
"Wangye, anda membagi dua seluruh barang kita untuk masing-masing kediaman kita berdua?" tanya Huang Mingxiang, rambutnya panjang hitamnya masih basah. Dia baru saja selesai mandi di kediaman Xiao Muqing, lalu begitu keluar dia terkejut karena tiba-tiba setengah barang-barang besar/kecilnya ada di sini.
"Sesuai bagaimana kamu melihat," jawab Xiao Muqing acuh, pria itu fokus membaca buku di atas ranjang. Tirai kelambu-nya untuk pertama kali dia singkap, sehingga menampilkan sosok jelas pria itu yang tengah duduk di ranjang.
Su Mama dan Yui berada di luar, mereka kali ini tidak membantu Huang Mingxiang untuk mandi atau berganti pakaian. Huang Mingxiang menolak bantuan mereka secara pribadi, karena dia ingin melakukannya sendiri.
Huang Mingxiang berjalan mendekat ke arah Xiao Muqing, wanita itu sudah memakai hanfu putih tidur miliknya, namun handuk kecil masih bertengger di bahunya untuk mengeringkan rambut.
"Apa anda mulai ingin berbagi kamar?" tanya Huang Mingxiang, bibirnya tersenyum lebar.
Xiao Muqing tidak menjawab, seolah tidak mendengar. Pria itu membalik halaman bukunya, fokus membaca. Huang Mingxiang menghela napas, sudah biasa. Kemudian, wanita itu bergegas menuju meja rias dan mengambil sisir.
"Jika di masa depan anda menemukan kebiasaan buruk saya, tolong jangan berkomentar pedas. Anda yang mengusulkan untuk berbagi kamar," ujar Huang Mingxiang sambil menyisir rambut panjangnya.
"Tanpa berbagi kamar pun benwang dapat dengan mudah melihat kebiasaan burukmu," balas Xiao Muqing pedas, membuat Huang Mingxiang memutar bola matanya malas lagi.
Selesai menyisir rambutnya, Huang Mingxiang beranjak berjalan ke arah jendela. Wanita itu menghirup udara malam, kemudian menghembuskannya untuk melepas seluruh perasaan penat di hatinya. Xiao Muqing yang memperhatikan Huang Mingxiang, pria itu selalu mengalihkan pandangannya dari buku untuk Huang Mingxiang setiap kali wanita itu tidak menyadarinya.
"Wangye, kira-kira kapan salju akhir tahun akan turun, ya?" tanya Huang Mingxiang, dia masih memunggungi Xiao Muqing.
"Dia akan turun jika kau tidak terus menerus menunggunya," jawab Xiao Muqing dengan nada acuh, membuat Huang Mingxiang terkekeh. Jawaban macam apa itu?
"Wangye ...."
"Apa lagi?"
"Pasti berat menjadi anda." Huang Mingxiang berbalik, menatap suaminya yang duduk di atas ranjang. Tersenyum. Xiao Muqing yang mendengar ini menaikkan alis kirinya sekilas, bingung.
"Anda memiliki pola hidup yang keras dan masa lalu yang tidak mengenakan dari orang-orang sekitar, termasuk orang terdekat. Tetapi anda tidak pernah menyerah atau berpikiran untuk mengakhiri hidup anda," sambung Huang Mingxiang, tidak peduli dengan raut wajah bingung Xiao Muqing. Wanita itu kemudian berjalan ke arah kasur dan duduk di samping Xiao Muqing.
"Untuk apa mati? Itu sama sekali tidak menyelesaikan masalah," jawab Xiao Muqing seadanya, kemudian matanya kembali fokus menatap buku.
__ADS_1
Huang Mingxiang mengangguk, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Xiao Muqing. "Benar. Tetapi, orang yang bunuh diri bukan bermaksud untuk menyelesaikan masalahnya dan memutus kontak dengan dunia begitu saja. Mereka memilih bunuh diri agar dapat merasa tenang dan membangun dunia sendiri, karena di dunia sebelumnya dia tidak merasa semuanya berjalan adil untuknya."
Xiao Muqing tersenyum dingin sekilas. "Kamu berbicara seolah pernah pernah mengalami kematian sebelumnya."
Huang Mingxiang tertegun mendengar ini, kemudian senyum di bibirnya perlahan menghilang diam-diam. Xiao Muqing tidak menyadari ini, oleh karena itu dia melanjutkan,"Kenapa tiba-tiba mengungkit topik seperti ini? Apa kau pernah mati atau berencana untuk mati?" Nada bicaranya terdengar tidak terlalu serius, pria itu menganggap Huang Mingxiang hanya sedang membual.
Huang mengangguk. "Iya, saya pernah berencana untuk mati karena kegagalan saya sendiri. Tetapi saat melihat sosok anda, saya langsung menertawai diri saya sendiri. Pasalnya, aiya ... ada yang lebih gelap dari hidup saya, namun dia masih bisa tetap kokoh di tengah-tengah badai tanpa tumpuan apa pun. Sedangkan saya? Saya sangat lemah, seperti orang bodoh. Mingxiang malu, Wangye. Mingxiang berharap dapat menjadi sosok sekuat anda."
Xiao Muqing terdiam. Pria itu bergegas melirik Huang Mingxiang menggunakan ekor matanya, keningnya terlipat kala menyadari kedua mata Huang Mingxiang membendung air mata.
Xiao Muqing menutup bukunya, meletakkannya di atas meja. Pria itu diam, membiarkan Huang Mingxiang terus bersandar pada bahunya. Dia tahu, Huang Mingxiang sudah bekerja sangat keras hari ini. Wanita itu harus beristirahat, tidak masalah jika harus menggunakan pundaknya.
Huang Mingxiang tak lama kemudian tersenyum, lalu menghapus bendungan air mata dari matanya. "Saya selalu merasa lucu, karena saya selalu menjadi anak kecil setiap kali bertemu dengan anda. Saya tidak pernah gagal untuk menahan rintihan dan air mata di depan orang lain, namun di depan anda ... saya jatuh." Huang Mingxiang memejamkan matanya untuk menikmati kedamaian dan rasa hangat yang perlahan mengalir di tubuhnya.
Xiao Muqing meletakkan lengan kanannya di punggung Huang Mingxiang, kemudian menarik lembut wanita itu ke dalam pelukannya sehingga Huang Mingxiang sempurna bersandar pada dada bidangnya. "Istana dan Huang Fu mungkin dapat berubah, tetapi Xiao Wangfu tidak akan pernah berubah untukmu. Tenanglah ... rumahmu di sini, Mingxiang."
Deg!
Benar. Dia sudah menikah, dia sudah memiliki rumah baru. Xiao Wangfu adalah rumahnya, dan Xiao Muqing adalah suaminya. Benar, dia sudah memulai hidup baru. Dia tidak lagi sendiri, dia memiliki suami yang dapat diandalkan. Dia memiliki pelindung sempurna yang abadi sekarang. Ini adalah balasan untuknya karena sudah bersusah payah di tahun-tahun sebelumnya, khususnya di kejadian satu bulan yang lalu. Pengkhianatan saudarinya sendiri, sakit sekali hatinya. Tetapi, lihat. Dewa sudah langsung memberikan penawar rasa sakitnya, Huang Mingxiang sudah baik-baik saja.
Xiao Muqing mengelap air mata Huang Mingxiang yang menetes, kemudian mengelus lembut pipi Huang Mingxiang. "Bukankah sebelumnya sudah pernah benwang katakan? Kamu jelek saat menangis. Jadi berhenti menangis."
Huang Mingxiang tersenyum, namun air matanya masih tetap mengalir saat mendengar ucapan Xiao Muqing. Huang Mingxiang bergerak untuk menghapus air matanya sendiri. "Saya tidak menangis."
"Oh, benarkah?" tanya Xiao Muqing.
Huang Mingxiang mengangguk. "Ini pasti efek dari kelelahan fisik saya, sesuai apa yang dikatakan Yui dari tabib tadi."
Xiao Muqing tersenyum tipis, lalu menempelkan dahinya di dahi Huang Mingxiang. "Iya, kamu tidak menangis. Jadi jangan pernah menangis di hadapan benwang."
Huang Mingxiang mendengus. "Iya, tidak akan lagi!" Wanita itu mengepalkan kedua tangannya di depan dada, bersemangat.
__ADS_1
Xiao Muqing melirik ke arah jendela, matanya melihat butiran putih turun dari langit, kemudian beralih kembali menatap Huang Mingxiang. "Mau keluar sebentar?"
Huang Mingxiang tanpa ragu mengangguk, kapan lagi Xiao Muqing akan mengajaknya bersantai bersama di luar selain kamar ini? Apa lagi pria itu yang mengajaknya duluan, karena biasanya dia yang selalu memaksa.
Huang Mingxiang segera turun dari kasur dan membantu Xiao Muqing untuk pindah ke kursi roda. Wanita itu mengambil mantelnya dan mantel Xiao Muqing. Dia memakai mantel karena udara malam di luar pasti dingin, tidak ada pikiran bahwa salju akan turu malam ini.
Huang Mingxiang mendorong kursi roda Xiao Muqing keluar kamar, sampai di halaman depan kediaman Xiao Muqing, wanita itu tertegun. Matanya menatap langit, bibirnya langsung tersenyum dalam setelah sebelumnya menangis.
"Salju?" gumam Huang Mingxiang, kemudian meninggalkan kursi roda Xiao Muqing dan berlari ke depan sambil mengadahkan kedua telapak tangannya. Wanita itu berdiri di tengah-tengah halaman luas, tersenyum menatap langit.
Xiao Muqing memperhatikan sosok Huang Mingxiang, bibirnya ikut tersenyum. Kali ini sungguhan tersenyum, bukan senyum tipis atau dingin. Ini adalah senyum dalam tertulus yang kedua kalinya untuk pria itu.
"Wangye! Turun salju!" seru Huang Mingxiang, kemudian kembali berlari ke arah Xiao Muqing dan memeluk pria itu.
"Wangye, jika salju turun hal yang paling cocok untuk dilakukan adalah berpelukan! Bagaimana rasanya? Menyenangkan bukan pelukan di tengah-tengah salju?" ujar Huang Mingxiang, wanita itu sangat semangat menyambut salju.
Xiao Muqing membalas pelukan Huang Mingxiang dengan satu tangan. "Ya, nyaman. Kalau begitu lepaskan. Banyak yang akan melihat nanti."
Huang Mingxiang terkekeh, lalu melepas pelukannya dan mencium kening Xiao Muqing, membuat pria itu sedikit terkejut.
"Besok siang kita akan memakan bakpao hangat, sesuai janji anda yang akan menemani saya," ucap Huang Mingxiang, mengingatkan janji pria itu di beberapa hari lalu.
Xiao Muqing mengangguk. "Lakukan sesukamu." Mata pria itu lekat menatap Huang Mingxiang, enggan menatap objek lain.
Huang Mingxiang kemudian mendorong kursi roda Xiao Muqing, berhenti dan duduk bersama di dekat batuan besar. Huang Mingxiang terus memandangi salju, dia bahagia. Salju pertamanya dia saksikan dengan orang yang dia cintai. Di salju akhir tahun ini, dia tidak sendirian lagi.
Xiao Muqing ikut memperhatikan salju, senyumannya sudah hilang, namun hatinya masih sama senangnya. Pria itu bahagia, karena hari ini dia tidak kesepian di ruangan gelap lagi. Dia sudah memiliki lilin dengan cahaya benderang yang sangat indah, hidupnya tidak lagi terasa hambar. Pria itu memang tidak terlalu pandai untuk mengekspresikan perasaannya, dia juga masih kaku dalam mengatakan hal-hal romantis yang terus terang, namun ... dia sangat menyayangi Huang Mingxiang. Pria itu terkadang sejujurnya masih gemar bergelut dengan perasaannya sendiri, dia masih ragu apakah dia benar-benar mencintai Huang Mingxiang? Jika iya, apa itu cinta? Xiao Muqing belum pernah merasakan cinta sebelumnya, cinta adalah dunia baru untuknya. Dan Huang Mingxiang, adalah dunia barunya.
...**...
"Wangye, aku masih sangat muda dan lemah jika dibandingkan dengan anda yang sudah memiliki banyak sekali pengalaman. Aku membutuhkanmu dalam segala hal, seperti menjalani hidup ini dan menaklukkan masalahku. Semuanya terasa ringan setiap kali melihat senyuman dan tatapan anda, karena tangan anda menggenggam erat tanganku."
__ADS_1
"Wangfei-ku, aku bersumpah mampu menaklukkan dua Kekaisaran besar sekalipun, namun aku tidak mampu melihat air matamu jatuh. Ada dua hal besar yang ingin aku jaga, Kekaisaran ini dan senyumanmu. Tetapi jika kamu menangis karena Kekaisaran ini, maka setiap jengkal tanah Kekaisaran ini aku buat hancur tak terbentuk."