
"Wangfei, tolong maafkan hamba karena tidak menyiapkan apa pun untuk kedatangan anda." Chai Mama, pelayan senior Huang Fu menyambut kedatangan Huang Mingxiang yang tiba-tiba.
Huang Mingxiang tersenyum tipis. "Tidak perlu khawatir, Chai Mama. Wangfei ini hanya ingin berkunjung sebentar menjenguk ayah."
Chai Mama mengangguk. "Tuan sedang beristirahat di paviliun. Nubi akan mengantar Wangfei."
Huang Mingxiang mengangguk, kemudian berjalan masuk. Di belakangnya ada Su Mama yang setia menemani Huang Mingxiang ke mana pun dia pergi.
Setelah sampai di Paviliun, Chai Mama izin pamit undur diri karena masih memiliki beberapa pekerjaan. Huang Mingxiang menatap ayahnya yang sedang termangu di atas Paviliun tersebut.
Ada lima kursi di situ. Dulu kursi itu memiliki pemiliknya masing-masing. Satu milik Huang Dajie, Song Furen (istri sah Xiao Dajie), Huang Liyue, Huang Mingxiang, dan terakhir ... Fang Yiniang, ibu Huang Mingxiang. Tetapi sayang, kursi Fang Yiniang tidak pernah digunakan karena wanita itu meninggal setelah melahirkan Huang Mingxiang.
Bisa dibilang, kehidupan Huang Mingxiang dan ibunya di sini beruntung. Ayah yang tidak pilih kasih, dan seorang Furen yang menerima pernikahan kedua suaminya dengan lapang dada. Bahkan Song Furen juga memberi kasih sayang yang sama dengan dirinya dan Huang Liyue, anak kandungnya.
Penghuni Huang Fu perlahan semakin berkurang. Pertama ibunya, lalu sepuluh tahun kemudian disusul oleh Song Furen. Hingga akhirnya tersisa mereka bertiga. Hati Huang Mingxiang terasa diremas saat melihat sosok ayahnya duduk seorang diri di Paviliun, dia melihat kesepian yang sangat dalam. Sekarang, ayahnya hanya bisa duduk sendirian di Paviliun. Huang Mingxiang dan Huang Liyue telah menikah, menyisakan dia seorang diri di Huang Fu. Sayang sekali, Huang Dajie tidak memiliki anak laki-laki. Jika kelak dia meninggal, maka kepemilikan keluarga Huang akan jatuh kepada adik laki-lakinya (paman Huang Mingxiang dan Huang Liyue) yang ada di luar ibu kota.
"Wa-- Wangfei." Suara pelayan wanita yang masih muda terdengar, membuat Huang Mingxiang menoleh. Ah ... wanita itu adalah Wanruo, pelayan pribadi dia dulu di Huang Fu. Tetapi, Huang Mingxiang memilih untuk membebaskan wanita itu agar dapat bersekolah. Sampai akhirnya Huang Mingxiang tidak memiliki pelayan pribadi, dia menolak setiap kali ayahnya menawarkan.
"Apa saya perlu memberitahu Laoye?" tanya Wanruo, matanya terlihat bersemangat melihat Huang Mingxiang. Hatinya senang, dia terlihat hampir menangis.
Huang Mingxiang memberikan senyum hangatnya, lalu menggeleng. "Tidak perlu, Wanruo. Kamu bisa kembali."
Wanruo menggeleng. "Tidak, Wanruo ingin melayani Wangfei di sini. Wangfei tidak tahu sebesar apa rasa rindu Wanruo untuk anda."
Huang Mingxiang terkekeh mendengar ini, anak itu selalu bisa membuatnya tersenyum. Huang Mingxiang mengangguk, dia tidak bisa melarang Wanruo. Perlahan, kaki Huang Mingxiang berjalan masuk ke dalam Paviliun. Huang Dajie masih juga belum menyadari kedatangannya.
Sampai akhirnya Huang Mingxiang memiliki jarak lima langkah dari ayahnya, di situlah Huang Dajie baru menyadari kehadiran Huang Mingxiang. Pria itu segera berdiri, lalu hendak membungkuk. Tetapi, dengan cepat Huang Mingxiang menahan gerakannya.
"Ayah ... tidak perlu, anda tidak perlu memberi hormat kepada Mingxiang."
Huang Dajie mengangguk tipis, kemudian menatap wajah anaknya. Terlihat jelas dari raut wajahnya, Huang Dajie tengah menyelidiki Huang Mingxiang dari atas hingga bawah. Dia ingin memastikan putrinya baik-baik saja selama di Xiao Wangfu.
__ADS_1
Melihat ini, Huang Mingxiang tersenyum. "Ayah, Mingxiang baik-baik saja. Mingxiang bahagia."
Tubuh Huang Dajie mendadak lemas, pria itu segera duduk di kursinya kembali dan menutup wajahnya menggunakan telapak tangan kanannya. Huang Mingxiang melihat tubuh ayahnya perlahan bergetar, serta bulir air mata perlahan terlihat menetes di dagu ayahnya.
Hati Huang Mingxiang tersentuh, dia segera duduk di lantai, hal ini membuat Su Mama terkejut, namun dia tidak bisa melakukan apa pun selain diam. Tidak ingin mengganggu Huang Mingxiang.
Huang Mingxiang menggenggam tangan kiri ayahnya. "Ayah ... Mingxiang baik-baik saja, mengapa anda menangis?"
Huang Dajie melepas telapak tangannya dari wajah, kemudian membalas genggaman tangan Huang Mingxiang. "Entah bagaimana aku harus menjelaskan semua ini pada kedua ibumu."
Huang Mingxiang menunduk. "Ayah, ayah sudah tahu kebenarannya, bukan?"
"Ayah tidak akan memihak salah satu dari kalian. Ayah hanya berharap, putri ayah tidak ada yang terluka. Ayah benar-benar tidak mengerti," jawab Huang Dajie. Air mata terus menetes di wajahnya yang sudah tidak lagi muda.
Dada Huang Mingxiang perlahan terasa sesak, dia ingin menangis. Huang Mingxiang kembali mengangkat wajahnya, menatap Huang Dajie sambil sepenuh tenaga menahan tetes air matanya.
"Mingxiang sudah terlanjur kecewa, ayah. Hati Mingxiang sakit. Mingxiang tidak memiliki apa pun lagi kecuali amarah. Maafkan Mingxiang, ayah. Mingxiang harus mengembalikan apa yang sudah Jiejie berikan kepada Mingxiang," ujar Huang Mingxiang.
Huang Mingxiang mengelap air matanya, lalu berdiri dan berkata,"Ayah, anda tidak perlu mengkhawatirkan Mingxiang. Mingxiang sangat bahagia berada di Xiao Wangfu, Wangye memperlakukan Mingxiang dengan sangat baik. Wangye memberikan Mingxiang pakaian, kekayaan, kekuasaan, kebebasan, dan kasih sayang. Tidak ada yang kurang dari hidup Mingxiang, tidak jauh berbeda dengan Huang Mingxiang yang dulu. Dan untuk masalah Mingxiang dan Jiejie, biarkan itu menjadi urusan kami berdua. Anggap saja seperti pertengkaran antara Jiejie dan Meimei biasa, kami akan bertengkar sambil terus menghormati ayah."
Huang Mingxiang melirik ke arah Su Mama, kemudian Su Mama mengangguk dan berjalan maju. Su Mama meletakkan sebuah kotak besar yang berisi minuman-minuman herbal.
"Ini adalah minuman herbal yang Mingxiang beli, ayah harus tetap sehat apa pun yang terjadi. Jangan biarkan beban pikiran merusak kesehatan ayah," ucap Huang Mingxiang.
Melihat ayahnya yang terus menunduk dan tidak menatap wajahnya, Huang Mingxiang menghela napas gusar. Huang Mingxiang mundur dua langkah, lalu membungkuk ke arah Huang Dajie. "Ayah, Mingxiang pamit undur diri untuk menghadiri undangan pesta Istana."
Menunggu beberapa detik, Huang Dajie belum juga menjawab, akhirnya Huang Mingxiang memutuskan untuk pergi. Saat berbalik dan menuruni Paviliun, air matanya mulai menetes dan berjatuhan. Dia tidak bisa menahan lagi.
"Wangfei ...." Su Mama terenyuh, dia kagum dengan Wangfei-nya.
"Sebaiknya kita cepat mengunjungi Istana, Su Mama. Masih ada satu urusan lagi yang harus aku lakukan sebelum acara dimulai," ujar Huang Mingxiang sambil mengelap kasar air matanya.
__ADS_1
Tanpa Huang Mingxiang dan yang lain sadari, Baili Ruyi berdiri di atas pohon besar salah satu milik Huang Fu. Air matanya menetes, wanita itu terbawa suasana dan emosi saat melihat interaksi Huang Mingxiang dan ayahnya.
"Sangat memilukan, aku harus melaporkan ini pada Gege sebelum Wangfei tiba di Istana," gumamnya, kemudian segera melesat maju menjauhi Huang Fu dengan kekuatannya.
Huang Mingxiang naik ke atas kereta kuda, dia berusaha sekuat tenaga untuk menahan air matanya kembali keluar, karena selanjutnya tujuannya adalah Istana. Dia tidak boleh terlihat lemah.
Setengah jam perjalanan, akhirnya kereta kuda Huang Mingxiang tiba di Istana. Dia segera turun, tujuannya bukanlah Istana Huangtaihou, tetapi ... Istana tempat tinggal Wu Guifei, Wu Zeyuan.
Saat masuk, kedatangan Huang Mingxiang segera dihadang oleh dua orang pengawal. Huang Mingxiang menaikkan alis kirinya. "Berani menghalangi jalan Wangfei ini?"
"Maafkan kami, Yang mulia. Tetapi, pesan dari Wu Guifei, kami dilarang membiarkan siapapun masuk tanpa izin saat ini," jawab kedua pengawal tersebut.
Huang Mingxiang tersenyum dingin. "Bahkan kepada senior Kekaisaran sekalipun? Bagaimana jika Wangye tahu mengenai sikap tidak sopan ini? Wangye mungkin tidak akan secara pribadi turun tangan, namun bukankah ada seratus ribu cara bagi Wangye untuk menguliti kalian dan seisi Istana ini?"
Kedua penjaga itu saling pandang, mereka dilema. Huang Mingxiang mengembalikan senyum ramahnya, lalu berkata,"Anda berdua tidak perlu khawatir. Wangfei ini akan melindungi kalian, jadi sekarang menepi dan beri Wangfei ini jalan."
Kedua penjaga itu masih ragu-ragu, membuat Huang Mingxiang kesal, akhirnya langsung maju dan menerobos begitu saja. Semakin dekat langkah Huang Mingxiang kepada kamar Wu Zeyuan, semakin Huang Mingxiang mendengar teriakan marah.
Huang Mingxiang tersenyum samar, ini benar-benar momen yang bagus. Huang Mingxiang semakin mudah masuk untuk menyusun rencananya sesuai yang dia mau.
Begitu Huang Mingxiang berjalan masuk ke dalam kamar Wu Zeyuan, tiba-tiba guci besar terlempar jatuh tepat di depan Huang Mingxiang.
Prang!
Huang Mingxiang terkejut, tetapi dia menahan diri untuk tidak menampilkan raut wajah berlebihan. Sedang Su Mama, dia dengan cepat menarik Huang Mingxiang dan melindungi Huang Mingxiang dari pecahan guci tersebut dengan tubuhnya.
Su Mama menatap kesal ke arah Wu Zeyuan dan pelayan wanita itu yang tengah berusaha menenangkan Wu Zeyuan.
"Aiya ... Wu Guifei, ada apa ini?" tanya Huang Mingxiang, bibirnya tersenyum ke arah Wu Zeyuan.
"Xiao Wangfei?" tanyanya balik, matanya yang sembab menatap Huang Mingxiang. Sepertinya dia terkejut dengan kehadiran Huang Mingxiang yang tiba-tiba ke Istana-nya.
__ADS_1