
"Apa ada yang ingin Jiejie sampaikan? Jarang sekali Jiejie memanggil saya dengan terburu-buru seperti ini." Rong Wangxia berdiri di hadapan Rong Xuan yang tengah duduk di kursi takhta-nya. Mata wanita itu tajam menatap adiknya.
Rong Xuan berdiri, berjalan mendekat ke arah Rong Wangxia. "Apa wanita yang kau maksud adalah Huang Mingxiang?"
"Apa maksud Jiejie?" tanya Rong Wangxia, pria itu berakting tidak mengerti apa-apa. Sepulang dari Xiao Wangfu, tiba-tiba utusan dari Istana datang dan mendesak kehadirannya untuk segera menemui Rong Xuan.
"Jangan berbohong padaku, Wangxia." Rong Xuan menatap semakin dingin adiknya, emosi wanita itu belakangan ini sedang tidak terkontrol. Huang Mingxiang benar-benar sudah merasuki pikirannya dan membuat emosi hatinya mendidih. Dia sudah berusaha menyingkirkan Huang Mingxiang, namun wanita itu selalu dapat dengan mudah kembali dan mengacaukan hidupnya.
Senyum Rong Wangxia menghilang, raut wajahnya kini sebelas dua belas dengan kakaknya. Mereka berdua saling bertukar pandangan dingin. Rong Wangxia menunduk. "Ya."
Rong Xuan membelalakkan matanya, tangan kanannya segera terangkat dan menampar keras pipi Rong Wangxia.
PAA!!
"Kamu mencintai wanita gila yang selalu menginjak wajah Jiejie-mu sendiri, Wangxia! Sebelumnya kamu sudah tahu kondisi politik antara keluarga Rong dan Huang, lalu kelakuan rendahan wanita itu yang menggoda Kaisar! Bagaimana mungkin kamu malah jatuh ke dalam godaannya?!" Rong Xuan menunjuk adiknya marah, sedangkan Rong Wangxia sudah kembali menegakkan kepalanya. Matanya terpejam ringan menerima amukan Rong Xuan.
Setelah Rong Xuan sudah berhenti bicara, Rong Wangxia kembali membuka matanya dan bertanya,"Kelakuan rendah yang mana, Jiejie? Menggoda Kaisar? Bukankah itu adalah rencana anda?"
PAA!!
Rong Xuan kembali menampar pipi adiknya. Emosinya semakin memuncak, deru napasnya menjadi tidak beraturan. Rong Xuan kemudian menarik kerah pakaian Rong Wangxia. "Ya, itu adalah rencanaku. Tetapi, apa kamu tahu alasan dibalik rencana itu? Wanita itu sudah lebih dulu menghancurkan diriku, Wangxia! Dia selalu menjadi perbandingan kerja kerasku, seluruh petinggi Istana selalu mengungkitnya di depan mataku ketika aku sedang berusaha keras! Wanita itu menyakitiku, dia menyita seluruh cinta suamiku, bahkan seluruh kerja kerasku di Istana ini selalu dianggap sebelah mata oleh Huangtaihou!"
Rong Wangxia memejamkan matanya sekilas, lalu menggenggam lengan kakaknya yang meremas kerah pakaiannya, setelah itu berusaha melepaskan cengkeraman itu sambil berkata,"Jiejie, Huang Mingxiang sama sekali tidak memiliki salah apa pun padamu. Wanita itu sebelumnya juga sudah bekerja keras sangat giat seperti dirimu, dia pasti sebelumnya juga pernah melalui masa-masa sulit seperti ini. Jika Didi boleh berbicara jujur pada anda, letak kesalahan kerja keras anda ada di dalam diri anda sendiri. Anda buta akan kecemburuan."
"Wangxia!! Aku tidak pernah mengajarkanmu untuk melawanku!" Rong Xuan menepis kasar tangan adiknya, dia sudah tidak bisa menahan emosi lagi. Kejadian hari ini cukup membuat gejolak emosi besar di hatinya.
"Jiejie! Anda bahkan tidak pernah berusaha untuk melihat dari berbagai sudut pandang luas, anda selalu melihat satu sudut pandang yang di mana anda merasa bahwa anda tersakiti dan Huang Mingxiang lah penyebabnya." Rong Wangxia mengerut keningnya dalam, berusaha menyadarkan kakak perempuannya.
Rong Xuan memutar badannya sambil memegang keningnya yang terasa pening. "Astaga! Bahkan sekarang kau terpengaruh oleh dirinya? Dunia ini benar-benar menjijikkan!"
"Anda selalu terbayang-bayang dengan Huang Mingxiang, anda selalu mengikuti gayanya agar berhasil meraih pengakuan Kaisar dan Huangtaihou. Tetapi, itu semua sia-sia, Jiejie! Anda hanya akan merasa lelah karena anda tidak pernah menjadi diri sendiri di Istana ini!" ujar Rong Wangxia, menatap sendu ke arah kakak perempuannya. Dulu kakak perempuannya tidak pernah terlihat tidak masuk akan seperti ini. Istana benar-benar merubah semuanya.
Rong Xuan menggertakkan giginya kesal, lalu berjalan ke arah meja dan mengambil teko teh porselen, melemparkannya ke arah Rong Wangxia.
__ADS_1
"Keluar, Wangxia! Aku tidak ingin melihatmu!!"
Prang!!
Teko teh porselen itu berhasil Rong Wangxia hindari, hingga jatuh ke lantai dan berserakan di sana.
Rong Wangxia melenguh, kemudian mau tidak mau berjalan mundur dan keluar dari Istana Rong Xuan. Kakaknya butuh waktu sendiri, ide buruk jika Rong Wangxia memaksakan diri untuk tetap di sini.
Rong Xuan jatuh terduduk di lantai, badannya lemas. Wanita itu menangis, hatinya benar-benar terasa sesak. Dia semakin membenci Huang Mingxiang, setelah wanita itu menyita seluruh perhatian Kaisar dan Huangtaihou untuknya, kini dia juga ingin merenggut adik laki-lakinya? Itu benar-benar menjijikkan!
"Panggil perdana menteri Rong ayahku kemari!" Rong Wangxia berteriak lantang, memberikan perintah kepada bawahannya.
Rong Xuan berusaha bangkit, kemudian berjalan ke arah kursi takhta-nya dan duduk di sana. Wanita itu menatap tajam pecahan teko porselen, kemudian berdecak penuh emosi dan memijat kepalanya ringan.
Sementara itu di bibir lembah sunyi yang bahkan sudah dipastikan tidak ada manusia yang hidup di sana, berdiri seorang wanita yang mengenakan pakaian orange, di punggungnya terdapat dua buah pedang yang saling menyilang. Wanita itu menatap dingin kedalaman lembah yang hanya terlihat gelap.
"Kamu sungguh-sungguh akan melakukannya?" Suara Gu Sinjie terdengar, membuat wanita itu menoleh dan tersenyum ke arahnya.
"Apa putri dari perguruan Baili pernah merasa takut akan sesuatu?" Wanita itu Baili Ruyi, dia tengah menyiapkan diri untuk terjun ke bawah lembah untuk bertarung dengan monster mengerikan di bawah sana. Kemudian mengambil kepalanya dan diserahkan kepada Xiao Muqing. Dia sungguh-sungguh ingin masuk menjadi bagian dari Xiao Wangfu.
Baili Ruyi tertawa renyah. "Apa-apaan ekspresi menjijikkanmu itu? Aku baik-baik saja! Sejak kapan kamu peduli padaku?"
"Ruyi ...." Gu Sinjie tidak peduli dengan kalimat menyebalkan wanita itu, dia fokus dengan rasa khawatirnya. Saat ini bukan waktunya untuk beradu kalimat sengit.
Ekspresi wajah bercanda Baili Ruyi perlahan menghilang setelah menyadari bahwa Gu Sinjie serius mengkhawatirkannya. Baili Ruyi berjalan mendekat ke arah Gu Sinjie dan menepuk bahu pria itu. "Kau harus percaya pada temanmu, bocah bodoh!"
Gu Sinjie menggeleng. "Bagaimana mungkin aku bisa percaya? Kemampuanmu masih di bawah rata-rata."
Baili Ruyi memutar bola matanya malas, lalu mendengus tipis. "Jika aku berhasil, kau harus memasak daging ayam panggang secara pribadi untukku!"
Gu Sinjie menaikkan alis kirinya sekilas, tetapi tak lama kemudian dia mengangguk. "Baiklah, tetapi jika kau gagal aku akan menyiapkan karangan bunga khusus untukmu. Tidak perlu khawatir."
"Sialan kau!" Baili Ruyi menjitak Gu Sinjie, kemudian mereka berdua tertawa bersama.
__ADS_1
Gu Sinjie mengeluarkan kalung dari sakunya, kemudian memberikannya kepada Baili Ruyi. "Pakai ini, ini akan membantumu."
"Apa ini?" tanya Baili Ruyi, kemudian mengambil kalung itu dan memakainya tanpa ragu.
"Kalung ini terhubung langsung dengan alam bawah sadarku, kau bisa menggunakan ini untuk berkomunikasi denganku jika mengalami situasi mendesak. Otakmu kan bodoh, jadi siapa tahu di bawah sana ada teka teki yang sulit dipecahkan, aku bisa membantumu dengan murah hati," jawab Gu Sinjie.
Baili Ruyi mendengus lagi, mereka berdua saling tatap, melempar tatapan sinis, kemudian tertawa bersama lagi. Baili Ruyi berjalan semakin dekat, kemudian memeluk Gu Sinjie untuk memberikan pelukan persahabatan.
"Tidak perlu terlihat khawatir seperti itu, bocah ingusan. Aku baik-baik saja, ekspresimu terlihat menjijikkan." Baili Ruyi menepuk-nepuk punggung Gu Sinjie.
Tetapi kemudian dia terdiam, karena tiba-tiba Gu Sinjie membalas pelukannya dengan sangat erat. Pelukan Gu Sinjie bukan pelukan persahabatan, ini terasa seperti pelukan antar kekasih. Baili Ruyi mengerutkan keningnya, melirik pria itu dengan ujung matanya.
"Sinjie?" tanya Baili Ruyi bingung, dia tidak mengerti mengapa tiba-tiba Gu Sinjie bersikap aneh.
Gu Sinjie tidak melepaskan pelukannya, hatinya sekarang sangat cemas.
"Jika kau tidak melepas pelukan ini sekarang juga, maka aku akan langsung melompat dan menyeretmu ikut ke dalam lembah untuk menjadi umpan para monster," ujar Baili Ruyi.
Gu Sinjie menghembuskan napasnya pelan diam-diam, kemudian melepas pelukannya dan menatap Baili Ruyi datar. Baili Ruyi terkekeh, kemudian mengetuk dahi Gu Sinjie. "Ada apa denganmu? Gila? Tidak perlu sampai sesedih itu, kau terlihat seperti bukan dirimu yang biasanya."
Baili Ruyi kemudian menarik kain hitam ke wajahnya untuk menutupi seluruh bagian wajahnya, terkecuali mata. Wanita itu mulai membuat kuda-kuda, hendak melompat turun ke dalam lembah.
"Sinjie, aku pasti akan kembali."
"Aku memegang kalimatmu. Kau memang harus kembali."
Baili Ruyi menoleh, menatap Gu Sinjie. "Apa yang membuatmu ingin sekali melihatku kembali?"
"Tidak akan ada yang mengisi posisi Gu Furen jika kau tidak kembali," jawab Gu Sinjie, membuat Baili Ruyi menatap aneh ke arahnya.
"Berhenti membual, aku kesal setiap kali kau bercanda dengan kalimat seperti itu," balas Baili Ruyi.
"Aku serius." Gu Sinjie mengerutkan keningnya.
__ADS_1
Baili Ruyi tertegun, kemudian dia tersenyum. "Baiklah, aku akan kembali agar bisa menjadi Gu Furen-mu." Kemudian Baili Ruyi berjalan semakin dekat ke bibir lembah, saat wanita itu mendorong tubuhnya ke dalam lembah, Baili Ruyi berseru,"Tetapi aku bercanda! Jika aku kembali, aku akan menonjok perutmu lagi karena berani bercanda menggunakan bualan seperti itu!"
Gu Sinjie berlari ke bibir lembah, menatap Baili Ruyi yang masuk semakin dalam ke lembah raksasa itu. Bibirnya perlahan tersenyum samar, lalu bergumam,"Wanita bodoh."