
"Yang mulia, kita telah sampai di Xiao Wangfu." Suara Gu Sinjie membuat Xiao Muqing melirik ke arah pintu kereta yang masih tertutup.
Xiao Muqing kembali menatap Huang Mingxiang, wanita itu tengah tertidur pulas menyandar pada dinding kereta. Setelah puas menjahilinya tadi, dia kini tertidur pulas. Huang Mingxiang terlihat sangat lelah, ini kedua kalinya Xiao Muqing melihat wanita itu tertidur tenang.
Xiao Muqing termenung. Dia berpikir bagaimana caranya membangunkan Huang Mingxiang tanpa mengganggu wanita itu. Dia entah mengapa enggan untuk membangunkan Huang Mingxiang.
Gu Sinjie, Baili Ruyi, dan Su Mama yang berada di luar menunggu mereka turun merasa bingung. Mengapa Xiao Muqing dan Huang Mingxiang tak kunjung turun? Apa terjadi sesuatu di dalam? Atau mereka tertidur bersama?
"Yang mulia, apa ada masalah di dalam?" tanya Gu Sinjie, raut wajah Su Mama pun mulai terlihat khawatir.
"Ya, ada," jawab Xiao Muqing singkat dari dalam, kedua sudut alisnya mengerut menatap Huang Mingxiang yang pulas tertidur.
"Ada? Masalah apa yang ada di dalam, Wangye?" tanya Baili Ruyi, kening terlipat heran.
"Wanita ini tertidur pulas di kereta," jawab Xiao Muqing.
"Anda bisa dengan lembut membangunkan Wangfei, yang mulia," ucap Su Mama, bibirnya tersenyum mendengar jawaban Xiao Muqing.
Xiao Muqing menatap Huang Mingxiang sulit, kemudian mau tidak mau akhirnya dia sendiri yang akan membangunkan Huang Mingxiang. Dengan ragu tangan kanannya menepuk pundak Huang Mingxiang.
Huang Mingxiang mengerutkan keningnya saat merasa tidurnya terusik, lalu perlahan dia membuka matanya dan menatap Xiao Muqing bingung.
"Ada apa, Wangye?" tanya Huang Mingxiang.
"Sudah sampai," jawab Xiao Muqing.
Huang Mingxiang menggeliat, kemudian menghela napas panjang dan mengetuk dua kali pintu kereta. Gu Sinjie yang mendengar ini pun bergegas membuka pintu kereta, Su Mama sudah siap di dekat pintu untuk membantu Huang Mingxiang turun.
Setelah Huang Mingxiang turun dan Xiao Muqing menyusul, Huang Mingxiang segera membungkuk ke arah Xiao Muqing. "Wangye, Mingxiang pamit undur diri untuk beristirahat. Wangye jangan lupa untuk beristirahat dengan baik setelah ini, terima kasih banyak sudah banyak membantu Mingxiang hari ini."
Setelah mendapat anggukan dari Xiao Muqing, Huang Mingxiang bergegas menuju kediamannya bersama Su Mama. Sampai di kediamannya, dia langsung membersihkan tubuhnya, dibantu oleh Su Mama.
Selesai membersihkan diri, Huang Mingxiang mengucapkan terima kasih kepada Su Mama dan mempersilahkan Su Mama untuk kembali ke kamarnya. Setelah Su Mama pergi, Huang Mingxiang merebahkan tubuhnya di kasur. Dia menghela napas panjang, kemudian tersenyum. Bagus, saat ini semuanya telah berjalan baik. Teruslah seperti ini, doa Huang Mingxiang sebelum benar-benar memejamkan matanya.
Belum lama tertidur, tiba-tiba suara ketukan mendesak terdengar dari pintu kamarnya.
"Wangfei."
Itu suara Baili Ruyi. Huang Mingxiang mengerutkan keningnya, mengapa Baili Ruyi tiba-tiba mengunjunginya di tengah malam seperti ini?
"Wangfei, ini mendesak." Suara Baili Ruyi seperti menahan tangis, membuat Huang Mingxiang dengan cepat turun dari kasurnya dan membuka pintu kamar.
Kedua sudut alis Huang Mingxiang semakin menyatu kala melihat kedua mata Baili Ruyi benar-benar membendung air mata.
"Ada apa, Nona Baili?" tanya Huang Mingxiang.
"Gege ...." Baili Ruyi kesulitan bicara, tenggorokannya terasa tercekat karena menahan tangis.
Begitu mendengar Xiao Muqing, Huang Mingxiang segera menggenggam kedua lengan Baili Ruyi. Jantungnya berdegup kencang, apa terjadi sesuatu dengan Xiao Muqing? Ada apa sebenarnya?
__ADS_1
Baili Ruyi memejamkan matanya, mengambil napas dalam, berusaha tenang. Saat dirasa dirinya telah mampu berbicara dengan benar, wanita itu segera berkata,"Setelah Gege kembali ke kediaman, berselang satu jam kemudian Gege tiba-tiba mengamuk. Sepertinya penyakit lama Gege kambuh."
"Kaki Wangye?" tanya Huang Mingxiang, dia masih belum sepenuhnya mengerti.
Baili Ruyi menggeleng. "Tidak, bukan kaki. Gege memiliki masalah terhadap kepribadiannya setelah masalahnya dengan Kaisar dulu selesai dan mulai mengurung diri. Gege sangat membenci tatapan orang-orang luar, karena masalah pada kakinya, sikap Kaisar yang pernah meremehkannya, dan pandangan rendah dari orang lain, itu semua berdampak pada masalah kepribadian Gege. Hari ini Gege muncul di hadapan orang-orang, menghadapi sesuatu yang sangat dia benci, akibatnya malam ini emosi dan perasaan Gege pecah, dia mengamuk di dalam kamar. Gu Sinjie tidak berani menghentikannya, begitu juga saya. Wangfei, sebelum Gege melukai dirinya sendiri, saya mohon, tolong anda--"
"Segera menuju Wangye, Nona Baili." Huang Mingxiang berbalik, mengambil mantel tebal miliknya dan berjalan keluar dari kamar dan kediamannya menuju tempat Xiao Muqing.
Baili Ruyi mengangguk, lalu mengikuti Huang Mingxiang dengan cepat.
Huang Mingxiang mengerutkan keningnya. Mengapa tidak ada yang memberitahukan dirinya bahwa Xiao Muqing memiliki masalah terhadap mentalnya? Pria itu juga tidak menceritakan apa pun, mengapa tidak ada yang memberitahukan dirinya bahwa Xiao Muqing berada di level kebencian lebih tinggi terhadap orang luar? Jadi ini alasan pria itu terus menolak ajakannya? Mengingat pria itu rela melawan seluruh traumanya dan berusaha keras untuk tampil dengan sikap tenang, hati Huang Mingxiang ... tersentuh.
Begitu sampai di kediaman Xiao Muqing, Huang Mingxiang segera masuk ke dalam kamar pria itu. Baili Ruyi dan Gu Sinjie menunggu dengan cemas di luar, sebenarnya dia khawatir Huang Mingxiang juga akan terluka di dalam, namun ... mereka tidak mungkin membiarkan Xiao Muqing melukai dirinya sendiri begitu saja. Mengingat belakangan ini Wangye mereka sering melunak karena Huang Mingxiang, seharusnya saat ini tidak apa-apa. Terakhir kali Gu Sinjie mencoba membuat Xiao Muqing tenang, pria itu terluka parah akibat serangan tenaga dalam Xiao Muqing. Emosi pria itu tidak dapat dikontrol.
"Dengar, Ruyi. Jika kita mulai mendengar suara jeritan Wangfei, segera masuk dan pisahkan mereka. Kamu bawa Wangfei menjauh dari Wangye, aku akan berusaha menahan Wangye," ucap Gu Sinjie, Baili Ruyi mengangguk mendengar instruksi Gu Sinjie.
Huang Mingxiang memperhatikan kondisi kamar Xiao Muqing. Kacau. Banyak barang pecah dan jatuh, ini pasti karena serangan kekuatan dalam milik Xiao Muqing.
Kelambu putih yang biasanya menutup ranjang Xiao Muqing dengan cantik, kini sudah terkoyak tidak berbentuk. Huang Mingxiang mengerutkan keningnya, ini mengerikan.
Huang Mingxiang melihat Xiao Muqing tengah duduk di atas kasur dengan raut wajah suram. Saat menyadari kedatangan Huang Mingxiang, pria itu segera melirik tajam Huang Mingxiang.
"Keluar," ucap Xiao Muqing dingin.
"Tidak." Huang Mingxiang menggeleng, menatap Xiao Muqing dengan kening terlipat.
"Sejak kapan benwang memberimu izin untuk membantah?"
"Hanya karena belakangan ini benwang lebih lembut anda menjadi kepala besar?"
Huang Mingxiang menggeleng, dia tidak menjawab lagi. Perlahan, Huang Mingxiang berjalan semakin dekat dengan Xiao Muqing. Aura penekanan dan intimidasi milik pria itu terasa dengan sangat jelas. Huang Mingxiang duduk di tepi ranjang Xiao Muqing, jaraknya ada beberapa jengkal dengan Xiao Muqing saat ini.
Xiao Muqing masih menatap Huang Mingxiang tajam, kedua tangannya mengepal. Sepertinya pria itu tengah menekan emosinya.
"Keluar. Huang. Ming. Xiang." Xiao Muqing memberi peringatan lagi dengan menekan kalimat yang ia lontarkan.
Jantung Huang Mingxiang sebenarnya saat ini telah berdegup kencang, dia khawatir Xiao Muqing akan menyerangnya. Tetapi dia tidak bisa meninggalkan Xiao Muqing begitu saja, karena kondisi pria itu saat ini kambuh karena dirinya. Pria itu harus memaksakan diri untuk melawan traumanya.
Huang Mingxiang menyentuh tangan Xiao Muqing yang tengah mengepal erat dengan lembut. "Wangye, tenangkan--"
Huang Mingxiang membelalakkan matanya, tangan kanan Xiao Muqing tiba-tiba bergerak dan mencekik lehernya.
Sakit ... Huang Mingxiang merasa lehernya akan putus karena cengkeraman Xiao Muqing, pria itu tidak bercanda dalam mencekik lehernya. Huang Mingxiang takut, tubuhnya gemetar.
Perlahan, bulir air mata Huang Mingxiang muncul. Kedua tangan Huang Mingxiang berusaha menyentuh wajah Xiao Muqing dengan gemetar. Huang Mingxiang mengelus lembut pipi pria itu.
"Wang ... ye. Ming ... Mingxiang. Di ... si ... ni."
Xiao Muqing membelalakkan kedua matanya, lalu melepas kasar cengkeramannya dari leher Huang Mingxiang dan berusaha mengambil jarak dengan Huang Mingxiang.
__ADS_1
Huang Mingxiang jatuh ke atas kasur, badannya lemas. Tetapi wanita itu tidak menyerah, dia berusaha bangkit dan mendekat ke arah Xiao Muqing lagi.
"Keluar, Huang Mingxiang!" Xiao Muqing membentak, tubuh pria itu terlihat gemetar. Xiao Muqing menutup wajahnya menggunakan tangan kirinya, dia tidak mau melihat Huang Mingxiang saat ini.
Huang Mingxiang menggeleng. "Tidak!" Huang Mingxiang menarik lengan kiri Xiao Muqing, membuat wajah pria itu kembali terlihat.
Xiao Muqing menepis tangan Huang Mingxiang, napasnya memburu karena emosi yang bergejolak di dalam hatinya. Saat Xiao Muqing hendak melempar bantal yang ada di dekatnya ke lantai untuk melampiaskan amarahnya sesaat, Huang Mingxiang dengan cepat menahan.
Xiao Muqing menatap tajam Huang Mingxiang. Huang Mingxiang tidak gentar, wanita itu menahan tangan Xiao Muqing menggunakan tangan kirinya, lalu tangan kanannya kembali mengelus pipi Xiao Muqing.
"Tenang! Anda harus tenang! Apa yang anda khawatirkan? Saya ada di sini!" Huang Mingxiang balik membentak, tangannya terus mencengkeram lengan Xiao Muqing sembari mengelus pipi pria itu agar menjadi lebih tenang.
Menyadari pegangan Xiao Muqing terhadap bantal yang ingin ia lempar berkurang, Huang Mingxiang melepaskan cengkeramannya dan beralih menyentuh pipi satunya dari Xiao Muqing. Wanita itu menangkup kedua pipi Xiao Muqing, mengelus lembut.
"Lihat saya, anda akan baik-baik saja. Tidak akan ada yang mengganggu anda sekarang. Saya ada di sini, menemani anda." Jarak wajah mereka hanya berbeda dua jengkal, deru napas emosi Xiao Muqing terdengar jelas di telinga Huang Mingxiang.
Xiao Muqing mengerutkan keningnya. "Bagaimana benwang bisa mempercayai kalimat anda begitu saja?"
Huang Mingxiang menghela napas gusar di dalam hati. Mengapa pria itu sulit sekali untuk percaya? Tetapi setelah melihat kejadian ini, dia tahu apa jawabannya. Xiao Muqing kehilangan kepercayaannya kepada orang-orang, termasuk ibunya sendiri. Tiga tahun lalu Huang Mingxiang pernah mendengar kabar bahwa Chen Taifei pergi ke luar ibu kota meninggalkan Xiao Muqing begitu saja setelah kabar kaki Xiao Muqing cacat terdengar. Mungkin pria itu merasa dikhianati, sehingga dia tidak mudah percaya kalimat seseorang. Tidak ada yang tahu jelas apa alasan Chen Taifei pergi begitu saja meninggalkan Xiao Muqing sendiri di Ibu Kota, dia hanya mendengar gosip sekilas dari kalangan para nona bangsawan. Tetapi mungkin Baili Ruyi atau Gu Sinjie tahu kebenaran dari cerita ini.
Huang Mingxiang beralih meraih lengan kiri Xiao Muqing, lalu meletakkannya di pipinya sendiri. "Saya berjanji, Wangye. Saya sudah sering mengatakannya, mungkin sudah ratusan kali. Saya telah menjadi menantu dari Wangfu ini, saya adalah pasangan anda. Saya tidak mungkin meninggalkan anda."
Xiao Muqing menatap Huang Mingxiang dalam. Huang Mingxiang mulai melihat ketenangan di mata pria itu, napas emosi yang memburu juga perlahan meredup, tidak lagi terdengar.
Huang Mingxiang tersenyum hangat, lalu memeluk Xiao Muqing. Xiao Muqing sedikit terkejut, tetapi kemudian dia diam. Pria itu merasakan sesuatu yang hangat tengah menjalar di tubuhnya, dia merasa nyaman dengan perasaan ini.
"Saya mencintai anda, Wangye. Percayalah, Mingxiang akan membantu anda untuk mendapatkan semuanya kembali. Kesehatan, keadilan, dan hal lain yang pernah hilang dari hidup anda." Huang Mingxiang mengelus punggung Xiao Muqing, perlahan dia merasakan kepala Xiao Muqing bersandar di pundaknya.
Xiao Muqing dengan ragu menggerakkan kedua tangannya, berusaha membalas pelukan Huang Mingxiang. Huang Mingxiang yang menyadari ini tidak bisa tidak tersenyum, jantungnya berdebar tiga kali lebih cepat, kali ini bukan berdebar karena rasa takut, tetapi senang.
Saat Xiao Muqing sudah benar-benar membalas pelukannya, Huang Mingxiang memejamkan matanya. Tidak hanya pria itu yang merasa tenang, kini dirinya ikut merasa tenang.
Xiao Muqing tiba-tiba mengendurkan pelukannya, membuat Huang Mingxiang mengerutkan keningnya dan mendongak menatap Xiao Muqing. Wajah tampan pria itu menjadi jutaan kali lebih tampan jika dilihat dari jarak sedekat ini. Wajah Huang Mingxiang sedikit memerah.
Lengan kanan Xiao Muqing tiba-tiba bergerak untuk membelai rambut Huang Mingxiang. Huang Mingxiang merinding, dia tidak menyangka Xiao Muqing akan membelai rambutnya. Sikap manis pria itu tiba-tiba muncul, dia sedikit tidak terbiasa karena lebih sering ditusuk dengan kalimat tajam.
Xiao Muqing menarik lembut helai rambut Huang Mingxiang, lalu mendekatkannya ke hidungnya. Huang Mingxiang yang melihat ini tidak bisa tidak memerah. Wajah wanita itu kini sudah seperti kepiting rebus, dia sangat malu!
Huang Mingxiang menunduk, kali ini dia tidak bisa menatap Xiao Muqing karena malu. Tetapi tiba-tiba jari telunjuk Xiao Muqing mengangkat dagunya, membuat mata mereka mau tidak mau kembali bertatapan.
Xiao Muqing mendekatkan wajahnya ke Huang Mingxiang, membuat Huang Mingxiang memejamkan matanya gugup. Xiao Muqing tersenyum samar melihat ini, kepalanya sudah jauh lebih dingin sekarang.
Cup!
Xiao Muqing mengecup bibir Huang Mingxiang sekilas, membuat Huang Mingxiang membelalakkan matanya dan hampir melompat turun dari atas kasur. Tetapi semua itu tidak akan terjadi karena Xiao Muqing menarik dirinya semakin dekat.
Kini Huang Mingxiang berbaring di dekapan Xiao Muqing, entah bagaimana pria itu tiba-tiba berbuat sesuatu yang tidak pernah muncul di bayangan Huang Mingxiang. Pria itu mendadak bersikap manis dan baik, sekali lagi, Huang Mingxiang belum terbiasa dengan sikap manisnya.
Xiao Muqing memeluk Huang Mingxiang sangat erat. Huang Mingxiang tidak bergerak, wanita itu membatu di dalam pelukan Xiao Muqing.
__ADS_1
"Jika mereka berani menyentuhmu, akan benwang buat Kekaisaran ini menjadi lautan darah," ucap Xiao Muqing, berbisik di telinga Huang Mingxiang, lalu mengecup kepalanya.
Huang Mingxiang menarik napas dalam untuk menenangkan dirinya, kemudian mengangguk kecil dan dengan ragu membalas pelukan Xiao Muqing. Mereka berdua tidak bergerak dari posisi itu sampai malam jauh lebih larut dari pada sebelumnya. Perlahan, mereka berdua memejamkan mata bersama, terlelap dalam tidur yang tenang karena pelukan masing-masing.