
"Aaaa ...." Huang Mingxiang membuka lebar mulutnya untuk menerima suapan kue dari Xiao Muqing. Tangan kanan dan kirinya sudah penuh memegang satu tusuk batang besar Tanghulu.
Gu Sinjie, Baili Ruyi, dan Yui menunggu di luar. Huang Mingxiang dan Xiao Muqing kini berada di ruangan VIP lantai 2 milik kedai manisan tersebut. Balkon mereka mengarah langsung pemandangan kesibukan masyarakat ibu kita yang asyik memeriahkan pasar malam. Langit malam yang cerah juga terlihat jelas dan indah dari sini.
"Wangye, kapan terakhir kali anda ke pasar malam?" tanya Huang Mingxiang setelah selesai mengunyah kue suapan Xiao Muqing.
"Tidak pernah," jawab Xiao Muqing, lalu menyodorkan kue lagi ke mulut Huang Mingxiang.
Huang Mingxiang menggeleng kencang. "Tidak mau. Aku mau minum."
Xiao Muqing menatap Huang Mingxiang sejenak, lalu menghela napas dan menaruh kembali kue itu di atas piring. Sembari menuang air putih ke dalam cangkir, Xiao Muqing berkata,"Anda orang pertama yang berani memerintah benwang."
Huang Mingxiang tersenyum lebar. "Apa ada masalah? Bukankah anda mencintai saya?"
"Tidak."
"Bohong!"
Huang Mingxiang mengerutkan keningnya kesal, lalu kembali tersenyum menyebalkan. "Lalu siapa yang kemarin menangis di--"
"Ini cepat minum, atau kau akan mati tersedak." Xiao Muqing memotong ucapan Huang Mingxiang sambil menyodorkan cangkir itu ke bibir Huang Mingxiang.
Huang Mingxiang melotot kesal, lalu buru-buru menyeruput air putih itu dengan Xiao Muqing yang memegangi cangkirnya.
"Anda sungguh-sungguh tidak pernah ke Pasar Malam?" tanya Huang Mingxiang lagi, kemudian dia menghela napas dan berkata,"Wajar, sih ... anda adalah seorang Pangeran. Mana sempat bersenang-senang seperti ini."
"Sempat," jawab Xiao Muqing.
"Lalu? Mengapa anda tidak melakukannya?" tanya Huang Mingxiang lagi.
"Tidak perlu," jawab Xiao Muqing acuh.
Huang Mingxiang terkekeh, setelah itu menaruh kedua manisan Tanghulu besar-nya di meja dan menopangkan dagunya di atas tangannya yang bersandar di meja. Mata Huang Mingxiang menatap Xiao Muqing dalam seperti biasa. "Lalu mengapa anda bersedia melakukan kegiatan yang tidak perlu seperti ini bersama saya?"
"Karena kamu menyukainya, apa lagi?" jawab Xiao Muqing, membuat Huang Mingxiang terkekeh senang. Dia senang setiap kali Xiao Muqing mengucapkan kalimat cinta dan sayang menggunakan kalimat yang terkesan dingin seperti ini. Terdengar sangat menggemaskan.
"Wangye, apa saya boleh berdiri dan berjalan sedikit lebih dekat dengan pembatas balkon-nya? Saya ingin melihat keadaan luar sambil berdiri dengan lebih jelas," ujar Huang Mingxiang, memohon.
Xiao Muqing mengangguk, dia merasa ini tidak masalah. Pria itu segera berdiri, kemudian mengulurkan tangannya ke arah Huang Mingxiang. Huang Mingxiang tersenyum, membalas uluran Xiao Muqing.
__ADS_1
Huang Mingxiang berjalan cepat menuju tiang balkon, meninggalkan Xiao Muqing di belakang yang sedikit terkejut.
"Wangye, lihat! Ada orang yang bisa mengeluarkan api dari mulutnya! Itu mengagumkan!" ucap Huang Mingxiang, jari telunjuknya menunjuk salah satu pertunjukkan yang ada di bawah.
Xiao Muqing menyusul Huang Mingxiang, pria itu berdiri di samping Huang Mingxiang dan melihat ke arah manapun Huang Mingxiang menunjuk.
"Wangye, lihat! Bukankah itu penampilan drama? Astaga! Pemeran utama wanita hendak dibunuh!"
"Wangye, lihat, wajah marah di topeng yang dijual itu sangat mirip dengan wajah anda! Terlihat galak!"
Huang Mingxiang terus tertawa bahagia, sesekali melihat ke arah Xiao Muqing yang kadang juga ikut tersenyum.
Salju masih memenuhi ibu kota, namun sudah tidak separah kemarin suhu dingin dan jumlah salju yang turun.
Xiao Muqing membetulkan ikatan tali mantel Huang Mingxiang yang hendak terlepas, membuat wanita itu terdiam karena sedikit terkejut.
"Berisik seperti anak kecil," ucap Xiao Muqing, dia mengatakan itu sambil sibuk mengikat ulang tali mantel istrinya dan tersenyum tipis.
Huang Mingxiang tersenyum semakin lebar. "Tentu saja, bukankah kita tidak pernah keluar sebelumnya? Saya sangat bahagia sekarang, karena anda dan ibu kota yang meriah saat ini."
Xiao Muqing tersenyum, kali ini benar-benar tersenyum. Pria itu mengelus pipi Huang Mingxiang lembut, wajah istrinya terlihat pucat sejak kepulangannya dari gunung Lang Tao.
Huang Mingxiang menggeleng, namun dia tetap maju untuk memeluk Xiao Muqing. "Tidak. Tetapi saya ingin berada di pelukan anda. Selamanya."
Xiao Muqing membalas pelukan Huang Mingxiang, lalu mengecup ubun-ubun wanita itu. "Siapa yang berani memisahkan kita?"
"Perang," jawab Huang Mingxiang, membuat Xiao Muqing terdiam. Pria itu sedikit terkejut, apa Huang Mingxiang mengetahui masalah di perbatasan sudah sangat parah?
Huang Mingxiang mengerutkan keningnya khawatir, lalu mendongak. Huang Mingxiang menyentuh pipi kanan Xiao Muqing. "Wangye, saya menyadari masalah yang belakangan ini berkembang. Huanghou ... saya memiliki firasat--"
"Bahkan jika peperangan benar-benar terjadi dan mengharuskan benwang berangkat menuju perbatasan, itu bukan masalah besar, Mingxiang. Sebelumnya benwang sudah pernah memimpin ratusan ribu pasukan untuk perang, perang kali ini tidak akan jauh berbeda dengan perang-perang biasanya," ucap Xiao Muqing, memotong kalimat Huang Mingxiang.
Huang Mingxiang memejamkan matanya, dia tidak bodoh. Peperangan itu diatur untuk membunuh Xiao Muqing, tentu saja sangat berbeda dengan peperangan biasanya. Pasti akan ada banyak jebakan dari pihak dalam Kekaisaran ataupun pihak musuh.
"Tetapi bagaimana jika benwang gugur?" tanya Xiao Muqing tiba-tiba, membuat Huang Mingxiang kembali mendongak. Huang Mingxiang menoleh ke arah langit, lalu menjawab,"Maka saya akan berdiri menjaga Xiao Wangfu menggantikan Wangye. Dan untuk mencegah pihak musuh memiliki kesempatan untuk menguasai ratusan ribu pasukan milik Wangye, Mingxiang harus mengandung anak Wangye. Hanya itu satu-satunya jalan agar pihak Huanghou tidak mendapat apa-apa dari rencana busuknya, kecuali kehancuran hati saya."
Xiao Muqing tertegun, matanya menatap Huang Mingxiang dalam. Tak lama, pria itu tiba-tiba berlutut di hadapan Huang Mingxiang, membuat wanita itu terkejut bukan main. Bagaimana tidak? Seorang Xiao Muqing berlutut padanya! Itu hal gila! Di dalam adat dia akan disalahkan!
Tetapi Xiao Muqing tidak bergerak, pria itu tetap berlutut ke arah Huang Mingxiang sambil menggenggam kedua tangan wanita itu.
__ADS_1
"Huang Mingxiang, benwang berjanji akan kembali dengan selamat jika peperangan benar-benar terjadi. Benwang berjanji akan menjadikan kamu satu-satunya Wangfei Kekaisaran dalam sejarah yang paling dicintai, bahagia, dan beruntung. Benwang ingin membuat siapapun mengagumi dan cemburu padamu, benwang ingin kamu menjadi bintang Kekaisaran paling terang. Huang Mingxiang, kamu bersedia menjadi ibu dari keturunan benwang?" tanya Xiao Muqing, matanya menatap Huang Mingxiang sambil berlutut. Pandangan Xiao Muqing tidak teralihkan sedikitpun, seolah bumi akan kiamat dan Huang Mingxiang akan menghilang secepat cahaya jika dia mengalihkan pandangannya sedetik saja.
Kedua mata Huang Mingxiang menahan air mata, wanita itu mengangguk. "Tentu, bagaimana mungkin saya tidak ingin menjadi wanita yang sangat anda cintai? Bagaimana mungkin saya menolak menjadi ibu dari keturunan-keturunan Wangye?"
Xiao Muqing tersenyum, lalu mencium kedua tangan Huang Mingxiang lama. Pria itu kemudian berdiri dan menarik Huang Mingxiang ke dalam pelukannya.
"Mengapa kamu menangis?" tanya Xiao Muqing, bibirnya masih tersenyum karena Huang Mingxiang menangis.
"Saya ... saya bahagia," jawab Huang Mingxiang, kemudian melanjutkan,"Maaf ... anda pasti membencinya. Wajah saya pasti sangat jelek sekarang."
Xiao Muqing terkekeh, lalu melepas pelukannya untuk mengelap lembut air mata Huang Mingxiang. Xiao Muqing mencium kedua mata Huang Mingxiang bergantian. "Tidak, sayang. Kamu wanita paling cantik di ibu kota ini."
Tangis Huang Mingxiang semakin pecah saat mendengar ini, ini pertama kalinya Xiao Muqing memujinya cantik, biasanya pria itu hanya tahu menghina jelek.
"Shhtt ... diam. Berhenti menangis," ucap Xiao Muqing, lalu mengecup kening Huang Mingxiang.
Xiao Muqing melepas kecupannya, bibirnya masih tersenyum. Tangis Huang Mingxiang sudah cukup mereda, Xiao Muqing berjalan ke arah meja sebentar dan mengambil cangkir air. Pria itu kembali mendekat ke arah Huang Mingxiang, kemudian memberikannya ke arah Huang Mingxiang.
"Tenangkan dirimu dulu," ucap Xiao Muqing sambil menyodorkan cangkri air tersebut.
Huang Mingxiang mengambilnya, lalu meneguknya. Kini dia sudah merasa sangat tenang, bibirnya kembali tersenyum.
Xiao Muqing mengambil cangkir itu, lalu melemparnya ke arah meja, cangkir itu tidak pecah atau terlewat dari meja. Mendarat sempurna.
Xiao Muqing mengelus kepala Huang Mingxiang, sesekali mengelap pipi basah Huang Mingxiang.
"Anda sudah berjanji, maka harus ditepati. Jika benar-benar akan berperang, maka Mingxiang akan setia menunggu di Xiao Wangfu. Ingatlah untuk pulang, jangan pernah lupakan rumah," ujar Huang Mingxiang, matanya sembab.
Xiao Muqing mengangguk. "Jika dulu benwang berperang dan berusaha kembali tanpa alasan lain selain membawa kemenangan untuk dipersembahkan kepada mendiang Kaisar, maka benwang kini memiliki alasan lain selain membawa kemenangan. Yaitu, pulang menuju Xiao Wangfu dan menemuimu."
Huang Mingxiang tersenyum, perlahan kepala Xiao Muqing turun untuk mendekatkan wajah mereka berdua. Huang Mingxiang memejamkan matanya, begitu juga dengan Xiao Muqing. Xiao Muqing mencium bibir Huang Mingxiang, tanah ibu kota dan langit malam hari ini adalah saksi bisu kalimat-kalimat penuh cinta mereka sebelumnya.
JEDAR!!
Kembang api dengan berbagai warna muncul, membuat langit malam yang polos terhiasi cantik.
Xiao Muqing melepas ciumannya, Huang Mingxiang tersenyum lembut ke arah suaminya. Xiao Muqing menarik Huang Mingxiang ke dalam pelukannya, lalu melihat ke arah langit bersama-sama.
Sementara itu, Gu Sinjie dan Baili Ruyi juga menonton kembang api dari balkon sebelah. Mereka juga menyewa satu ruangan VIP karena bosan menunggu Huang Mingxiang dan Xiao Muqing yang tak kunjung keluar. Tadinya mereka bertiga, namun Yui entah ke mana menghilang. Sebelum pergi anak itu berkata hendak mencari bakpao hangat untuk dimakan bersama-sama, namun sampai sekarang tak kunjung kembali.
__ADS_1