Istri Kesayangan Xiao Wangye

Istri Kesayangan Xiao Wangye
Bab 63. Pedang Legendaris Xiao Muqing


__ADS_3

Hari berjalan cepat, seluruh penjuru Kekaisaran sudah dihiasi oleh lampu-lampu dan hiasan cantik lainnya. Salju putih menyebar luas, mereka terlihat lembut dan menggemaskan. Banyak anak kecil yang bermain-main di luar sambil membawa manisan Tanghulu.


Huang Mingxiang, wanita itu masih bersiap mengenakan hanfu berwarna biru dongker miliknya. Rambutnya disanggul setengah, hiasan tusuk rambut Phoenix bertengger apik. Tidak lupa wanita itu mengenakan kalung yang sempat diberikan oleh Xiao Muqing, sebagai tanda bahwa dia adalah Nyonya rumah besar dari Xiao Wangfu, Xiao Wangfei.


Su Mama tersenyum dalam begitu selesai memberikan polesan terakhir di bibir Huang Mingxiang, sedangkan Yui sibuk merapikan kembali meja rias Huang Mingxiang.


Huang Mingxiang berdiri, kemudian mulai berjalan keluar dari kamarnya. Di luar ada Xiao Muqing dan Gu Sinjie yang menunggu, Xiao Muqing tidak ikut, dia hanya mengantar sampai gerbang Xiao Wangfu. Tetapi Gu Sinjie ditugaskan untuk mengawal Huang Mingxiang secara pribadi ke Istana.


"Ini." Xiao Muqing menyerahkan pedang yang dibungkus oleh sarung pedang bergambar naga. Huang Mingxiang mengenali pedang ini, pedang ini adalah pedang legendaris milik Xiao Muqing. Dulu jika seseorang sedang membicarakan Xiao Muqing, maka pedang ini pun ikut diungkit. Pedang ini sudah melekat dan menemani Xiao Muqing sejak awal pertama pria itu memulai pekerjaannya, namun setelah tragedi yang menimpa kaki Xiao Muqing, kepopularitasan pedang ini menurun. Xiao Muqing tidak pernah lagi terjun ke pertempuran besar, membuat pedang ini hampir kehilangan fungsinya dan hanya menjadi sebuah pajangan.


"Wangye, tetapi di perayaan besar seperti ini Istana pasti tidak akan mengizinkan tamu undangan untuk--" Belum selesai Huang Mingxiang bicara, Xiao Muqing sudah langsung memotong cepat.


"Tidak peduli. Benwang pernah membawa senjata di perayaan-perayaan sebelumnya, tidak ada yang berani melarang."


Huang Mingxiang diam, berpikir sebentar. Tetapi tak lama bibir tersenyum, dia mempunyai ide yang bagus. Huang Mingxiang kembali menatap Xiao Muqing mengangguk. "Baiklah, terima kasih banyak, Wangye."


Xiao Muqing menyadari senyum licik Huang Mingxiang, dia tahu apa yang dipikirkan wanita itu, namun tidak berminat untuk menguliknya.


Setelah tiga sampai lima kalimat perpisahan, akhirnya Huang Mingxiang bergegas naik ke dalam kereta kudanya. Rombongan Huang Mingxiang perlahan pergi menjauh, menyisakan Xiao Muqing dengan satu pelayan pria lain Xiao Wangfu.


Huang Mingxiang terus menerus menatap pedang Xiao Muqing, pedang itu terasa sangat berat, dia sedikit heran mengapa dulu Xiao Muqing mampu membawanya kemanapun pria itu pergi.


Setelah merasa cukup suntuk di dalam kereta, tak lama kereta kudanya berhenti. Pintu kereta kuda terbuka, Yui mengulurkan tangan untuk membantu Huang Mingxiang.


Huang Mingxiang membalas uluran tangan Yui, wanita itu turun dari kereta kuda dengan hati-hati. Mata Huang Mingxiang menyapu seluruh jengkal tanah Istana, sepi. Sepertinya acara sudah dimulai, Huang Mingxiang telah menduga bahwa dia akan terlambat beberapa menit.


Huang Mingxiang melangkahkan kakinya mantap setelah Yui dan Su Mama merapikan pakaiannya, Gu Sinjie pun terlihat berjalan di samping kiri yang sedikit menjorok ke belakang Huang Mingxiang. Pedang Xiao Muqing dia taruh di tengah-tengah badannya, sosoknya kini terlihat sangat elegan. Ini adalah penampilan pertama Huang Mingxiang yang benar-benar terlihat seperti seorang Wangfei dari Wangye pemilik lima ratus ribu pasukan Kekaisaran. Di tengah jalan, Yui tanpa disadari siapapun menghilang, entah ke mana wanita itu pergi.


Kasim muda penjaga pintu terkejut saat melihat kehadiran Huang Mingxiang yang menenteng pedang legendaris Xiao Muqing, Kasim muda itu bergegas membungkuk dalam sambil mengumumkan kedatangan Huang Mingxiang dengan sangat lantang.


"Yang terhormat, Xiao Wangfei Niangniang memasuki ruangan!!"


Seluruh tamu undangan berdiri, menoleh ke arah pintu dan segera membungkuk ke arah Huang Mingxiang. Mata mereka memperhatikan tiga barang yang melekat di tubuh Huang Mingxiang, kalung batu merah delima, cincin polos yang melingkar di jari manis Huang Mingxiang, walaupun terlihat polos siapapun dapat mengetahui bahwa cincin itu dibuat menggunakan 'bagian tubuh' pembuatnya sendiri. Sebab mereka yang memiliki paham ilmu bela diri tinggi dapat merasakan aura kehadiran Xiao Muqing dengan sangat kuat. Lalu terakhir adalah pedang legendaris Xiao Muqing yang dipegang Huang Mingxiang, mereka paling meributkan benda ini.

__ADS_1


Rong Wangxia menatap kehadiran Huang Mingxiang dalam, bibirnya tidak bisa tidak tersenyum. Huang Mingxiang terlihat sangat indah malam ini di matanya. Begitu juga dengan Xiao Jihuang, pria itu duduk di meja utama acara ini, matanya menatap sosok Huang Mingxiang lekat. Wu Zeyuan menyadari tatapan Xiao Jihuang, namun hanya tetap berusaha tersenyum dan tidak melakukan apa pun. Sedangkan Huang Liyue, wanita itu sejak awal bahkan sebelum kedatangan Huang Mingxiang sudah berada di posisi suasana hati yang buruk. Sebab Wu Zeyuan diizinkan duduk satu meja dengan Xiao Jihuang, membuat pendamping resmi Kaisar pada acara hari ini ada tiga orang, sementara sesuai peraturan hanya diperbolehkan dua orang. Membayangkan kalimat seperti "Kaisar sangat mencintai Wu Guifei sehingga rela melanggar peraturan Istana" cukup membuat Huang Liyue terbakar cemburu. Sementara itu Rong Xuan, dia tidak banyak bicara sejak awal acara dimulai. Raut wajahnya terlihat acuh tak acuh, tidak seperti biasanya.


"Wangfei ini memberikan salam kepada yang mulia Kaisar dan Huangtaihou Niangniang, kejayaan Kekaisaran Timur berada di tangan kedua yang mulia." Huang Mingxiang membungkuk ke arah Xiao Jihuang, selanjutnya ke arah Huangtaihou.


Huangtaihou tersenyum melihat kehadiran Huang Mingxiang, kemudian buru-buru meminta Huang Mingxiang untuk segera bangkit dan duduk di mejanya.


"Terima kasih banyak, Bibi. Wajah anda terlihat jauh lebih berseri hari ini, Mingxiang harap bibi selalu bahagia," ujar Huang Mingxiang, bibirnya tersenyum tulus ke arah Huangtaihou. Dia sedikit sangat merindukan Huangtaihou.


"Mingxiang pandai memuji dan mengucapkan hal manis, selalu membuat Aija tersipu! Aiya, sudah-sudah. Segera duduk dan nikmati kudapannya," jawab Huangtaihou, dia sebenarnya agak sedikit terganggu dengan pedang yang dibawa Huang Mingxiang. Tetapi, Huangtaihou tidak bisa berkomentar apa pun untuk melarang. Pertama, pedang itu adalah pemberian mendiang Kaisar suaminya dan mengizinkan pedang itu masuk ke dalam acara atau perayaan resmi, sebab Kaisar sebelumnya sangat menyayangi Xiao Muqing. Melihat adiknya sangat menyukai pedang itu, mendiang Kaisar pun memberikan akses khusus untuk pedang tersebut. Kedua, karena dia menyayangi Huang Mingxiang. Jika dia melarang pedang itu masuk, itu sama saja dia menyulitkan keponakan wanita kesayangannya sendiri.


Belum ada dua menit Huang Mingxiang duduk, Huang Liyue yang memang sejak awal sudah menyimpan dendam kepada Huang Mingxiang langsung segera menembak peluru serangan untuk adiknya. "Xiao Wangfei, apakah anda sungguh sudah membaca undangan Istana yang saya buat dengan baik?"


Huang Mingxiang tersenyum tipis, kena. Dengan membawa pedang mencolok ini, pasti Huang Liyue tanpa pikir panjang akan langsung menyerangnya. Wanita itu sepertinya tidak tahu bahwa pedang ini memiliki akses khusus untuk berada di manapun dia mau, wanita bodoh.


Xiao Jihuang mengerutkan keningnya saat mendengar kalimat Huang Liyue, dia segera menoleh dan menatap Huang Liyue tajam. Ini pertama kalinya Xiao Jihuang menembakkan tatapan tidak senang secara terang-terangan kepada selirnya di hadapan seluruh tamu undangan. Hal ini sudah cukup membuktikan bahwa kalimat yang diucapkan oleh Huang Liyue adalah kesalahan fatal. Kehadiran pedang ini setara dengan kehadiran Xiao Muqing, jadi menyinggung kehadirannya, sama dengan menyinggung kehadiran Xiao Muqing. Mendengar Huang Liyue kembali menyentil Huang Mingxiang dengan pedang itu, Xiao Jihuang tidak bisa tidak semakin marah kepada wanita itu. Hukuman masalah beberapa hari lalu belum tuntas, namun Huang Liyue sudah kembali bertindak bodoh.


Huang Mingxiang menaikkan alis kirinya sekilas. "Huang Guifei, anda berbicara dengan Wangfei ini?"


Huang Liyue mengerutkan keningnya. "Xiao Wangfei, anda bahkan masih mengulur pembicaraan? Seluruh tamu undangan di sini menyaksikan perbuatan semena-mena anda!"


Kisah pedang Xiao Muqing memang banyak dikenal oleh seluruh orang, namun hanya bangsawan golongan elit tertentu yang mengetahui akses khusus tersebut. Huang Mingxiang tahu karena dia sering keluar dan masuk Istana, bergabung dengan bangsawan penting lainnya bersama Huangtaihou. Sementara Huang Liyue, dia jarang menginjakkan kaki di Istana dan beraktivitas seperti nona bangsawan pada umumnya. Keseharian mereka berdua berbeda walaupun berasal dari rumah yang sama.


"Bisa anda ulangi apa yang anda katakan?" tanya Huang Mingxiang, bibirnya menyeringai tipis menatap Huang Liyue penuh penghinaan.


Huang Liyue mengepalkan kedua tangannya, raut wajahnya terlihat marah, namun tetap berusaha tampil elegan. Saat ini Huang Liyue sedang bertingkah seolah dia adalah penggelar acara yang baik, mengingat dia lah 'wajah' di pesta perayaan kali ini karena dia yang menyusun semuanya.


"Saya mengatakan bahwa anda telah melanggar peraturan yang sudah tertera jelas di surat undangan, dilarang membawa senjata tajam ke dalam Istana. Tetapi seharusnya sekelas anda mengetahui peraturan kecil tersebut tanpa membaca peraturan yang ada di surat, hal ini sudah menunjukkan bahwa anda adalah orang yang semena-mena, Xiao Wangfei." Huang Liyue menatap tajam Huang Mingxiang, membuat Huangtaihou geram dan tidak terima. Wu Zeyuan pun hanya tersenyum tipis, sementara Rong Xuan mengerutkan keningnya dan mengutuk bodoh Huang Liyue.


"Memang lancang!" Xiao Jihuang bersuara saat Huangtaihou hendak membuka mulutnya untuk membela Huang Mingxiang. Seluruh tatapan kini menatap Xiao Jihuang, tak terkecuali Huang Mingxiang.


Huang Liyue tersenyum senang, dia berpikir bahwa Xiao Jihuang setuju dengan tindakannya. Huang Liyue sama sekali tidak merasakan sesuatu yang salah di tindakannya kali ini.


"Huang Guifei, anda benar-benar membuat wajah Harem Kaisar terlihat konyol!" Huangtaihou menatap tajam Huang Liyue, membuat senyum senang wanita itu menghilang.

__ADS_1


Ada apa? Mengapa tiba-tiba mereka semua menatap tajam dirinya? Apa yang salah? Bukankah Huang Liyue sudah benar? Dia menegur Huang Mingxiang yang melanggar peraturan, membawa senjata tajam ke dalam perayaan Istana memang selalu dilarang. Lalu apa yang salah?!


"Sekarang juga berlutut dan meminta maaf kepada Xiao Wangfei!" Nada bicara Huangtaihou dingin, wanita sama sekali tidak senang dengan Huang Liyue.


Huang Liyue dengan cepat menatap Kaisar, kemudian menggeser tatapannya ke arah Rong Xuan untuk meminta bantuan. Tetapi nihil, kedua orang itu mengalihkan pandangan darinya.


"Huang Guifei! Apa Aija tidak cukup terhormat untuk memerintahmu?!" Huangtaihou membentak, membuat tubuh Huang Liyue gemetar ketakutan. Ditambah saat ini seluruh mata menatapnya dengan penuh penghinaan, membuat Huang Liyue sama sekali tidak memiliki muka untuk menegakkan kepalanya!


Huang Liyue mau tidak mau berdiri, lalu berjalan mendekat ke arah Huang Mingxiang dan membungkuk dalam. Tetapi, suara Huangtaihou lagi-lagi membentak. "Berlutut! Kamu benar-benar memalukan!"


Huang Liyue tertegun, matanya menatap penuh kebencian dan dendam ke arah Huang Mingxiang, lalu segera berlutut ke arah Huang Mingxiang. Tubuhnya gemetar karena marah, Huang Liyue ingin menarik rambut Huang Mingxiang sekarang.


Huang Mingxiang tersenyum puas, Huang Liyue benar-benar terlihat bodoh saat ini. Mengingat dirinya pernah mati konyol di tangan Huang Liyue, membuat Huang Mingxiang merasa jijik. Kali ini Huang Mingxiang benar-benar akan membuat Huang Liyue membayar semuanya.


"Anda berlutut tanpa sebab, Huang Guifei. Apa anda tahu alasan anda meminta maaf?" tanya Huang Mingxiang, membuat suasana bertambah hening.


Huang Liyue menggigit bibir dalamnya, sial. Dia tidak tahu apa pun! Sebenarnya ada apa? Apa pedang itu memiliki sesuatu yang sangat istimewa? Tetapi apa?!


"Pedang itu milik Xiao Wangye yang diberikan oleh mendiang Kaisar sebelumnya, kemudian pedang itu juga memiliki akses khusus dari mendiang Kaisar sebelumnya karena mendiang Kaisar sangat menyayangi Xiao Wangye sebagai saudara laki-laki satu-satunya dan yang paling muda. Pedang itu diizinkan untuk hadir di acara perayaan apa pun, bahkan rapat penting para pejabat Kekaisaran sekalipun. Kehadiran pedang itu sama dengan kehadiran Xiao Wangye, artinya ... menyinggung kehadiran pedang itu, sama dengan menyinggung kehadiran anda. Kalimat tajam anda untuk pedang itu sama seperti mengusir Xiao Wangye keluar dari perayaan ini, Huang Guifei." Wu Zeyuan bicara, memberitahukan Huang Liyue di mana letak kesalahannya.


Huang Liyue membelalakkan matanya, dia masih berlutut. Hal gila, mana dia tahu ada cerita seperti itu?! Huang Liyue benar-benar marah! Apa Huang Mingxiang sengaja memanfaatkan ketidaktahuannya ini?!


"Sudah, cukup. Wangfei ini tidak akan membesarkan masalah ini semakin lanjut di hari baik seperti ini." Huang Mingxiang sengaja menghela napas, kemudian meletakkan telapak tangannya di atas dada, menampilkan raut wajah lelah dan sedih. Membuat siapapun yang melihatnya merasa iba.


Huang Liyue dengan cepat berdiri, matanya menatap tajam Huang Mingxiang. "Terima kasih banyak, Xiao Wangfei. Kedepannya selir ini akan belajar berhati-hati."


Huang Mingxiang menyeringai tipis. "Memang sudah seharusnya, Huang Guifei."


Huang Liyue mengepalkan kedua tangannya diam-diam, kemudian kembali berjalan duduk menuju mejanya.


"Baiklah, bagaimana jika sekarang kita semua minum arak? Hari ini Zhen sudah menyiapkan arak dengan kualitas tinggi khusus untuk para tamu undangan terhormat!" Xiao Jihuang tersenyum, mencoba kembali mencairkan suasana.


Para pelayan masuk, mulai membagikan gelas-gelas ke para tamu undangan. Huang Mingxiang menatap arak yang ada di dalam gelasnya, tersenyum. Senyumannya yang ini ditangkap oleh mata Rong Wangxia, pria itu sejak tadi tidak pernah mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


Huang Liyue menerima gelas araknya, raut wajah kerasnya kini kian melunak. Matanya menatap licik gelasnya, lalu beralih ke Huang Mingxiang.


__ADS_2