Istri Kesayangan Xiao Wangye

Istri Kesayangan Xiao Wangye
Bab 108. BonChap: Rong Xuan


__ADS_3

-TIGA TAHUN LALU-


Tandu pernikahan dan arak-arakan pengantin berjalan menuju Istana. Rong Xuan, wanita itu duduk anggun di dalam tandu dengan hanfu merah yang dibordir menggunakan benang emas bercorak Phoenix.


Mahkota Phoenix bertengger di kepalanya, seluruh Ibu Kota merayakan pernikahan Putra Mahkota mereka dengan dirinya, Rong Xuan. Putri sulung dari Perdana Menteri Rong, yang akan diangkat menjadi Putri Mahkota secara sah hari ini.


Sesampainya di Istana, pintu tandu-nya segera dibuka. Dari balik tudung kepalanya, dia dapat melihat sosok Xiao Jihuang yang berdiri gagah membukakan pintu untuknya dan kini mengulurkan tangan ke arahnya untuk membantunya turun.


Xiao Jihuang mengenakan pakaian pengantin pria berwarna hitam, lalu terdapat bordir naga emas di punggung pakaiannya.


Rong Xuan menekan rasa gugupnya, lalu membalas uluran tangan Xiao Jihuang untuk segera turun dari tandu. Di luar, seluruh menteri dan pejabat sudah berbaris memanjang saling berhadapan sampai ke dalam Aula Kekaisaran.


Xiao Jihuang menggenggam erat tangan Rong Xuan. Mereka berdua berjalan bersama menuju Aula Kekaisaran, di dalam sana sudah hadir para bangsawan tingkat tinggi dan keluarga kerajaan lainnya.


Xiao Jihuang dan Rong Xuan tidak berbicara satu patah katapun, mereka berdua berjalan kaku beriringan tanpa bicara seperti tentara.


Sesampainya di dalam, Kasim pribadi Kaisar menyerukan instruksi tiga kali membungkuk hormat. Pertama kepada orang tua, lalu kepada pasangan, setelah itu kepada langit.


"Lebih dekat, nak." Kaisar memerintahkan Rong Xuan untuk mendekat ke arahnya.


Rong Xuan berlutut, sedangkan Xiao Jihuang tetap berdiri mematung di belakang istrinya.


"Di hari penuh kebahagiaan ini, Zhen secara resmi mengangkatmu menjadi Putri Mahkota Kekaisaran Timur dengan sah. Rong Xuan, putri sulung keluarga Rong, secara resmi menjadi istri sang Putra Mahkota dan akan hidup saling melengkapi serta membantu, demi keberlangsungan Kekaisaran."


Begitu Kaisar mengatakan hal tersebut, gong dipukul tiga kali. Suara tepuk tangan meriah pun terdengar, Rong Xuan segera bangkit begitu Kaisar secara pribadi membantunya. Bibir wanita itu tersenyum, lalu membungkuk ke arah Kaisar sebelum akhirnya berbalik dan menatap Xiao Jihuang.


Rong Xuan kembali berjalan menuju tempatnya semula, kini dia sudah saling berhadapan dengan Xiao Jihuang. Xiao Jihuang perlahan menggerakkan kedua tangannya, lalu membuka tudung kepala Rong Xuan yang sedari tadi menutupi kecantikan tajam wanita itu.


Rong Xuan memejamkan matanya sebentar saat tudungnya sudah terbuka seluruhnya, lalu membuka matanya lagi dan tersenyum menatap Xiao Jihuang.

__ADS_1


Xiao Jihuang tersenyum tipis, dia menunjukkan raut wajah terbaiknya hari ini. Menelan seluruh perasaan dan rahasia yang hanya dia serta tuhan yang tahu.


Xiao Jihuang bergerak mendekat, lalu mengecup kening Rong Xuan lama. Lagi-lagi suara tepukan tangan, sorakan, dan ucapan selamat penuh kebahagiaan terdengar. Hari ini, Kekaisaran Timur resmi memiliki sang Putri Mahkota serta calon Huanghou generasi selanjutnya.


Setelah pesta perayaan pernikahan selesai, Rong Xuan segera menuju tempat tinggal barunya. Istana kediaman Putri Mahkota, di sana berbagai macam hiasan kecil hingga besar berwarna merah. Sangat indah.


Begitu memasuki kamar, Rong Xuan tersenyum ketika melihat bucket mawar merah besar yang tergeletak di atas kasur. Tak lama seorang pelayan datang dan mengatakan,"Yang mulia, bunga mawar merah ini disiapkan secara khusus oleh yang mulia Putra Mahkota untuk anda. Putra Mahkota harap dengan hadiah kecil ini, yang mulia dapat tersenyum bahagia dan menyesuaikan diri dengan nyaman di Istana. Putra Mahkota juga berpesan, malam ini anda tidak boleh sedih atau murung, karena Putra Mahkota merasa kecantikan anda malam ini seperti bunga mawar merah tersebut. Serta ... malam ini, anda diperbolehkan beristirahat terlebih dahulu, tidak perlu menunggu beliau, karena yang mulia sedang ada urusan lain di luar dan baru akan kembali larut malam nanti."


Rong Xuan masih tersenyum, senyumannya terus mengembang dan hangat. Wanita itu tidak menaruh rasa curiga apa pun, walaupun sebetulnya agak aneh jika masih ada pekerjaan di hari pernikahan dirinya sendiri seperti ini.


"Aku mengerti, terima kasih. Kamu boleh pergi," jawab Rong Xuan, kemudian berjalan ke arah ranjang dan duduk di tepi. Tangannya menarik satu tangkai bunga mawar, lalu menghirupnya dengan elegan.


Keesokan paginya, Rong Xuan sudah siap dengan hanfu berwarna putih emas miliknya. Wanita itu kini perlahan berusaha menyesuaikan diri menjadi 'Putri Mahkota' dan melakukan seluruh pekerjaannya dengan maksimal.


Dia sangat semangat hari ini, karena dia akan mengunjungi Xiao Jihuang. Rong Xuan membawa nampan berisi cangkir teh hijau secara pribadi ke Istana kediaman Xiao Jihuang. Wanita itu akan menyapa suaminya dan kemudian mereka berdua segera menuju Istana Huanghou untuk memberi salam bersama.


"Apa Pangeran ada di dalam?" tanya Rong Xuan ramah kepada penjaga gerbang.


Rong Xuan mengangguk puas, setelah itu melanjutkan langkah kakinya. Bibirnya terus tersenyum, sampai akhirnya senyuman itu memudar kala dia berhenti tepat di depan pintu kamar Xiao Jihuang dan mendengar percakapan pria itu dengan seseorang.


Rong Xuan membatu di posisinya, perlahan raut wajah penuh kehangatannya menghilang.


"Yang mulia, bagaimana mungkin anda mengunjungi Huang Junzhu di hari pernikahan anda dengan Putri Mahkota?Jika ada yang mengetahui berita ini maka akan muncul rumor buruk. Hal ini sangat tidak baik untuk reputasi anda dan Huang Junzhu sendiri."


"Aku hanya ingin menemaninya. Wanita itu ... pasti sangat kecewa dan trauma setelah dibentak kasar oleh Muhou-ku. Mingxiang ... dia benar-benar tidak mendapatkan apa pun dari usaha kerasnya selama ini. Bukankah itu kejam? Wanita bahkan pernah pingsan dan jatuh sakit karena terus-menerus belajar demi memenuhi impian Muhou. Tetapi ... sekarang lihat. Dia tidak mendapatkan apa pun."


"Aiishh ... namun bukankah anda bisa menjadikannya selir? Menjadi selir bergelar tinggi seperti 'Huang Guifei' atau 'Guifei' di masa depan ...?"


"Huang Guifei ...? Benar, namun gelar itu tidak bisa diisi oleh sembarang orang. Huang Mingxiang memang pantas dan sangat memenuhi syarat untuk menjadi 'Huanghou' namun untuk mengisi gelar 'Huang Guifei' dia masih belum cukup. Bagaimana pun ... 'Huang Guifei' adalah selir, untuk mencapai gelar itu selir dengan gelar di bawah sebelumnya harus memiliki kontribusi yang besar dan jelas untuk Harem serta Kekaisaran."

__ADS_1


"Ah ... benar, sayang sekali .... Tetapi, apa sulitnya? Tidak peduli gelar selir apa yang akan Huang Junzhu dapatkan sebelumnya, setelah beliau melahirkan anak untuk anda dan dengan prestasi serta latar belakang beliau yang jelas, bukankah itu sudah sangat memenuhi syaratnya? Saya mengerti kesulitannya, karena gelar itu memang sangat bertentangan dengan gelar 'Huanghou' sejak dulu. Gelar seorang selir yang hanya memiliki satu tingkat kekuasaan dengan seorang 'Huanghou'. Lalu ... apa yang akan anda lakukan ke depannya dengan Putri Mahkota, yang mulia?"


"Aku akan menerimanya. Keputusan Kaisar juga tidak bisa dibantah, bahkan Muhou sendiri yang memohon pun tidak didengar sama sekali oleh ayahku. Aku tidak akan melarang Putri Mahkota untuk berbuat apa pun, jika dia ingin pergi maka silahkan, jika tidak ... aku tidak akan memaksanya pergi. Bagaimana pun, aku yakin dia juga menikahi ku karena terpaksa. Seorang Rong Xiaojie tidak mungkin tidak memiliki kekasih atau penggemar spesial, bukan?"


Rong Xuan membisu mendengarkan itu semua. Hatinya terasa seperti ditusuk oleh pedang yang paling tajam. Ini adalah hari pertama kehidupannya setelah menikah, namun ... takdir sudah harus membuatnya mendengar kalimat-kalimat menyakitkan seperti itu dari mulut suaminya sendiri.


Menyadari ada langkah kaki yang mendekat, Rong Xuan bergegas menyadarkan dirinya dan menegakkan postur tubuhnya. Berusaha menampilkan raut wajah normal.


Srekk ....


Pintu dibuka, seorang pria dengan pakaian biru putih muncul. Ada pedang yang menggantung di pinggang pria itu, sepertinya dia adalah pengawal pribadi Xiao Jihuang.


"Ya--yang mulia ...." Pria itu segera membungkuk gugup ke arah Rong Xuan.


Rong Xuan berusaha tersenyum. "Tuan Ming ...."


"Apakah ... apakah yang mulia sudah menunggu lama di luar?" tanya pria tersebut, raut wajahnya terlihat khawatir.


Rong Xuan menggeleng pelan, bibirnya masih tetap tersenyum. "Saya baru saja sampai. Ada apa, Tuan Ming?"


Pria itu menghela napas lega, setelah itu kembali tersenyum dan menggeleng pelan. "Tidak ada, yang mulia. Saya hanya ingin memastikan, khawatir yang mulia sudah menunggu terlalu lama karena saya."


Rong Xuan menggeleng, lalu berjalan melewati pria itu sambil berkata,"Anda tidak perlu khawatir, saya baru saja benar-benar tiba."


"Yang mulia." Rong Xuan menambah kembangan senyumnya saat melihat sosok Xiao Jihuang yang juga terlihat gugup.


Xiao Jihuang berdiri di depan kasurnya, pria itu tengah melilit perban di telapak tangannya. Saat diam-diam keluar dari Huang Fu setelah menyelinap masuk kemarin malam, Xiao Jihuang lengah dan mengenai salah satu jebakan di sana. Alhasil sekarang tangannya terluka.


Rong Xuan mengerutkan keningnya, wanita itu buru-buru menaruh nampan cangkir teh-nya dan berjalan mendekati Xiao Jihuang. Rong Xuan dengan lembut menggilir Xiao Jihuang untuk duduk di tepi kasur bersamanya, lalu wanita itu mengambil alih lilitan Xiao Jihuang.

__ADS_1


"Yang mulia, bagaimana bisa anda terluka? Apa terjadi sesuatu saat anda tengah melakukan rapat semalam?" tanya Rong Xuan, raut wajahnya terlihat khawatir. Wanita itu tetap menutup mulutnya dan memendam seluruh fakta serta rasa sakit walaupun dia sudah mengetahuinya.


__ADS_2