Istri Kesayangan Xiao Wangye

Istri Kesayangan Xiao Wangye
Bab 106. Tanda Cinta Pertama


__ADS_3

"Yang ... mulia?" Rong Xuan tertegun saat melihat sosok Xiao Jihuang muncul di luar pintu sel-nya. Penampilan Rong Xuan saat ini benar-benar kacau, rambutnya berantakan, hanfu putihnya kotor karena terlalu lama berada di penjara.


Dua Minggu setelah sidang pengadilan, pejabat pengadilan pun segera memeriksa seluruh kekayaan dan bisnis keluarga Rong sebelumnya akhirnya benar-benar mengeksekusi mereka.


Xiao Jihuang tersenyum tipis, ada sedikit kehambaran di dalam senyumannya.


"Bagaimana ... bagaimana bisa anda bangun?!" tanya Rong Xuan, wanita itu segera berdiri dan berlari ke arah Xiao Jihuang, mendekati pintu sel.


Xiao Jihuang melirik penjaga pintu sel penjara Rong Xuan untuk membuka pintu tersebut, lalu masuk ke dalam sel penjara.


"Aku tidak benar-benar meminum pil yang kamu berikan, aku meminum pil yang aku dan Xiao Wangye siapkan sendiri untuk mengantisipasi alur seperti ini," jawab Xiao Jihuang, matanya menatap dingin Rong Xuan.


Rong Xuan tertegun, lalu dia segera mundur beberapa langkah dan jatuh lemas. Xiao Jihuang menghela napas tipis, kemudian berjongkok di hadapan Rong Xuan. Menatap penuh rasa kecewa ke arah Rong Xuan, kepala pria itu menggeleng pelan. "Kamu ... mengecewakanku lagi, Rong Xuan."


Rong Xuan membuang wajahnya ke samping, lalu membalas,"Jika saya tidak mengecewakan yang mulia, akankah yang mulia mencintai saya? Hati yang mulia hanya untuk--"


"Lalu apa artinya itu? Tidak peduli perasaan saya seperti apa untuk orang lain, itu tidak akan mengubah fakta bahwa kamu adalah satu-satunya Huanghou, pendamping utama Kaisar, diriku. Bukankah sebelumnya aku sudah pernah mengatakannya? Aku akan mencintaimu, namun itu membutuhkan waktu. Membutuhkan waktu bukan berarti tidak sama sekali. Perasaan itu pasti muncul, namun tidak secepat yang kau inginkan. Jika kamu mau bersabar dan membantuku untuk mencintaimu, kamu akan masih hidup tenang dengan mahkota Phoenix dan duduk di singgasana bersamaku, Rong Xuan. Aku pikir ... kamu benar-benar sudah mengerti. Apakah ... kamu beranggapan bahwa semua yang sebelumnya aku katakan adalah omong kosong?" Kepala Xiao Jihuang menggeleng pelan sebentar, lalu melanjutkan,"Itu bukan omong kosong, Rong Xuan."


Rong Xuan tertegun, dia segera mencengkeram kain hanfu-nya dan mulai menangis. Rong Xuan menjambak rambutnya frustasi, dia sudah lelah, ini sudah batasnya. Dia tidak benar-benar sudah lelah!!


Xiao Jihuang menahan gerakan menjambak tangan wanita itu, kemudian mengguncang tubuh Rong Xuan sekali dan menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Tidak peduli seberapa kotor pakaian Rong Xuan saat ini, Xiao Jihuang tetap memeluk Rong Xuan.


"Semua masalah ini adalah kesalahanku. Aku gagal menjadi Kaisar yang baik dan adil, aku terlalu sering membuatmu merasa kesepian dan tak dihargai. Rong Xuan, aku tidak akan menitik beratkan kesalahan padamu. Karena, perasaan cinta memanglah racun dunia. Dan aku gagal mengendalikan racun tersebut."


Rong Xuan menangis di dalam pelukan Xiao Jihuang, ini pertama kalinya dia menunjukkan sisi lemah sebenarnya yang dia miliki.


Xiao Jihuang menunduk, lalu menangkup wajah Rong Xuan. "Tetapi, menjadi orang jahat yang bahkan berani menyingkirkan nyawa seseorang, itu juga salah, Rong Xuan. Sekarang ... tidak ada jalan lain selain bertanggung jawab atas seluruh kesalahan yang pernah kamu buat. Rong Xuan, aku minta maaf."


Xiao Jihuang menempelkan dahinya ke dahi Rong Xuan, kedua sudut pria itu bertaut dalam. Rong Xuan menangis, sesekali dia memukul dada Xiao Jihuang dengan kedua tangannya karena hatinya saat ini benar-benar sangat terluka.


Xiao Jihuang menarik kembali wajahnya, lalu membersihkan debu yang menempel di wajah Rong Xuan.


"Saya ... salah ...." ucap Rong Xuan, membuat Xiao Jihuang tertegun. Apakah ... wanita itu mengakui kesalahannya?


Xiao Jihuang mengerutkan keningnya dalam, lalu mengangguk pelan. "Dengan menjadi diri sendiri dan mengakui kesalahan, itu sudah lebih dari cukup untukku, Rong Xuan. Aku berjanji akan menebus seluruh perasaan kesepianmu dengan hari-hari penuh penderitaan yang mungkin akan terus aku jalani karena merasa bersalah padamu."


Rong Xuan semakin menangis, Xiao Jihuang pun segera mencium kening wanita itu dengan tulus untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun mereka menikah. Ini adalah kecupan paling tulus yang pertama dan terakhir kalinya.


"Yang mulia, mohon maaf karena telah mengganggu anda. Tetapi, waktu eksekusi telah tiba." Seorang algojo membungkuk dan mendatangi sel penjara Rong Xuan.


Xiao Jihuang menarik napas dalam, lalu menghembuskannya. Pria itu mengangguk, kemudian kembali menatap Rong Xuan. "Aku berjanji tidak akan mengisi posisi Huanghou dengan wanita selain dirimu. Rong Xuan, ini adalah bukti cintaku padamu yang pertama. Aku harap, kamu pergi dengan tenang dan penuh cinta. Aku katakan sekali lagi, aku mencintaimu, Permaisuri-ku Rong Xuan."


Rong Xuan masih mengeluarkan air mata, dia sedikit memaksakan senyum di bibirnya. Rong Xuan memeluk Xiao Jihuang lagi, lalu melepasnya dan berlutut ke arah pria itu. "Yang mulia, Rong Xuan pamit undur diri untuk selamanya. Rong Xuan selalu mencintai yang mulia, bagaimanapun kondisi Rong Xuan, hidup atau mati, perasaan Rong Xuan tidak akan pernah berubah."


Setelah dua sampai tiga kalimat perpisahan, Rong Xuan pun akhirnya resmi dibawa oleh algojo menuju tempat umum. Tempat yang akan ditonton oleh para rakyat saat eksekusi dilakukan.

__ADS_1


Xiao Jihuang berjalan keluar dari penjara tak lama Rong Xuan keluar, wajah pria itu terlihat mendung.


"Yang mulia ...."


Suara Wu Zeyuan terdengar, wanita itu berdiri di depan pintu gerbang penjara menatap Xiao Jihuang yang terlihat kebingungan.


"Anda ... menangis?" tanya Wu Zeyuan, wanita itu sedikit terkejut karena melihat mata Xiao Jihuang basah.


Xiao Jihuang tertegun, lalu menyentuh matanya. Astaga ... sejak kapan air mata ini muncul?


Wu Zeyuan tersenyum lembut, lalu berjalan mendekat ke arah Xiao Jihuang dan memeluk suaminya. "Yang Mulia, semuanya sudah selesai. Anda tidak boleh menangisi yang sudah berlalu. Huanghou, saya yakin ... dia sudah menyadari kesalahannya sebelum benar-benar mati."


Xiao Jihuang mengerutkan keningnya dalam, entah mengapa hatinya terasa seperti diremas kuat. Pria itu segera membalas pelukan Wu Zeyuan dan menahan gejolak emosional yang ada di hatinya.


Sementara itu di Xiao Wangfu, Huang Mingxiang tengah menyusui Xiao Mingyui. Ketika hendak memanggil Su Mama untuk membawakan makanan lain untuk bayinya, tiba-tiba suara petasan terdengar. Huang Mingxiang sangat mengenal sekali suara petasan tersebut! Itu petasan milik Xiao Wangfu!!


Huang Mingxiang dengan cepat berdiri, Chen Taifei Agung yang selalu menemaninya pun ikut berlari ke arah luar. Di luar, sudah ada Baili Ruyi, Yui, dan para pelayan Xiao Wangfu lainnya yang menatap langit.


Lambang besar Xiao Wangfu terlihat, membuat seluruh warga Xiao Wangfu berlutut sambil menangis.


"XIAO WANGYE TELAH KEMBALI!!!"


Huang Mingxiang meneteskan air mata, bibirnya tersenyum, tangannya menggendong erat Xiao Mingyui. Wanita itu segera berlari keluar, dia berlari sendiri dengan kakinya menuju gerbang masuk Ibu Kota sambil menggendong Xiao Mingyui.


"Wangye ...."


Huang Mingxiang bergumam pelan, air matanya terus mengalir.


Pintu gerbang Ibu kota sudah terbuka lebar, menampilkan ratusan ribu pasukan yang kembali dengan beberapa luka akibat perang. Di barisan paling depan, Huang Mingxiang melihat sosok pria berpostur tegak dan berwajah datar. Itu ... itu adalah suaminya!


"WANGYE!!" Huang Mingxiang berseru lantang, air matanya semakin mengalir deras. Huang Mingxiang semakin mempercepat langkah larinya, dia sudah sangat terengah-engah.


Xiao Muqing yang melihat wanita aneh berteriak ke arahnya segera melompat turun dari kuda, siapa lagi jika bukan istri kesayangannya?


Pria itu dengan cepat berlari mendekati Huang Mingxiang, sampai akhirnya mereka benar-benar bertemu. Saling bertatap muka.


Huang Mingxiang memperhatikan Xiao Muqing, pria itu terlihat baik-baik saja, namun memang ada banyak sekali goresan pedang di baju zirah miliknya. Kulit pria itu juga terlihat sedikit menggelap, tidak seputih sebelumnya. Tetapi tetap tidak menghalangi aura ketampanan murni milik pria itu.


Xiao Muqing memperhatikan bayi yang sedang Huang Mingxiang gendong, keningnya terlipat dalam. "Bayi ini ...."


Huang Mingxiang tersenyum, air matanya masih keluar. "Ini anak kita, Xiao Mingyui. Dia perempuan, Wangye."


Xiao Muqing tertegun, lalu segera mengambil alih gendongan Xiao Mingyui. "Xiao Mingyui ...." gumam Xiao Muqing, matanya menatap lekat Xiao Mingyui.


Xiao Mingyui memiliki wajah seperti Huang Mingxiang, namun bentuk mata dan warna mata milik anak itu benar-benar mirip dengan Xiao Muqing. Anak ini akan memiliki kecantikan yang sangat tajam dan dingin di masa depan.

__ADS_1


Xiao Muqing mencium kening putrinya, lalu beralih mencium kening Huang Mingxiang. Pria itu kemudian menarik Huang Mingxiang ke dalam pelukannya, adegan ini pun ditonton oleh ratusan rakyat Ibu Kota. Mereka semua menangis terharu bahagia.


"Mufei ...." gumam Xiao Muqing ketika melihat Chen Taifei Agung muncul.


Chen Taifei Agung tersenyum, berdiri di hadapan putranya dengan air mata. Dia tidak bisa berbicara, lidahnya kelu karena terharu dan menahan tangis.


Xiao Muqing menyerahkan kembali Xiao Mingyui ke pelukan Huang Mingxiang, lalu pria itu bergegas berlutut ke arah ibunya. "Anak ini, kembali, Mufei."


Chen Taifei Agung mengangguk, kemudian membantu putranya kembali berdiri. "Bagus ... kerja bagus ...." Lalu Chen Taifei Agung memeluk anaknya erat.


Tak lama, Huang Mingxiang ikut mendekati mereka. Xiao Muqing dan Chen Taifei Agung segera menarik Huang Mingxiang ke dalam pelukan mereka juga. Hari ini, mereka benar-benar bahagia.


Sementara itu Baili Ruyi, wanita itu dengan cemas mencari sosok Gu Sinjie. Sebab, pria itu seharusnya menaiki kuda tak jauh di belakang Xiao Muqing karena dia adalah Jenderal Besar sekaligus tangan kanan Xiao Muqing. Tetapi ... kini ... sosok pria itu tidak terlihat sama sekali. Apakah ... apakah terjadi sesuatu ....?


Baili Ruyi menggelengkan kepalanya pelan, dia tidak boleh berpikiran sembarangan!


Ketika matanya sibuk mencari ke padatnya barisan prajurit, tiba-tiba seorang pria dengan pakaian lusuh sambil membawa keranjang berisi kotak-kotak aksesoris pun mendekat ke arahnya. Pria itu memiliki suara yang sangat berat, Baili Ruyi tidak pernah mendengar suaranya.


"Gunniang, apa anda ingin membeli aksesoris cincin ini?"


Baili Ruyi melirik sekilas penjual tersebut, kepalanya segera menggeleng keras sambil kembali menatap kerumunan prajurit dan mencari sosok Gu Sinjie.


"Tidak? Sayang sekali ... bagaimana jika saya berikan gratis?" Tawar penjual itu lagi, membuat Baili Ruyi kesal.


"Aku tidak ingin cincin! Pergilah!" balas Baili Ruyi kesal.


"Astaga ... lalu apa yang anda inginkan?" tanya penjual itu lagi.


"Kekasihku," jawab Baili Ruyi kesal, dia benar-benar tidak mengenali penjual usang ini.


"Kekasih anda? Seperti apa orangnya? Apakah dia tampan seperti ini?" tanya penjual itu, lalu membuka topi besar yang menutupi wajahnya.


Baili Ruyi tidak menoleh, dia masih fokus mencari dan memperhatikan satu persatu wajah prajurit.


"Nona, anda harus melihat wajah saya. Apakah ... wajah kekasih anda sama tampannya seperti ini?" tanya penjual itu lagi, namun dengan nada bicara yang sangat Baili Ruyi kenali.


Ketika menoleh, mata Baili Ruyi terbelalak lebar. Penjual itu ... penjual itu adalah Gu Sinjie?!


"Bagaimana, apakah wajahnya tampak seperti ini? Ah ... bagaimana dengan cincinnya? Sekarang anda bersedia menerimanya, bukan?" tanya Gu Sinjie, bibirnya tersenyum manis ke arah Baili Ruyi.


Baili Ruyi terpaku di posisinya, menatap Gu Sinjie. Matanya perlahan basah, bulir air mata mulai berjatuhan. Gu Sinjie yang melihat ini segera mengerutkan keningnya dalam. "Mengapa Gunniang secantik anda menangis? Sayang sekali ...."


Baili Ruyi pecah, dia akhirnya pun menangis di depan umum dan lompat ke pelukan Gu Sinjie.


Gu Sinjie tertawa, lalu membalas pelukan hangat Baili Ruyi, kemudian berbisik di telinga wanita itu dengan lembut. "Aku kembali, Ruyi."

__ADS_1


__ADS_2