
Xiao Muqing dan Huang Mingxiang sudah duduk berhadapan di meja makan, mereka memilih menikmati makan malam bersama di dalam kamar. Setelah menerima laporan dari Su Mama bahwa pelayan dapur akan segera masuk untuk mengantarkan makanan, Huang Mingxiang bergegas bangkit dan keluar secara pribadi.
Di luar, Huang Mingxiang memerintahkan para pelayan dapur itu untuk menaruh makanannya di dalam, berikutnya berjalan ke arah Yui yang sudah menegang nampan berisi cangkir obat bubuk tidur itu.
"Wangfei." Yui sedikit menunduk saat memberikan nampan minuman itu, kemudian kembali tegak dan menatap Huang Mingxiang penuh keyakinan, seolah berkata, 'pasti berhasil!'.
Huang Mingxiang tersenyum mengangguk, setelah itu berbalik dan berjalan masuk ke dalam kamar.
"Wangye, sebelum menemui anda saya sempat membuat teh hijau yang dikirim langsung oleh negara tetangga. Rasa tehnya sangat unik dan enak, yang mulia harus mencobanya." Huang Mingxiang meletakkan minuman itu di hadapan Xiao Muqing, lalu duduk di seberang pria itu lagi.
Huang Mingxiang meletakkan lauk-pauk ke dalam mangkuk nasi Xiao Muqing, melayani pria itu secara pribadi.
Xiao Muqing menggenggam cangkir itu, memperhatikan isinya. Jantung Huang Mingxiang berdegup kencang, khawatir Xiao Muqing dapat menyadari bahwa ada kandungan lain di dalam teh itu. Tetapi ... kekhawatirannya berlangsung hilang kala pria itu meneguk sekali teh hijau tersebut.
"Rasanya tidak buruk," ucap Xiao Muqing, kemudian meletakkan cangkir itu dan mulai memakan makanannya yang sudah disiapkan oleh Huang Mingxiang.
Huang Mingxiang mengangguk, tersenyum. "Benar, kan?" Kemudian hendak memasukkan daging ke dalam mulutnya.
"Sayangnya ada yang aneh dari teh itu," timpal Xiao Muqing, membuat gerakan memasukkan daging ke dalam mulut milik Huang Mingxiang terhenti. Huang Mingxiang kaku, matanya menatap Xiao Muqing bingung.
"Aneh? Aneh seperti apa?" tanya Huang Mingxiang, berusaha menutupi kegugupannya.
"Rasanya seperti rumput," jawab Xiao Muqing, membuat Huang Mingxiang menghela napas lega. Itu adalah rasa alami dari teh hijau.
Huang Mingxiang tersenyum lagi. "Justru rasa itu yang membuatnya menjadi menarik, Wangye. Mingxiang sangat menyukai rasanya."
Xiao Muqing mengangguk singkat, tidak menjawab apa pun lagi. Mereka berdua sibuk menghabiskan makanan, Huang Mingxiang sesekali meletakkan daging dan lauk lainnya ke dalam mangkuk Xiao Muqing saat melihat lauk di mangkuk pria itu mulai habis.
Selesai makan, Huang Mingxiang berdiri dan duduk di depan kecapi yang sudah sengaja dia minta siapkan oleh pelayan. Matanya menatap Xiao Muqing lembut, lalu berkata,"Wangye, apa anda ingin mendengar alunan musik lagi?"
__ADS_1
Xiao Muqing mengangguk. "Tentu."
Huang Mingxiang balas mengangguk sederhana, dia segera mengambil napas untuk merilekskan tubuhnya, lalu dengan hati-hati memetik senar kecapi.
"Bunga mekar sepuluh mil untukmu. Memutar lagu lama itu seperti kamu masih berdiri di belakangku. Hujan turun di mana-mana, dan aku menunggumu dengan tenang."
"Dengan pertemuan seumur hidup ini ... sebagai gantinya adegan di sekitar Anda, meski hanya ada satu momen. Dengan satu kata, satu hati dan satu pikiran. Semua yang saya lakukan hanya untuk mendengarkan hujan denganmu di bawah atap."
"Hujan turun di mana-mana, dan aku menunggumu dengan tenang. Dengan jarak, kadang dalam, kadang dangkal, kadang dekat dan kadang jauh. Untuk menambah sentuhan puisi karena penyesalan dan keterikatan. Asal mula yang pahit, manis, mimpi dan ilusi untuk menikmati minum bersamamu di bawah pisau dan pedang."
"Dengan pertemuan seumur hidup ini ... bunga mekar sepuluh mil untukmu. Memutar lagu lama itu seperti kamu masih berdiri di belakangku. Hujan turun di mana-mana, dan aku menunggumu dengan tenang, sayang ...."
Petikan terakhir, Huang Mingxiang kembali memandang Xiao Muqing. Pria itu tersenyum, Huang Mingxiang ikut tersenyum. Raut wajah Xiao Muqing terlihat menahan kantuk, pria itu sesekali mengerjapkan matanya untuk menyadarkan matanya. Tepat setelah petikan terakhir Huang Mingxiang tadi, pria itu kembali menengguk teh hijau yang 'katanya' buatan Huang Mingxiang.
Huang Mingxiang berdiri, berjalan perlahan untuk mendekat ke arah Xiao Muqing. Pria itu duduk di hadapan pria itu, mereka saling pandang, tersenyum.
Semakin lama, senyuman Xiao Muqing menghilang. Tatapan lembut dan hangat pria itu menghilang, menjadi dingin dan tajam. Aura membunuh pria itu keluar.
Huang Mingxiang menggeleng pelan, masih tersenyum. Tangannya bergerak untuk mengelus pipi Xiao Muqing, namun pria itu menepisnya kasar dan mencekik leher Huang Mingxiang.
"Bedebah! Kamu mempermainkan benwang!" Xiao Muqing menatap Huang Mingxiang seperti musuhnya, perasaan marah dan kecewa bercampur di hatinya. Kedua mata pria itu sedikit memerah, menahan bulir air mata, kecewa besar. Apakah ... kalo ini Xiao Muqing harus menerima pengkhianatan dan perasaan ditinggal lagi?
Huang Mingxiang mencengkeram lengan Xiao Muqing yang mencekik lehernya sangat kuat, berusaha melepaskan diri. Perlahan, obat bubuk tidur itu bekerja seratus persen. Kedua mata Xiao Muqing tidak bisa ditahan lagi, cengkeraman pria itu di leher Huang Mingxiang berangsur mengendur.
Huang Mingxiang berusaha menggerakkan tangannya lagi untuk menyentuh kedua pipi Xiao Muqing. Selagi pria itu perlahan menutup mata rapat-rapat dan tumbang ke arahnya, Huang Mingxiang berkata,"Wangye ... semua ini dilakukan untukmu. Mingxiang sangat mencintaimu." Setelah itu Xiao Muqing tertidur total di pelukan Huang Mingxiang.
Huang Mingxiang memeluk erat Xiao Muqing, melihat raut wajah marah dan kecewa pria itu membuat hati Huang Mingxiang sakit. Huang memejamkan matanya, bulir air mata berangsur turun perlahan.
Huang Mingxiang mengambil napas dalam, memukul dirinya sendiri dari dalam pikiran. Tangan kanan wanita itu bergerak untuk menghapus kasar jejak air matanya, kemudian melirik dingin ke arah pintu.
__ADS_1
"Tuan Gu."
Pintu kamar Xiao Muqing segera terbuka, Gu Sinjie masuk. Pria itu segera membantu Huang Mingxiang untuk memindahkan Xiao Muqing ke atas kasur. Setelah selesai, Huang Mingxiang menatap sosok suaminya yang sedang tertidur pulas untuk terakhir kalinya sebelum benar-benar pergi dari Xiao Wangfu.
"Kita memiliki satu hari sebelum Wangye bangun. Kita tidak bisa membiarkan Wangye sadar begitu saja, karena Wangye pasti akan dapat dengan mudah menarik saya kembali jika saya belum benar-benar tiba di Gunung Lang Tao," ujar Huang Mingxiang, kemudian menoleh ke arah Gu Sinjie. "Setelah Wangye bangun anda mungkin juga akan terkena masalah, Wangye pasti tidak akan diam saja jika tahu saya pergi ke Gunung Lang Tao."
Gu Sinjie mengangguk, lalu membungkuk ke arah Huang Mingxiang. "Itu bukan masalah besar, Niangniang. Saya akan bertahan."
Huang Mingxiang tersenyum, mengangguk. Untuk terakhir kalinya lagi sebelum pergi, Huang Mingxiang mendekat ke arah Xiao Muqing dan mengecup dahi pria itu. Kemudian, Huang Mingxiang melepaskan kalung liontin batu merah delima langka pemberian Xiao Muqing sebagai bukti identitas lain bahwa dia seorang 'Xiao Wangfei' dan meletakkannya di samping pria itu.
Huang Mingxiang berbalik, berjalan keluar. Gu Sinjie mengikuti dari belakang. Di luar, Yui dan Baili Ruyi telah menunggu.
"Wangfei, saya akan membantu anda berganti pakaian." Yui maju, setelah mendapat anggukkan dari Huang Mingxiang wanita itu segera mengikuti Huang Mingxiang menuju kediaman satunya. Barang-barang perlengkapan mereka diletakkan di sana agar tidak diketahui oleh Xiao Muqing.
Baili Ruyi dan Gu Sinjie turut mengekori, mereka berdua menunggu sekaligus berjaga di depan pintu. Tak lama, pintu kamar Huang Mingxiang kembali terbuka. Huang Mingxiang sudah siap dengan pakaian serba hitam dengan satu garis merah elegan di bagian lengannya. Rambut wanita itu dikunci kuda, terdapat tusuk rambut giok putih untuk menahan ikatan rambut tersebut. Dia juga tidak lupa untuk mengenakan mantel hitam tebal untuk melindunginya dari dingin salju.
Di pinggang Huang Mingxiang sudah bertengger satu pedang besar, wanita itu juga membawa tas ransel kecil. Isinya hanya air putih, beberapa roti, peta Gunung Lang Tao, petasan pemberi sinyal, dan obor kecil untuk berjaga-jaga. Huang Mingxiang juga tetap menyimpan satu belati kecil di saku bajunya, ini untuk situasi darurat.
"Wangfei."
Gu Sinjie menyerahkan sebuah kain penutup wajah hitam, Baili Ruyi telah mengenakannya lebih dulu. Setelah Huang Mingxiang menerimanya, Gu Sinjie beralih memberikan kain penutup wajah itu kepada Yui.
"Katakan saja yang sebenarnya pada Wangye jika saat pria itu mengamuk dan memaksamu bicara, Sinjie. Wangye juga tidak mungkin dapat menyusulku dengan kondisinya yang masih seperti itu," ucap Huang Mingxiang sambil mengikatkan kain penutup wajah.
Gu Sinjie mengangguk, kemudian membungkuk ke arah Huang Mingxiang. "Baik, Wangfei." Setelah itu dia berlutut. "Wangfei! Hamba mohon, berhati-hatilah. Gunung Lang Tao sangat berbahaya, saya berharap anda dapat kembali dengan selamat dan penuh keberhasilan."
Huang Mingxiang tersenyum, menoleh sebentar ke arah Gu Sinjie dan mengangguk, setelah itu kembali menatap lurus ke depan. "Terima kasih banyak, Tuan Gu atas seluruh doa dan bantuanmu."
Huang Mingxiang melangkah keluar dari kediamannya, Baili Ruyi dan Yui mengikuti. Mereka berusaha menghindari mata penjaga lain dari Xiao Wangfu, setelah menemukan tempat yang cocok, Huang Mingxiang dibantu dengan Baili Ruyi dan Yui, melesat pergi begitu saja.
__ADS_1
Kemampuan bela diri Huang Mingxiang sudah sangat baik, namun dia masih kurang lancar dalam menggunakan jurus Qinggong untuk melayang dan melompat jauh seperti jarak atap ke atap. Tetapi setidaknya Huang Mingxiang sudah bisa bertarung melawan musuh nyata, tidak hanya menghindar dan menangkis seperti dulu.
Yui dan Baili Ruyi membawa Huang Mingxiang keluar dari gerbang Ibu Kota, satu kilo meter dari sana sudah ada tiga kuda yang menunggu mereka. Masing-masing dari mereka segera naik ke atas kuda dan memulai perjalanan menuju Gunung Lang Tao.