
Huang Mingxiang keluar dari Istana dingin, Su Mama yang melihat Huang Mingxiang telah kembali pun menghela napas lega. Dia khawatir, karena Huang Mingxiang cukup lama berada di dalam Istana yang suram ini.
"Wangfei ..." ucap Su Mama, kemudian matanya menyadari bahwa tusuk rambut yang Huang Mingxiang miliki berubah. Tetapi, Su Mama tidak banyak bertanya. Dia kembali fokus kepada Huang Mingxiang.
"Wangfei, anda baik-baik saja?" tanya Su Mama.
Huang Mingxiang mengangguk, dia sedikit lega karena Su Mama tidak banyak bertanya. Jadi dia tidak perlu memikirkan kebohongan rumit untuk menjawab Su Mama.
"Saya baik-baik saja, Su Mama. Ayo, segera kita pergi ke Istana Huangtaihou." Huang Mingxiang tanpa banyak bicara lagi bergegas masuk ke dalam kereta kuda, Su Mama pun dengan cepat meminta sang kusir untuk kembali menjalankan kereta menuju Istana Huangtaihou.
Selama di dalam kereta, tangan Huang Mingxiang tak henti-hentinya meremas tusuk rambut emas miliknya. Entah mengapa dia merasa jijik menggunakan tusuk rambut pemberian paksa Xiao Jihuang.
Sesampainya di Istana Huangtaihou, wanita itu dengan cepat turun. Pelayan pribadi senior milik Huangtaihou berlari keluar untuk menyambut Huang Mingxiang dengan senyum ramah, wanita itu tahu bahwa Huang Mingxiang adalah tamu penting abadi Huangtaihou.
"Salam, Wangfei." Pelayan pribadi Huangtaihou membungkuk, tersenyum hangat melihat sosok Huang Mingxiang.
Huang Mingxiang mengangguk tipis. "Berdiri, An Mama. Anda tidak perlu membungkuk terlalu lama untuk Wangfei ini. Ah ... di mana Bibi?" tanya Huang Mingxiang.
"Huangtaihou Niangniang saat ini tengah menunggu anda di ruangan tengah. Beliau hendak menghadiri acara ini bersama anda," jawab An Mama.
Huang Mingxiang mengerutkan keningnya. Menghadiri acara bersamanya? Bukankah tidak bisa? Untuk wanita yang belum menikah, mungkin masih bisa menghadiri acara dengan kerabat atau siapa saja yang dia sayang. Tetapi, untuk wanita yang sudah menikah, sesuai peraturan, mereka hanya diizinkan membawa suami atau ayah mereka.
Melihat raut wajah bingung Huang Mingxiang, An Mama mengerti apa yang dipikirkan Huang Mingxiang. Maka dari itu, An Mama segera menjelaskan. "Tidak perlu salah paham, Wangfei Niangniang. Huangtaihou Niangniang hanya ingin datang ke acara bersama anda, bukan sampai melakukan tradisi bersama anda."
__ADS_1
Huang Mingxiang mengangguk paham setelah mendengar ini, ah ... jadi itu maksudnya. Huang Mingxiang tidak bisa berpikir dengan benar setelah bertemu dengan Xiao Jihuang.
"Kalau begitu, maaf jika merepotkan An Mama. Tolong antarkan saya menemui Bibi," ujar Huang Mingxiang. An Mama tanpa ragu mengangguk, saat dia hendak memutar badannya, kereta kuda milik Wu Zeyuan tiba-tiba muncul.
Huang Mingxiang tersenyum tipis, lalu menoleh ke belakang. Wu Zeyuan dengan hati-hati turun dari keretanya, wanita itu menampilkan senyum terbaiknya di depan umum. An Mama yang melihat kedatangan Wu Zeyuan merasa aneh, dia tidak diberitahu Huangtaihou bahwa Wu Guifei akan turut hadir bersama Xiao Wangfei.
Tetapi, belum sempat An Mama bereaksi, wanita itu sudah dibuat terkejut karena tiba-tiba Huang Mingxiang berjalan ke arah Wu Zeyuan dan menyapa wanita itu hangat.
"Wu Guifei, anda akhirnya datang. Mata Wangfei ini sedari tadi melirik ke sana kemari untuk menemukan kecantikan seperti bunga milik anda." Huang Mingxiang melemparkan senyum hangat ke arah Wu Zeyuan.
Wu Zeyuan ternyata di luar ekspektasi Huang Mingxiang, wanita itu dapat dengan baik mengikuti permainan akting-nya.
"Salam, Xiao Wangfei Niangniang. Anda terlalu banyak memuji sejak pertama kali kita bertemu. Ternyata memang benar, bunga tidak dapat mengetahui keindahan dirinya sendiri. Lihatlah, anda terlihat sangat cantik dengan hanfu merah itu. Xiao Wangye benar-benar memperhatikan anda."
"Huangtaihou sudah menunggu, sebaiknya kita cepat masuk." Huang Mingxiang kemudian melirik ke dalam ruang tengah Istana. Mereka berdua berjalan beriringan, benar-benar seperti teman lama yang sangat akrab.
"Mingxiang!" Huangtaihou berdiri begitu melihat keponakan kesayangannya datang, lalu saat matanya menangkap sosok Wu Guifei, keningnya tidak bisa tidak terlipat.
Huang Mingxiang dan Wu Guifei membungkuk berbarengan ke arah Huangtaihou, wanita tua itu hanya bisa mengangguk sambil terus melemparkan tatapan penuh tanya. Huangtaihou selalu mengawasi dengan siapa Huang Mingxiang bergaul, seingatnya Huang Mingxiang tidak pernah memiliki hubungan yang dekat dengan Wu Zeyuan.
"Bibi, ada apa? Ah ... ya, maafkan Mingxiang karena terlambat mengunjungi anda. Sebelum kemari Mingxiang mampir sebentar ke Istana kediaman Wu Guifei, kami memutuskan untuk menghadiri acara Kasih Sayang ini bersama-sama, anda tidak keberatan, bukan?" ujar Huang Mingxiang.
Huangtaihou mengangguk singkat, walaupun dia jarang melakukan interaksi dengan Wu Zeyuan, tetapi karena Huang Mingxiang bersikap baik padanya, Huangtaihou tidak memiliki pilihan lain selain percaya.
__ADS_1
"Tentu tidak masalah, menghadiri acara Kasih sayang bersama keponakan kesayangan dan menantu diri sendiri adalah hal yang membahagiakan," jawab Huangtaihou, wanita itu tersenyum hangat ke arah Huang Mingxiang dan Wu Zeyuan.
Wu Zeyuan tertegun. Ini pertama kalinya dia mendapatkan senyum hangat Huangtaihou, terakhir kali dia ke Istana Huangtaihou untuk berkunjung bersamaan dengan kunjungan Huang Liyue, wanita itu menolak mereka dengan alasan tidak enak badan. Lalu pada kunjungan kedua Huangtaihou menerima kedatangan mereka, namun raut wajah Huangtaihou sangat menunjukkan bahwa dia tidak nyaman dengan pertemuan itu. Sehingga kunjungannya hanya berlangsung beberapa belas menit.
Teng! Teng! Teng!
Lonceng yang menandakan acara segera dimulai terdengar, membuat Huang Mingxiang dan yang lain menoleh ke arah luar.
"Lebih baik sekarang kita bergegas. Acara akan dimulai, Niangniang." Wu Zeyuan menatap Huangtaihou, mencoba berani bicara dan mendekatkan diri.
Huangtaihou mengangguk, kemudian menatap sendu ke arah Huang Mingxiang. "Mingxiang, bagaimana nanti anda akan memakan buah suci?"
Di perayaan Kasih Sayang ini memiliki tradisi memakan buah suci. Jadi buah yang sudah diberikan berkat dari kuil akan dikirim ke Istana, kemudian para wanita akan disuapi oleh pasangan mereka untuk dapat memakan buah tersebut. Jika pasangan mereka memiliki gender yang sama karena keluarga atau kerabat, maka mereka akan saling bergantian menyuapi. Dengan maksud ketika memakan buah tersebut hubungan mereka akan semakin erat dan dekat. Tetapi jika mereka adalah pasangan yang sudah menikah, maka sang suami akan menyuapi buah tersebut secara pribadi kepada istrinya, lalu dibalas oleh sang istri secangkir arak segar berkualitas.
Hal ini memiliki maksud agar hubungan mereka semakin romantis dan hubungan saling membutuhkan mereka semakin terjaga. Saat suami menyuapi buah suci kepada istrinya, itu memiliki tanda bahwa suami akan bertanggungjawab penuh merawat dan menjaga sang istri. Lalu saat istri membalas dengan memberikan arak segar, itu memiliki arti istri adalah penyejuk suami mereka. Setelah sang suami merawat dan bertanggungjawab penuh, lelah bekerja seharian demi mereka, maka sang istri akan memberikan kenyamanan dan rasa segar kembali.
Jika wanita yang sudah menikah seperti Huang Mingxiang menghadiri acara ini tanpa ayah atau suaminya, maka dia tidak bisa memakan buah suci itu saat acara itu juga. Hal itu sangat disayangkan, karena agar manfaat dari buah suci itu semakin nyata, mereka harus dimakan di waktu-waktu tertentu. Ini juga akan dianggap aib untuk sang wanita, reputasinya juga akan terancam.
Tetapi peraturan ini tidak berlaku untuk para penghuni Harem Kaisar, karena selir yang dimiliki Kaisar ada banyak sekali, maka mereka diperbolehkan untuk memakan buah suci itu dengan tangan mereka sendiri. Tidak mungkin Kaisar satu persatu menemui mereka, mengingat di acara itu Kaisar hanya memiliki dua orang pendamping. Huanghou dan selir terpilih.
Huang Mingxiang tersenyum, senyumannya membuat hati Huangtaihou menghangat. "Bibi, anda tidak perlu khawatir. Mingxiang baik-baik saja. Mingxiang memiliki alasan kuat mengapa ayah dan suami Mingxiang tidak bisa mendampingi kemari, sehingga pandangan buruk itu tidak akan terjadi."
Atas kalimat Huang Mingxiang, hati Huangtaihou tenang. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk menuju halaman depan Istana, di sana luas sekali. Acara dilaksanakan di ruang terbuka.
__ADS_1