Istri Kesayangan Xiao Wangye

Istri Kesayangan Xiao Wangye
Bab 44. Menikah Denganku, Apalagi?


__ADS_3

"Wangye, perintah yang anda berikan beberapa waktu lalu, hasilnya adalah bersih. Tidak ada kecurigaan apa pun mengenai orang tersebut." Gu Sinjie melaporkan tugasnya dengan kalimat yang memiliki arti tersirat. Mengingat Huang Mingxiang ada di sini.


Xiao Muqing melirik ke arah Huang Mingxiang yang menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut, wanita itu berpura-pura tidur agar Gu Sinjie tidak merasa aneh.


"Lalu? Apa ada lagi?" tanya Xiao Muqing, tidak bisa berkomentar banyak karena Huang Mingxiang.


Gu Sinjie menggeleng. "Tidak, yang mulia."


Xiao Muqing mengangguk. "Kalau begitu kamu boleh keluar. Katakan pada Su Mama untuk menyiapkan barang bawaan Wangfei besok, wanita ini juga sudah tertidur. Perintahkan Su Mama kembali ke kamarnya tanpa harus menunggu di luar."


Gu Sinjie melirik sekilas ke arah Huang Mingxiang yang terlihat tertidur pulas, hatinya tidak menaruh kecurigaan apa pun tentang apa yang terjadi sebelum dirinya diperbolehkan masuk oleh Xiao Muqing.


"Baik, Wangye. Kalau begitu bawahan ini pamit undur diri." Gu Sinjie membungkuk, kemudian berbalik dan berjalan keluar. Sesampainya di luar dan menemui Su Mama, Gu Sinjie langsung menyampaikan tentang apa yang dikatakan oleh Xiao Muqing tadi.


Di dalam, Huang Mingxiang segera menyibak selimutnya, mengambil napas lega. Setelah itu matanya menatap Xiao Muqing yang tersenyum tipis, wanita itu segera tertawa renyah dengan nada rendah.


Huang Mingxiang membetulkan Hanfu-nya yang masih berantakan, walaupun beberapa bagian kain sudah terkoyak, namun masih bisa menutupi tubuhnya dengan baik. Huang Mingxiang mendekatkan jaraknya dengan Xiao Muqing, kemudian memeluk pria itu dan bersandar di dadanya.


Xiao Muqing kaku, namun sesaat kemudian dia mulai merasa terbiasa. Pria itu dengan ragu membalas pelukan Huang Mingxiang sambil mengelus lembut kepala wanita itu.


Huang Mingxiang mendongak, menatap wajah tampan suaminya. Bibir wanita itu semakin tersenyum dalam, lalu berkata,"Sayang sekali keindahan Dewa yang ini harus tertutup oleh benteng bangunan Xiao Wangfu. Tetapi itu bagus!"


Xiao Muqing mengerutkan keningnya, bingung. Huang Mingxiang tak lama terkekeh. "Itu bagus, karena dengan begitu hanya saya yang dapat melihat keindahan Dewa yang satu ini. Tentu saja, karena saya adalah Wangfei-nya."


Xiao Muqing membuang tatapannya ke arah lain, keningnya tetap terlipat, sedangkan wajahnya semakin memerah. Huang Mingxiang tidak bisa tidak tertawa, suami kakunya ini sangat menggemaskan jika sedang malu-malu.


Saat perasaan gugup di hatinya mulai mereda, Xiao Muqing memberanikan diri untuk menatap wajah Huang Mingxiang lagi, bibir pria itu tersenyum tipis, tangan kanannya bergerak untuk menyibak helai rambut Huang Mingxiang yang menutupi bahu wanita itu.


"Menggulingkan tiga Kekaisaran besar sepertinya setimpal dengan mendapatkanmu. Mahkota Kaisar manapun akan benwang belah menjadi dua jika berani menyentuhmu," ucap Xiao Muqing, tidak mau kalah dalam hal menggoda. Huang Mingxiang tidak bisa tidak memerah, wanita itu kemudian membenamkan wajahnya di dada bidang Xiao Muqing.


Xiao Muqing mencium kening Huang Mingxiang, waktu terasa nyaman setiap kali dia bersentuhan dengan wanita ini.

__ADS_1


Sementara itu Gu Sinjie, pria itu segera berlenggang pergi dari kediaman Xiao Muqing untuk bersantai. Tempat bersantai favorit-nya adalah pohon besar yang berdiri kokoh di halaman belakang Xiao Wangfu. Pria itu melompat lincah, kemudian menyandarkan punggungnya di batang pohon yang tebal. Matanya memperhatikan Xiao Wangfu yang perlahan menggelap karena matahari yang kian terbenam.


Saat sedang memejamkan mata untuk menikmati kedamaian Xiao Wangfu, tiba-tiba dari belakang muncul suara seorang wanita yang mengejutkannya.


"Sinjie."


Gu Sinjie terbelalak, dia segera berdiri dan lompat ke ujung batang pohon. Matanya menatap tajam wanita itu, saat mengetahui bahwa dia adalah Baili Ruyi, Gu Sinjie mendengus kesal. "Apa kau tidak bisa muncul dengan cara yang normal?"


Baili Ruyi memutar bola matanya malas, lalu duduk di batang pohon tempat Gu Sinjie sebelumnya. "Bersyukurlah. Tadinya aku hendak menendang punggungmu keras-keras."


Gu Sinjie mendesah kesal, namun pada akhirnya dia ikut duduk di samping Baili Ruyi. Baili Ruyi tersenyum menatap matahari yang semakin terbenam, kemudian tangannya merogoh tas kecil yang selalu dia bawa kemana-mana. Dia mengeluarkan dua buah apel, satu dia berikan kepada Gu Sinjie, satunya lagi untuk dia sendiri.


"Ini."


"Untuk apa?" Gu Sinjie menatap buah apel itu dengan penuh perasaan curiga.


"Meracunimu," balas Baili Ruyi ketus.


Gu Sinjie tersenyum tipis, kemudian mengambil buah apel tersebut dan menggigitnya. "Kalau aku mati, maka seluruh keluarga Gu akan menyerang perguruan ayahmu."


Gu Sinjie terus mengunyah apel pemberian Baili Ruyi, mereka berdua memakan buah itu bersama. Perlahan suasana berubah menjadi hening, namun tak lama Gu Sinjie melemparkan sebuah pertanyaan.


"Besok kau sudah harus berangkat kembali?" tanya Gu Sinjie, matanya melirik Baili Ruyi.


Baili Ruyi mengangguk. "Iya. Orang-orang dari perguruan akan datang menjemputku."


"Bagus. Wangfu ini akhirnya akan damai kembali," balas Gu Sinjie.


Baili Ruyi memutar bola matanya malas. "Kau yakin dengan kata-katamu? Bahkan aku dapat merasakan keraguan dalam kalimatmu. Justru seharusnya kau berhati-hati, bisa saja kau akan merindukan kehadiranku di sini."


Gu Sinjie mendengus. "Itu mustahil. Untuk apa aku merindukan kehadiranmu? Jika aku menginginkan sepuluh wanita cantik, itu perkara mudah. Jika bisa mendapatkan wanita cantik dengan mudah, lalu untuk apa aku merindukan wanita kasar sepertimu?"

__ADS_1


Bugh!


Baili Ruyi menonjok perut Gu Sinjie, membuat apel yang sedang pria itu kunyah melompat keluar. Gu Sinjie melenguh sakit, menatap tajam ke arah Baili Ruyi.


"Jangan pernah mempermainkan wanita, Sinjie. Dasar bocah bodoh, otakmu selalu bodoh sejak dulu. Orang-orang yang menganggapmu jenius adalah orang-orang yang sama sepertimu, orang-orang bodoh!" Baili Ruyi menghina tanpa ampun, membuat Gu Sinjie terdiam.


Gu Sinjie tersenyum, senyumannya membuat Baili Ruyi bergidik.


"Nona, apa anda cemburu jika saya memiliki sepuluh wanita cantik?" tanya Gu Sinjie, membuat Baili Ruyi menatapnya tajam.


"Apa otakmu juga ikut meloncat keluar seperti apel yang sedang kau kunyah setelah aku pukul?" balas Baili Ruyi sambil mengepalkan tinju di hadapan Gu Sinjie.


Gu Sinjie terkekeh, kemudian menatap langit lagi. Kali ini warnanya sudah benar-benar gelap. "Wangye sepertinya sudah benar-benar mencintai Wangfei."


Baili Ruyi mengendurkan ekspresi kerasnya, kemudian ikut menatap langit dan tersenyum tipis. "Sudah aku tebak dari awal, pria itu akan luluh!"


Gu Sinjie menoleh ke arah Baili Ruyi, lalu bertanya,"Kapan kira-kira kita akan menemukan pasangan, ya?"


Baili Ruyi mengangkat kedua bahunya acuh, dia masih menatap langit. Tidak menyadari tatapan Gu Sinjie. "Tidak tahu. Tetapi sepertinya aku tidak akan menikah."


Gu Sinjie mengerutkan keningnya. "Alasannya?"


Baili Ruyi tersenyum tipis, lalu melirik Gu Sinjie. "Sesuai yang sering kamu katakan, aku wanita kasar yang tidak mengerti bagaimana caranya menjadi 'wanita'. Dari pada pusing mengubah diriku sendiri, lebih baik aku menjalani apa yang sudah aku miliki. Lagi pula menjadi lajang tua kaya yang menggoda juga tidak buruk, apa lagi kelak aku aku akan meneruskan kepemilikan perguruan ayah."


Gu Sinjie terkekeh. Lajang tua kaya yang menggoda, apa-apaan itu? Konyol. Gu Sinjie tersenyum tipis, tatapan matanya melembut sedikit. "Bagaimana jika kamu menjadi Gu Furen?"


Baili Ruyi yang mendengar ini segera melotot ke arah Gu Sinjie. "Hah??" Matanya menatap jijik ke arah pria itu.


Gu Sinjie terkekeh lagi. "Menikah denganku. Apa lagi?"


Bugh!

__ADS_1


Baili Ruyi kembali memukul perut Gu Sinjie, membuat pria itu mengaduh kesakitan sambil tertawa. "Baiklah-baiklah, maafkan aku. Aku bercanda!"


"Sekali lagi kau bercanda menggunakan topik seperti itu, aku patahkan lehermu!" balas Baili Ruyi, kesal.


__ADS_2