Istri Kesayangan Xiao Wangye

Istri Kesayangan Xiao Wangye
Bab 51. Masa Lalu 1: Janji Menjadi Huanghou


__ADS_3

"Niangniang, anda kembali." Yui menghela napas lega saat melihat Huang Mingxiang keluar dari Istana dingin dengan baik-baik saja.


Huang Mingxiang tersenyum tipis. "Saya baik-baik saja, Yui. Ayo, bergegas berangkat. Perintahkan kusir untuk pergi ke Chuan Wuqi terlebih dahulu."


Yui mengangguk, kemudian menyampaikan pesan Huang Mingxiang ke sang Kusir. Huang Mingxiang kini sudah berada di dalam kereta kudanya lagi, dia masih memikirkan Xiao Jihuang. Xiao Jihuang, sejak dia menikah dengan Xiao Muqing, pria itu seolah berubah menjadi orang lain. Dulu Xiao Jihuang tidak pernah mengatakan apa pun mengenai perasaan yang berbau dunia asmara, pria itu fokus belajar dan mengabdikan dirinya untuk membantu mendiang Kaisar sebelumnya.


Huang Mingxiang dulu tidak pernah mengharapkan posisi Huanghou, pria itu juga tidak menunjukkan gerak-gerik bahwa dia setuju Huang Mingxiang lah yang akan menjadi Huanghou-nya. Tetapi, setelah Huang Mingxiang menikah, pria itu langsung bergerak secara agresif untuk meraih tangannya.


Merenung beberapa menit, tunggu. Huang Mingxiang baru menyadari bahwa pria itu tidak berubah sejak pernikahannya dengan Xiao Muqing, tetapi saat pengumuman pernikahan Xiao Jihuang dengan Rong Xuan. Benar. Malam itu, Xiao Jihuang pertama kalinya terlihat lemah di hadapan Huang Mingxiang.


Huang Mingxiang memijat keningnya, tidak seharusnya dia memikirkan hal yang tidak penting seperti ini. Tidak akan ada yang berubah, pria itu akan tetap menjadi Kaisar dan Huang Mingxiang akan tetap menjadi istri Xiao Muqing. Lagi pula masa lalu mereka berdua dulu tidak ada hubungan asmara apa pun yang serius.


Tetapi, benar. Sejak malam itu ....


*IBU KOTA KEKAISARAN TIMUR*


-TIGA SETENGAH TAHUN LALU-


"Yang mulia, mengapa anda terus melihat ke arah tusuk rambut saya?" Huang Mingxiang yang masih berumur lima belas tahun menatap Xiao Jihuang dengan kedua sudut alis yang menyatu. Saat ini, status Xiao Jihuang masih seorang Putra Mahkota.


Mereka saat ini tengah berada di dalam Paviliun, di depan mereka terdapat danau teratai yang sangat indah. Pemandangan dan udara di sini sangat sejuk, tidak ada yang berani mengganggu mereka berdua di sini. Di belakang mereka terdapat meja yang di atasnya berserakan banyak sekali buku-buku mengenai pemahaman politik. Ya, mereka berdua baru saja belajar bersama atas perintah Huanghou.


Xiao Jihuang tersenyum tipis, menggeleng. "Saya baru pertama kali melihat tusuk rambut itu. Di mana kamu membelinya? Terlihat unik."


Huang Mingxiang tersenyum senang, karena Xiao Jihuang memuji tusuk rambutnya. Berarti seleranya tidak buruk. Huang Mingxiang menyentuh tusuk rambut itu lembut dengan jari-jarinya, kemudian menjawab,"Bagaimana menurut anda? Bagus, bukan? Saya membelinya saat sedang diam-diam menyelinap keluar dari Huang Fu."


"Seorang Junzhu menyelinap keluar?" Xiao Jihuang menaikkan alis kirinya.

__ADS_1


Huang Mingxiang dengan cepat meletakkan jari telunjuknya di bibirnya. "Shhtt ... Yang mulia, mohon pelankan nada bicara anda. Jika ayah atau bibi mendengar ini, Mingxiang akan terkena masalah." Huang Mingxiang menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan keadaan, kemudian kembali menatap Xiao Jihuang sambil menjulurkan jari kelingkingnya. "Ini, berjanjilah. Rahasia ini akan menjadi rahasia kita berdua."


Xiao Jihuang mengerutkan keningnya, kemudian raut wajahnya mengendur. Pria itu tersenyum tipis lagi, lalu membalas juluran jari kelingking Huang Mingxiang. "Ya. Tetapi, apa yang akan saya dapatkan jika berhasil menjaga rahasiamu?"


Huang Mingxiang diam sejenak, kemudian dengan semangat menjawab,"Mingxiang akan menjadi teman terbaik anda! Mingxiang janji!"


Xiao Jihuang mengerutkan keningnya. "Hanya itu?"


Huang Mingxiang diam, berpikir keras. Jika tidak menjadi teman terbaik, apa lagi? Hubungannya dengan Xiao Jihuang baru terjalin semakin dekat akhir-akhir ini, semuanya karena perintah Huanghou yang meminta Xiao Jihuang mengajarkan cara memahami dunia politik kepada Huang Mingxiang secara pribadi. Sebelumnya, hubungan mereka tidak secair ini. Mereka dulu kadang hanya saling pandang atau melempar beberapa obrolan kecil, tidak terlalu intens.


Huang Mingxiang menatap Xiao Jihuang bingung. "Apa yang mulia mengharapkan dukungan politik dari keluarga Huang? Tetapi ... saya hanya putri kedua dari keluarga Huang, sesuai yang anda tahu, perempuan juga tidak diizinkan masuk ke dalam dunia politik terlalu dalam."


Xiao Jihuang menggeleng. "Tanpa kehadiranmu, keluarga Huang sudah menjadi pendukung garda terdepan karena Muhou."


Huang Mingxiang semakin bingung. "Lalu apa yang anda inginkan, yang mulia?"


Huang Mingxiang tersenyum. "Saya tidak pernah berani untuk mendambakan posisi pendamping mulia itu, yang mulia. Tetapi, Mingxiang mengerti mengenai harapan Huanghou. Anda tentu tahu, apa tujuan saya giat belajar dan mempersiapkan diri menjadi 'wanita sempurna' sedini mungkin."


Xiao Jihuang mengerutkan keningnya. "Lalu, apa anda bersedia menjadi seorang Huanghou?"


Huang Mingxiang menunduk sedikit, bibirnya masih tersenyum. "Saya tidak berani berharap."


"Mengapa tidak? Kamu sudah belajar sangat giat," tanya Xiao Jihuang.


Huang Mingxiang kembali mengangkat pandangannya, kemudian menghela napas tipis. "Menjadi seorang Junzhu dan mendapatkan perlakuan serta perhatian layaknya seorang Putri Kekaisaran padahal saya hanya anak dari seorang selir, itu sudah sangat beruntung. Yang mulia, saya tidak ingin menjadi seseorang yang buta akan kemewahan dan gelar. Saya setiap hari selalu mengingatkan diri saya sendiri agar tidak melupakan siapa diri saya sebelumnya."


"Tetapi bagaimana jika aku yang meminta kamu agar menjadi Huanghou?" tanya Xiao Jihuang, membuat Huang Mingxiang menoleh menatapnya.

__ADS_1


Huang Mingxiang tak lama kemudian terkekeh. "Yang mulia, Kaisar bahkan saat ini masih sangat sehat, anda durhaka!"


Raut wajah Xiao Jihuang berubah, kemudian dia menggeleng. "Tidak, aku tidak bermaksud mendoakan Kaisar dengan hal-hal buruk. Tetapi, kamu tentu tahu, aku adalah Putra Mahkota. Cepat atau lambat, aku akan menjadi seorang Kaisar menggantikan ayah. Seorang Kaisar tentu harus mempunyai pendamping utama resmi, Huanghou. Oleh karena itu, aku memintamu untuk mengisi posisi itu."


Huang Mingxiang tertawa renyah, raut wajah panik Xiao Jihuang sangat manis. Huang Mingxiang kemudian menatap Xiao Jihuang lebih serius. "Yang mulia, posisi pendamping utama harus diisi oleh wanita yang anda cintai, anda meminta saya untuk mengisi posisi itu, apakah anda mencintai saya?"


Xiao Jihuang diam, kemudian membuang tatapannya ke arah danau teratai. "Mingxiang, aku tidak pernah dekat dengan wanita selain dirimu. Bahkan beberapa oknum politik yang mendesak agar aku segera menikah tidak pernah aku hiraukan. Aku tidak yakin betul paham mengenai cinta, oleh karena itu dari pada kebingungan mencari orang yang cocok, lebih baik aku memilihmu yang sudah lama mengenalku sejak kecil, bukan?"


Xiao Jihuang, pria itu mengucapkan kalimat lain untuk menyatakan perasaannya. Dia mengatakan "aku mencintaimu" dengan kalimat yang berbeda. Tetapi Huang Mingxiang tidak menyadari hal ini, wanita itu beranggapan bahwa Xiao Jihuang hanya malas mengenal orang baru, khususnya wanita.


Huang Mingxiang mengangguk, apa yang dikatakan Xiao Jihuang memang benar. Dari pada repot-repot mencari orang baru yang belum pasti rasa kesetiaannya, lebih baik menggunakan orang yang sudah ada, yang sudah jelas kesetiaannya.


Huang Mingxiang berdiri, lalu berkata,"Baiklah kalau begitu, saya menerima tawaran anda untuk menjadi Huanghou! Saya berjanji akan menjadi Huanghou yang baik untuk anda!" Senyuman wanita itu cerah, cahaya matahari menyinari wajahnya yang putih halus, sosoknya yang ceria mengenakan hanfu berwarna merah muda, menambah kesan manis.


Xiao Jihuang mendongak, menatap Huang Mingxiang yang berdiri, kemudian ikut berdiri. "Janji harus ditepati, Mingxiang. Anda sudah berjanji."


Huang Mingxiang mengangguk. "Tentu!"


"Yang mulia, bagaimana jika sekarang kita menemui Huanghou? Di saat seperti ini pasti kue kering buatan An Mama sudah siap! Huanghou tidak boleh menikmatinya seorang diri!" Huang Mingxiang menarik lembut lengan pakaian Xiao Jihuang.


Xiao Jihuang mengangguk. "Tentu, ayo." Mereka berdua pun akhirnya berjalan pergi meninggalkan Paviliun danau teratai. Di tengah jalan, kereta kuda berlambang Xiao Wangfu muncul. Membuat Huang Mingxiang dan Xiao Jihuang mau tidak mau berhenti terlebih dahulu. Mereka berdua tidak menaiki tandu atau kereta kuda, karena memang jaraknya tidak terlalu jauh dari Istana kediaman Huanghou.


Huang Mingxiang dan Xiao Jihuang membungkuk, di dalam kereta kuda itu adalah Xiao Muqing. Aura militer dari pria itu sangat terasa, membuat siapapun enggan untuk menghalangi jalannya.


Di luar dugaan, kereta kuda Xiao Muqing berhenti tepat di samping mereka berdua.


"Salam, paman Kekaisaran, Xiao Wangye." Xiao Jihuang menyapa Xiao Muqing, sedangkan Huang Mingxiang diam di belakang Xiao Jihuang sambil terus membungkuk dalam.

__ADS_1


Xiao Muqing, ini pertama kalinya Huang Mingxiang memiliki jarak sedekat ini dengan pria itu. Sebelumnya pria itu selalu sibuk bekerja di perbatasan, jarang kembali ke Ibu Kota. Tiga bulan lalu pria itu baru saja kembali.


__ADS_2