Istri Kesayangan Xiao Wangye

Istri Kesayangan Xiao Wangye
Bab 30. Karena Anda, Wangfei


__ADS_3

Huang Mingxiang dan Baili Ruyi menunggu dengan suntuk di ruang tamu, mereka berdua sesekali bicara dan topiknya selalu seputar Xiao Muqing, Gu Sinjie, dan Istana.


"Wangfei, anda harus tahu. Wangye pernah dihukum Chen Taifei karena berkata terus tentang dengan sangat pedas ke salah satu tamu wanita Chen Taifei yang menyukai Wangye." Baili Ruyi masih sibuk bercerita, wanita itu sangat suka bercerita.


Huang Mingxiang tersenyum. "Ah ... berarti memang bakat ocehan pedasnya memang terbentuk alami sejak lahir."


Baili Ruyi tertawa keras mendengar jawaban Huang Mingxiang, dia tidak menyangka Huang Mingxiang adalah teman bercerita yang menyenangkan.


"Benar! Bahkan Gunniang itu sampai menangis, namun tidak ada tanda-tanda penyesalan dari Wangye. Chen Taifei langsung menghukumnya dengan berdiri di pojok ruangan untuk merenungi kesalahannya. Mendiang Kaisar yang mendengar Chen Taifei menghukum Wangye pun hanya tertawa, beliau mendukung tindakan Chen Taifei walaupun sebenarnya merasa iba melihat putranya seperti anak jalanan tak terurus berdiri memang wajah sendu di pojok ruangan."


Huang Mingxiang mengangguk-anggukkan kepalanya. "Sepertinya Nona Baili tahu dengan sangat jelas mengenai cerita Wangye dan Tuan Gu."


Baili Ruyi mengangguk. "Tentu, kamu sudah sejak kecil saling mengenal. Aku sempat bertarung bersama Wangye saat pertama kali pria itu datang ke Akademi. Wangye terlihat sombong dan tidak ingin bergaul, aku kesal, maka aku menantangnya di hadapan para petinggi Akademi termasuk ayahku. Ya ... walaupun aku yang kalah, tetapi setidaknya aku senang karena hal itulah kamu bertiga menjadi dekat. Gu Sinjie dan Wangye sudah lebih dulu saling kenal sebelum kami bertemu di Akademi, Gu Sinjie sudah berada di samping Wangye sejak Wangye masih sangat kecil. Chen Taifei yang mendekatkan mereka, beliau memiliki hubungan persahabatan yang baik dengan mendiang Gu Furen saat itu."


Huang Mingxiang mengangguk lagi, ternyata cerita masa kecil Xiao Muqing banyak sekali hal konyol. Pria itu juga sudah arogan dan bermulut pedas sejak kecil, Huang Mingxiang sepertinya tidak bisa mengubah kedua hal itu dari diri Xiao Muqing. Satu-satunya jalan adalah menyaingi sikap arogan dan mulut pedas Xiao Muqing.


Huang Mingxiang kemudian teringat akan sesuatu, dia ingin menanyakan bagaimana bisa Xiao Muqing tiba-tiba muncul di Istana. Huang Mingxiang dengan cepat mendekatkan mulutnya ke telinga Baili Ruyi agar tidak ada orang lain yang mendengar pembicaraan mereka selain Su Mama. Karena jika pertanyaannya yang ini bocor, maka cerita menyentuh tentang seorang suami yang rela keluar dari zona nyamannya untuk menolong istri tercinta akan kacau begitu saja di pikiran orang-orang. Huang Mingxiang tidak mau mengacaukan hal ini, karena imajinasi itu adalah sesuatu hal yang baik untuk dia manfaatkan.


"Katakan dengan jujur pada saya, bagaimana bisa Wangye tiba-tiba muncul di Istana dan mau begitu saja keluar dari Xiao Wangfu?" tanya Huang Mingxiang, keningnya terlipat bingung.


Baili Ruyi yang mendengar ini tiba-tiba tersenyum lebar, raut wajah menggoda yang menyebalkan miliknya muncul. Tak lama dia menjawab,"Karena anda, Wangfei. Apa lagi?"


"Saya? Bagaimana mungkin?" Kedua sudut alis Huang Mingxiang menyatu. Omong kosong. Karena dirinya? Bahkan sebelum dia benar-benar berangkat dan berusaha membujuk pria itu, Xiao Muqing selalu menolak mentah-mentah ajakannya.


Baili Ruyi mengangguk. "Tidak terlalu panjang, tetapi juga tidak terlalu singkat, Wangfei. Anda ingin dengar?"


"Katakan." Huang Mingxiang tidak sabar, dia ingin tahu ceritanya. Karena bukan hanya orang Istana saja yang terkejut, dirinya juga terkejut!


*Beberapa saat yang lalu sebelum Huang Mingxiang mengunjungi Istana.*


-Kediaman Perdana Menteri sayap kanan, Huang Fu-

__ADS_1


Baili Ruyi memperhatikan Huang Mingxiang yang berjalan keluar dari Huang Fu dengan air mata yang dia hapus secara kasar.


"Astaga ... dia menangis. Apa Gege akan tersentuh mendengar cerita ini?" Baili Ruyi terkekeh setelah mengatakan hal itu. Kemudian dia segera melompat dan menghilang dari kawasan Huang Fu begitu saja menggunakan jurus Qinggong miliknya.


Dia memutuskan untuk melaporkan hal ini terlebih dahulu sebelum Huang Mingxiang benar-benar sampai di Istana. Dia tidak sabaran melihat reaksi Xiao Muqing, walaupun sebenarnya ini membuat dirinya sendiri harus sibuk bolak-balik.


Sesampainya di Xiao Wangfu, Baili Ruyi menceritakan semuanya kepada Xiao Muqing. Pria itu tengah membaca buku seperti biasa di dekat jendela kamarnya ditemani Gu Sinjie yang sibuk mengelap pedang miliknya.


"Gege, tidakkah anda tersentuh saat mendengar ceritanya?" tanya Baili Ruyi.


Xiao Muqing menggeleng. "Apa yang harus dipikirkan? Semua manusia memang memiliki masalah masing-masing di setiap hidupnya. Dengan hal itu lah mereka akhirnya bisa berkembang. Kembalilah, Ruyi. Laporkan sesuatu yang penting. Jangan kemari untuk melaporkan sesuatu yang tidak terlalu penting hanya untuk melihat reaksi tidak penting dari benwang. Benwang tidak memerintahkanmu untuk mengawasi Huang Mingxiang dengan seperti itu."


Baili Ruyi memutar bola matanya malas. Xiao Muqing tidak seru. Dia seharusnya tersentuh karena Huang Mingxiang menangis sebagai anak perempuan yang berbakti kepada ayahnya dan harus menjalani seluruh masalah sendirian tanpa dukungan pasti dari siapapun.


Karena malas disemprot untuk kesekian kalinya dengan kalimat pedas Xiao Muqing, belum lagi Gu Sinjie yang senang ikut campur untuk memperpanas suasana, Baili Ruyi pun kembali menyusul Huang Mingxiang.


Begitu sampai di Istana, dia sempat kehilangan jejak Huang Mingxiang. Tetapi ... setelah hampir sepuluh menit memutari seluruh bagian Istana, akhirnya Baili Ruyi berhasil menemukan posisi Huang Mingxiang. Namun keningnya terlipat kala menyadari kereta Huang Mingxiang berhenti di pintu masuk belakang Istana dingin.


Baili Ruyi mendengar percakapan Huang Mingxiang dengan seorang pria, awalnya dia tidak tahu siapa pria itu. Tetapi ... setelah mengetahui pria itu adalah Xiao Jihuang, dia hampir menonjok jendela tua di hadapannya karena terkejut. Apa ... Huang Mingxiang berselingkuh dengan Xiao Jihuang dari Xiao Muqing? Astaga ... skandal luar biasa, kira-kira siapa yang akhirnya akan Huang Mingxiang pilih? Keponakan atau paman? Baili Ruyi tertawa di dalam hati, lalu berusaha menepis pikiran konyol yang ada di kepalanya dan kembali fokus memperhatikan.


"Tolong sikap anda, yang mulia."


"Bagaimana mungkin? Mengapa anda bersikap sangat dingin kepadaku?"


"Anda harus memperhatikan gelar saya dan anda sendiri, yang mulia. Saya adalah Bibi Kekaisaran--"


"Zhen tidak pernah merestui pernikahan anda dengan Xiao Wangye!"


Baili Ruyi terbelalak mendengar percakapan ini. Astaga ... Kaisar menyimpan perasaan untuk Huang Mingxiang? Sejak kapan? Dia tidak pernah mendengar gosip mengenai hal itu, hanya tahu bahwa Huang Mingxiang dan Kaisar adalah teman kecil sekaligus sepupu yang baik karena Huangtaihou sering mempertemukan mereka.


Baili Ruyi terus menguping dan mengintip, sampai akhirnya tiba-tiba Xiao Jihuang yang memunggungi jendela tua tempat dia mengintip menoleh. Hal ini membuat Baili Ruyi terkejut, wanita itu dengan cepat melompat ke atas atap. Dia tidak menyangka tiba-tiba Xiao Jihuang menoleh. Apakah ... Pria itu sudah sejak awal menyadari kehadirannya?

__ADS_1


Saat masih samar-samar mendengar bahwa Huang Mingxiang dan Xiao Jihuang masih sibuk berbincang, Baili Ruyi kembali diam-diam turun. Dia memastikan bahwa dia tidak akan mengeluarkan suara apa pun. Ketika dia kembali mengintip, tiba-tiba dia melihat pemandangan Xiao Jihuang menarik Huang Mingxiang ke dalam pelukannya.


Baili Ruyi kembali membulatkan matanya, dia mengelus dada karena saking terkejutnya. Tak lama dia melihat Huang Mingxiang berusaha memberontak, membentang keras Xiao Jihuang.


Baili Ruyi tersenyum, bagaimana ... jika Xiao Muqing mendengar cerita ini? Tidak mungkin untuk yang satu ini pria itu menganggap tidak penting, bukan?


Baili Ruyi melompat kembali ke atas atap, lalu melesat pergi meninggalkan Istana menuju Xiao Wangfu. Sesampainya di Xiao Wangfu, dia dengan cepat menceritakan hal ini kepada Xiao Muqing. Kali ini Xiao Muqing tengah makan siang, tidak lagi membaca buku. Pria itu terus mengunyah dan mengambil makanan menggunakan sumpitnya sambil terus mendengarkan cerita Baili Ruyi.


"Gege ... bagaimana ini? Tidakkah anda berpikir perasaan bisa saja tumbuh semakin kuat di antara keduanya? Sebelumnya Wangfei pernah mengikuti pemilihan selir, pasti ada secercah perasaan terhadap Kaisar walaupun sedikit. Dan saat ini, ternyata Kaisar yang terlihat tenang di hadapan banyak orang memiliki perasaan agresif luar biasa terhadap Wangfei. Kira-kira ... siapa yang akan--"


Tak!


Baili Ruyi dan Gu Sinjie terdiam kala mendengar suara sumpit Xiao Muqing yang patah. Pria itu mematahkan kedua sumpit yang ada dia pegang begitu saja. Punggung Baili Ruyi menegang kala Xiao Muqing mulai menatapnya.


"Apa laporanmu yang itu sungguh-sungguh dapat dipertanggungjawabkan?" tanya Xiao Muqing.


Baili Ruyi mengangguk cepat. "Tentu saja, bagaimana mungkin Ruyi berani mengarang? Pertemanan kita sudah terjalin belasan tahun, namun anda masih terus meragukan saya!" Dia mendengus di akhir kalimat, merasa tersinggung.


"Wangye, ini berbahaya." Gu Sinjie mengerutkan keningnya, menatap Xiao Muqing.


"Apanya yang berbahaya?" tanya Xiao Muqing.


"Situasinya. Apa yang dikatakan Ruyi walaupun menyebalkan, tetapi memang benar. Tidak ada jaminan Wangfei benar-benar bersih dari perasaan cinta untuk Kaisar. Mengingat Wangfei sempat mengikuti pemilihan selir dan sering didekatkan dengan Kaisar sejak kecil oleh Huangtaihou," jawab Gu Sinjie.


Xiao Muqing diam. Berpikir. Hati dan otaknya saling bertolak belakang.


"Wangye, anda harus muncul ke permukaan agar bisa menjaga Wangfei," ucap Gu Sinjie.


Xiao Muqing membuang begitu saja sumpit patahnya ke lantai, dia entah mengapa tiba-tiba tersulut emosi yang sangat besar saat mendengar cerita Baili Ruyi yang satu ini. Xiao Muqing kemudian melirik Gu Sinjie. "Siapkan segalanya. Benwang akan menyusul wanita itu."


Gu Sinjie yang mendengar ini tertegun, membulatkan matanya. Astaga ... bertahun-tahun dia membujuk Xiao Muqing dengan masalah besar darurat Kekaisaran yang bahkan mengancam ribuan nyawa, ternyata hanya dengan masalah mengenai Huang Mingxiang ini dapat membujuk Xiao Muqing untuk keluar dari Xiao Wangfu. Gu Sinjie sangat berterima kasih dengan Huang Mingxiang.

__ADS_1


__ADS_2