Istri Kesayangan Xiao Wangye

Istri Kesayangan Xiao Wangye
Bab 29. Istana Tidak Akan Bisa Menjangkau Nyawanya, Bahkan Helai Rambutnya


__ADS_3

"Wangye, Wangfei. Mohon tunggu sebentar, Laoye tengah bergegas kemari. Beliau baru saja keluar dari ruangan kerjanya." Chai Mama tersenyum ke arah mereka berdua, meminta pengertian Xiao Muqing dan Huang Mingxiang.


Huang Mingxiang mengangguk. "Tidak masalah, Chai Mama." Kemudian kepalanya menoleh ke arah Xiao Muqing. "Ayah memang sering berada di ruang kerjanya, Wangye. Maaf jika anda harus menunggu seperti ini."


Xiao Muqing mengangguk singkat, tidak menjawab dengan kalimat apa pun. Tidak masalah, dia kemari juga tanpa urusan resmi.


Tak lama setelah itu, sosok Huang Dajie muncul. Kedua mata pria itu tidak menatap lurus ke depan, melainkan menunduk. Penampilannya terlihat sedikit berantakan, seolah baru saja tergesa-gesa untuk bersiap dan berlari menuju ruang tamu. Wajah Huang Dajie juga terlihat pucat dan lesu, dia seperti tidak menyangka dan takut akan kehadiran Xiao Muqing.


"Huang Dajie, pejabat kecil ini menyapa yang mulia Xiao Wangye dan Wangfei." Huang Dajie membungkuk ke arah Huang Mingxiang dan Xiao Muqing. Huang Mingxiang yang melihat ini pun bergegas berdiri dan membantu ayahnya untuk kembali berdiri tegak.


"Ayah, anda tidak perlu terlalu formal kepada kami," ujar Huang Mingxiang.


"Perdana Menteri Huang, bagaimana kabar anda?" tanya Xiao Muqing, mata pria itu menatap lekat Huang Dajie yang sampai saat ini masih menunduk.


"Saya baik, yang mulia. Hanya sempat sakit ringan saja beberapa hari ini. Terima kasih banyak atas kekhawatiran yang mulia," jawab Huang Dajie.


Huang Mingxiang mengerutkan keningnya sekilas. Dia merasa kurang puas karena Huang Dajie terus menunduk. Huang Mingxiang menghela napas tipis, baiklah ... dia akan berusaha semaksimal mungkin agar ayahnya tidak berpikiran buruk lagi mengenai Xiao Muqing.


Setelah Huang Dajie duduk, Huang Mingxiang segera mengatakan,"Ayah, apa anda tahu? Saya baru saja mengunjungi Istana tadi. Wangye menyusul setelah acara hendak dimulai, lalu menemani saya kemari."


"Ah ... itu hal baik, ayah khawatir kamu akan sendirian di Istana," jawab Huang Dajie, bibirnya seperti memaksakan senyum tipis.


Huang Mingxiang tidak peduli, dia terus mengoceh. "Ayah, di Xiao Wangfu ada pohon anggur. Setiap mendekati akhir tahun seperti ini pohonnya akan menumbuhkan buah yang sangat manis. Saya mengajak Wangye untuk melihat pohonnya, lalu memaksa Wangye untuk memakan buah yang masam! Ayah harus mengunjungi Xiao Wangfu sesekali untuk melihat pohon anggurnya. Dia memang tidak terlalu besar, namun selalu berbuah banyak."


Huang Dajie terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab dan bereaksi seperti apa. Dia pribadi masih terkejut dengan kedatangan Xiao Muqing yang tiba-tiba, lalu mendengar cerita hangat mengenai mereka berdua membuat Huang Dajie semakin bingung. Apakah ... dia harus menerima kenyataan ini karena putrinya terlihat jauh lebih bahagia dari pada sebelumnya?


Huang Dajie memejamkan matanya sebentar, diam-diam mengambil napas dalam dan memberanikan diri untuk menatap Huang Mingxiang dan Xiao Muqing. Matanya tertegun, dia melihat Xiao Muqing tengah menatap dalam Huang Mingxiang yang sibuk bercerita.


Huang Dajie beralih fokus menatap Huang Mingxiang, lalu bertanya,"Ayah senang, sepertinya kamu terlihat sangat bahagia setelah menikah."


Huang Mingxiang tertegun. Ayahnya sempat tersenyum di akhir kalimat, namun senyumannya kali ini berbeda dengan senyum terpaksa sebelumnya. Kali ini terlihat lebih tulus.


Huang Mingxiang terkekeh, lalu menoleh sebentar ke arah Xiao Muqing dan kembali menatap ayahnya lagi. "Tentu, ayah. Mingxiang sangat bahagia. Mingxiang bersyukur karena telah menjadi Wangfei dari Wangye. Mingxiang banyak mempelajari hal baru, Wangye juga memperlakukan Mingxiang dengan sangat baik."

__ADS_1


Xiao Muqing tertegun, kemudian mengalihkan tatapannya ke arah lain dan diam. Tetapi kemudian dia mengingat nasihat Gu Sinjie, dia harus bisa meyakinkan Huang Dajie bahwa dirinya adalah 'menantu yang baik'.


"Bagaimana mungkin benwang memperlakukan Xiaojie dari keluarga Huang dengan buruk?" ujar Xiao Muqing.


Huang Mingxiang tersenyum tipis, lalu tatapannya beralih menunduk ke arah lantai. "Anda tentu sudah tahu apa alasannya."


Xiao Muqing mengangguk singkat. "Tidak ada bukti valid mengenai hal itu. Anda tetap wanita terhormat di Huang Fu, Xiao Wangfu, Istana, dan Kekaisaran ini."


Huang Mingxiang menatap Xiao Muqing cepat, ada apa dengan pria itu? Mengapa cara bicaranya mendadak terasa manis sekali? Tetapi, karena ini di depan ayahnya, Huang Mingxiang tidak berani berbuat macam-macam. Wanita itu mengikuti permainan kalimat manis milik Xiao Muqing.


Huang Mingxiang memasang wajah terharu, walaupun sebenarnya tidak se-terharu itu. Dia tidak tahu apa tujuan Xiao Muqing mengucapkan kalimat manis seperti itu, dia hanya mengikuti. Hal itu lebih baik dari pada sampai di Xiao Wangfu pria itu mencari masalah dengannya.


"Mingxiang merasa tidak enak dengan Wangye. Wangye jadi harus menanggung malu karena Mingxiang," ucap Huang Mingxiang sambil menunduk.


Xiao Muqing menggeleng singkat. "Tidak ada yang pernah mengatakan bahwa anda adalah beban dan sesuatu yang dapat menyebabkan 'malu' untuk Xiao Wangfu."


Saat Huang Mingxiang ingin menanggapi lagi, tiba-tiba Huang Dajie bicara. "Yang mulia, apa anda berkenan untuk berbincang dengan saya di ruang kerja? Ada beberapa urusan negara yang sudah lama sekali ingin saya bicarakan dengan anda."


Xiao Muqing yang mendengar ini menatap Huang Dajie lamat-lamat. Urusan negara? Omong kosong. Huang Dajie adalah pengabdi Kaisar, pria itu juga bekerja di dalam pemerintahan Kekaisaran, sedangkan Xiao Muqing bekerja di urusan militer Kekaisaran. Lagi pula mereka juga tidak pernah memiliki kerja sama khusus.


Huang Mingxiang berdiri, hendak berjalan ke belakang kursi roda Xiao Muqing untuk mendorong kursi roda pria itu seperti biasa. Tetapi kali ini Xiao Muqing menolak bantuannya. "Tidak perlu. Kamu tetap di sini, pembicaraannya tidak akan lama."


Huang Mingxiang mengerutkan keningnya, ini pertama kalinya Xiao Muqing menolak tawarannya. Tetapi kemudian dia mengangguk, mungkin ada beberapa informasi yang tidak boleh diketahui siapapun termasuk dirinya. Lagi pula sesuai aturan memang seorang wanita tidak memiliki hak besar untuk ikut campur dalam urusan politik.


Gu Sinjie maju, kali ini dia yang membantu Xiao Muqing. Sedangkan Baili Ruyi dan Su Mama tetap di ruang tamu menemani Huang Mingxiang.


Setelah ketiga pria itu pergi, Huang Mingxiang menyandarkan tubuhnya ke meja. Astaga ... tadi itu suasananya sangat canggung, dia bingung harus melakukan apa lagi agar ayahnya melunak.


Sementara itu Huang Dajie dan Xiao Muqing telah sampai di ruangan kerja, Gu Sinjie menunggu di luar.


"Apa yang ingin anda katakan? Tidak mungkin benar-benar urusan negara," ucap Xiao Muqing, ingin langsung menuju kepada intinya.


Huang Dajie mengangguk. "Yang mulia benar, ini bukan masalah negara. Tetapi ... Mingxiang."

__ADS_1


Xiao Muqing balas mengangguk. "Apa yang ingin anda bicarakan?"


Huang Dajie termenung sebentar, kemudian berjalan ke salah satu sisi dinding ruang kerjanya. Di sana ada satu buah lukisan yang menggantung namun masih menggulung, hingga pada akhirnya Huang Dajie menarik seutas tali menggantung dari lukisan tersebut. Kemudian muncul lukisan keluarga milik Huang Dajie.


Di lukisan itu ada Huang Dajie sendiri, Huang Liyue yang masih berumur enam tahun, dan Huang Mingxiang yang masih berumur lima tahun. Di samping kiri Huang Dajie ada seorang wanita yang mengenakan hanfu berwarna kuning, wanita itu adalah Song Furen, ibu Huang Liyue. Lalu sebelah kanan Huang Dajie ada seorang wanita yang mengenakan hanfu berwarna kuning, wanita itu adalah Fang Yiniang, ibu dari Huang Mingxiang.


"Lukisan ini dibuat tanpa adanya kehadiran Fang Yiniang, adik perempuan kandung Huangtaihou Niangniang. Mingxiang sudah sejak lahir ditinggal oleh ibu kandungnya, lalu dirawat oleh Song Yiniang. Mingxiang dan Liyue, kedua anak itu tumbuh dengan perlakuan dan kasih sayang yang sama." Huang Dajie menceritakan secara singkat garis besar cerita mengenai keluarganya.


Xiao Muqing diam. Pria itu menyimak dengan baik.


"Wangye, maaf jika pejabat ini lancang. Tetapi ... apakah anda benar-benar mencintai putri kedua saya?" tanya Huang Dajie, matanya menatap Xiao Muqing sendu. Tatapan orang tua yang sangat lemah dan penuh harap.


Xiao Muqing masih terdiam, kali ini dia bertarung dengan pikirannya sendiri. Melihat Xiao Muqing agak kesulitan menjawab, Huang Dajie menunduk dalam. Kemudian pria itu kembali menatap Xiao Muqing dan berkata,"Setidaknya anda akan melindungi Mingxiang dengan baik."


Xiao Muqing mengangguk. "Benwang memiliki kesepakatan dengan putri kedua anda."


Huang Dajie tersenyum tipis. "Ternyata memang benar, anak itu tidak benar-benar tulus mengatakan kebahagiannya. Dia kini sudah menjadi lebih dewasa, banyak hal-hal baru yang dia lakukan dan saya tidak mengetahui hal tersebut. Bahkan, kini Mingxiang berani membuat perjanjian dengan seorang Adipati. Hal ini menyadarkan saya bahwa anak saya sudah semakin tumbuh besar, dan saya sudah semakin menua. Masa-masa indah yang dulu kami rasakan di Huang Fu sudah lewat jauh sekali."


Huang Dajie tiba-tiba berlutut, kepalanya menunduk dalam ke arah Xiao Muqing. "Wangye, anda tentu sudah tahu apa yang telah terjadi antara putri pertama dan kedua saya. Huang Liyue dan Huang Mingxiang, mereka berdua entah bagaimana berselisih sengit saat ini. Hal ini adalah kelalaian saya sebagai seorang ayah dan kepala keluarga. Saya tidak bisa menjaga dan mendidik kedua putri saya dengan baik. Yang mulia, pejabat ini mohon ... tolong jaga Mingxiang dengan baik. Di perselisihan mereka berdua kali ini, saya tidak berdaya. Saya sangat menyayangi keduanya, sehingga saya tidak dapat memilih salah satunya. Huang Liyue, kemungkinan anak itu tidak akan menyerah untuk menyentuh Huang Mingxiang. Dia akan menggunakan kekuatan Kaisar untuk melawan Huang Mingxiang. Dan saat ini, satu-satunya perlindungan yang dimiliki Huang Mingxiang adalah anda. Huang Mingxiang tidak bisa selamanya menggunakan bantuan Huangtaihou, Huangtaihou lambat laun juga pasti perlahan akan memihak Kaisar karena beliau tidak ingin kedudukan anaknya terganggu."


Huang Dajie menarik napas dalam, diam sejenak, kemudian tak lama kembali melanjutkan kalimatnya yang sempat terhenti. "Yang mulia ... saya mohon, gunakan kuasa anda untuk membantu Huang Mingxiang apa pun yang terjadi. Anak itu hanya memiliki anda saat ini."


Xiao Muqing memperhatikan Huang Dajie yang terus membungkuk. Nada bicara pria itu terdengar gemetar, dia sepertinya menahan tangis. Huang Dajie terlihat sangat menyayangi kedua putrinya, membuat Xiao Muqing merasakan suatu dorongan di hatinya.


Kalimat Huang Dajie tidak lain dan tidak kurang bermaksud meminta Xiao Muqing kembali bangkit dan mendirikan bendera kekuasaannya lagi. Meminta pria itu kembali aktif di Kekaisaran dan menyadarkan pandangan orang-orang kembali tentang dirinya. Sebab jika Huang Liyue telah menggunakan kekuatan Kaisar sementara dirinya masih tidak ingin bergerak, maka Huang Mingxiang tidak memiliki tempat untuk berlindung. Wanita itu akan melawan Istana sendirian, dan ... hanya menghitung waktu hingga akhirnya wanita itu gagal. Tidak peduli secerdik apa Huang Mingxiang menggunakan statusnya, dia hanya akan tetap di pandang sebelah mata karena tidak memiliki kekuatan resmi.


Xiao Muqing kembali menatap ke arah lukisan itu, dia fokus melihat sosok Huang Mingxiang yang berdiri di belakang sebelah kanan kursi Huang Dajie.


"Tanpa anda katakan pun, benwang pasti akan melakukan hal itu. Setelah menikah dan menyandang gelar Xiao Wangfei, maka hidup dan mati Huang Mingxiang adalah mutlak milik benwang seorang. Istana tidak akan pernah bisa menjangkau nyawanya, bahkan helai rambutnya sekalipun." Xiao Muqing, sorot matanya yang dingin masih menatap sosok lukisan Huang Mingxiang.


Huang Dajie tertegun, dia bergegas sedikit mendongak untuk menatap Xiao Muqing. Xiao Muqing kembali melirik ke arah Huang Dajie, kemudian berkata,"Bagaimana, apa anda sudah cukup lega dengan hubungan kami berdua?"


Huang Dajie yang mendengar ini dengan cepat kembali menunduk, lalu menjawab,"Terima kasih banyak, yang mulia. Saya berjanji akan menjadi pejabat netral di kepemerintahan untuk anda dan Kaisar."

__ADS_1


Xiao Muqing tersenyum dingin. "Tidak perlu. Benwang tidak peduli dengan ada atau tidaknya dukungan para pejabat."


Huang Dajie mengangguk, bibirnya tersenyum lega. Walaupun Xiao Muqing berkata demikian, Huang Dajie akan tetap menjadi pejabat netral antara Kaisar dan Xiao Muqing. Hal ini karena kedua anaknya.


__ADS_2