Istri Kesayangan Xiao Wangye

Istri Kesayangan Xiao Wangye
Bab 54. Aku Tidak Memiliki Hati Untuk Melukaimu, Sayang


__ADS_3

Pembicaraan bercanda untuk mengistirahatkan otak Huang Mingxiang berakhir. Mereka mulai serius, kembali ke topik utama. Bisnis.


Huang Mingxiang selalu berusaha teliti dan kritis, hari ledakan promosinya di dua Kekaisaran besar lainnya semakin dekat. Tetapi ... ada yang mengganggu pikirannya, Huang Liyue.


Langit sama sekali belum memunculkan tanda-tanda akan turun salju, otomatis perayaan Salju Akhir Tahun tidak akan dilaksanakan Minggu ini. Sesuai perkataan Wu Zeyuan, Huang Liyue lah yang akan menjadi penanggung jawab acara. Jika salju baru akan turun Minggu depan, berarti dia harus siap-siap menjadi super sibuk karena harus mengurus Chuan Wuqi bersamaan dengan Huang Liyue di Istana.


Huang Mingxiang sesekali mencubit pahanya diam-diam, membentak dirinya sendiri di dalam hati untuk tidak menjadi lemah. Dia harus yakin pada dirinya sendiri, bahwa dia akan berhasil mengurus semuanya dengan lancar.


Di tengah-tengah diskusi, Dong Gusha terpaksa harus meninggal ruangan karena ada bangsawan penting yang berkunjung ke Chuan Wuqi untuk membeli senjata. Ini adalah pelayanan spesial, seorang bangsawan tinggi biasanya akan langsung dilayani oleh penanggung jawab toko.


Di ruangan kerja kini hanya tersisa Huang Mingxiang dan Rong Wangxia, mereka berdua melanjutkan diskusi. Sampai akhirnya di penghujung diskusi, Huang Mingxiang mulai merasa lelah.


"Jadi Wangfei, menurut saya kontrak untuk ...." Kalimat Rong Wangxia tergantung kala pria itu melihat cairan darah segar mengalir dari hidung Huang Mingxiang.


Huang Mingxiang yang melihat raut wajah berubah Rong Wangxia bingung, kening wanita itu terlipat, dia sama sekali tidak merasakan apa pun di hidungnya, hanya sedikit pening di kepala.


"Ada apa, Tuan Muda Rong?" tanya Huang Mingxiang, lalu tangan kanan Huang Mingxiang menyentuh kepalanya sekilas. Kini tiba-tiba serangan sakit kepala luar biasa menyerangnya. Huang Mingxiang berusaha menahan dirinya sendiri agar tidak tumbang, dia tidak mungkin memperlihatkan sisi lemahnya di hadapan Rong Wangxia.


Rong Wangxia dengan cepat berdiri, lalu berlari ke arah keluar. Suara panik pria itu terdengar jelas di telinga Huang Mingxiang.


"Pelayan! Panggil tabib! Cepat! Wangfei kalian mimisan!"


Tepat di sini, Huang Mingxiang merasa tubuhnya semakin berat. Huang Mingxiang mencoba berdiri, kini tatapannya semakin kabur, pendengarannya pun semakin tidak jelas. Hanya ada suara seperti benda konslet yang mendengug keras di telinganya.

__ADS_1


Rong Wangxia berbalik, jantungnya semakin berdegup kencang ketika melihat tubuh Huang Mingxiang perlahan hendak ambruk ke samping. Pria itu menggunakan ilmu Qinggong miliknya, melesat cepat ke arah Huang Mingxiang.


Bruk!


Huang Mingxiang mendarat di pelukan Rong Wangxia, keringat dingin keluar dari tubuh pria itu. Tangannya gemetar, dia tidak pernah merasa setakut ini ketika melihat orang pingsan. Hatinya terasa sangat khawatir, dia sangat takut.


"Mingxiang! Mingxiang!" Rong Wangxia menggoyangkan tubuh Huang Mingxiang, melihat tidak ada respon apa pun dari Huang Mingxiang, pria itu menggertakkan giginya dan segera menggendong Huang Mingxiang.


Rong Wangxia meletakkan tubuh Huang Mingxiang di atas sofa besar yang ada di ruangan kerja, lalu tak lama tabib dan Dong Gusha datang. Pria itu menitipkan pelanggan bangsawan sebelumnya kepada bawahannya yang lain begitu mendengar seruan panik Rong Wangxia.


Tabib itu dengan cepat membuka tas perlengkapannya dan menaruh sapu tangan tipis di pergelangan tangan Huang Mingxiang, kemudian mulai memeriksa denyut nadi Huang Mingxiang.


Perlahan, raut wajah tegang sang tabib mengendur, namun tidak dengan Rong Wangxia. Raut wajah pria itu masih sangat keras, hatinya tidak bisa tenang.


"Terima kasih banyak, tabib. Mari saya antar keluar." Dong Gusha dengan sopan mengucapkan terima kasih, lalu mengantar tabib kembali keluar dari Chuan Wuqi, kemudian memberikan bayarannya.


Rong Wangxia terduduk di lantai, menghadap Huang Mingxiang. Pria itu menggenggam kain hanfu Huang Mingxiang dan menempelkan dahinya di tepi sofa. "Mingxiang, anda membuat saya gila dengan masalah sepele."


Rong Wangxia kembali menegakkan posturnya, pria itu kemudian menarik kursi baru dan duduk di dekat Huang Mingxiang. Jari-jari Rong Wangxia bergerak untuk menyingkirkan rambut-rambut halus yang menutupi kulit wajah Huang Mingxiang. "Aku tidak berani melawan Xiao Wangye untuk meraihmu, karena kamu mencintai dia. Jika saya menyerang dia, maka kamu yang mencintainya akan ikut terluka. Aku tidak memiliki hati untuk melukaimu, sayang."


Prang!


Rong Wangxia dengan cepat menoleh saat mendengar pecahan gelas di belakangnya. Di ambang pintu, Dong Gusha berdiri dengan wajah terkejut. Pria itu menatap syok ke arah Rong Wangxia, gelas yang dia pegang pun sudah jatuh tak terbentuk ke lantai.

__ADS_1


"Anda ...."


Splash!


Tak!


"Jika lidahmu tidak ingin terbagi menjadi tiga dan masih ingin melihat langit cerah di esok hari, maka ... tutup mulutmu."


Rong Wangxia melempar belati ke arah Dong Gusha, kemudian belati itu menancap di dinding sambil menyeret kain lengan Dong Gusha, membuat lengan baju pria itu seperti tertancap di dinding.


Rong Wangxia masih duduk di kursinya, pria itu melempar belati dengan kecepatan tidak masuk akal dengan posisi memunggungi target. Tatapan matanya dingin, hembusan angin yang masuk dari jendela-jendela ruangan yang terbuka menghembuskan lembut helai rambut berwarna peraknya. Aura membunuh yang sangat kuat milik Rong Wangxia, cukup untuk membuat Dong Gusha berharap untuk pingsan.


Rong Wangxia berdiri, lalu menggendong tubuh Huang Mingxiang secara pribadi untuk turun ke bawah. Di tengah jalan, Yui dan Su Mama langsung menghentikan langkah kaki Rong Wangxia. Yui menatap tajam Rong Wangxia, dia tidak senang melihat Huang Mingxiang disentuh oleh pria itu.


"Tuan Muda Rong, terima kasih atas bantuan baik anda. Tetapi sekarang sudah ada kami, mohon serahkan Wangfei kepada kami." Yui menghadang jalan Rong Wangxia, kepalanya menatap berani, tidak menunduk sedikitpun.


Rong Wangxia mengenali Yui, dia ingat sosok Yui saat pertama kali menolong Huang Mingxiang saat dikejar pembunuh. Wanita itu sebelumnya sudah terlihat hampir mati, maka Rong Wangxia tidak terlalu mengindahkannya saat itu dan memilih menolong Huang Mingxiang yang sudah jelas masih hidup. Tetapi kini melihat Yui berdiri gagah di hadapannya seolah tidak pernah sekarat, membuat Rong Wangxia yakin bahwa kekuatan dalam wanita di hadapannya ini tidak main-main.


Rong Wangxia berusaha tersenyum, sejujurnya di situasi saat ini dia khawatir untuk berada jauh dari Huang Mingxiang. Dia hanya ingin menjaga Huang Mingxiang, tidak boleh ada yang mendekat selain dirinya. "Nona, anda tidak perlu khawatir. Saya akan membantu anda untuk membawa pulang Xiao Wangfei. Saya akan menjaga Wangfei secara pribadi, karena sebelumnya satu-satunya orang yang berada di dekat Wangfei sebelum pingsan adalah saya, jadi saya pikir Xiao Wangye pasti akan meminta kejelasan pada saya nanti. Jadi, ini sudah pasti menjadi kewajiban saya. Tolong pengertian anda, saya yakin anda mengerti."


Yui diam. Apa yang dikatakan Rong Wangxia benar, jika dia melawan lebih keras lagi, maka seluruh pasang mata yang ada di Chuan Wuqi akan menatap aneh ke arahnya karena menganggap Yui adalah orang yang tidak sopan sudah menolak bantuan tulus dan tanggung jawab orang lain.


Su Mama maju, kemudian berkata,"Kalau begitu, mohon bantuannya, Tuan Muda Rong. Terima kasih banyak." Su Mama membungkuk ke arah Rong Wangxia, yang ada di pikirannya saat ini hanyalah Huang Mingxiang. Dia tidak memikirkan hal lain seperti yang dipikirkan Yui mengenai Rong Wangxia, Su Mama benar-benar seperti ibu yang mengkhawatirkan anaknya.

__ADS_1


Rong Wangxia mengangguk puas, lalu melanjutkan langkahnya menuju kereta kuda. Pria itu naik ke dalam kereta kuda Xiao Wangfu, kereta kuda Rong Fu miliknya mengikuti dari belakang. Mereka semua bergegas menuju Xiao Wangfu.


__ADS_2