
Gu Sinjie kembali menemui Baili Ruyi, tangannya membawa nampan berisi sup jamur lada hitam buatan Su Mama secara pribadi. Saat masuk, dia melihat Baili Ruyi tengah duduk di atas kasur sambil mengelap sebuah benda di tangannya. Benda itu terlihat seperti batu kristal berwarna hijau yang memancarkan cahaya.
"Nona, kau harus memakan ini agar cepat sehat dan tidak menjadi beban Xiao Wangfu," ucap Gu Sinjie sambil meletakkan nampan itu di meja dan duduk di tepi kasur Baili Ruyi.
Baili Ruyi menatap tajam Gu Sinjie, kemudian melempar batu kristal hijau itu ke Gu Sinjie. "Untukmu."
Gu Sinjie menangkap batu kristal hijau itu, mengerutkan keningnya bingung. "Apa ini? Terlihat sangat mahal. Kau menyempatkan diri untuk pergi ke tempat lelang sebelum kembali?"
"Bodoh. Itu aku ambil sendiri di dasar lembah. Batu itu adalah jantung dari monster yang aku bunuh, umurnya sekitar seribu tahun, masih terbilang muda. Tetapi jika dijual tetap saja harganya akan sangat tinggi, namun aku memberimu ini bukan untuk dijual," jawab Baili Ruyi, kemudian mengambil mangkuk sup jamur lada hitam dan mulai memakannya.
Gu Sinjie tertegun. "Melihat dari kepala monster yang kau bawa, apakah itu hewan mitologi Tao Tie?"
Baili Ruyi tersenyum sarkastik. "Menurutmu?"
Gu Sinjie ikut tersenyum, kemudian menjawab,"Sial, Wangye akan langsung menerimamu."
"Sudah aku bilang, aku ini berbakat, lebih darimu." Baili Ruyi mengangkat kedua bahunya acuh.
Tao Tie adalah hewan mitologi yang sering kerap dijadikan simbol keserakahan. Mulut dan kepalanya besar, saking serakahnya dia bahkan kerap memakan tubuhnya sendiri. Hewan ini ganas, dia juga sudah jarang terlihat berkeliaran. Mungkin yang Baili Ruyi adalah Tao Tie terakhir sepanjang sejarah.
Jantung Tao Tie sendiri sengaja Baili Ruyi ambil untuk Gu Sinjie, entah bagaimana ceritanya, setelah berhasil mengalahkan hewan itu, Baili Ruyi teringat akan Gu Sinjie.
"Tunggu, di mana kalung pemberianku? Seharusnya begitu keluar dari lembah, kau dapat langsung menghubungiku." Gu Sinjie mengerutkan keningnya, memperhatikan leher Baili Ruyi yang kini sudah tidak mengenakan kalung pemberiannya.
"Dimakan Tao Tie, apa lagi?" jawab Baili Ruyi.
Gu Sinjie mendengus. "Ceroboh!"
"Berisik! Aku sudah mengganti kalungmu dengan jantung Tao Tie yang berharga!" balas Baili Ruyi, kemudian lanjut memasukkan sup jamur lada hitam ke dalam mulutnya. Masakan Su Mama adalah yang terbaik!
Gu Sinjie kembali mendengus, selanjutnya dia mencoba untuk melupakan masalah kalung. Kembali membahas Xiao Wangfu. "Kemungkinan saat kau diterima, kau akan menjadi pengawal pribadi Wangfei. Melihat Wangye semakin menyayangi Wangfei, tidak mungkin Wangye akan membiarkan hanya ada dua pelayan di sisi Wangfei-nya."
Baili Ruyi terkekeh, mengangguk. "Tentu saja, memang itu yang aku inginkan. Aku ingin bergabung di Xiao Wangfu karena gajinya yang besar, tetapi aku tidak ingin menjadi kaki tangan Gege karena pasti akan sangat sibuk. Lebih baik aku menjadi kaki tangan Wangfei, lebih baik hati."
"Jika benwang tidak baik hati, maka sedari kemarin benwang sudah melempar tubuh kakumu keluar Xiao Wangfu." Suara berat Xiao Muqing terdengar, membuat Gu Sinjie dan Baili Ruyi terkejut.
__ADS_1
Tubuh Baili Ruyi menegang, sup yang hendak ia telan langsung tertahan. Gu Sinjie menahan tawa, raut wajah Baili Ruyi terlihat ketakutan.
"Aiya ... Gege salah paham! Ruyi mengatakan itu bukan berarti Gege tidak baik hati, Ruyi belum selesai bicara tadi!" balas Baili Ruyi, wanita itu segera menaruh mangkuk sup-nya kembali ke atas meja. Bibirnya tersenyum kaku.
Huang Mingxiang mendorong kursi roda Xiao Muqing semakin dekat dengan kasur Baili Ruyi, kemudian duduk di tepi kasur Baili Ruyi. Sementara Gu Sinjie, pria itu sudah otomatis berdiri saat mendengar suara Xiao Muqing.
"Lalu?" tanya Xiao Muqing, mata dinginnya menatap Baili Ruyi, membuat wanita itu semakin panik.
"Gege juga orang yang sangat baik hati! Sangat baik hati! Tetapi menjadi kaki tangan Gege pasti sangat sibuk karena harus melayani Pangeran Adipati mulia yang terhormat. Tentu saja kita harus lincah dan gesit, namun mengingat tubuh saya saat ini terluka parah, jika saya nekat menjadi kaki tangan anda pasti kinerjanya akan sangat tidak memuaskan. Dari pada menjadi beban untuk Gege, lebih baik Ruyi mengambil keputusan terhormat lainnya, yaitu menjadi kaki tangan Xiao Wangfei." Baili Ruyi pandai memainkan kata-kata, membuat Huang Mingxiang dan Gu Sinjie terkekeh.
"Oh," balas Xiao Muqing singkat, kemudian melirik ke arah Gu Sinjie. "Di mana kepalanya?"
Gu Sinjie mengangguk, lalu berjalan cepat mengambil kotak besar berwarna kuning yang ada di atas lemari dan membawanya untuk dipersembahkan ke Xiao Muqing.
Gu Sinjie membuka kotak tersebut, menunjukkan kepala Tao Tie. Huang Mingxiang mengerutkan keningnya, bau darah dari kepala itu masih sangat menyengat. Melirik ke Xiao Muqing, suaminya masih tetap dengan wajah datarnya sambil menatap dingin kepala Tao Tie.
"Tao Tie?" tanya Xiao Muqing saat melihat kepala monster tersebut.
Baili Ruyi mengangguk cepat. "Ya, tentu saja! Benar sekali!"
Baili Ruyi membelalakkan matanya. "Hanya itu respon Gege?!"
"Lalu apa? Kau ingin aku melempar kepala ini dan menolakmu?" tanya Xiao Muqing, keningnya sedikit terlipat.
Baili Ruyi mendengus. "Jika anda menjadi orangtua, maka anak Gege pasti akan haus pujian dari ayahnya."
"Ruyi!" Gu Sinjie menegus, keningnya terlipat kesal.
"Beruntung anak benwang bukan kamu," balas Xiao Muqing sama peliknya. Mata mereka berdua saling pandang melempar kekesalan. Baili Ruyi menatap penuh amarah seperti api yang berkobar-kobar, sementara Xiao Muqing menatap penuh amarah seperti badai salju paling dingin sepanjang sejarah.
"Sudah ... sudah! Bagaimana jika kita rayakan kehadiran Nona Baili di Wangfu ini? Hari ini Noam Baili resmi menjadi bagian dari Xiao Wangfu!" Huang Mingxiang memotong kesengitan di antara mereka berdua.
Baili Ruyi melupakan kekesalannya, berganti menatap penuh binar ke arah Huang Mingxiang. "Benar sekali! Ayo kita minum arak sampai mabuk!"
"Tidak!"
__ADS_1
"Tidak!"
Suara Xiao Muqing dan Gu Sinjie yang terlontar secara bersamaan terdengar, membuat kedua wanita itu menoleh, menatap kesal mereka.
"Kenapa?" tanya Huang Mingxiang.
"Ya, kenapa?" sambung Baili Ruyi, menatap kesal ke keduanya.
"Belakangan ini sudah banyak hal besar dan kecil yang terjadi. Apa lagi Ruyi baru perlahan kembali normal setelah sebelumnya mengalami masa kritis. Meminum arak sampai mabuk adalah ide yang buruk dan sangat konyol." Xiao Muqing menatap kesal ke arah Huang Mingxiang.
Huang Mingxiang mendengus. "Baiklah, bagaimana kalau setengah mabuk?"
"Tidak."
"Sedikit mabuk?"
"Tidak."
Mereka terus berdebat, sampai setengah jam kemudian mereka sudah berada di atas Paviliun. Duduk melingkar di meja yang sudah disiapkan pelayan, lalu di atas meja itu ditaruh satu panci besar yang berisi sup jamur lada hitam.
"Awalnya aku senang memakan ini, namun sekarang entah bagaimana terasa mual," ucap Baili Ruyi, matanya menatap sendu ke arah sup jamur lada hitam.
"Lebih baik mengkonsumsi makanan yang kaya akan khasiat seperti ini," ucap Gu Sinjie, membalas keluhan Baili Ruyi.
Huang Mingxiang hanya bisa menghela napas, kemudian mengambil cengtong besar untuk mengambil sup itu dari dalam panci menuju mangkuknya dan mangkuk Xiao Muqing.
Ketika hendak menyendok untuk mangkuknya, tiba-tiba Su Mama muncul dan memberikan surat yang berasal dari istana. Lagi-lagi tanpa tanda pengenal penghuni istana siapa yang mengirimnya. Huang Mingxiang langsung mengetahui bahwa surat itu dari Wu Zeyuan.
..."Bagaimana kabar anda, Xiao Wangfei Niangniang? Zeyuan harap baik. Wangfei, Kaisar dan pengadilan Kekaisaran telah menurunkan keputusan untuk hukuman Huang Liyue. Wanita itu dihukum mati, ini keputusan akhir, tidak dapat dirubah. Ayah anda sempat berusaha memohon keringanan, namun ditolak mentah-mentah oleh Huangtaihou dan Kaisar. Huanghou terlihat tidak ingin ikut campur dalam masalah ini, saya tidak pernah mendengar cerita Huanghou ikut andil dalam sidang. Besok siang Huang Liyue resmi dieksekusi, jika anda ingin menemuinya sebelum eksekusi dimulai, tolong kabari saya, saya bersedia menemani anda."...
Huang Liyue melipas surat itu, tidak membaca sampai akhir. Bibirnya tersenyum, kemudian melirik Xiao Muqing yang sibuk memakan sup jamur lada hitam. "Wangye, besok siang saya akan berkunjung ke Istana. Apa anda mengizin?"
Xiao Muqing melirik ke arah surat yang Huang Mingxiang pegang, mengangguk. "Ya."
Huang Mingxiang melanjutkan menyendok sup ke dalam mangkuknya, bibirnya masih terus tersenyum, kali ini agak samar. Besok Huang Liyue benar-benar akan mati, dia akan mengunjungi wanita itu untuk yang terakhir kalinya. Huang Mingxiang tidak akan membiarkan wanita itu mati dengan cara dipenggal, dia harus mati dengan racun, sama seperti dirinya.
__ADS_1
"Jiejie, Meimei ini besok akan menemuimu di sel tahanan. Meimei akan memberikan barang bagus untukmu, jadi tahan nyawamu. Aku akan membuat dirimu meminum racun yang sama seperti racun yang pernah kamu berikan padaku di kehidupan sebelumnya!"