Istri Kesayangan Xiao Wangye

Istri Kesayangan Xiao Wangye
Bab 52. Masa Lalu 2: Dekrit Pertunangan Xiao Jihuang dan Rong Xuan


__ADS_3

"Salam, paman Kekaisaran, Xiao Wangye."


"Putra Mahkota." Suara dingin yang sangat berat terdengar, entah bagaimana Huang Mingxiang merinding mendengar suara Xiao Muqing. Aura penekanan milik pria itu sangat terasa.


"Anda pasti baru saja selesai menemui Kaisar, hati-hati di jalan, Xiao Wangye. Saya harap hari anda terasa damai." Xiao Jihuang kembali menegakkan badannya, disusul Huang Mingxiang. Huang Mingxiang menatap jendela kereta kuda Xiao Wangfu, namun tetap tidak bisa melihat wajah pria itu karena tertutup tirai.


"Lebih baik sekarang temui Kaisar, terjadi sedikit keributan kecil di sana," ujar Xiao Muqing.


Xiao Jihuang mengerutkan keningnya. "Keributan kecil?"


"Datang dan lihat sendiri, benwang masih memiliki beberapa urusan," jawab Xiao Muqing acuh, kemudian memerintahkan Kusir untuk kembali melajukan kereta. Bertepatan dengan ini, hembusan angin sedikit menyingkap tirai jendela kereta kuda Xiao Muqing.


Tubuh Huang Mingxiang sedikit menegang saat matanya melihat siluet tatapan tajam dari bola mata berwarna biru. Mata itu seperti mengarah padanya, namun tidak yakin apakah Xiao Muqing benar-benar menatap dirinya atau tidak, karena hanya persekian detik.


Huang Mingxiang dengan cepat menunduk, jantungnya berdebar takut entah bagaimana. Xiao Jihuang dan Huang Mingxiang bergegas kembali membungkuk setelah kereta kuda Xiao Muqing beranjak pergi.


Xiao Jihuang kembali menegakkan badannya, lalu menoleh ke arah Huang Mingxiang. "Mingxiang, kau baik-baik saja?" tanya Xiao Jihuang bingung begitu mendapati raut wajah Huang Mingxiang yang terlihat tegang.


Huang Mingxiang tersadar, wanita itu dengan cepat mengangguk dan tersenyum. "Saya baik-baik saja. Yang mulia, sesuai yang dikatakan oleh Xiao Wangye, lebih baik saat ini anda menemui Baginda Kaisar. Sepertinya apa yang dikatakan Xiao Wangye benar adanya."


Xiao Jihuang termenung sejenak, lalu mengangguk. "Baiklah, kalau begitu kamu silahkan lebih dulu menuju Istana Muhou. Aku akan menyusul."


Huang Mingxiang mengangguk. "Baik."


Xiao Jihuang berjalan pergi, bibirnya tersenyum ke arah Huang Mingxiang. "Ingat janjimu."


Huang Mingxiang terkekeh. "Astaga, tentu!"


Setelah kepergian Xiao Jihuang, Huang Mingxiang buru-buru pergi ke Istana kediaman Huangtaihou yang saat ini masih menjadi seorang Huanghou. Wanita itu seperti biasa berbincang-bincang dengan Huanghou, terkadang menjahit bersama dan memainkan musik bersama. Huang Mingxiang terus menunggu Xiao Jihuang, namun ... sudah hampir menjelang sore, pria itu tak kunjung datang. Membuat Huang Mingxiang mau tidak mau pamit pulang terlebih dahulu karena kalau tidak ayahnya Huang Dajie akan menghukumnya berdiri di pojok ruangan kerjanya.


Sesampainya di Huang Fu, Huang Mingxiang segera membersihkan tubuhnya. Wanita itu mengganti hanfu merah mudah cerahnya dengan hanfu putih polos. Malam ini ternyata ayahnya belum kembali, membuat dia dan Huang Liyue memutuskan untuk makan di kamar masing-masing.


Huang Mingxiang mengunyah nasi sambil membaca buku yang diberikan Xiao Jihuang tadi pagi dengan serius. Setelah selesai makan, para pelayan membersihkan bekas dan tempat makannya. Huang Mingxiang segera beranjak naik ke atas tempat tidurnya, mengistirahatkan tubuhnya sambil membaca buku.


Langit sudah benar-benar gelap sekarang, membuat mata Huang Mingxiang mulai terasa berat. Huang Mingxiang segera menutup bukunya, kemudian menaruhnya di atas meja dan mulai merebahkan tubuhnya di kasur.

__ADS_1


Saat matanya ingin benar-benar terlelap, tiba-tiba suara ketukan dari jendela kamarnya terdengar. Huang Mingxiang mengerut keningnya, siapa yang berani-beraninya mengetuk jendela kamarnya di malam hari seperti ini? Seorang pembunuh? Tetapi Huang Fu memiliki keamanan yang cukup baik, tidak semua pembunuh dapat menyelinap dengan mudah.


Huang Mingxiang menatap penuh waspada ke arah jendela, lalu beranjak turun dari kasur dan diam-diam berjalan mendekat.


"Mingxiang ...." Suara Xiao Jihuang terdengar, membuat Huang Mingxiang membelalakkan matanya. Xiao Jihuang? Untuk apa pria itu malam-malam kemari?! Dan lagi, dia menyelinap, bukan datang melalui pintu depan secara resmi!


Huang Mingxiang dengan cepat membuka jendela kamarnya, matanya melihat sosok Xiao Jihuang yang menatapnya sayu. Pria itu dengan cepat melompat masuk dan menarik Huang Mingxiang ke dalam pelukannya.


Huang Mingxiang mengerutkan keningnya, ugh ... ini bau alkohol! Apa Xiao Jihuang sedang mabuk?


"Yang mulia, anda mabuk!" Huang Mingxiang berusaha melepaskan pelukan Xiao Jihuang, namun pria itu justru malah memeluknya semakin erat.


"Biarkan ... Biarkan aku memelukmu ...." Xiao Jihuang semakin melantur, nada bicara pria itu tidak jelas, benar-benar khas seperti orang mabuk.


Huang Mingxiang menghela napas, kemudian perlahan mengarahkan Xiao Jihuang untuk duduk di tepi ranjangnya.


Xiao Jihuang tidak mau melepaskan pelukannya, membuat Huang Mingxiang bertanya-tanya, apa yang menyebabkan pria itu sampai mabuk berat seperti ini? Bukankah sebelumnya dia hanya menemui Kaisar? Apa ada sesuatu di pertemuannya?


"Mingxiang ...."


Xiao Jihuang mengendurkan pelukannya untuk menatap utuh wajah Huang Mingxiang. "Jika ... jika anda tidak menjadi seorang Huanghou .... apakah ... apakah anda akan tetap bersedia menjadi kekasih saya?"


Huang Mingxiang mengerutkan keningnya. "Yang mulia, anda benar-benar mabuk sekarang. Anda harus--"


"Shhtt ... diam ... diam dulu ...." Xiao Jihuang menempelkan jari telunjuknya di bibir Huang Mingxiang.


"Menjadi Kaisar ternyata tidak seindah yang aku pikirkan, Mingxiang. Aku ... aku bahkan kesulitan untuk menempatkan hal yang aku sukai di posisi paling tinggi!" Xiao Jihuang menunjuk ke langit-langit atap. Huang Mingxiang diam, memilih untuk mendengarkan ocehan melantur Xiao Jihuang.


"Ayah ... Ayah baru saja menurunkan dekrit pertunanganku dengan Rong Xiaojie, Rong Xuan. Aku ... aku tidak ingin ada wanita lain yang mengisi posisi Huanghou selain dirimu! Aku marah! Aku bertengkar dengan ayah! Ayah tidak pernah mengerti perasaanku!" Raut wajah Xiao Jihuang berubah menjadi keras, pria itu mengungkapkan seluruh apa yang dia rasakan.


Huang Mingxiang tertegun. Pertunangan dengan Rong Xuan? Bukankah ... itu berarti dirinya tidak akan pernah menjadi seorang Huanghou? Huang Mingxiang masih terkejut, wanita itu sedikit melamun memikirkan banyak hal.


"Mingxiang ...." Xiao Jihuang menangkup pipi Huang Mingxiang agar menatapnya.


"Anda ... Anda seharusnya juga marah, bukan? Posisi yang sudah bertahun-tahun kamu perjuangkan, direbut begitu saja ...." Xiao Jihuang mengerutkan keningnya dalam.

__ADS_1


Huang Mingxiang tersenyum, kembali mengaktifkan akal sehatnya. Huang Mingxiang menggeleng pelan. "Saya baik-baik saja, yang mulia. Saya yakin, itu adalah keputusan terbaik." Walaupun sebenarnya hati Huang Mingxiang sedikit kecewa, namun itu tidak terlalu serius. Lagi pula dia memang tidak benar-benar berharap akan menjadi Huanghou.


Xiao Jihuang berdecak kesal, lalu menarik Huang Mingxiang ke dalam pelukannya lagi dan berkata,"Tetapi saya marah! Saya tidak senang jika harus menikah dengan orang lain! Saya hanya mengenal dirimu! Saya tidak tertarik menikahi orang asing!"


Huang Mingxiang dengan ragu membalas pelukan pria itu, kemudian menepuk-nepuk punggung Xiao Jihuang untuk menenangkan pria itu. "Anda bisa saling mengenal setelah menikah. Lagi pula, dekrit yang diturunkan adalah dekrit pertunangan. Anda masih memiliki banyak kesempatan untuk saling mengenal dengan Rong Xiaojie. Yang mulia, Rong Xiaojie adalah wanita yang cerdas dan tegas. Dia memang sangat cocok menjadi pendamping utama anda."


Xiao Jihuang menggeleng keras. "Saya tetap tidak tertarik, Mingxiang ...."


Huang Mingxiang diam, bingung mau menjawab apa lagi.


"Mingxiang, saya ... berjanji tidak akan membuat kamu merasa kecewa ... lagi ...."


Bruk!


Tubuh Xiao Jihuang jatuh ke kasur, karena Huang Mingxiang masih berada di dalam pelukannya, mereka berdua jatuh ke atas kasur bersama. Huang Mingxiang mendongak untuk melihat wajah Xiao Jihuang, pria itu terlihat sangat sedih dan marah.


Huang Mingxiang mengerutkan keningnya, kemudian berusaha melepaskan diri dari pelukan Xiao Jihuang. Setelah berhasil, wanita itu bergegas membetulkan posisi tidur Xiao Jihuang. Huang Mingxiang menghela napas lega setelah berhasil, kemudian berkata,"Yang mulia, anda harus segera pergi sebelum pagi! Atau saya akan terkena masalah!" Huang Mingxiang mendengus tipis, kemudian mengambil bantal dan selimut baru. Wanita itu memilih tidur di sofa panjang tak jauh dari kasurnya, dia masih memiliki akal sehat untuk tidak tidur satu ranjang dengan Xiao Jihuang.


Sebelum benar-benar tertidur, Huang Mingxiang kembali memikirkan dekrit pertunangan itu. Yang membuat dia sedikit kecewa bulan karena Xiao Jihuang harus menikah dengan wanita lain, namun karena ... usahanya yang terasa jadi sia-sia. Dia sepuluh tahun berusaha dan belajar menyempurnakan dirinya untuk menjadi seorang Huanghou, namun sekarang harus lenyap begitu saja.


Huang Mingxiang menghembuskan napas berat, cukup. Dia tidak boleh terlarut untuk memikirkan hal ini. Huang Mingxiang harus optimis dan percaya, pasti akan ada hal-hal baik di masa depan untuknya. Karena sesuai yang Huang Mingxiang tahu, Dewa tidak akan membiarkan usaha seseorang menjadi sia-sia, sekecil apa pun itu.


Perlahan, mata Huang Mingxiang tertutup. Wanita itu tertidur.


Keesokan paginya, Huang Mingxiang menggeliat dan perlahan membuka matanya. Huang Mingxiang mengambil posisi duduk, lalu menyadari bahwa saat ini dirinya sudah berada di atas kasur. Menoleh ke samping, Xiao Jihuang sudah tidak ada di tempatnya.


Huang Mingxiang beranjak turun dari kasur, sepertinya pria itu sudah pergi pagi-pagi sekali. Pandangan mata Huang Mingxiang tidak sengaja terarah pada meja riasnya, dia melihat secarik kertas yang ditumpuk oleh bedak wajahnya.


Huang Mingxiang berjalan ke arah meja rias, lalu mengambil secarik kertas itu dan membukanya.


"Terima kasih atas bantuanmu tadi malam. Untuk apa-apa yang sudah aku katakan, tolong lupakan. Aku tidak tahu apa saja yang sudah aku katakan, tetapi ... anggap saja aku tidak pernah mengatakan hal itu."


Huang Mingxiang tersenyum tipis, pria itu benar-benar mabuk berat semalam. Tetapi ... mengapa saat mabuk pria itu justru malah menemuinya dan bahkan mengucapkan sesuatu yang tidak seharusnya Huang Mingxiang tahu? Hubungan mereka belum bisa dibilang sangat dekat seperti kawan lama, mereka baru sedikit lebih cair dari pada sebelumnya baru-baru ini.


Tetapi, Huang Mingxiang tidak mau terlalu memikirkan hal ini. Toh, pria itu sudah memerintahkan dirinya agar melupakan seluruh apa yang dia katakan tadi malam, tidak ada alasan untuk dirinya memikirkan masalah ini.

__ADS_1


Huang Mingxiang membuang kertas itu, kemudian memanggil pelayan masuk untuk membantunya bersiap. Sepertinya Huanghou akan memanggilnya ke Istana jika kabar pertunangan itu benar-benar terjadi.


__ADS_2