
Xiao Muqing duduk di kursi yang sudah disediakan dekat dengan kasur miliknya dan Huang Mingxiang. Penampilan pria itu sudah kembali normal, seluruh luka atau penyakit miliknya sudah terangkat karena bunga Gold God. Jadi Xiao Muqing memutuskan untuk merawat dan menemani Huang Mingxiang yang masih pingsan.
Huangtaihou masih berada di dalam Xiao Wangfu, wanita itu sedang berada di dalam ruang berdoa. Tasbih Budha miliknya terus bergerak, wanita itu berdoa agar Huang Mingxiang baik-baik saja.
Xiao Muqing menempelkan sebuah kapas basah agar airnya menetes ke dalam bibir Huang Mingxiang yang mulai terlihat kering. Wanita itu sudah pingsan selama lima jam, sampai saat ini belum tersadar sama sekali. Tabib mengatakan bahwa Huang Mingxiang hanya pingsan, wanita itu baik-baik saja, hanya sedang beristirahat total. Seluruh energi Huang Mingxiang terkuras habis, beberapa syarat ototnya ada yang melemah, dan sirkulasi darah wanita itu tidak begitu baik. Tabib menyarankan agar Huang Mingxiang beristirahat total dan tidak melakukan kegiatan apa pun selain tidur dan makan, sesekali berkeliling Xiao Wangfu menggunakan kursi roda tidak masalah. Intinya, wanita itu tidak boleh menggerakkan tubuhnya secara berlebihan. Tabib akan memeriksa Huang Mingxiang setiap dua belas jam sekali.
Xiao Muqing mengurus total Huang Mingxiang, kecuali saat mandi dan memakaikan wanita itu baju. Xiao Muqing tidak pandai melayani orang di pekerjaan itu, yang dia lakukan untuk Huang Mingxiang adalah memakaikan wanita itu aksesoris, menyuapkan makanan cair ke dalam mulut wanita itu, memberikan air ke dalam mulut wanita itu, dan memastikan Huang Mingxiang baik-baik saja. Pria itu sama sekali tidak beranjak dari sisi Huang Mingxiang, kecuali saat waktu mandi dan berganti pakaian.
"Xiao Wangye, apa Mingxiang belum tersadar?" Suara Huangtaihou yang telah selesai berdoa terdengar, membuat Xiao Muqing menoleh dan segera berdiri dari kursinya. Pria itu menggeleng pelan. "Belum, Niangniang."
Huangtaihou menghela napas sedih, lalu duduk di kursi yang tadi Xiao Muqing tempati dan menggenggam tangan Huang Mingxiang. "Mingxiang ... bangunlah, nak. Jangan membuat bibimu sedih dan khawatir. Sejak kecil kamu selalu membuat bibi khawatir." Huangtaihou mengelap air matanya lembut menggunakan ibu jarinya, wanita itu terlihat sangat sedih.
"Niangniang, anda bisa kembali dan beristirahat. Benwang akan menjaga Mingxiang di sini," ujar Xiao Muqing, membuat Huangtaihou mengangguk dan beranjak berdiri. Dia juga tidak bisa berada di luar Istana terlalu lama, ada aturan yang mengikatnya sebagai wanita Harem walaupun sudah menjadi seorang Huangtaihou.
"Xiao Wangye, Aija mohon ... jaga dan sayangi Mingxiang. Anak itu sudah menderita sejak kecil dan--" Belum selesai Huangtaihou bicara, Xiao Muqing sudah memotongnya.
"Anda tidak perlu khawatir, Niangniang. Benwang pasti akan menjaga Mingxiang, kami adalah suami istri yang akan saling melengkapi." Xiao Muqing menatap serius Huangtaihou, dia sungguh-sungguh dengan kata-katanya.
Huangtaihou mengangguk lega, dia mempercayai ucapan Xiao Muqing. Kemudian berkata,"Mengenai masa lalu tentang anda dan Kaisar--"
"Benwang sudah tidak mempermasalahkannya lagi. Jika Kaisar sudah bisa belajar dari kesalahan, maka sebagai Paman muda Kaisar, benwang tidak akan mempersulit lagi. Benwang tidak akan melakukan pergerakan apa pun jika dari dalam sana tidak ada sinyal ancaman. Sejak dulu prajurit Xiao Wangfu selalu mengabdi kepada Kekaisaran, namun entah bagaimana Kaisar terhasut oleh pejabat-pejabat yang tidak senang dengan kehadiran benwang. Saat itu Kaisar masih baru menjabat dan muda, wajar jika melakukan beberapa kesalahan. Tetapi ... sepertinya sekarang bukan masalah prajurit yang menjadi perdebatan utama, namun ...." Mata Xiao Muqing melirik Huang Mingxiang, membuat Huangtaihou menarik napas pelan.
Huangtaihou berjalan melewati Xiao Muqing, memunggungi pria itu. "Aija sudah mendengar rumor yang mengatakan bahwa Kaisar mencintai Xiao Wangfei. Melihat gelagat anda dan Huanghou yang tidak tenang dan resah ... sepertinya rumor itu benar. Xiao Wangye, anda tentu tahu masalah ini, penguasa tidak hanya ada satu di dalam Istana Kekaisaran. Pernikahan anda adalah kuasa di luar kehendak Aija, namun ... Huanghou. Semakin kemari, semakin jelas alurnya. Aija sudah menaruh kecurigaan lama secara diam-diam dengan Huanghou, walaupun demikian ... baik Aija maupun Kaisar, kami berdua tidak bisa berbuat banyak. Huanghou memiliki kekuatan besar karena latar belakangnya, Rong Fu. Perdana menteri Rong Tagu berada di belakangnya, salah bergerak akan berakibat fatal pada pemerintahan Kaisar."
Xiao Muqing menatap sosok Huangtaihou, lalu beranjak duduk di kursinya semula. Matanya memandang Huang Mingxiang, kemudian menjawab,"Perdana Menteri Rong sangat rakus akan kekuasaan. Sejak awal perselisihan, benwang tahu dalang di balik semuanya adalah Rong Tagu. Tetapi, tidak disangka Kaisar terhasut? Rong Tagu berniat memecah prajurit Xiao Wangfu, lalu mengambilnya untuk Kaisar sebagai penambah kekuatan pria itu agar berat kekuasaan bertambah di Istana, tidak hanya di Xiao Wangfu. Jika Istana memiliki pasukan yang lebih besar, kekuatannya akan menjadi besar, begitu juga dengan Huanghou yang berperan sebagai ibu negara. Walaupun wanita itu tidak ikut campur dalam urusan militer, namun tetap derajatnya akan terangkat ketika Kaisar suaminya juga terangkat."
Huangtaihou mendengus tipis. "Hn! Aija dengar marga Rong juga mulai merangsek masuk ke dunia militer. Jika semua kejadian yang sudah terjadi digabungkan, kini terlihat jelas."
Huangtaihou tidak menyukai Xiao Muqing di awal karena kekuatan besarnya yang terlihat mengintimidasi kekuatan anaknya. Tetapi melihat pria itu kini menikah dengan Huang Mingxiang, Huangtaihou sedikit melunak. Setidaknya Xiao Muqing tidak akan menyerang Istana karena Huang Mingxiang. Dan lagi, Huangtaihou akan merasa tenang jika Huang Mingxiang menikah dengan laki-laki yang dapat melindunginya.
Huangtaihou menatap ke luar jendela, menatap objek kosong. "Yang mulia, sejak kepergian anda dunia banyak sekali yang berubah. Setiap tahun orang menggantikan dan tergantikan, pemerintahan juga semakin rumit. Seandainya anda ada di sisi saya untuk melihat perkembangan ini ...." Batin Huangtaihou, wanita itu memikirkan mendiang Kaisar suaminya yang telah meninggal lama.
__ADS_1
Huangtaihou berbalik, lalu berkata,"Kalau begitu, Aija kembali ke Istana lebih dulu. Xiao Wangye, tolong pegang omongan anda untuk menjaga Mingxiang."
Xiao Muqing mengangguk singkat, melirik Huangtaihou sekilas dan kembali menatap Huang Mingxiang. "Anda tidak perlu khawatir." Xiao Muqing tidak bangkit atau membungkuk untuk memberi penghormatan kepada Huangtaihou, pria itu tidak terlalu peduli. Hubungannya dan Huangtaihou memang tidak pernah jelas, namun Xiao Muqing mengizinkannya masuk ke dalam Xiao Wangfu karena dia adalah orang kesayangan Huang Mingxiang.
Saat Huangtaihou pergi, Gu Sinjie datang dan berkata,"Yang mulia, Tuan Muda Rong datang berkunjung."
Xiao Muqing mengerutkan keningnya, dia tidak senang. Untuk apa pria itu berani datang ke Xiao Wangfu?
"Tolak." Xiao Muqing malas menanggapi Rong Wangxia, namun Gu Sinjie menampilkan raut wajah tidak nyaman dan menjawab,"Tetapi ... Wangye, dia mengancam akan terus menunggu di depan gerbang bahkan sambil berlutut jika anda tidak mengizinkannya masuk."
Xiao Muqing kesal, ada apa dengan Rong Wangxia? Pria itu semakin berani mencari masalah dengannya. Tak lama Xiao Muqing akhirnya berdiri dan berjalan keluar untuk menemui Rong Wangxia. Raut wajah pria itu datar dan dingin, mata birunya menatap tajam Rong Wangxia.
"Salam, Xiao Wangye." Rong Wangxia membungkuk begitu melihat Xiao Muqing, bibirnya tersenyum tipis.
Xiao Muqing tidak membalas senyumnya, pria itu segera berbalik dan berkata,"Masuk."
"Baik, terima kasih banyak, Wangye."
Rong Wangxia berhasil masuk ke Xiao Wangfu, ini pertama kalinya. Xiao Muqing berjalan menuju ruang tengah, Rong Wangxia dan Gu Sinjie mengikutinya dari belakang.
"Saya ingin mengucapkan selamat kepada Wangye. Selamat, yang mulia. Kini kedua kaki anda telah kembali normal, saya turut berbahagia," ujar Rong Wangxia setelah menyeruput teh-nya.
"Terima kasih banyak atas ucapan Tuan Muda Rong, namun ... apa kita bisa langsung masuk ke dalam topik pembicaraan utama?" tanya Xiao Muqing langsung, malas berbasa-basi dengan Rong Wangxia.
"Apa satu kelopak bunga Gold God beberapa hari lalu telah anda minum?" tanya Rong Wangxia, membuat Huang Mingxiang menatap dingin pria itu.
"Dari mana anda tahu?" tanya Xiao Muqing.
"Kelopak bunga Gold God itu adalah pemberian saya untuk Wangfei. Saya tahu bahwa Wangfei mencari dan membutuhkan bunga itu untuk anda," jawab Rong Wangxia, membuat Xiao Muqing sedikit terkejut.
Xiao Muqing menatap semakin tidak senang, kepingan kelopak bunga itu dari Rong Wangxia? Bukankah Huang Mingxiang bilang wanita itu membelinya di pelelangan ilegal Kekaisaran?
__ADS_1
"Saya memberikan itu sebagai tanda dan bentuk perasaan saya kepada Wangfei." Rong Wangxia melanjutkan bicaranya, membuat Xiao Muqing tersenyum dingin.
"Tuan Muda Rong semakin berani. Anda bahkan mengatakan hal menjijikkan seperti itu di hadapan benwang dengan berterus terang," ujar Xiao Muqing, lalu meneguk teh miliknya dengan satu tegukan karena kesal.
Gu Sinjie yang berdiri di belakang Xiao Muqing juga ikut kesal, matanya menatap tidak senang ke arah Rong Wangxia.
Rong Wangxia terkekeh. "Saya belum selesai mengatakan semuanya, Wangye."
Xiao Muqing tetap terlihat acuh tak acuh, pria itu bersandar pada sandaran kursi miliknya, menatap Rong Wangxia dengan niat membunuh. Dia kesal, namun mengamuk tidak jelas bulan gaya Xiao Muqing.
"Anda bisa menjelaskan semuanya dengan satu kali bicara, setelah itu tidak dan kesempatan lagi dan keluar dari Xiao Wangfu sekarang juga," jawab Xiao Muqing, kemudian mengambil buah apel dan memberikannya kepada Gu Sinjie untuk dikupas.
Rong Wangxia mengangguk, lalu mulai menjelaskan semuanya. "Saya tidak akan berani merebut Xiao Wangfei dari yang mulia. Saya mengetahui bahwa cinta saya terlarang, saya menyadari bahwa seharusnya perasaan ini tidak boleh hadir. Maka dari itu ... saya tidak akan berani mengganggu kebahagiaan anda dan Xiao Wangfei. Saya bahagia jika Wangfei bahagia, meskipun bahagianya wanita itu tidak bersama saya. Bunga Gold God yang saya berikan adalah tanda perasaan tulus saya yang mencintai beliau, dan bersedia melihat Wangfei bahagia dengan anda."
Xiao Muqing diam, matanya masih menatap dingin Rong Wangxia. Tak lama, pria itu bertanya,"Apa setelah ini anda akan pergi dari ibu kota?"
Rong Wangxia mengangguk. "Benar. Saya sudah memiliki panggilan di negara Barat, saya sudah harus segera pergi dari ibu kota dan kembali di beberapa tahun ke depan. Mungkin saat saya kembali anda dan Xiao Wangfei sudah memiliki momongan manis." Bibir Rong Wangxia tersenyum hambar saat mengatakan ini, hatinya sebenarnya sakit. Sangat terenyuh.
Rong Wangxia mengeluarkan satu kotak panjang berwarna merah kecil yang dihiasi pernak-pernik indah. "Ini adalah hadiah terakhir saya untuk Xiao Wangfei, saya harap Wangye tidak akan keberatan untuk memberikannya kepada Xiao Wangfei setelah sadar nanti."
Xiao Muqing melirik kotak itu sekilas. "Ya."
Rong Wangxia berdiri, kemudian membungkuk ke arah Xiao Muqing. "Kalau begitu saya sudah tidak memiliki urusan lain lagi, saya pamit undur diri. Dan untuk soal bisnis antara saya dan Wangye, itu akan terus berjalan lancar. Saya akan mencoba mengontrolnya secara langsung saat tiba di Kekaisaran Barat nanti."
Xiao Muqing mengangguk singkat, lalu mengambil kotak merah panjang kecil itu untuk dimasukkan ke dalam saku bajunya.
Setelah Rong Wangxia pergi, Baili Ruyi tiba-tiba muncul dan berkata,"Wangye!! Wangfei telah sadar!!"
Xiao Muqing melebarkan matanya, pria itu segera berdiri dan berlari cepat ke arah kamarnya dan Huang Mingxiang. Saat di dalam kamar, dia melihat Huang Mingxiang telah mengambil posisi duduk di kasur dan dibantu Yui untuk meminum air putih.
Huang Mingxiang segera menoleh ke arah pintu begitu menyadari kehadiran Xiao Muqing, lalu dengan suara lemah yang serak, dia berkata,"Wangye?"
__ADS_1
Xiao Muqing berlari menghampiri Huang Mingxiang, kemudian memeluknya erat. "Kamu bangun?"
Huang Mingxiang mengangguk, tangannya membalas pelukan Xiao Muqing. Aroma tubuh pria itu sangat membuat hati gelisah Huang Mingxiang menjadi tenang.