
Huang Mingxiang sudah berada di luar penjara, dia hendak menuju kereta kudanya dan berkunjung ke Istana kediaman Huangtaihou. Tetapi, langkahnya terhenti kala melihat Rong Wangxia.
"Wangfei." Rong Wangxia membungkuk ke arah Huang Mingxiang, bibirnya tersenyum setelah badannya kembali berdiri tegak.
Huang Mingxiang mengangguk singkat, matanya menatap dingin Rong Wangxia. Sejak malam itu, dia merasa sedikit aneh dengan Rong Wangxia. Dia dan pria itu tidak dekat sama sekali, namun Rong Wangxia terus menerus membantunya dalam segala urusan. Seperti bisnis Chuan Wuqi dan malam saat dia hendak 'membersihkan' masalah Huang Liyue.
Setelah dipikir ulang, perlahan tindakan Rong Wangxia sangat mencurigakan. Huang Mingxiang tidak bisa hanya diam dan menerima kehadiran pria itu begitu saja jika memang ternyata berbahaya. Terlebih lagi, Rong Wangxia adalah adik dari Huanghou, Rong Xuan.
"Kebetulan sekali kita bertemu, Tuan Muda Rong. Ada yang ingin saya bicarakan dengan anda, beberapa hal." Huang Mingxiang berusaha tersenyum sopan di hadapan Rong Wangxia, mendengar ini pun Rong Wangxia segera mengangguk tanpa ragu. "Baiklah, Wangfei. Di mana anda ingin bicara? Di luar atau dalam Istana?"
"Paviliun belakang Istana, saya masih memiliki beberapa urusan di Istana. Tidak bisa langsung keluar dari Istana begitu saja," jawab Huang Mingxiang.
Rong Wangxia mengangguk lagi. "Baiklah, Wangfei. Mari."
Huang Mingxiang dan Rong Wangxia pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke Paviliun belakang bersama. Sesampainya di sana, Yui merapikan meja untuk mereka berdua, seluruh anggota tubuhnya otomatis waspada setiap kali Rong Wangxia muncul di dekat Huang Mingxiang. Dia mengingat pembicaraannya dengan Gu Sinjie, Baili Ruyi, dan Xiao Muqing beberapa waktu lalu.
"Belakangan ini saya mencoba menghubungi Wangfei, namun entah bagaimana tidak ada satu surat balasan pun yang saya terima. Saya khawatir sakit anda bertambah semakin parah, namun melihat anda baik-baik saja sekarang, saya sedikit lega." Rong Wangxia tersenyum, kemudian meminum air yang ada di hadapannya.
Huang Mingxiang balas tersenyum untuk formalitas. "Maafkan saya karena tidak memberi kabar kepada anda mengenai masalah ini, namun sekarang yang mengurus Chuan Wuqi secara resmi bukan saya lagi. Tetapi Wangye, suami saya sudah mengambil alih seluruhnya kembali. Kemarin saya hanya mencoba membantunya sedikit."
Senyum di wajah Rong Wangxia hilang saat mendengar ini, matanya mendadak dingin. Untuk menutupi perubahan tatapannya yang cukup drastis ini, Rong Wangxia membuang tatapannya ke arah lain. Tetapi Huang Mingxiang cekatan, wanita itu dapat dengan mudah mengetahui perubahan tatapan Rong Wangxia.
"Saya juga ingin mengucapkan terima kasih karena sebelumnya Tuan Muda Rong telah membantu saya saat tidak sengaja pingsan," sambung Huang Mingxiang.
Rong Wangxia tersenyum kaku, mengangguk singkat. "Bukan masalah, Wangfei. Saya melakukannya dengan tulus."
Huang Mingxiang balas mengangguk juga. "Baiklah, kalau begitu ... Kita anggap masalah Chuan Wuqi selesai. Selanjutnya saya ingin menanyakan maksud tingkah laku anda."
Bibir Rong Wangxia kembali tersenyum. "Tingkah laku?"
Huang Mingxiang mengangguk. "Malam itu, mengapa anda membantu saya untuk membersihkan bukti? Kita sebelumnya tidak memiliki hubungan yang terbilang dekat untuk sampai harus membantu di 'bisnis' pribadi masing-masing. Anda juga selalu bertingkah aneh, setiap kali saya keluar dari Xiao Wangfu, saya tidak pernah tidak bertemu anda. Seolah takdir selalu membawa kita bertemu, atau ... pertemuan yang disengaja."
Rong Wangxia tersenyum semakin dalam. "Kalimat 'seolah takdir selalu membawa kita bertemu' sangat manis, saya menyukainya. Anda salah paham, Wangfei. Pertemuan kita memang selalu terjadi dengan kebetulan. Kehadiran saya kemari adalah untuk menemui Huanghou karena akhir-akhir ini beliau terlihat kurang berenergi. Dan alasan mengapa saya membantu anda ...." Rong Wangxia menggantung kalimatnya, kemudian meletakkan siku tangan kanannya di atas meja untuk menopang dagunya. Matanya menatap Huang Mingxiang dalam, bibirnya sedikit menyeringai tipis. "Saya hanya ingin melakukannya, apa ada yang salah jika saya membantu?"
Huang Mingxiang diam-diam mencengkeram kain hanfu-nya di bawah meja, matanya menatap dingin Rong Wangxia. Peringatan bahaya di kepalanya secara otomatis berbunyi, dia kini yakin bahwa Rong Wangxia memiliki niat terselubung.
"Anda tentu mengetahui hubungan pribadi maupun politik saya dengan Huanghou buruk. Membantu saya sama saja dengan melawan kakak anda sendiri. Anda yakin?" jawab Huang Mingxiang, postur duduknya tetap tegap. Tidak menunjukkan ketakutan sedikitpun karena seringaian beracun Rong Wangxia yang pertama kali dia lihat.
__ADS_1
"Anda melupakan kalimat saya dulu yang sempat saya lontarkan?" balas Rong Wangxia, membuat Huang Mingxiang berusaha mengingat semuanya. Setelah hening beberapa detik, Huang Mingxiang mengingatnya!
Berbisnis dengan anda adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Wangfei, jika ada yang perlu dibicarakan tolong segera hubungi saya. Saya akan membantu anda apa pun masalahnya, dan ..." Rong Wangxia menggantung ucapannya, kemudian mengecilkan volume bicaranya agar tidak dapat didengar oleh Dong Gusha dan Su Mama.
"Bahkan jika itu harus membuat saya terlihat seperti kacang lupa pada kulitnya," sambung Rong Wangxia, membuat Huang Mingxiang mengerutkan keningnya dan menatap dingin Rong Wangxia.
Huang Mingxiang mulai menatap tajam Rong Wangxia secara terang-terangan. "Sebenarnya apa yang anda rencanakan, Tuan Muda Rong?" Nada bicaranya mulai mendingin, tidak ada keramahan sama sekali.
Rong Wangxia menegakkan kembali posisi duduknya, lalu menuang air putih kembali ke dalam cangkirnya yang sudah kosong. "Jika saya memberitahu alasannya, maka anda pasti akan memaki saya gila."
Huang Mingxiang mengerutkan keningnya. "Anda bahkan belum mengatakan apa pun."
"Saya pernah mengatakannya, Wangfei." Rong Wangxia menatap Huang Mingxiang, tatapan matanya kembali melembut. Kini aura kelicikan di sekitarnya perlahan menipis.
"Kapan??" tanya Huang Mingxiang bingung, untuk yang satu ini Huang Mingxiang jamin pria itu tidak pernah mengatakannya.
"Saat di Chuan Wuqi, kita tidak sengaja bertemu," jawab Rong Wangxia tenang.
Huang Mingxiang diam, berusaha mengingat semuanya. Dahinya semakin terlipat bingung. "Kita tidak pernah membicarakan ini sebelumnya. Hari itu kita hanya membicarakan bisnis Chuan Wuqi dan cerita anda yang menyukai gadis ...." Huang Mingxiang berhenti di tengah-tengah kalimatnya, memasang wajah syok.
Wanita itu segera mencengkeram cangkir yang ada di atas mejanya. "Tuan Muda Rong, tolong katakan apa yang ada di pikiran saya adalah salah."
Huang Mingxiang menggeleng kencang. "Anda tahu bahwa saya sudah bersuami. Tidak mungkin anda memiliki pikiran yang tidak rasional seperti itu."
"Memang tidak ada cinta yang rasional, Wangfei," balas Rong Xuan, keningnya kini ikut terlipat.
"Lalu apa yang ingin anda lakukan? Memusuhi kakak anda sendiri hanya demi seorang wanita yang sudah bersuami?" tanya Huang Mingxiang, perasaannya campur aduk. Dia sangat terkejut.
Rong Wangxia menggeser tatapannya ke arah lain, tersenyum hambar. "Jika itu bisa meredam gebuan cinta saya, maka saya akan melakukannya." Kemudian pria itu kembali menatap Huang Mingxiang. "Dengar, Wangfei. Saya tidak ada niatan untuk merebut atau berkelahi dengan Xiao Wangye untuk mendapatkan anda. Alasannya karena saya tahu, bahwa anda mencintai Xiao Wangye. Jika saya menyakiti Xiao Wangye, maka anda juga pasti akan merasa sakit. Jika anda sakit, maka saya jauh lebih sakit dan menderita. Perasaan saya terlewat kuat tanpa saya sadari, maafkan saya." Rong Xuan membungkuk ke arah Huang Mingxiang dengan posisi masih duduk di alas.
Huang Mingxiang menatap Rong Xuan yang menunduk dalam, menatap sulit ke arah pria itu.
"Saya memang tidak bisa memiliki anda, namun saya masih bisa untuk membuat anda bahagia, bahkan jika bahagia anda bersama Xiao Wangye," ujar Rong Xuan, kepalanya masih tertunduk, matanya terpejam dengan kening mengerut.
"Saya tidak tahu harus bereaksi seperti apa, Tuan Muda Rong. Semuanya terasa mengejutkan untuk saya." Huang Mingxiang menghela napas, matanya menatap prihatin ke arah pria itu. Di antara jutaan wanita cantik yang bisa dirinya pilih, mengapa Rong Wangxia harus menyukainya yang sudah memiliki suami? Hal itu yang tidak bisa Huang Mingxiang mengerti.
Rong Wangxia kembali menegakkan badannya, memaksakan senyum tulus ke arah Huang Mingxiang. "Saya mengetahui kelancangan saya karena sudah menyimpan perasaan untuk anda. Sebagai gantinya, saya akan memberikan kepingan kelopak bunga Gold God." Rong Wangxia beralih mengambil sebuah kotak berukuran sedang dari saku bajunya, lalu meletakkannya di atas meja.
__ADS_1
"Bunga Gold God berhasil saya beli di pelelangan gelap Kekaisaran, bunga ini dapat menyembuhkan penyakit apa pun, tak terkecuali dengan kaki Xiao Wangye." Rong Wangxia menatap bunga Gold God itu sambil tersenyum teduh, ada sedikit kepahitan di wajahnya.
"Tetapi yang saya dapat hanya kepingan kelopak bunga Gold God, jadi ketika direbus dan diolah menjadi obat, kaki Wangye tidak akan sembuh seratus persen. Untuk sembuh seratus persen, anda harus pergi ke gunung Lang Tao untuk bertemu dengan Utusan Dewa dan membujuknya untuk memberikan bunga Gold God secara utuh, kelopak, tangkai, sampai akar. Kelopak ini berhasil didapatkan karena katanya sang penjual Gold God ini mencuri diam-diam dari Utusan Dewa."
Rong Wangxia menjelaskan semuanya, Huang Mingxiang tertegun. Mengapa ... Rong Wangxia memberikan benda yang sangat berharga seperti ini padanya? Dia tahu maksud pria itu adalah ingin meminta maaf, namun ....
"Tuan Muda Rong, anda serius?" tanya Huang Mingxiang, jari-jarinya menyapu lembut kepingan kelopak bunga Gold God.
Rong Wangxia mengangguk. "Tentu saja."
"Tetapi apa jaminannya jika ini sungguhan Gold God?" tanya Huang Mingxiang, keningnya mengerut dalam, dia juga harus tetap berhati-hati walaupun pria di hadapannya ini sudah bersikap seolah dirinya lemah tak berdaya.
Rong Wangxia masih tetap tersenyum. "Anda bisa membunuh saya."
"Saya serius, Tuan Muda Rong," balas Huang Mingxiang kesal karena dirasa Rong Wangxia mulai bercanda.
Rong Wangxia menggeleng singkat, lalu mengangguk. "Saya juga tidak bercanda." Tangan kanannya kembali merogoh kantung bajunya dan mengeluarkan sebuah kertas nota.
"Ini adalah nota pembelian saya di pelelangan terlarang Kekaisaran. Nota ini asli, anda bisa menggunakan ini untuk memenjarakan, bahkan menghukum mati saya jika Xiao Wangye bertambah buruk atau bahkan meregang nyawa karena Gold God pemberian saya." Rong Wangxia menyodorkan secarik kertas tersebut kepada Huang Mingxiang.
Huang Mingxiang mengambilnya, menatap lekat nota tersebut. Benar, nota itu asli. Huang Mingxiang dan Rong Wangxia terus berbincang mengenai Gold God, sampai akhirnya pembicaraan mereka ditutup dengan kalimat pria itu yang sebelum pergi.
"Saya tidak akan merusak taman kesukaan anda, saya hanya ingin menjadi salah satu tumbuhan indah yang dapat menambah senyuman anda, Wangfei ... Huang ... Mingxiang."
Huang Mingxiang menatap punggung dingin Rong Wangxia yang perlahan berjalan menjauh, tangannya erat menggenggam kotak Gold God. Dia tidak akan memberitahu siapapun apa isi kotak ini sebelum sampai di Xiao Wangfu dan benar-benar ingin mengolahnya menjadi obat.
Huang Mingxiang tersenyum. Terima kasih banyak, Rong Wangxia. Cinta anda dewasa, Huang Mingxiang sangat menghargai perasaannya. Dengan tindakan tegar yang selalu pria itu lakukan, Huang Mingxiang semakin percaya bahwa perasaan pria itu untuknya benar-benar dalam. Tetapi, Huang Mingxiang tidak berniat untuk membalasnya. Huang Mingxiang hanya ingin menghargai perasaannya. Pria itu, hebat. Huang Mingxiang yakin, akan ada wanita beruntung di luar sana yang dapat meluluhkan hatinya. Pria itu pasti akan melupakan dirinya.
Huang Mingxiang bergegas menuju Istana kediaman Huangtaihou, rasanya seperti sudah lama sekali tidak mengunjungi Huangtaihou.
Sesampainya di sana, Huang Mingxiang melihat Wu Zeyuan dan Lu Fenghua tengah menyulam sapu tangan bersama Huangtaihou. Melihat kedatangan Huang Mingxiang, Huangtaihou segera menghentikan aktivitasnya dan menyambut Huang Mingxiang.
Huang Mingxiang membungkuk ke arah Huangtaihou. "Salam, bibi. Maafkan Mingxiang karena terlambat, di tengah jalan tadi Mingxiang bertemu dengan Tuan Muda Rong. Kamu harus membicarakan hal-hal kecil seputar bisnis."
Huangtaihou mengangguk, namun Wu Zeyuan mengerutkan keningnya bingung. "Tuan Muda Rong ada di sini?"
Huang Mingxiang mengangguk. "Benar. Kamu bertemu secara tidak sengaja, katanya pria itu baru saja mengunjungi Huanghou."
__ADS_1
Lu Fenghua yang mendengar ini juga ikut heran. "Mereka sudah berdamai? Sepertinya masih sangat meragukan. Beberapa waktu lalu saya mendengar kabar bahwa Huanghou dan Tuan Muda Rong bertengkar hebat. Saya tidak tahu apa masalahnya, tidak ada informasi lebih lanjut."
Huang Mingxiang tersenyum kaku, oh ... apakah berarti alasan pria itu yang tadi dibuat-buat? Huang Mingxiang menghela napas tipis, kembali tersenyum dan melangkah duduk di samping Huangtaihou. "Baiklah ... lupakan saja, itu tidak penting. Aiya ... aku juga ingin ikut bergabung! Di mana jarum jahitku?"