
Baili Ruyi mengerjapkan matanya, perlahan tubuhnya mencoba mengambil posisi duduk walaupun sulit. Nyeri di pundak kanan bekas gigitan monster lembah masih terasa kuat, keningnya tidak bisa tidak terlipat.
"Argh ..." ringis Baili Ruyi, kemudian matanya mulai memperhatikan kamar yang sekarang dia tempati.
"Xiao Wangfu?" gumamnya, lalu tak lama otaknya teringat akan dua benda penting. Kepala monster dan hadiah kecil yang sengaja dia bawa keluar dari lembah untuk Gu Sinjie. Baili Ruyi menyingkap selimutnya, tangannya meraih pedang miliknya yang berdiri di dekat ranjang. Dia menggunakan pedang itu sebagai tumpuan badannya agar mampu melangkah.
Saat Baili Ruyi membuka pintu, udara yang sangat dingin langsung masuk. Baili Ruyi mencengkeram gagang pedangnya lebih kuat, menggertakkan giginya.
Pelan tapi pasti, Baili Ruyi melangkahkan kakinya ke tempat pencucian pakaian Xiao Wangfu. Berusaha mencari pakaiannya di sebuah tumpukkan pakaian kotor besar. Keningnya mengerut, mengapa pakaiannya tidak bisa ditemukan? Tidak mungkin dibuang begitu saja kan?
"No-- nona Baili?!"
Suara wanita terdengar, saat menoleh dia melihat seorang pelayan wanita yang mengenakan jaket tebal hendak mengumpulkan pakaian kotor.
"Nona, anda harus kembali ke dalam kamar." Pelayan itu buru-buru meletakkan pakaian kotor pada tempatnya dan berlari kecil menghampiri Baili Ruyi. Saat tangannya hendak menyentuh lengan Baili Ruyi agar dapat dia bantu kembali menuju kamar, Baili Ruyi menepis kasar.
"Ada barang yang harus aku cari. Di mana pakaian lamaku?" tanya Baili Ruyi, matanya masih terus sibuk mencari pakaiannya.
Pelayan itu mengerutkan keningnya, kemudian rela segera melepas jaket tebalnya untuk Baili Ruyi karena wanita itu keluar hanya dengan hanfu putih polos di kondisinya yang baru saja selamat dari masa kritis.
"Pakaian lama anda? Pakaian itu sudah dibuang, Nona. Pagi ini pelayan lain sudah merapikan seluruh barang/sampah yang akan dibuang di pintu belakang Xiao Wangfu," jawab pelayan tersebut, dia adalah pelayan yang ditugaskan Su Mama untuk mengurus Baili Ruyi atas perintah Huang Mingxiang.
Baili Ruyi membelalakkan matanya, kemudian mencengkeram kerah pelayan wanita itu dan berkata,"Jika sampai pakaian itu hilang, maka nyawamu juga akan ikut hilang!" Kemudian Baili Ruyi berjalan cepat menuju pintu belakang Xiao Wangfu, dia tidak peduli dengan seluruh rasa sakit yang ada di tubuhnya. Barang yang ada di dalam saku baju itu memiliki nilai jauh lebih penting dari pada luka-lukanya sendiri.
"No-- nona ...." Pelayan itu ketakutan, namun dia tidak bisa meninggalkan Baili Ruyi begitu saja. Jadi, mau tidak mau dia harus terus mengikuti Baili Ruyi. Lebih baik diancam Baili Ruyi dari pada harus menerima hukuman dari Xiao Wangfei karena tidak menjaga Baili Ruyi dengan baik, itu pikirnya.
Terlalu banyak memaksakan gerakan kasar, bahu kanan Baili Ruyi mulai mengeluarkan darah. Sepertinya karena tangan kanannya menggenggam erat gagang pedang dan menempatkan seluruh beban tubuhnya di sana. Pelayan di belakangnya pun terlihat khawatir, berkali-kali memohon pada Baili Ruyi untuk berhenti dan membiarkan dia sendiri untuk mencarinya. Tetapi Baili Ruyi menolak, dia ingin mencari pakaiannya sendiri.
Baili Ruyi membuka kasar seluruh plastik, mencari pakaiannya.
Srak!
Di bungkusan terakhir, Baili Ruyi langsung menghela napas lega, dia berhasil menemukan pakaiannya!
Baili Ruyi melepaskan pedangnya, jatuh terduduk di atas tumpukkan salju. Tangannya dengan cepat mengambil bajunya dan memeriksa kantung-kantungnya. Setelah berhasil menemukan benda yang dari tadi dia cari, wanita itu segera tersenyum tipis dengan bibir pucatnya.
Baili Ruyi menarik benda itu keluar, sebuah batu kristal berwarna hijau menyala terlihat. Membuat pelayan yang berada di belakangnya terdiam dengan tubuh menggigil menahan dingin. Matanya terpana oleh berlian hijau tersebut.
Baili Ruyi menggenggam erat berliannya, kemudian melempar bajunya yang sudah hancur parah ke tumpukkan sampah, lalu mengambil pedangnya dan berusaha kembali bangkit. Pelayan wanita itu segera dengan cepat membantu Baili Ruyi untuk kembali berdiri, kemudian perlahan menuntun Baili Ruyi untuk kembali ke kamarnya.
__ADS_1
Di tengah jalan, Baili Ruyi melepas jaket pelayan itu dan mengembalikannya. "Pakai ini. Terima kasih."
Pelayan itu tertegun, kemudian menggeleng dan menyodorkannya kembali ke Baili Ruyi. "Tidak, Nona. Anda harus mengenakan ini, udaranya sangat dingin. Anda baru saja terbangun dari pingsan."
Baili Ruyi menolak, terus melanjutkan jalannya, meninggalkan pelayan itu di belakang. "Pedulikan dirimu sendiri sebelum peduli pada orang lain."
Pelayan itu tertegun lagi, bibirnya tersenyum hangat. Ketakutannya pada Baili Ruyi karena ancaman tadi menghilang, kemudian dia segera mengenakan jaketnya kembali dan menyusul Baili Ruyi.
Saat sampai di halaman depan kamarnya, tiba-tiba dia melihat Gu Sinjie berjalan keluar dari kamarnya dengan raut wajah buruk. Matanya seperti sedang mencari sesuatu, aura marah dan siap membunuh terlihat jelas.
"Sinjie?" tanya Baili Ruyi, keningnya terlipat heran karena tiba-tiba Gu Sinjie muncul dari raut wajah seperti itu.
Gu Sinjie menghentikan langkahnya, terkejut. Matanya terbuka lebar saat melihat sosok Baili Ruyi, pria itu dengan cepat berlari ke arah Baili Ruyi. "Kau gila? Apa yang sedang kau lakukan di tengah salju seperti ini tanpa mantel atau pakaian tebal apa pun?!"
Baili Ruyi menatap kesal Gu Sinjie. "Kenapa datang-datang kau sudah memarahiku?!"
"Bodoh! Kau baru saja bangun dari koma selama dua hari, luka di tubuhmu baru saja membaik dan kini ... lihat! Bahumu kembali mengeluarkan darah! Tabib juga mengatakan kau bisa saja mati karena organ tubuhmu hampir mati total!" Gu Sinjie menatap galak Baili Ruyi, napasnya menderu, wajahnya memerah.
"Bodoh! Apa pedulimu?! Ini pertemuan pertama kita setelah aku pergi ke lembah dan justru kau malah berteriak marah padaku?! Dasar sialan! Mengganggu suasana hatiku saja! Lagi pula aku belum mati hari ini!" balas Baili Ruyi, ikut tersulut amarah karena melihat Gu Sinjie meledak.
Gu Sinjie menggertakkan giginya kesal. "Apa peduliku? Tentu saja aku peduli! Aku khawatir padamu, kau dengar?! Aku khawatir sialan!"
"Bagaimana bisa aku percaya dengan kata-katamu?!"
"Oh, ya? Bagaimana? Aku tidak percaya!"
"Kepala batu! Aku yang menggendongmu!" Gu Sinjie mengangkat kedua tangannya di depan dada, menerapkan gerakan sedang menggendong seseorang.
"Apa benar? Sungguh? Membayangkannya saja aku jijik disentuh olehmu!"
"Ya! Aku yang menggendongmu seperti ini!" Tangan Gu Sinjie bergerak meraih tubuh Baili Ruyi, kemudian menggendong tubuh wanita itu dan membawanya masuk ke dalam kamar.
"Hah?!" Baili Ruyi terkejut, matanya menatap galak Gu Sinjie, wajahnya memerah.
Gu Sinjie tidak peduli, dia terus menggendong Baili Ruyi masuk ke dalam kamar dan meletakkannya kembali di atas kasur.
Baili Ruyi diam, keningnya terlipat kesal duduk di atas kasur. Gu Sinjie kemudian menoleh ke pelayan penanggung jawab Baili Ruyi. "Ganti perbannya, saya akan kembali setelah memimta sup hangat dari pihak dapur."
"Ba-- baik!" Pelayan itu membungkuk, kemudian bergerak untuk mencari perban baru.
__ADS_1
Gu Sinjie berjalan keluar, meninggalkan Baili Ruyi tanpa menoleh. Baili Ruyi menatap kesal ke arah Gu Sinjie, mendengus tipis, wajahnya masih memerah.
"Nona Baili, permisi ...." Pelayan itu hendak melepaskan hanfu bagian atas Baili Ruyi untuk mengganti perbannya.
Sementara itu Gu Sinjie, dia tidak benar-benar langsung menuju dapur, melainkan mengunjungi kediaman Xiao Muqing terlebih dahulu. Sebenarnya dia hendak menemui Xiao Muqing, namun menerima laporan dari pelayan kedua penanggung jawab Baili Ruyi bahwa wanita itu menghilang, Gu Sinjie langsung melangkahkan kakinya tanpa berpikir dua kali menuju kamar wanita itu.
"Wangye." Gu Sinjie membungkuk ke arah Xiao Muqing, kali ini dia sedikit merasa aneh, pasalnya Xiao Muqing hanya mengizinkan dia sampai tirai pembatas antara ruang tidur dan halaman depan bagian dalam kamar. Biasanya Xiao Muqing mengizinkan dia sampai jarak lima langkah dari kasur.
"Tidak ada pergerakan apa pun dari Perdana Menteri Rong, tetapi ...." Gu Sinjie menggantung kalimatnya, keningnya terlipat sulit.
"Apa?" tanya Xiao Muqing, matanya kemudian melirik ke arah Huang Mingxiang yang tengah tertidur sambil memunggunginya. Punggung halus wanita itu terlihat, mereka berdua diam-diam tengah tanpa busana tetapi tetap tertutup oleh selimut.
"Mata-mata dari Kerajaan Huan Tenggara kembali ditemukan dua kali. Pertama di kamp militer, kedua di kantor rapat para Jenderal dan petinggi Militer lainnya. Sesuai yang kita tahu, banyak sekali berkas penting militer negara di sana. Ketika diselidiki, mereka benar-benar masuk karena mendapat akses dari orang dalam Kekaisaran. Sayangnya kita tidak bisa mengetahui siapa orang dalam Kekaisaran tersebut, walaupun saya sudah menaruh kecurigaan besar kepada Perdana Menteri Rong, tetapi tetap kita belum mempunyai banyak bukti yang valid untuk dapat menghukum mati Perdana Menteri Rong." Gu Sinjie diam-diam mengepalkan kedua tangannya, dia benar-benar gatal ingin menyingkirkan Perdana Menteri Rong.
"Tidak bisa mengetahui? Apa tersangka melakukan tindakan bunuh diri?" tanya Xiao Muqing, keningnya ikut terlipat.
Gu Sinjie menggeleng. "Tidak, Wangye. Tetapi tersangka 'dipaksa' bunuh diri. Saat investigasi sedang dilakukan, Jenderal besar Chen melaporkan bahwa kepala tersangka mendadak meledak secara mengerikan saat hendak mengatakan nama pelaku. Belum sempat menyebutkan siapa pelakunya, tiba-tiba kepala pria itu meledak begitu saja. Ledakannya benar-benar mengerikan, bahkan seluruh organ dan sel kepalanya bertebaran di ruang sel. Saya pernah mendengar hal mengenai seperti itu sebelumnya, itu adalah sihir, Wangye. Biasanya digunakan oleh para penyewa pembunuh bayaran kelas atas. Sihir ini memiliki kontrak khusus, jadi jika sang pembunuh berani menyebutkan nama si penyewa, maka kepala sang pembunuh akan meledak begitu saja. Tetapi ini kasusnya sedikit berbeda, karena tersangka belum sempat menyebutkan nama orang tersebut. Kemungkinan kepalanya meledak hanya melalui 'perasaan' ingin memberitahu, namun jika demikian ... bukankah berarti ilmu sihir penggunanya cukup tinggi? Hanya beberapa orang saja yang dapat menggunakan ilmu seperti itu."
Xiao Muqing menatap dingin lurus ke depan, kepalanya terasa sibuk. Tak lama, matanya kembali menatap ke arah tirai pembatas yang memiliki bayangan Gu Sinjie. "Hanya ada tiga kelompok berdarah biru yang memiliki ilmu sihir tinggi, fakta ini juga sudah lama sekali. Saat ini sudah jarang menemukan daerah atau kelompok tertentu dari Kekaisaran kita yang masih menggunakan ilmu sihir. Pertama, keluarga Kekaisaran. Kedua, keluarga Fang tempat Huangtaihou berasal, dan keluarga Rong."
Gu Sinjie mengerutkan keningnya lebih dalam. "Lagi-lagi ketiga kubu itu yang harus kita curigai. Rasanya seperti berputar-putar. Jika pelakunya adalah Perdana Menteri Rong, kemungkinannya kecil. Karena tindakannya berhasil kita ketahui beberapa waktu lalu, dan dari pihak kita maupun dia tidak ada gerakan apa pun. Dari pada gegabah bergerak, pasti Perdana Menteri Rong lebih memilih diam untuk beberapa waktu. Perdana Menteri Rong bukan orang yang bodoh, dia tahu bukti kejahatannya ada di kita."
Xiao Muqing tersenyum dingin, kemudian menjawab,"Sinjie, apa anda tahu? Ada satu orang gila di Istana saat ini. Seseorang akan melakukan apa pun, bahkan hal bodoh dan semberono sekalipun demi mencapai apa yang dia inginkan. Apa lagi dia merasa posisinya paling terpojokkan saat ini."
"Orang gila di Istana?" tanya Gu Sinjie bingung.
"Huanghou," jawab Xiao Muqing.
Gu Sinjie tertegun, benarkah? Dia tidak menerima berita apa pun mengenai Rong Xuan, dirinya sendiri takjub, bagaimana mungkin Xiao Muqing dapat mengetahui hal-hal baru yang terjadi di Istana tanpa keluar dari Xiao Wangfu sedikitpun? Apa dia memiliki mata-mata? Tetapi bukankah seharusnya dirinya tahu? Ah ... sudahlah, semakin dia pikirkan semakin kepalanya bertambah bingung. Xiao Muqing selalu memiliki tindakan yang tidak pernah dia ketahui dan duga.
"Lalu ... apa kita harus menyelidiki Huanghou?" tanya Gu Sinjie.
Xiao Muqing menggeleng. "Tidak perlu, ikuti saja gerakan Perdana Menteri Rong. Wanita itu pasti mengandalkan ayahnya untuk bergerak, karena dia berada di Harem. Mengingat perasaan bocah tengik itu kepada Huang Mingxiang, sepertinya dia tidak akan membiarkan Huanghou melakukan tindakan berbahaya untuk Huang Mingxiang."
Gu Sinjie mengangguk. "Baik, Wangye. Tetapi, Wangye. Tetap. Kemungkinan perang besar akan terjadi adalah enam puluh persen, karena gerakan mereka sangat agresif. Mata-mata sudah berhasil bergerak masuk, tanda mereka mulai menyiapkan persiapan lebih dan tidak takut untuk memulai perang. Jika saat itu tiba ...." Gu Sinjie menggantung kalimatnya, menundukkan kepalanya dalam. Dia takut saat peperangan benar-benar terjadi dan Xiao Muqing tidak bisa terjun ke Medan Perang untuk memipin, maka pihak Kaisar dan oknum lain akan merenggut pasukannya dengan alasan 'meminjamnya' sebentar untuk melindungi Kekaisaran.
"Berhenti memikirkan hal buruk, Sinjie. Fokus pada pekerjaanmu," balas Xiao Muqing.
Gu Sinjie mengangguk, berusaha menjernihkan pikirannya. Setelah dua sampai tiga kalimat perpisahan, dia akhirnya keluar dari kamar Xiao Muqing.
__ADS_1
Huang Mingxiang yang sedari tadi tidur memunggungi Xiao Muqing diam-diam membuka kedua matanya pelan, keningnya terlipat. Dia mendengar percakapan Xiao Muqing dan Gu Sinjie secara keseluruhan. Topik terakhir lah yang berhasil membuat hatinya merasa tidak tenang. Hal ini membuat tekad Huang Mingxiang untuk menemui Utusan Agung semakin bulat.
Kedua mata Huang Mingxiang kembali buru-buru terpejam kala merasakan kepalanya dibelai lembut oleh tangan Xiao Muqing, saat itu juga dia memutuskan untuk pura-pura tertidur.