangxia mengangguk, lalu mengambil anggur pemberian Huang Mingxiang. "Benar, terima kasih banyak, Wangfei."
Rong Wangxia mengunyah buah anggur pemberian Huang Mingxiang, lalu mengangguk. "Tentu, dan jika ... dalam kasus ini seluruh keturunan keluarga Rong harus 'dibersihkan', tolong anda menyelamatkan nama saya." Mata Rong Wangxia menatap tulus Huang Mingxiang.
Huang Mingxiang terdiam. Dia sejujurnya sangat tidak enak ketika menerima bantuan besar dari Rong Wangxia. Pria itu berani menarik keluarganya sendiri ke dalam lubang kekalahan untuk dirinya. Sementara Huang Mingxiang? Dia sampai saat ini tidak tahu harus dengan cara apa membalas kebaikan Rong Wangxia, walaupun Xiao Muqing mengatakan dia sudah membuat hidup Rong Wangxia akan terasa lebih mudah dan nyaman di Kekaisaran Barat karena koneksinya, namun ... itu adalah perbuatan Xiao Muqing, bukan langsung dari dirinya. Dia tidak bisa membalas kebaikan tulus yang dia dapatkan dari orang lain yang sudah bekerja keras dan berkorban secara pribadi untuknya dengan kebaikan yang bukan berasal dari dirinya justru pihak ketiga walaupun itu mengatas namakan dirinya.
Huang Mingxiang mengangguk. "Tentu. Tentu saja."
Rong Wangxia tersenyum lebar, pria itu segera berdiri dan mengeluarkan satu kuntum bunga mawar putih untuk Huang Mingxiang. "Ini untuk anda, saya secara khusus mencarinya, bukan membeli, ingat itu. Usahanya lebih besar mencari dari pada membeli."
Huang Mingxiang tersenyum saat menerimanya, kepalanya menggeleng pelan. Rong Wangxia selalu berbuat sesuatu di luar dugaannya, dia sudah banyak sekali terkejut karena ulah pria itu. Pria itu selalu membantunya dan memberikan sesuatu secara tiba-tiba, baik pemberian sebuah barang atau informasi.
__ADS_1
"Anda tidak ingin memberikan saya satu benda kenang-kenangan?" tanya Rong Wangxia, membuat Huang Mingxiang menaikkan alis kirinya sekilas.
Huang Mingxiang berdiri, lalu menjawab,"Siapa yang mengatakan itu? Tentu saja ada." Huang Mingxiang berjalan ke arah lemarinya, lalu menarik sebuah tali yang tertindih di antara pakaian-pakaian. Itu adalah sebuah kalung, tali-nya adalah tali biasa, namun liontinnya adalah sebuah giok putih asli berbentuk koin dengan ukiran penyu. Penyu adalah simbol dari umur panjang dan keberuntungan, cocok dijadikan ukuran hadiah untuk teman atau keluarga.
"Ini untukmu." Huang Mingxiang memberikannya kepada Rong Wangxia, membuat mata pria itu berbinar. Bibirnya tersenyum semakin cerah, dia segera mengambil kalung itu dan memperhatikannya dengan sangat detail.
"Jika dijual, kira-kira berapa harganya?" tanya Rong Wangxia.
Huang Mingxiang melotot. "Maka setelah itu kau yang akan aku jual."
Rong Wangxia terkekeh. "Saya bercanda, Wangfei." Huang Mingxiang hanya tertawa mendengar ini, saat ini rasanya dirinya dan Rong Wangxia sudah baik-baik saja. Seperti tidak ada masalah atau pembicaraan 'sensitif' seperti waktu itu.
Rong Wangxia memakai kalung itu, kemudian mengulurkan tangannya dengan telapak tangan mengepal. "Huang Mingxiang, berjanjilah untuk menjadi teman baik selamanya denganku."
Huang Mingxiang sedikit terkejut karena tiba-tiba Rong Wangxia menghilang tatakrama, namun dia tidak mempermasalahkannya. Huang Mingxiang balas tersenyum dan mengangguk, kemudian membalas uluran tangan Rong Wangxia dengan telapak tangan terkepal juga. "Tentu. Saya akan menjadi teman terbaik anda selamanya. Saya berjanji."
Rong Wangxia menarik tangannya kembali, tersenyum. Pria itu segera berbalik dan berjalan ke arah jendela yang sebelumnya menjadi pintu masuk. Sebelum benar-benar melesat pergi keluar dari Xiao Wangfu, pria itu sempat menoleh lagi dan melambaikan tangannya sambil tersenyum. Rambut perak indah panjang miliknya segera ikut berkibar lembut, gerakan pria itu sangat indah. Huang Mingxiang menatap punggungnya yang perlahan menjauh dengan penuh senyum. Ternyata ... jika cinta dihadapi dengan sifat dan cara yang dewasa, semuanya benar-benar berakhir baik, walaupun ... salah satu pihak tetap tidak bisa menghindar dari luka, namun setidaknya tidak akan sehancur jika mereka egois dan bersikeras memaksa semuanya.
Rong Wangxia, berbahagialah. Terima kasih banyak, aku ucapkan ... untukmu ....
"Tuan muda, anda sudah kembali?" Jingchuan terkejut karena tiba-tiba Rong Wangxia sudah berdiri di belakangnya.
Rong Wangxia mengangguk, lalu naik ke atas kereta kudanya dan berkata,"Ayo, cepat, Jingchuan! Sebelum langit gelap dan banyak bandit yang menyerang kita!"
"Tetapi, apa ... urusan anda yang 'itu' benar-benar sudah selesai?" tanya Jingchuan penasaran.
Rong Wangxia mengangguk, bibirnya tersenyum sempurna. "Tentu. Semuanya sudah selesai, berakhir bahagia dan adil. Walaupun ... agak sedikit membekas dan memar di sini. Tetapi, semuanya sudah baik-baik saja." Rong Wangxia menunjuk dadanya sendiri dengan jari telunjuk miliknya.
__ADS_1
Jingchuan tertegun, dia merasa ikut patah hati. Hatinya terenyuh karena cinta tuannya bertepuk sebelah tangan. Pria itu segera kembali menatap lurus ke depan dari atas kudanya, lalu berkata,"Tidak perlu sedih, Tuan Muda! Sebentar lagi kita akan sampai di Kekaisaran Barat! Anda akan segera mendapatkan cinta baru dan wanita lain yang lebih cantik di sana! Percayalah pada saya!"
Segera, kuda Jingchuan dan kereta kuda Rong Wangxia bergegas maju meninggalkan gerbang Ibu Kota. Rong Wangxia hanya tertawa sambil menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah Jingchuan.