Istri Kesayangan Xiao Wangye

Istri Kesayangan Xiao Wangye
Bab 83. Kebingungan Para Penduduk


__ADS_3

Gu Sinjie mengetuk pintu kamar Xiao Muqing. "Yang mulia, pelayan akan masuk hendak mengantar makan malam." Ini adalah yang ketiga kalinya dia mengatakan ini, namun tidak ada jawaban apa pun dari Xiao Muqing. Tidak mungkin Xiao Muqing merajuk padanya dan mogok makan seperti anak kecil kan?


Gu Sinjie mengerutkan keningnya aneh, lalu menarik gagang pintu kamar Xiao Muqing sambil berkata,"Yang mulia, saya izin masuk ke dalam kamar anda."


Krieett ....


Gu Sinjie membuka pintu kamar Xiao Muqing, matanya segera terbuka lebar melihat Xiao Muqing tidak ada di atas kasur. Gu Sinjie mengepalkan kedua tangannya, lalu berlari ke ruang pemandian, namun Xiao Muqing tetap tak kunjung ia temukan.


"Sial!" umpat Gu Sinjie, pria itu segera berlari keluar dan berseru,"Kepala prajurit!"


Kepala prajurit itu setega berlari tergopoh-gopoh ke arah Gu Sinjie, bingung bercampur panik. "A-- ada apa Tuan Gu?!"


"Wangye menghilang! Yang mulia tidak ada di kamarnya!" jawab Gu Sinjie, dia segera berlari keluar dari kediaman Xiao Muqing. Kepala prajurit menyusul Gu Sinjie, pria itu berusaha mengimbangi kecepatan berlari Gu Sinjie walaupun masih bisa dibilang tertinggal jauh. Kepala prajurit itu berkata,"Saya akan menghubungi Letnan Jenderal Shao!"


Gu Sinjie melirik sekilas, mengangguk. Pria itu segera naik ke atas kudanya cepat menuju gerbang utama ibu kota, namun sebelum itu dia menyempatkan diri untuk kembali ke Gu Fu dan mengambil persiapan darurat seperti senjata kecil, tali, perban, obat ringan, roti, dan botol air. Dia akan menyusul Xiao Muqing ke gunung Lang Tao! Pria itu pasti menyusul Huang Mingxiang.


Gu Sinjie menggertakkan giginya, dia kesal dengan dirinya sendiri. Gu Sinjie tidak akan membiarkan dirinya gagal mendampingi Xiao Muqing dalam melaksanakan sesuatu untuk yang kedua kalinya. Kunjungan pertamanya ke Gunung Lang Tao untuk menemani Xiao Muqing saat itu gagal total, dia kalah telak saat menghadapi monster aneh di sana. Energi Qi-nya saat ini sedang kurang stabil karena baru saja pulang dari Medan perang. Dan sekarang, Gu Sinjie sudah pulih, sehat total. Dia harus bisa mendampingi Xiao Muqing dengan benar, ini menyangkut harga diri dan martabatnya.


Sampai di pintu gerbang Ibu Kota, dua ratus ribu dari lima ratus ribu pasukan Xiao Muqing berkumpul di luar gerbang. Mereka semua menunggu kedatangan Gu Sinjie, seluruh mata penasaran karena melihat pasukan militer elit Kekaisaran berkumpul secara tiba-tiba. Beberapa kelompok mulai mengadakan pertaruhan ilegal, saling menebak apakah akan terjadi peperangan baru?


Begitu Gu Sinjie memberhentikan kudanya, seluruh pasukan itu termasuk Letnan Jenderal Shao membungkuk ke arah Gu Sinjie. "Salam, Jenderal Besar Gu!"


Gu Sinjie menatap tajam seluruh pasukan yang tengah berbaris, kemudian berkata,"Dengar! Semua! Xiao Wangye dan Xiao Wangfei sedang dalam bahaya! Yang mulia pergi menuju gunung Lang Tao menyusul Wangfei Niangniang seorang diri! Oleh karena itu, tugas kalian semua adalah menyusuri seluruh jengkal gunung Lang Tao! Cari kedua yang mulia sampai ketemu! Buat barisan memanjang lurus dari puncak gunung Lang Tao hingga pintu gerbang Ibu Kota! Mengerti?!"


Para prajurit itu segera meletakkan kepalan tangan kanannya di dada kiri. "Siap! Dimengerti, Jenderal!"


Gu Sinjie mengangguk puas, kemudian dia kembali menggerakkan kudanya untuk melaju cepat menuju gunung Lang Tao. Barisan dua ratus ribu pasukan itu terbelah menjadi dua, tangannya segera merogoh sebuah petasan kecil berwarna merah dari sakunya. Gu Sinjie membakar sumbu petasan tersebut menggunakan kekuatan dalamnya, setelah itu mengarahkannya ke atas langit.

__ADS_1


JEDAR!!


Kembang api dengan logo Xiao Wangfu melebar tinggi di langit, seluruh sudut ibu kota dapat melihat kembang api tersebut, tak terkecuali orang-orang Istana.


"Lambang Xiao Wangfu?"


"Apa yang terjadi sebenarnya? Apa peperangan besar akan kembali terjadi?"


"Apa ada sesuatu? Perasaanku jadi tidak enak ...."


"Astaga, negara ini tak kunjung damai. Setiap selang beberapa tahun pasti terjadi konflik peperangan besar!"


"Tetapi ke mana Xiao Wangye? Tadi itu Jenderal Besar Gu yang memimpin pasukan!"


"Heh, kau pikir dengan kondisi seperti itu dia bisa memimpin pasukan?"


Seluruh warga ibu kota mendadak melakukan diskusi masal, menerka-nerka apa yang sekiranya terjadi.


"Siap, Jenderal!" Balas mereka semua secara bersamaan.


Letnan Jenderal Shao menarik pedangnya keluar, menghunuskan pedang itu lurus ke depan. "Prajurit! Buka formasi! Ikuti perintah Jenderal Besar Gu! Berangkat!!"


Letnan Jenderal mulai mengoperasikan pasukan, saat kudanya melaju maju menyusul kuda Gu Sinjie, kuda pasukan yang lain pun ikut maju. Dia ratus ribu manusia itu terlihat seperti segerombolan semut yang sedang berebut makanan, terlihat padat dan ramai sekali!


Wajah mereka terlihat serius, membuat seluruh orang yang melihat mereka semakin yakin, bahwa prajurit Xiao Wangfu benar-benar berkualitas dan dididik keras. Tidak ada satupun prajurit, bahkan seorang prajurit senior sekalipun yang terlihat memiliki perut buncit. Badan mereka profesional seluruhnya.


Sementara itu Xiao Muqing, pria itu sudah hampir bertemu dengan kaki gunung. Matanya sedari tadi melirik ke kanan dan kiri, mencari jejak Huang Mingxiang. Sesekali dia menemukan sebuah barang seperti bungkus permen atau kain kotor yang sudah tidak digunakan berada di jalan, Xiao Muqing yakin bahwa sebelumnya Huang Mingxiang dan yang lain pernah singgah di titik itu.

__ADS_1


Xiao Muqing memberhentikan kudanya saat berhasil tiba di kaki gunung. Baru berdiri di hadapan pintu masuk gunung, tiba-tiba seekor macam berekor ular muncul. Macan itu hanya memiliki satu mata, namun itu tidak membuatnya terlihat lemah, justru malah terlihat jauh lebih menyeramkan.


Xiao Muqing tidak bergeming, dia tetap diam di atas kudanya menatap macan itu. "Kau lupa siapa benwang?" Hanya dengan satu kalimat itu, macan itu mendadak mendesis dan menatap penuh ancaman ke arah Xiao Muqing. Langkah kakinya perlahan berjalan mundur, menatap penuh waspada ke arah Xiao Muqing. Ya, itu adalah macan yang pernah hampir Xiao Muqing bunuh awal pertama kali datang kemari. Tetapi mengetahui bahwa macan itu tengah mengandung, Xiao Muqing sengaja melepaskannya, sebagai gantinya dia mengambil satu bola mata macan itu.


Xiao Muqing menggerakkan kudanya agar melaju ke depan, lalu dia mulai memacu cepat sang kuda supaya cepat menuju puncak. Sepanjang perjalanan, tidak ada satupun hewan buas yang berani menampakkan diri. Saat ini bukan Xiao Muqing yang takut untuk bertemu hewan buas, namun hewan buas itulah yang takut bertemu Xiao Muqing. Masing-masing dari mereka pernah mendapat serangan Xiao Muqing, itu cukup membuat traumatis yang dalam. Apa lagi mereka pernah melihat Xiao Muqing bertarung dengan naga Shenlong, penghuni terkuat di gunung Lang Tao. Tentu saja mereka tidak akan berani macam-macam.


Sementara itu di tempat Huang Mingxiang, wanita itu sudah sampai di gerbang besar Istana Utusan Agung.


"Masuklah ke dalam, nak. Utusan Agung ada di sana." Naga Shenlong kemudian melingkarkan badannya di depan gerbang besar itu, masih membiarkan Baili Ruyi dan Yui yang tak sadarkan diri untuk berbaring di punggungnya.


Huang Mingxiang melirik ke arah Ruyi dan Yui. "Bagaimana dengan mereka?"


"Tidak perlu dipikirkan, cepat masuk." Naga Shenlong mendengus tipis, memaksa Huang Mingxiang untuk segera masuk.


Huang Mingxiang menurut, dia tidak ingin berdebat dengan naga Shenlong. Hanya dengan kedipan mata jika naga Shenlong kesal dan ingin membunuhnya.


Huang Mingxiang mendorong pintu besar itu. Ay ... ternyata jauh lebih ringan dibanding yang Huang Mingxiang kira. Tanpa berbasa-basi lagi, Huang Mingxiang segera melangkah masuk. Matanya takjub kala melihat pandangan di dalam, benar-benar seperti surga!


Banyak sekali pelayan yang mengenakan pakaian indah, lalu hewan-hewan menggemaskan berkeliaran bebas, dan awan-awan yang mengambang.


Ting!


Suara seperti bel terdengar, bersamaan dengan itu sebuah karpet merah tiba-tiba menjuntai ke arah Huang Mingxiang. Seluruh pelayan yang sedang bekerja itu segera mengalihkan fokus mereka ke arah pintu besar tadi untuk melihat Huang Mingxiang. Mereka semua tersenyum ramah, lalu tersenyum.


"Selamat datang, tamu terhormat," ucap mereka semua.


Huang Mingxiang tersenyum mendengar ini, mereka semua sangat ramah. Puncak gunung tempat tinggal Utusan Agung tidak semembosankan yang Huang Mingxiang kira. Dia mengira tempat tinggal seorang Utusan Agung akan serupa dengan kuil dan banyak hiasan patung Budha. Tetapi lihat, ini tidak terlalu. Memang masih ada hiasan patung Budha, namun hiasan mengkilau juga tak kalah meriah. Membuat sensasi seperti di surga, benar-benar mengagumkan.

__ADS_1


Huang Mingxiang dengan ragu melangkahkan kakinya untuk berjalan di atas karpet merah tadi. Karpet merah itu menuju ruangan yang pintunya dibuka lebar. Saat kakinya mulai memasuki ruangan tersebut, suara alunan kecapi indah terdengar. Huang Mingxiang sedikit terkejut karena melihat sosok pria tampan sedang memainkan alat musik kecapi. Pria itu memiliki rambut berwarna ungu gelap, matanya berwarna ungu, pakaiannya putih bersih, di kepalanya ada hiasan bulu emas angsa. Wajah pria itu terlihat sangat cantik, bahkan lebih menggoda dari wanita. Jika dia keluar dan menunjukkan diri di keramaian, maka yang jatuh cinta padanya bukan hanya seorang wanita, namun juga pria.


Pria itu mengangkat pelan pandangannya, bibirnya tersenyum menatap Huang Mingxiang. "Cinta sebesar apa yang kamu miliki sehingga berani mengambil keputusan besar seperti ini ... hmm?" tanya pria itu, membuat Huang Mingxiang tersadar dari lamunannya.


__ADS_2