
Baik Istana dan Xiao Wangfu, mereka semakin mendingin dan tertutup rapat. Empat bulan berlalu, kandungan Huang Mingxiang benar-benar memasuki usia siap melahirkan. Perutnya semakin membesar, Chen Taifei Agung semakin waspada dan menjaga ketat Huang Mingxiang.
"Mingxiang, sedikit lagi ... kemungkinan hal besar akan terjadi." Chen Taifei Agung menatap serius Huang Mingxiang.
Huang Mingxiang mengerutkan keningnya. "Hal besar?"
Chen Taifei Agung mengangguk. "Kamu akan mengetahuinya nanti."
Setelah percakapan membingungkan tersebut, satu Minggu kemudian setelah baru saja Huang Mingxiang selesai melahirkan anaknya dan Xiao Wangfu mulai berbahagia ria, kabar buruk datang.
"Mufei, bagaimana jika diberi nama Xiao Mingyui? Anak manis ini ternyata seorang wanita, Wangye harus mengetahui kabar gembira ini! Kita harus mengirim surat ke--!" Belum selesai Huang Mingxiang bicara, tiba-tiba Su Mama berlari dari arah luar dengan sangat cepat.
"Wangfei! Wangfei!"
Huang Mingxiang mengerutkan keningnya, badannya yang masih terasa lemas memakai hanfu putih menatap Su Mama heran. Ada apa dengan Su Mama? Raut wajah wanita itu terlihat sangat pucat dan panik.
"Huangtaihou! Huangtaihou meninggal!!" Seru Su Mama, kemudian berlutut ke arah Huang Mingxiang.
Huang Mingxiang tertegun, dia diam untuk waktu yang lama. Tangannya yang sedang menggendong Xiao Mingyui gemetar, lalu segera menaruh anaknya di atas kasur dengan aman dan berusaha berdiri.
Tubuh Huang Mingxiang gemetar, badannya yang lemah berusaha keras untuk berlari keluar kamar. Huang Mingxiang mulai menangis, dia bersumpah ini tangisan pertamanya sejak ditinggal pergi oleh Xiao Muqing!
"Mufei! Tidak, Mufei! Mingxiang harus ke Istana menemui Bibi!!" Huang Mingxiang menangis, memberontak dari pelukan Chen Taifei Agung yang juga ikut menangis.
"Mingxiang! Kamu baru saja melahirkan! Terlalu berbahaya!" Chen Taifei Agung berusaha keras menahan Huang Mingxiang, namun Huang Mingxiang terus menolak.
__ADS_1
Chen Taifei Agung kalah, akhirnya dia membiarkan Huang Mingxiang untuk mengunjungi Istana. Huang Mingxiang menitipkan anaknya yang baru saja lahir kepada Chen Taifei Agung, wanita itu segera naik ke atas kereta kuda menuju Istana sambil terus meneteskan air mata.
Hari ini sudah memasuki tahap musim gugur, daun-daun dan bunga berjatuhan indah seperti air mata Huang Mingxiang. Wanita itu sangat terpukul.
Sesampainya di Istana, Huang Mingxiang langsung merangsek masuk. Tidak peduli dengan para penjaga yang berusaha menahannya.
"SAYA ADALAH XIAO WANGFEI! KEPONAKAN MENDIANG HUANGTAIHOU!" Huang Mingxiang membentak para penjaga itu, lalu mengancam mereka sampai akhirnya dia diizinkan untuk masuk.
Huang Mingxiang gemetar, kakinya lemas. Dia hampir ingin terjatuh, namun Yui yang berdiri di belakangnya sudah siap menahan.
Ruangan jasad Huangtaihou diletakkan sangat sepi, hanya ada lilin dan kertas dupa di sekitar peti berwarna putih.
Huang Mingxiang berjalan lemas ke arah peti, lalu melihat wajah pucat Huangtaihou. Huang Mingxiang meremas rambutnya frustasi. Tidak ada yang berani mengganggu Huang Mingxiang saat ini, mereka semua yang menonton ini pun ikut menangis.
Huangtaihou adalah sosok ibu yang sangat hangat dan berjasa untuknya. Ditinggal mati oleh seorang ibu benar-benar sangat menyakitkan, Huang Mingxiang benar-benar menangis saat ini. Tidak akan ada lagi wajah khawatir hangat Huangtaihou karena sikap nakalnya, tidak akan ada lagi wajah marah peduli untuknya karena sikap sembrono dirinya. Ke depannya, dia benar-benar akan sendirian dan berusaha bersikap dewasa. Huang Mingxiang ... benar-benar kehilangan sosok ibu tempatnya pulang, mengeluh, dan bersandar.
Huang Mingxiang melirik ke arah kanannya saat menyadari ada seseorang yang ikut duduk di sampingnya. Itu adalah Rong Xuan, wanita itu duduk menghadap peti mati Huangtaihou di sampingnya dengan hanfu serba putih, namun ... bibir wanita itu tetap merah merona. Huang Mingxiang yang melihat ini benar-benar muak!
"Bagaimana rasanya ditinggal oleh orang yang sangat kamu cintai, Huang Mingxiang?" tanya Rong Xuan tiba-tiba, wanita itu kini sedang membakar kertas dupa.
"Untuk apa kamu menanyakan itu? Kamu bahagia melihat aku menangis sekarang?!" Huang Mingxiang mencengkeram erat hanfu putihnya, menatap penuh perasaan benci ke arah Rong Xuan.
Rong Xuan tersenyum tipis. "Mengapa kamu berseru galak ke arahku? Bukan aku yang membunuh Huangtaihou, namun wanita itu sendirilah yang membunuh dirinya sendiri."
Huang Mingxiang mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu? Huangtaihou tidak mungkin memiliki pemikiran jelek seperti itu!"
__ADS_1
Rong Xuan terkekeh, kemudian berkata,"Hari ini adalah hari keduaku resmi bebas dari hukuman Kaisar. Empat bulan lalu sebelum aku dikurung, Kaisar sempat berkata bahwa dia akan mencintaiku, namun itu membutuhkan waktu proses yang lama." Rong Xuan tersenyum dingin, lalu melanjutkan,"Omong kosong. Bukankah itu sama saja seperti tidak akan pernah sama sekali? Kalimatnya yang mengatakan 'membutuhkan waktu proses yang lama', itu hanya digunakan untuk menenangkan hatiku, bukan? Agar aku tidak menggangumu lebih jauh lagi!"
Rong Xuan melirik Huang Mingxiang, menatap tajam wanita itu. Rong Xuan kemudian kembali menatap peti mati Huangtaihou, tersenyum merendahkan. "Kamu benar-benar memiliki banyak sekali orang yang menyayangimu dengan sangat tulus ya, Mingxiang?"
Huang Mingxiang ikut menatap peti mati Huangtaihou, mencengkeram hanfu-nya lebih kuat. "Langsung katakan apa intinya, Rong Xuan! Tidak perlu berputar-putar!"
Rong Xuan terkekeh, lalu menjawab,"Aku memang tidak membunuh Huangtaihou, namun aku lah yang menyebabkan Huangtaihou mengambil pilihan untuk mengambil nyawanya sendiri."
Huang Mingxiang berdiri, lalu meraih kain Hanfu Rong Xuan keras. "BEDEBAH! APA MAKSUDMU, HAH?!!"
Rong Xuan tertawa, lalu melepas cengkeraman tangan Huang Mingxiang dan mendorong wanita itu kencang hingga mundur beberapa langkah besar.
"Aku akan mengambil alih seluruh Kekaisaran ini! Kaisar tidak akan pernah bangun lagi, Huang Mingxiang. Pria tidak berguna yang telah melukai hatiku selama bertahun-tahun itu akan terus menerus koma sepanjang hidupnya sampai dia benar-benar mati! Dia benar-benar Kaisar dan suami yang tidak berguna!! Dan ... Huangtaihou!" Mata Rong Xuan menatap galak peti mati Huangtaihou.
"Wanita itu memilih mati membunuh dirinya sendiri untuk dirimu! Dia meminum racun untuk melindungimu! Sungguh kasih sayang yang luar biasa! Dengar, Huang Mingxiang. Seluruh keluarga Rong akan mengambil alih kekuasaan, marga sialan Xiao akan benar-benar tersingkirkan! Aku tidak peduli dengan janjiku kepada Huangtaihou, aku tetap akan membunuhmu! Kamu akan berakhir hari ini, Huang Mingxiang!!" lanjut Rong Xuan, lalu dia tertawa keras seperti orang gila.
Huang Mingxiang tertegun, dia mematung di posisinya sambil menatap tajam Rong Xuan. Hatinya seperti dipukul sangat keras oleh batu besar. Tetapi, kemudian dia ikut tertawa sama kerasnya seperti Rong Xuan.
"Lucu! Benar-benar lucu! Lucu sekali!!" Huang Mingxiang tertawa keras, membuat Rong Xuan diam dan menatapnya bingung penuh curiga.
Huang Mingxiang menghapus air matanya kasar, lalu mengeluarkan sebuah benda dari dalam sakunya dan menunjukkannya terang-terangan di hadapan Rong Xuan. "Salah, Rong Xuan. Bukan aku yang berakhir, tetapi kamu yang berakhir!"
Rong Xuan termangu, wanita itu menatap syok ke arah Huang Mingxiang. Huang Mingxiang masih tertawa keras, kemudian dia segera melirik ke arah pintu dan berjalan cepat keluar sambil menunjukkan plakat Kekaisaran tinggi-tinggi.
"Dengarkan! Aku memegang keputusan dan suara Kaisar! Tangkap Huanghou karena hendak melakukan pemberontakan dan dalang dari pelaku kematian Huangtaihou!!" Huang Mingxiang berseru keras, membuat seluruh prajurit Istana berlutut ke arahnya. Mereka semua saling tatap ragu dan bingung, namun kemudian serta berdiri dan merangsek masuk untuk menangkap Rong Xuan. Mereka memang segan untuk menangkap Rong Xuan, tetapi Huang Mingxiang saat ini sedang memegang plakat Kekaisaran. Ada suara dan mandat Kaisar di sana, mereka tentu lebih tidak berani melawan Kaisar dari pada Permaisuri.
__ADS_1