Istri Kesayangan Xiao Wangye

Istri Kesayangan Xiao Wangye
Bab 95. Cantik Seperti Bunga


__ADS_3

Wu Zeyuan berjalan masuk ke dalam ruangan kerja Xiao Jihuang, dia sebelumnya mendapat laporan dari Kasim Yi bahwa Kaisar lagi-lagi melewatkan jam makan malam karena pekerjaan.


Saat masuk, dia sedikit terkejut, karena matanya kini tidak lagi melihat furniture Xiao Jihuang yang berkaitan dengan Huang Mingxiang. Seperti lukisan atau benda-benda kecil lainnya, seluruhnya bersih.


"Zeyuan?" Suara Xiao Jihuang terdengar, membuat Wu Zeyuan tersadar dari lamunannya.


"Yang mulia." Wu Zeyuan membungkuk, bibirnya tersenyum hangat seperti biasa.


Xiao Jihuang mengangguk. "Kemari." Tangan kanannya bergerak, memberi kode agar Wu Zeyuan mendekat.


Wu Zeyuan menarik bangku agar bisa duduk di samping Xiao Jihuang, wanita itu lalu ikut menatap ke arah lukisan yang ada di atas meja kerja pria itu.


"Ini ... apakah ini lukisan kita berdua?" tanya Wu Zeyuan, beberapa waktu lalu Xiao Jihuang sempat memanggil pelukis Istana untuk melukis mereka berdua. Dan kini ... sepertinya ini adalah hasilnya.


Xiao Jihuang mengangguk. "Tentu, bagaimana pendapatmu?"


Wu Zeyuan tersenyum, jari-jarinya mengelus lembut sosok Xiao Jihuang dan dirinya di lukisan itu. "Anda masih terlihat sama gagahnya di lukisan ini, yang mulia."


Xiao Jihuang tertawa mendengar pujian Wu Zeyuan, lalu menjawab,"Terima kasih, namun bukan itu yang ingin aku tanyakan. Aku bertanya, bagaimana kualitas lukisannya?"


Wu Zeyuan terkekeh lembut, lalu membalas,"Sangat indah, terlihat sangat nyata. Ini sangat indah bila dipajang."


"Kalau begitu mari kita pajang." Xiao Jihuang tiba-tiba berdiri, membuat Wu Zeyuan sedikit terkejut. Apa ... pria itu hendak memajang lukisan mereka di ruangan kerjanya?


"Di mana lokasi yang cocok menurutmu, Zeyuan?" tanya Xiao Jihuang, tangannya memegang lukisan mereka berdua sambil memperhatikan seluruh sisi ruangan kerjanya yang luas.


"Yang mulia ... apa ... anda sungguh-sungguh ingin memasang lukisan kita di ruangan kerja?" tanya Wu Zeyuan, dia masih sedikit ragu. Sikap Xiao Jihuang tiba-tiba berubah, dia sudah tidak terlalu sering mengungkit Huang Mingxiang, bahkan seluruh barang-barang yang berkaitan dengan wanita itu sudah dibersihkan dari ruangan kerjanya.


Xiao Jihuang mengerutkan keningnya, lalu menoleh ke arah Wu Zeyuan. "Ada apa? Kamu tidak ingin lukisan ini dipajang?"


Wu Zeyuan berdiri, kemudian berjalan mendekat ke arah Xiao Jihuang sambil menggeleng pelan. "Bukan seperti itu maksud Zeyuan, yang mulia. Saya sangat senang, karena itu tandanya yang mulia sangat menyayangi Zeyuan. Zeyuan hanya khawatir, takut ... yang mulia terpaksa melakukan ini." Senyum di wajah Wu Zeyuan terlihat sedikit getir, membuat Xiao Jihuang tertegun.


Xiao Jihuang sempat kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan wanita itu, namun kemudian dia tersenyum dan menatap lukisan mereka berdua lagi. "Untuk apa aku harus memaksakan diri? Ini adalah hal yang memang harus aku lakukan, aku mencintai istriku dan menghargaimu. Dan lagi, hati mana yang harus terpaksa mencintai bunga secantik dirimu?"

__ADS_1


Wu Zeyuan tertegun, jantungnya berdebar. Wajah wanita itu memerah, namun ... hatinya masih memiliki kegelisahan. Ucapan Xiao Jihuang terasa tidak nyata untuknya, Wu Zeyuan masih meragukan pria itu benar-benar mencintainya.


Xiao Jihuang mengerti maksud raut wajah Wu Zeyuan, apa yang diduga wanita itu adalah benar. Tetapi dia tidak benar-benar terpaksa, setidaknya ada setengah hatinya yang murni menyayangi Wu Zeyuan. Dia tidak bisa munafik, Xiao Jihuang belum bisa sepenuhnya melupakan Huang Mingxiang. Huang Mingxiang adalah cinta pertamanya, Xiao Jihuang butuh waktu untuk benar-benar melupakan cinta lamanya. Seharusnya dengan tindakannya menyingkirkan segala macam hal yang melekat pada dirinya dan memiliki keterkaitan dengan Huang Mingxiang sudah cukup membuktikan keseriusannya dalam melupakan Huang Mingxiang.


"Bagaimana jika di situ?" Xiao Muqing menunjuk sisi dinding yang menghadap langsung ke meja kerjanya. Dulu, tempat itu adalah tempat di mana dia memasang lukisan Huang Mingxiang.


"Zhen akan dapat dengan mudah melihat lukisan kita nantinya," ucap Xiao Jihuang, lalu mulai berjalan mendekat ke dinding tersebut dan menggantungkan lukisan tersebut di paku yang kosong.


Wu Zeyuan menghela napas tipis, tak lama dia teringat dengan tujuan utamanya di sini, membuat Xiao Jihuang segera menamakan makan malamnya. Wu Zeyuan bergegas berjalan mendekati Xiao Jihuang dan berdiri di samping pria itu.


"Yang mulia, anda harus makan malam. Sedikit lagi sudah waktunya untuk beristirahat, anda tidak boleh lalai dalam menjaga kesehatan," ucap Wu Zeyuan, tangannya mengelus pelan punggung Xiao Jihuang.


Xiao Jihuang tersenyum, kepalanya mengangguk. Badannya bergerak menghadap Wu Zeyuan, lalu tangan kanannya mengelus lembut pipi wanita itu.


"Maafkan aku," ucap Xiao Jihuang tiba-tiba, membuat Wu Zeyuan mengerutkan keningnya.


"Untuk apa, yang mulia?" tanyanya sembari menikmati sentuhan lembut Xiao Jihuang di pipinya.


"Untuk perasaanku. Kamu pasti mengerti," jawab Xiao Jihuang.


Xiao Jihuang mengerutkan keningnya saat mendengar ini, matanya menatap sulit Wu Zeyuan. Tak lama, pria itu menarik Wu Zeyuan ke dalam pelukannya. "Zeyuan, terbuat dari apa hatimu?"


Wu Zeyuan tersenyum, membalas pelukan Xiao Jihuang, menenangkan pria itu. "Saya tidak tahu terbuat dari apa hati saya, namun saya tahu apa tujuan dari terbuatnya hati saya. Yaitu, mencintai yang mulia."


Xiao Jihuang tersenyum mendengar ini, lalu segera melepas pelukannya dan menggenggam erat tangan Wu Zeyuan. "Mau menemani Zhen makan malam?"


Wu Zeyuan mengangguk. "Tentu saja, bagaimana mungkin Zeyuan berani menolak?"


Wu Zeyuan segera melayani Xiao Jihuang, wanita itu menyuapi Xiao Jihuang secara pribadi. Terkadang, Xiao Jihuang mengambil alih sumpit dan bergiliran menyuapinya.


Saat mereka baru selesai makan, tiba-tiba Rong Xuan muncul, wanita itu berjalan mendekati mereka berdua dengan raut wajah tidak senang. Mata Rong Xuan menatap tajam Wu Zeyuan, ini bukan pertama kalinya Rong Xuan melihat Wu Zeyuan bersama Kaisar.


"Niangniang." Wu Zeyuan berdiri, lalu membungkuk ke arah Rong Xuan.

__ADS_1


Rong Xuan tidak mempedulikan Wu Zeyuan, dia segera menatap Xiao Jihuang dan memaksakan senyuman. "Yang mulia, ada yang ingin Xuan bicarakan dengan anda."


Xiao Jihuang mengangguk, dia kemudian menatap Wu Zeyuan dan berkata,"Zeyuan, kembalilah. Terima kasih karena sudah menjadi teman makan malam Zhen. Zhen akan mengunjungimu di malam-malam berikutnya."


Wu Zeyuan mengangguk patuh, dia segera membungkuk ke arah Xiao Jihuang. "Baik, yang mulia. Kalau begitu, Zeyuan pamit undur diri." Setelah itu dia berbalik, tatapan matanya bertemu dengan mata Rong Xuan. Keduanya melempar kebencian sengit.


Setelah kepergian Wu Zeyuan, Xiao Jihuang menatap Rong Xuan. "Ada apa?" Pria itu sebenarnya malas untuk berbicara dengan Rong Xuan sekarang, karena biasanya wanita itu kemari untuk meminta izin agar Rong Tagu ayahnya memiliki akses ke sesuatu.


Rong Xuan tersenyum lagi, dia belakangan ini selalu berusaha membuat hubungan yang baik dengan Xiao Jihuang. Wanita itu segera duduk di samping Xiao Jihuang dan menuangkan air ke dalam cangkir pria itu dan memberikannya. "Ini tentang Kerajaan Huan Tenggara yang terus menerus menyerang, yang mulia. Saya pikir ... kondisinya sudah semakin genting. Apa tidak sebaiknya kita meminta Xiao Wangye untuk turun ke Medan perang? Hanya seorang Xiao Wangye yang bisa mengatasi masalah besar itu. Saya juga mendengar bahwa jenderal Qin telah terluka parah, berarti serangan yang dikerahkan oleh kerajaan Huan Tenggara tidak main-main."


Xiao Jihuang meneguk air putih pemberian Rong Xuan, lalu menaruh cangkir itu kembali di atas meja dan menggeleng tidak setuju. "Tidak bisa, Huanghou. Zhen yakin, Xiao Wangfei akan melakukan protes besar, wanita itu cerdik. Jika kita terang-terangan melawannya, maka dia pasti tidak akan tinggal diam."


Rong Xuan menghela napas, lalu kedua tangannya bergerak untuk memijat bahu Xiao Jihuang. "Suamiku, tapi kita tidak bisa diam saja dengan kondisi yang sekacau itu, bukan?"


Xiao Jihuang mengangguk. "Benar, namun kita tidak bisa sembarangan mengutus Xiao Wangye ke perbatasan. Lagi pula, sebenarnya tikus mana yang memberikan celah kepada kerajaan Huan Tenggara? Dilihat dari kondisinya, seharusnya ada orang dalam Kekaisaran yang berkuasa sebagai tersangka."


Rong Xuan tersenyum tipis saat mendengar ini, namun dia tidak peduli. Rong Xuan segera menyandarkan kepalanya di bahu Xiao Jihuang. "Yang mulia, siapa orang dalamnya, itu bisa kita usut setelah peperangan selesai. Perbatasan adalah tempat yang sakral dan penting, jika pertahanan di perbatasan dapat dengan mudah ditembus, musuh akan semakin dengan mudah merangsek masuk untuk menyerang seluruh daerah Kekaisaran."


Xiao Jihuang tidak menjawab, tatapan matanya sangat dingin sekarang. Ada sesuatu yang tertahan di hatinya, namun dia sendiri tidak bisa berbuat banyak untuk sesuatu itu.


Mata Orang Xuan tidak sengaja melihat ke arah lukisan baru yang terpasang di ruangan kerja Xiao Jihuang. "Apa itu lukisan anda dengan Wu Guifei?" tanya Rong Xuan.


Xiao Jihuang tersadar dari pikirannya, dia segera melihat ke arah lukisan tersebut dan mengangguk singkat. "Benar."


Rong Xuan menatap penuh benci ke arah lukisan itu, kemudian bibirnya tersenyum getir. "Sepertinya belakangan ini yang mulia sangat menyukai Wu Guifei?"


Xiao Jihuang melirik Rong Xuan, lalu menggenggam tangan wanita itu. Xiao Jihuang tidak mau melakukan ini, namun dia dipaksa untuk bersikap adil kepada seluruh istrinya. Tidak peduli dia menyukai atau tidak menyukai istri-istrinya, dia harus tetap adil. Itu sudah menjadi takdir mutlak Kaisar, harus membagi-bagi hatinya. Seorang Kaisar tidak boleh secara egois mengusir jauh wanita-wanita yang tidak dia sukai dan hanya mempertahankan satu atau beberapa wanita saja, karena setiap pernikahan yang terjalin itu memiliki dasar perjanjian masing-masing. Jika Kaisar melanggarnya, maka akan terjadi gejolak politik baru dan menyusahkan Kaisar itu sendiri.


"Belakangan ini Wu Guifei sering mengunjungi Zhen memang karena ingin berbagi keluh kesah, wanita itu hanya khawatir. Tidak perlu dipermasalahkan," ujar Xiao Jihuang.


Rong Xuan masih menatap tajam lukisan itu, kepalanya mengangguk dan tersenyum lebih baik sekarang. Matanya beralih menatap Xiao Jihuang dan menyandarkan kepalanya di dada pria itu. "Yang mulia, Xuan sangat mencintai anda. Tolong jangan pernah memberikan punggung dingin padaku. Aku adalah putri satu-satunya dari ayahku, aku takut ayahku akan sedih jika mengetahui diriku sedih. Aku tidak ingin orang sekitarku sedih." Kemudian kepalanya mendongak menatap Xiao Jihuang, setiap kalimat yang dikeluarkan Rong Xuan terdengar seperti sebuah ancaman. Ancaman untuk Xiao Jihuang jika pria itu bersikap dingin dan tidak memperlakukannya dengan baik, maka ayahnya akan sedih dan marah, lalu membuat pria itu kesulitan di pemerintahan.


"Yang mulia mencintai Xuan, bukan?" tanya Rong Xuan, matanya menatap Xiao Jihuang sendu.

__ADS_1


Xiao Jihuang menekan emosi di hatinya, dia paling benci menerima ancaman dari Rong Xuan mengenai kekuasaan. Tetapi dia tidak bisa melawan, jika dia menyakiti Rong Xuan hari ini, maka besok Perdana Menteri Rong akan mengacaukan seluruh kepemimpinannya. Demi kestabilan dan pemerintahan yang tenang, Xiao Jihuang akan menekan seluruh emosinya.


Xiao Jihuang mengangguk, lalu menarik Rong Xuan ke dalam pelukannya lebih erat. "Tentu." Tatapan matanya dingin, lurus ke depan menatap objek kosong. Sedangkan Rong Xuan, wanita itu tersenyum licik di dalam pelukan Xiao Jihuang.


__ADS_2