
"Wangfei, pada intinya Wangye peduli terhadap anda." Baili Ruyi meregangkan tubuhnya, dia lelah duduk lama di kursi. Lagi pula, apa yang para pria itu bicarakan? Mereka berjanji tidak akan lama tadi.
Huang Mingxiang diam. Matanya menatap kosong ke arah meja, dia sibuk dengan pikirannya sendiri. Apa yang diceritakan Baili Ruyi benar? Tetapi kedengarannya seperti mustahil, karena bahkan pada saat di waktu berdua, Xiao Muqing lebih condong kepada sikap tidak peduli dari pada peduli.
Tak lama setelah ini, Xiao Muqing dan yang lain kembali. Baili Ruyi kembali berdiri, lalu berjalan ke belakang kursi Huang Mingxiang menuju posisi semula. Setelah Huang Dajie duduk di kursinya dan Xiao Muqing kembali berada di sebelah Huang Mingxiang, Baili Ruyi segera berkata,"Anda semua berjanji tidak akan pergi dengan lama."
"Diam lah, Ruyi. Ini bukan di Xiao Wangfu," Tegus Gu Sinjie, dia heran mengapa Baili Ruyi tidak bisa mengendalikan mulutnya di manapun wanita itu berada.
Huang Mingxiang tersenyum ke arah ayahnya dan Xiao Muqing, lalu berkata,"Apa diskusi kalian lancar? Sepertinya raut wajah ayah sangat lelah, harus lebih banyak beristirahat sampai benar-benar sembuh."
Huang Dajie mengangguk pelan. "Mingxiang sangat perhatian, ayah baik-baik saja, nak."
Huang Mingxiang berdiri, lalu diikuti Huang Dajie. Huang Mingxiang perlahan memeluk ayahnya sembari berkata,"Ayah, kalau begitu Mingxiang dan Wangye tidak akan lebih lama lagi di Huang Fu. Anda harus beristirahat, anda harus kembali sehat."
Huang Dajie membalas pelukan anaknya, mengelus lembut kepala Huang Mingxiang yang sudah lama sekali tidak dia sentuh. "Mingxiang tanpa sadar sudah sangat dewasa, kedua ibumu akan senang melihat ini. Jadilah istri yang baik, nak."
Huang Mingxiang melepas pelukannya, beralih menggenggam kedua tangan ayahnya. Huang Mingxiang terkekeh. "Tentu, ayah. Mingxiang adalah salah satu contoh istri terbaik di ibu kota! Ayah tahu? Mingxiang bergaul dengan warga Xiao Wangfu dengan baik. Mereka semua sangat ramah, perhatian, dan peduli satu sama lain. Mingxiang juga sekarang bisa memasak, ternyata memasak menyenangkan. Walaupun tubuh akan basah oleh keringat dan wangi badan jadi kurang sedap, namun saat berhasil menghidangkan makanan cantik dan enak, rasa lelah itu hilang seketika!"
Huang Dajie tertawa kecil, ini tertawa pertamanya setelah dia benar-benar terpuruk beberapa hari yang lalu. "Kalau begitu saat tradisi pulang ke rumah asal untuk memberi hormat serta berterima kasih kepada orang tuamu, buatkan ayah satu makanan enak. Kita akan makan bersama di ruang makan."
Huang Mingxiang mengangguk, lalu memeluk ayahnya lagi. "Tentu! Mingxiang berjanji!" Lalu kepala Huang Mingxiang menoleh ke arah Xiao Muqing. "Wangye, anda bisa menjamin bahwa masakan saya enak, bukan?"
Xiao Muqing sedikit terkejut karena tiba-tiba dia diajak di momen penuh kasih sayang ini. Karena dia tidak mau mengacaukannya, Xiao Muqing pun mengangguk singkat.
Huang Mingxiang tersenyum lebih hangat kala Xiao Muqing mengangguk, lalu dia segera melepas pelukannya dari ayahnya dan membungkuk ke arah Huang Dajie. Huang Dajie sempat terkejut dan berusaha menahan gerakan Huang Mingxiang, karena bagaimana pun sekarang Huang Mingxiang adalah seorang 'Wangfei'. Hormat kepada orang tua yang statusnya masih di bawah dirinya hanya diperbolehkan di momen-momen penting.
"Ayah, tolong jangan menahan Mingxiang untuk memberikan penghormatan kepada anda. Mingxiang sangat menghormati dan menyayangi ayah, terlepas dari gelar yang saat ini Huang Mingxiang sandang. Tidak peduli setinggi dan seberkuasa apa pun, karena yang membuat Mingxiang berhasil menduduki posisi tinggi ini adalah ayah."
Huang Dajie tertegun, hatinya kembali tersentuh. Pria tua itu memejamkan kedua matanya, tak lama kembali membuka matanya. Mata Huang Dajie sudah penuh dengan linangan air mata, dia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak meneteskan air mata. Jika sebelumnya dia bisa menahan air matanya, sekarang tidak.
Huang Mingxiang tersenyum lagi, badannya sudah tegak sempurna. Dia menggunakan tangan kanannya untuk menghapus kedua mata Huang Dajie yang jatuh.
"Ayah, anda seharusnya tersenyum. Putrimu ini telah menemukan jodoh suami yang sangat baik. Terima kasih banyak atas semua didikan anda, karena anda Mingxiang dapat terbentuk seperti sekarang. Ayah, percayalah, Mingxiang akan sering mengirim surat untuk anda. Atau ... jika anda ingin mengunjungi Xiao Wangfu, itu sangat diperbolehkan. Benar kan, Wangye?" Di akhir kalimat Huang Mingxiang melirik Xiao Muqing. Tatapan matanya memohon agar Xiao Muqing mengangguk.
__ADS_1
Xiao Muqing mengangguk, memperbolehkan. Karena Huang Mingxiang tidak diperbolehkan mengunjungi rumah asalnya terlalu sering karena tradisi, maka Huang Dajie diperbolehkan berkunjung sesering mungkin ke Xiao Wangfu. Menurut adat, wanita yang sudah menikah dilarang pulang ke rumah asalnya terlalu sering karena takut akan menimbulkan rumor buruk untuk suaminya. Sang suami akan dianggap tidak memperlakukan istrinya dengan baik dan layak, sehingga sang istri sangat sering pulang dengan alasan berkunjung ke rumah asalnya.
Huang Dajie mengangguk, dia kemudian menggenggam lembut lengan Huang Mingxiang. "Benar. Seharusnya ayah tersenyum, maafkan ayah, Mingxiang." Kemudian Huang Dajie menoleh ke arah Xiao Muqing dan membungkuk. "Kalau begitu semoga perjalanan pulang anda selamat dan lancar, yang mulia. Terima kasih banyak karena sudah memperlakukan putri saya dengan sangat baik. Mingxiang adalah anak yang mudah menangis, tolong anda maklumi hal ini karena dia sudah dimanja sejak kecil."
Huang Mingxiang yang mendengar ini membelalakkan, matanya. Ayahnya membuat dia malu. Mudah menangis? Apakah itu benar? Dirinya saja tidak tahu fakta itu! Huang Mingxiang merasa dirinya tidak seperti itu. Tetapi dia hanya mendengus tipis mendengar ini.
Xiao Muqing mengangguk singkat. "Tentu, Perdana Menteri Huang."
Melihat Xiao Muqing mengangguki ucapan ayahnya, Huang Mingxiang tertegun. Pemandangan ini rasanya seperti seolah dia dan Xiao Muqing menikah benar-benar karena perasaan, bukan paksaan dekrit Kekaisaran. Huang Mingxiang tersenyum, lalu berjalan ke belakang kursi roda Xiao Muqing. Matanya menatap hangat ayahnya.
"Ayah, kalau begitu Mingxiang dan Wangye pamit. Sudah cukup larut malam, khawatir kondisi di jalan akan semakin berbahaya jika kami tidak segera kembali," ujar Huang Mingxiang.
Huang Dajie mengangguk. "Baik, hati-hati di jalan, Yang mulia." Huang Dajie kembali membungkuk.
Setelah dua tiga kalimat perpisahan hangat, Huang Mingxiang pun segera mendorong kursi roda Xiao Muqing keluar dari ruang tamu. Mereka kembali menuju kereta kuda, masuk ke dalam sana dan bergegas menuju Xiao Wangfu.
Di jalan, Huang Mingxiang hanya bersandar di dinding kereta sambil memandangi bulan yang semakin terang. Dia lega hari ini, karena berhasil melewati banyak masalah dan persoalan mengganjal. Seperti menggertak para bangsawan dan menyadarkan mereka kembali, dan berhasil membuat ayahnya yakin dengan pernikahannya bersama Xiao Muqing.
Huang Mingxiang menatap Xiao Muqing, pria itu tengah bersandar pada dinding kereta kuda juga. Matanya terpejam, sosoknya saat ini terlihat sangat tenang.
Mendengar suara Huang Mingxiang yang berterima kasih, Xiao Muqing pun membuka kedua matanya untuk menatap Huang Mingxiang. Huang Mingxiang masih tersenyum lembut.
"Gawat ... bagaimana ini, Wangye?" tanya Huang Mingxiang, kalimat yang ini sukses membuat Xiao Muqing mengerutkan keningnya bingung.
"Bagaimana tenang apa?" tanya Xiao Muqing balik.
"Perasaan saya. Mingxiang semakin mencintai anda, bagaimana ini yang mulia? Apa yang harus saya lakukan?" jawab Huang Mingxiang.
Xiao Muqing menaikkan alis kirinya sekilas, lalu menatap ke arah luar, tidak bisa menatap wajah Huang Mingxiang.
"Kamu mulai membual, Huang Mingxiang."
Huang Mingxiang menggeleng. "Tidak, Wangye. Saya tidak meminum arak apa pun, saya sadar, jadi saya tidak membual. Wangye, apa yang harus saya lakukan? Membunuh perasaan ini? Menahan perasaan ini? Membiarkan perasaan ini? Mingxiang tidak tahu. Bagaimana menurut anda? Perasaan saya terlampau besar lebih dari yang saya kira di awal."
__ADS_1
Xiao Muqing diam. Tetapi tak lama kemudian dia kembali menatap Huang Mingxiang. "Buang perasaan itu jika kamu merasa kesulitan."
"Mengapa harus demikian?" tanya Huang Mingxiang.
"Tidak ada."
"Wangye, anda selalu berbicara dengan arti tersirat yang sulit ditebak."
"Kalau begitu lupakan."
"Bagaimana mungkin? Anda seharusnya tidak mengatakan itu dengan setengah-setengah."
"Lupakan."
"Tidak bisa!"
"Bisa."
"Saya yang tidak mau!"
"Benwang mau."
"Wangye!"
"Baiklah!" Xiao Muqing mengalah, kupingnya panas mendengar Huang Mingxiang terus mengoceh. Xiao Muqing menatap Huang Mingxiang kesal, kedua sudut alisnya menyatu.
"Benwang tidak senang melihat kamu kesulitan. Itu saja. Puas?"
Huang Mingxiang tertegun, dia diam seketika saat mendengar ini. Tetapi tak lama bibirnya kembali tersenyum, lalu mencondongkan posisi duduknya ke depan, sedikit lebih dekat dengan Xiao Muqing.
"Saya mencintai anda, Wangye. Apa anda mau saya cium di pipi lagi?" tanya Huang Mingxiang sambil menekan pipi kanannya menggunakan jari telunjuk.
"Wanita gila." Semprot Xiao Muqing, lalu memejamkan matanya agar tidak bertemu dengan mata Huang Mingxiang.
__ADS_1
Huang Mingxiang yang melihat ini tertawa, dia bahagia malam ini.