Istri Kesayangan Xiao Wangye

Istri Kesayangan Xiao Wangye
Bab 109. BonChap: Rong Xuan 2


__ADS_3

"Bagaimana bisa kamu membiarkan pengeluaran pelayan dalam Istanamu sebesar itu, Putri Mahkota?" Huanghou menatap tajam menantunya, dia merasa tidak senang ketika melihat pengeluaran besar setiap bulan milik Istana kediamannya.


Rong Xuan berlutut di lantai, mengerutkan keningnya. Dia sendiri juga tidak tahu mengapa pengeluaran bulanan Istana-nya membengkak. Pelayan yang melapor pengeluaran bulanan kepadanya tiba-tiba menghilang, saat melapor pun dia menggunakan laporan dengan nominal normal, bukan membengkak seperti ini. Tunggu! Apa ... dia ditipu?!


"Sungguh konyol! Kamu dipermainkan oleh pelayanmu sendiri? Putri Mahkota, bagaimana bisa kamu termakan tipu daya miliknya?!" Huanghou menggebrak meja, dia juga sudah menyadari hal ini sejak awal.


Rong Xuan menunduk dalam, lalu menjawab,"Niangniang, Rong Xuan mengaku salah. Tetapi ... Rong Xuan bersumpah pengeluaran sebesar itu bukan perbuatan Rong Xuan, namun ini tetap kesalahan saya, karena saya lalai dalam menjaga dan memperhatikan bawahan saya."


Huanghou mendengus. "Bagus jika kamu tahu, Rong Xuan. Kamu harus belajar lebih cekatan lagi seperti Huang Junzhu!"


Rong Xuan mendingin saat mendengar kalimat tersebut, kedua telapak tangannya diam-diam mengepal erat. Jantungnya berdebar kencang karena amarah. Ini adalah bulan ketiga dia berada di Istana, namun sudah lebih dari seratus kali Huanghou selalu membandingkan dirinya dengan Huang Mingxiang jika dia melakukan kesalahan sekecil apa pun itu.


"Maafkan saya, Niangniang. Saya akan berusaha menjadi jauh lebih baik lagi."


Setelah mendapat ceramah panjang dari ibu mertuanya, Rong Xuan bergegas kembali ke Istananya untuk menjernihkan pikiran. Tetapi di tengah jalan, dia melihat pengawal pribadi Xiao Jihuang terlihat sangat buru-buru dan panik.


"Ah ... Putri Mahkota!" Pria itu segera berlutut dan berhenti dari berlarinya begitu melihat Rong Xuan.


"Ada apa, Tuan Ming?" tanya Rong Xuan penasaran.


"Begini .... yang mulia, Putra Mahkota mengalami kecelakaan saat menuju kota Yue Fing. Beliau mengalami pendarahan yang cukup parah di kepalanya karena terbentur batu." Raut wajah Tuan Ming terlihat begitu gelisah ketika menjelaskan semua ini.


Deg!


Rong Xuan sedikit terhuyung ke belakang, beruntung pelayan pribadinya sigap menopang dan Tuan Ming juga reflek bergerak hendak menahan.


Rong Xuan berusaha berdiri tegak, kemudian tanpa basa-basi segera berbalik dan berlari menuju kediaman Putra Mahkota. Wanita itu berlari sangat kencang, tidak mempedulikan pakaian panjang dan aksesoris mewah di kepalanya. Matanya mulai berlinang air mata, dia sangat khawatir.


Brak!


Rong Xuan membuka pintu kencang, lalu melihat tabib sedang sibuk melilit perban ke kepala suaminya.


"Yang mulia ...." Tabib berhenti sejenak, lalu membungkuk ke arah Rong Xuan. Setelah itu kembali fokus melilit perban Xiao Jihuang.


Xiao Jihuang saat ini dalam kondisi tidak sadarkan diri, pria itu seperti sedang tertidur.


Rong Xuan melirik ke arah wadah besar tempat kapas dan kain yang digunakan untuk membersihkan luka Xiao Jihuang, hatinya semakin sakit. Banyak sekali darah yang menempel di sana.

__ADS_1


Begitu tabib selesai melilitkan perban, Rong Xuan segera mendekat dan duduk di tepi ranjang, persis di sisi Xiao Jihuang yang sedang berbaring.


Rong Xuan menggenggam hangat tangan dingin pria itu, menangis. Pendarahan kepala ... itu sangat berbahaya.


"Beruntung yang mulia Putra Mahkota dilindungi oleh Tuhan, karena biasanya manusia yang mengalami pendarahan hebat di kepala ... tidak pernah ada yang selamat, yang mulia ...." ucap sang Tabib, keningnya terlipat karena memang Kekaisaran Timur ini hampir saja kehilangan Putra Mahkota mereka.


Rong Xuan mengangguk singkat, dia juga sangat bersyukur. Tak lama, para tabib dan yang lain keluar dari kamar Xiao Jihuang. Membiarkan Rong Xuan memiliki waktu bersama Xiao Jihuang.


"Beruntung ... beruntung sekali, yang mulia. Jika anda pergi, maka saya akan menjadi manusia yang sangat hancur ...." gumam Rong Xuan, tangan kanannya masih menggenggam tangan Xiao Jihuang, sedangkan tangan kirinya memukul pelan dadanya yang terasa sesak.


Rong Xuan menarik napas dalam dan menghembuskannya, lalu dia berdiri kemudian menarik selimut ke tubuh Xiao Jihuang. Wanita itu lalu menarik kursi dan duduk di sana, dia akan menjaga Xiao Jihuang di sini hingga pria itu benar-benar sadar.


Sampai hampir malam, Xiao Jihuang belum juga tersadar. Huanghou dan Kaisar sebelumnya sudah sempat berkunjung, tangisan pilu Huanghou pun tak kuasa untuk membangunkan Xiao Jihuang.


"Yang mulia, anda harus makan malam terlebih dahulu. Anda akan sakit jika terus-menerus melewatkan jam makan." Pelayan pribadi Rong Xuan membujuk wanita itu.


Rong Xuan menggeleng pelan. "Aku tidak lapar, kamu bisa kembali dan beristirahat sekarang. Malam ini aku akan terus berada di samping yang mulia, menjaga yang mulia."


"Tetapi--"


"Kamu boleh kembali."


Rong Xuan menyalakan lilin, di tangannya kini sudah ada buku yang bisa dia baca. Dia memutuskan untuk begadang malam ini demi Xiao Jihuang. Tetapi, perlahan matanya terus merasa berat. Buku bacaan yang dia baca pun jatuh ke lantai. Wanita itu bersandar di kursi, kepalanya tertunduk dan matanya terpejam. Rong Xuan tidur dengan posisi duduk.


Cukup lama Rong Xuan tertidur, tiba-tiba sekarang ada sebuah mata lain yang terbuka dan menatap ke arahnya.


Xiao Jihuang, pria itu mulai sadar dan membuka matanya. Xiao Jihuang mengerutkan keningnya dan berusaha mengambil sikap duduk sambil memegang kepalanya yang terasa pening.


Saat menyadari ada sesosok wanita sedang duduk di samping ranjangnya sambil tertidur lelap, dia tentu saja terkejut. Ketika memperhatikannya lebih dalam, dia menyadari bahwa wanita itu adalah Rong Xuan.


Xiao Jihuang tertegun, dia bersandar di papan ranjangnya dengan hati-hati dan menatap Rong Xuan. Hatinya sedikit tergerak, apakah ... Rong Xuan menjaganya seharian?


Xiao Jihuang kemudian melirik ke arah meja yang tidak jauh dari ranjangnya, ada hidangan makan malam yang sudah sangat dingin. Jika hidangan itu disiapkan untuk dirinya, tidak mungkin. Karena dia sedang koma, tidak ada yang tahu kapan dia akan bangun. Tetapi pasti hidangan itu disiapkan untuk Rong Xuan, namun wanita itu menolak untuk memakannya.


Xiao Jihuang menghela napas, lalu kembali menatap Rong Xuan dan bergumam,"Apa kamu menjagaku sampai lupa untuk menjaga dirimu sendiri?"


Xiao Jihuang perlahan turun dari kasur, keningnya terlipat dalam ketika merasakan rasa ngilu dan nyeri yang luar biasa. Dia benar-benar kencang saat terjatuh dari kuda, perban di kepalanya juga sangat tebal, sudah pasti dia sempat mengalami pendarahan.

__ADS_1


Xiao Jihuang memungut buku yang dibaca Rong Xuan dari lantai, kemudian menaruhnya di meja samping tempat tidur. Pria itu lalu beranjak mengangkat tubuh Rong Xuan dari kursi, dia tidak mungkin membiarkan wanita itu tidur di kursi begitu saja setelah seharian menjaganya dan rela melewatkan makan malam untuk dirinya.


Saat menggendong Rong Xuan, lagi-lagi kening Xiao Jihuang terlipat dalam. Kedua lengannya memiliki luka akibat kecelakaan tadi, agak sedikit menyiksa ketika digunakan untuk menggendong Rong Xuan karena luka itu harus bergoresan dengan pakaian Rong Xuan.


Ketika Rong Xuan sudah diletakkan di atas kasur, tiba-tiba wanita itu membuka matanya. Dia terlihat sangat terkejut, karena tiba-tiba merasa tubuhnya seolah melayang dan terbang.


"Yang ... Yang mulia?!" Ucap Rong Xuan terkejut, matanya menatap Xiao Jihuang yang masih berada di atasnya dan lengan pria itu belum beranjak dari tubuhnya. Situasi mereka ini sebenarnya sangat canggung, namun Rong Xuan tidak menyadarinya karena perasaan khawatir bercampur leganya.


"Anda sudah bangun?!" tanya Rong Xuan, kemudian menyentuh pipi Xiao Jihuang, matanya perlahan berkaca-kaca.


Xiao Jihuang tertegun, dia tidak menyangka wanita itu akan sampai menangis untuk dirinya.


"Hei ... jangan menangis," ucap Xiao Jihuang, lalu menghapus lembut air mata Rong Xuan yang menetes.


Rong Xuan menarik napas dan menghembuskannya, mengangguk. "Saya sangat terbawa suasana karena perasaan khawatir. Yang mulia baru saja mengalami pendarahan dan luka-luka hebat lainnya, saya sangat bersyukur anda selamat ...."


Xiao Jihuang diam, dia tidak tahu mau menjawab apa. Dia tidak menyangka wanita ini benar-benar sangat khawatir padanya, bahkan sampai menangis.


Xiao Jihuang tersenyum tipis, lalu mengecup pelan kening istrinya. "Aku baik-baik saja. Terima kasih."


Rong Xuan tertegun, wajahnya segera memerah. Wanita itu kemudian tersenyum dan mengangguk.


Xiao Jihuang bangkit, lalu naik ke atas ranjang dengan posisi yang lebih normal. Pria itu berbaring di samping Rong Xuan, malam ini mereka akan tidur satu kamar. Tidak mungkin dia mengusir Rong Xuan malam-malam begini, terlebih dia sudah sangat memperhatikannya.


Ketika Xiao Jihuang akan memejamkan matanya, tiba-tiba tangan Rong Xuan bergerak memeluk tubuhnya, tubuh wanita itu juga sangat dekat dengannya.


Xiao Jihuang kaku, dia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Rong Xuan adalah wanita pertama yang dia nikahi, selama menjabat sebagai Putra Mahkota, Xiao Jihuang sama sekali tidak pernah menikahi wanita lain untuk dijadikan selir atau gundik. Pria itu hanya fokus kepala Huang Mingxiang, namun sekarang ... sepertinya tanpa dia sadari hatinya mulai sedikit tergerak. Diam-diam, pria itu menaruh harapan kepada Rong Xuan. Dia berpikir ... apa sebaiknya dia melupakan Huang Mingxiang dan fokus mencintai istrinya yang saat ini? Karena mau bagaimanapun, mereka berdua tidak akan pernah bercerai karena unsur politik yang mengikat pernikahan mereka.


Xiao Jihuang melirik Rong Xuan, menatap wajah terlelap wanita itu. Xiao Jihuang tersenyum tipis, lalu tangannya hati-hati bergerak untuk melepas aksesoris berat yang ada di kepala Rong Xuan.


Rong Xiang menyadari hal ini, dia kembali membuka matanya dan menatap Xiao Jihuang yang melepaskan aksesoris kepalanya agar dia nyaman untuk tidur.


"Untuk apa memakai aksesoris sebanyak ini untuk tidur?" tanya Xiao Jihuang.


"Agar yang mulia nyaman melihat saya."


"Nyaman melihat kamu?"

__ADS_1


"Benar. Jika saya cantik, bukankah yang mulia akan nyaman melihat saya?"


"Aku rasa kamu cantik, bahkan tanpa riasan apa pun. Jadi, jangan menyiksa dirimu sendiri dengan riasan merepotkan seperti ini."


__ADS_2