
DUARR!!
BLUSH!!
Baili Ruyi melempar bom biru ke arah ulah berkepala dua tersebut, asap tebalnya membuat pandangan ular itu terganggu. Kesempatan ini Baili Ruyi gunakan untuk merangsek maju dan menyerang ular itu dari belakang. Sebuah ide buruk jika kita menyerang ular berbahaya itu dari depan secara terang-terangan.
"Yui!" Huang Mingxiang berseru, berlari memutari ular yang masih kebingungan karena asap tebal itu tiba-tiba muncul menghalangi pandangannya. Huang Mingxiang terus memutar, tangannya sedang memegang tali tambang yang terbuat dari serat emas. Tali ini memiliki ketahanan dan kualitas paling baik di Kekaisaran. Huang Mingxiang mengincar kepala ular tersebut, hendak mengikatnya menjadi satu agar Yui mudah menyerangnya.
Kepala ular itu semakin terikat menjadi satu, namun dia mulai sadar dan memberontak. Kepala ular itu bergoyang abstrak, berusaha melepaskan diri dari ikatan Huang Mingxiang. Huang Mingxiang berusaha menahan ikatan tersebut sekuat tenaga, telapak tangannya mulai terasa perih karena bergesekan dan menahan kencang tekstur tambang yang kasar. Huang Mingxiang menggigit bibir bawahnya, dia tidak boleh melepas tali tambang emas ini.
Yui melompat naik ke atas kepala ular dengan jurus Qinggong miliknya, berjongkok di sana dan meletakkan telapak tangan kirinya di atas kepala ular, lalu telapak tangan kanannya mengadah ke atas langit.
"QINPO!!" Yui berseru keras, Huang Mingxiang masih menahan keras-keras kepala ular tersebut. Baili Ruyi yang sudah tidak ada urusan lagi segera mendatangi Huang Mingxiang dan membantu wanita itu untuk menahan tali tambang emas.
Pung!
Bunyi seperti batu yang jatuh ke air terdengar, sesaat kemudian satu kepala ular yang ditempati Yui menjadi tenang. Tubuh Yui perlahan tumbang ke samping, kehilangan kesadaran. Wanita itu memasuki alam sadar salah satu kepala sang ular, membuat tubuh aslinya menjadi tidak sadarkan diri.
"Ruyi, tahan ini kuat-kuat," ucap Huang Mingxiang, kemudian berlari menangkap tubuh Yui yang terjun bebas ke bawah dari atas kepala ular besar itu.
Bruk!
Huang Mingxiang menahan tubuh Yui, tak lama dia dan Yui jatuh pelan bersama ke atas tanah. Huang Mingxiang menghela napas lega, lalu menarik tubuh Yui menjauh dari sang ular dan menyandarkannya di salah satu batang pohon besar.
Huang Mingxiang kembali berjalan ke arah Ruyi, lalu menarik wanita itu menjauh. Sesaat kemudian, satu kepala ular berikutnya yang tidak terkena jurus penguasaan alam bawah sadar Yui pun segera menyerang kepalanya sendiri yang dikuasai oleh Yui. Dua kepala satu tubuh itu saling menyerang, Huang Mingxiang dan Baili Ruyi berlindung di balik pohon besar kokoh menonton pertengkaran mereka.
"Jurus Qingpo milik Yui memang luar biasa," ucap Baili Ruyi, menatap takjub ke arah dua kepala ular raksasa itu yang saling menggigit dan menyerang.
"Sebenarnya apa latar belakang Yui?" tanya Huang Mingxiang, penasaran. Dia sama sekali tidak pernah mengetahui cerita apa pun mengenai latar belakang Yui.
__ADS_1
Baili Ruyi tersenyum tipis. "Dia adalah putri terakhir yang selamat dari pemberontakan Kaisar terdahulu di Dinasti sebelumya. Dinasti Xue, nama asli lengkap Yui adalah Xue Yuilean. Ayahnya adalah Pangeran ke sebelas dari Dinasti Xue, Pangeran Xue Ching. Pangeran Xue Ching berhasil selamat dengan membawa istrinya, Putri Jinan. Mereka berdua diam-diam tinggal jauh di luar ibu kota dan memulai kehidupan baru, selanjutnya lahirlah Yui. Orang tuanya meninggal karena gagal membayar pajak Kekaisaran dan dibunuh oleh penguasa kecil di daerahnya. Yui berhasil kabur melarikan diri, dia tidak tahu ke mana akan pergi, namun kakinya berujung menginjak tanah Ibu Kota. Anak itu menjadi gembel selama beberapa bulan, sebelum akhirnya bertemu Wangye dan direkrut menjadi bagian dari Xiao Wangfu."
"Apa Yui juga melakukan ujian mengerikan seperti dirimu?" tanya Huang Mingxiang.
Baili Ruyi menggeleng. "Bisa iya, bisa juga tidak."
Huang Mingxiang bingung. "Apa maksudnya?"
"Malam itu Wangye disergap oleh beberapa pembunuh bayaran setelah pulang dari perbatasan menuju Ibu Kota, kebetulan Yui ada di tempat kejadian dan menolong Wangye. Dia menolong Wangye karena sebelumnya para pembunuh itu juga pernah merampas uangnya, beberapa bulan tinggal di ibu kota langsung dapat membuat kepribadiannya berubah drastis. Anak itu jadi gemar bertarung dan berjudi, sifatnya menjadi kasar. Saat membantu Wangye anak itu menebas kepala sang pembunuh untuk Wangye, karena dia sebelumnya sempat mendengar kabar bahwa syarat menjadi bagian dari pasukan Xiao Wangye adalah mempersembahkan sebuah kepala, maka dia menggunakan kepala pembunuh itu untuk masuk."
"Kepala manusia? Tetapi ... bukankah satu kepala manusia tidak cukup?" tanya Huang Mingxiang.
"Tidak satu, Wangfei. Pembunuh itu bergerombol. Yui mempersembahkan sepuluh kepala untuk Xiao Wangye, saya juga mendengar cerita dari Gu Sinjie yang juga ada di tempat kejadian saat itu, katanya Yui sempat meminum -- LARI WANGFEI!!" Cerita Baili Ruyi terpotong ketika melihat satu kepala ular itu hendak tumbang menghantam pohon perlindungan mereka.
Baili Ruyi menarik tubuh Yui, berlari menjauh sambil berkata,"Yui meminum darah mereka!!" Baili Ruyi berusaha menuntaskan ceritanya.
Kepala ular yang Yui kendalikan berdesis keras kala berhasil menumbangkan kepala ular satunya. Huang Mingxiang yang melihat ini mengangguk singkat, dia segera menarik pedangnya keluar dan berlari cepat menuju kepala ular yang dikendalikan Yui. Wanita itu berlari menuju kepala ular itu dengan menanjak tubuh sang ular. Sampai di atas kepala, Huang Mingxiang segera menancapkan pedangnya di sana dan mencongkel keluar sebuah cahaya merah dari atas kepala sang ular.
Sring!
Huang Mingxiang melompat turun, perlahan kepala ular itu juga ikut tumbang.
Pong!
Suara batu yang di lempar ke sungai kembali terdengar, tak lama tubuh Yui pun kembali tersadar. Napas wanita itu memburu, dia buru-buru membuka tas ranselnya dan mencari botol air. Yui kelelahan, energinya terkuras habis. Jurus Qingpo benar-benar membutuhkan kekuatan besar.
Huang Mingxiang menjulurkan jari jempolnya ke arah Yui. "Kamu benar-benar hebat, Yui!!"
"Ya, benar!" Baili Ruyi mengangguk-anggukkan kepalanya antusias, ikut bangga.
__ADS_1
Yui hanya bisa tersenyum lemas, dia benar-benar tidak memiliki energi lagi untuk membalas ucapan selamat mereka.
Baili Ruyi mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam tasnya, lalu membuka kotak itu dan mengambil satu buah pil bulat berwarna hitam, setelah itu memberikannya kepada Yui. "Makan ini, ini dapat memulihkan energimu dengan sangat cepat. Jangan meragukan ciptaan anak murid perguruan Baili."
Yui mengambil pil itu, menurut. Setelah mengunyah obat itu dengan kening terlipat dalam karena rasanya yang sangat masam, Yui takjub. Apa yang dikatakan Baili Ruyi benar, energinya berangsur pulih. Dia tidak lagi terengah-engah dan lelah.
Huang Mingxiang tersenyum dalam. "Lalu apa kita sudah bisa melanjutkan perjalanan?"
Baili Ruyi dan Yui mengangguk kompak. "Bisa, Wangfei!" Semangat mereka berdua semakin berkobar. Terutama Baili Ruyi, wanita itu sampai mengangkat kedua tangannya tinggi.
Setelah selesai merapikan diri, Huang Mingxiang dan yang lain melanjutkan perjalanan. Di perjalanan mereka hening, namun tak lama keheningan itu pecah karena ocehan Baili Ruyi.
"Wangfei, apa anda tahu seperti apa rupa Utusan Agung?" tanya Baili Ruyi.
"Tidak." Huang Mingxiang menggeleng pelan, dia hanya mengetahui bahwa Utusan Agung adalah laki-laki dan memiliki anugerah hidup sampai tiga ratus tahun. Utusan Agung bahkan sudah dikenal dan dipuja sebelum Huang Mingxiang lahir, entah sudah sesepuh apa penampilannya.
"Bagaimana jika Utusan Agung adalah pria yang sangat tampan?" tanya Baili Ruyi, matanya menatap excited ke arah Huang Mingxiang dan Yui.
Yui menggeleng pelan. "Setiap tiga ratus tahun sekali akan turun Utusan Agung baru, dan yang lama mati. Sedangkan Utusan Agung yang sekarang sudah ada selama dua ratus tahun di bumi, fisik Utusan Agung juga sama seperti manusia. Sebelumnya juga mereka adalah manusia biasa yang akhirnya diberi anugerah suci. Jika demikian, seharusnya sekarang tubuhnya sudah sepuh. Utusan Agung juga manusia."
Baili Ruyi mendengus. "Tetapi aku memiliki firasat bahwa dia memiliki wajah yang sangat tampan!"
"Bagaimana jika ternyata dia seorang kakek tua?" balas Huang Mingxiang, ikut ke dalam tim Yui untuk menggoda Baili Ruyi.
Baili Ruyi terkekeh. "Aku akan tetap mencoba menikah dengannya, tidak peduli setua apa dia, jika mudanya tampan tentu saja anaknya akan seperti itu. Aku ingin memperbaiki keturunan."
"Untuk apa jauh-jauh mencari Urusan Agung untuk memperbaiki keturunan? Lebih baik kamu menikahi Tuan Gu yang sudah bertahun-tahun tak kunjung menikah itu," ujar Yui, membuat Baili Ruyi melotot.
"Kenapa tiba-tiba membahas pria udik itu? Dia sama sekali tidak bisa dijadikan seorang suami! Selera humor dan romantismenya sangat buruk!" balas Baili Ruyi.
__ADS_1
Huang Mingxiang tertawa mendengar jawaban Baili Ruyi, wanita itu terlalu berterus-terang, sangat menghibur hati Huang Mingxiang. Perjalanan ini menjadi terasa tidak membosankan sama sekali, justru penuh gelak tawa dan tantangan mendebarkan.