Istri Kesayangan Xiao Wangye

Istri Kesayangan Xiao Wangye
Bab 65. Berhasil Mengurus Satu Badai Besar


__ADS_3

Kereta kuda Xiao Wangfu sudah mulai melaju keluar dari Istana. Huang Mingxiang tidak bisa tidak tersenyum, dia berhasil. Huang Liyue akan benar-benar memakan buah yang dia tanam.


Rencana kecil seperti tadi sama sekali tidak membuat Huang Mingxiang merasa gentar, wanita itu sudah pernah menelan kematian sebelumnya, dia tidak akan goyah dengan sentilan-sentilan kecil.


Sebelum pesta dimulai, Huang Liyue diam-diam mengutus pelayan pribadinya untuk menyampaikan pesan kepada penari laki-laki tersebut agar setelah penampilannya selesai, dia bergegas keluar dari area pesta dan bertemu dengan Huang Mingxiang untuk 'bersenang-senang'. Tetapi sayang, karena suara alunan musik yang sangat keras, penari laki-laki itu hanya mendengar nama 'Huang', dia tidak yakin apakah itu Mingxiang atau Liyue.


Terkait obat bubuk misterius yang menimbulkan efek 'gila', Huang Liyue juga memerintahkan pelayan pribadinya untuk menuangkan obat itu ke gelas arak milik Huang Mingxiang. Tetapi sayang, Huang Mingxiang mengetahui rencananya. Huang Mingxiang tidak tahu obat jenis apa yang dimasukkan oleh Huang Liyue, yang jelas karena laporan Wu Zeyuan, dia menemukan sedikit petunjuk. Oleh karena itu, dia meminta Yui untuk segera menyelinap ke dapur dan menukar gelas arah miliknya dengan Huang Liyue. Saat gelas dibagikan, Huang Liyue meminum arak yang sudah dicampur oleh obat bubuk tersebut, sedangkan Huang Mingxiang, aman.


Memikirkan kejadian hari ini, Huang Mingxiang teringat dengan ucapan Rong Wangxia. Pria itu berkata sudah membersihkan jejaknya, dan itu terbukti karena Yui kembali dengan raut wajah bingung dan melaporkan bahwa seluruh jejak campur tangannya telah lenyap begitu saja. Huang Mingxiang tidak bisa tidak memikirkan ini, dia berpikir keras. Apa tujuan Rong Wangxia? Huang Mingxiang tidak bisa mempercayai pria itu begitu saja, karena dia adalah adik Rong Xuan, musuh besar utamanya.


Huang Mingxiang menghela napas gusar, kemudian matanya menatap ke arah pedang Xiao Muqing. Bibirnya tersenyum kembali, lalu mengusap sarung pedang bergambar naga itu lembut.


"Terima kasih banyak, Xiao Muqing. Anda benar-benar membantu dan menjadi rumah baru untuk diriku. Perasaan geram karena harus mati di kehidupan sebelumnya berkurang karena berpikir bahwa saya memiliki anda sekarang. Betapa bodohnya saya dulu karena harus menerima kematian begitu saja." Huang Mingxiang bergumam sendiri, bibirnya tersenyum saat mengatakan ini. Hari ini, dia telah berhasil mengurus satu badai besar di hidupnya.


Huang Mingxiang mengelus kepalanya sendiri. "Kamu hebat, tetapi jalanmu masih panjang. Teruslah berjalan."


Siapa yang akan menyangka jika seorang nona bangsawan yang sama sekali tidak pernah melakukan pekerjaan kasar atau berusaha hidup mandiri karena sebelumnya selalu diberikan fasilitas lengkap tanpa ada yang kurang atau terlewat sedikitpun kini justru harus mengalami kehidupan yang sebaliknya? Huang Mingxiang pun tidak pernah menyangka akan tiba saatnya kondisi hidupnya berubah drastis sempurna. Semuanya benar-benar mengejutkan, dalam semalam langsung terbalik begitu saja.


"Wa-- Wangfei ...." Suara Yui yang tertahan terdengar, membubarkan lamunan Huang Mingxiang yang sibuk memikirkan dirinya sendiri.


Huang Mingxiang langsung kembali duduk tegak, tatapannya berubah kembali serius. Waspada, khawatir jika dirinya lagi-lagi dikepung pembunuh.


"Yui, berjaga tepat di dekat pintu kereta." Gu Sinjie mulai memegang gagang pedangnya, matanya menatap tajam lurus ke depan.

__ADS_1


Huang Mingxiang mengerutkan keningnya. "Ada apa?"


"Entahlah, Wangfei. Di depan kita ada sosok misterius, sosok itu menenteng sesuatu di tangan kirinya dan pedang di tangan kanannya. Ada kemungkinan dia adalah pembunuh, mohon yang mulia tidak keluar dari kereta sebelum saya nyatakan aman."


Huang Mingxiang menaikkan alis kirinya, sosok apa? Pembunuh?


"Ada berapa orang, Yui?" tanya Huang Mingxiang.


"Hanya seorang diri, Wangfei," jawab Yui, wanita itu sudah menarik dua belati yang dia sembunyikan di balik rok hanfu-nya.


Aneh. Pembunuh gila mana yang berani menodong kereta Xiao Wangfu seorang diri? Jika di sini tidak ada Gu Sinjie, itu masih masuk akal. Tetapi di sini ada Gu Sinjie dan Yui, seharusnya mereka mengenali kedua orang tersebut. Tetapi ini ... pembunuh itu sendirian? Dan lagi, ini masih siang!


Bruk!


Gu Sinjie melihat sosok itu terjatuh ke atas salju, bau darah benar-benar menyengat. Beruntung jalanan masih sangat sepi karena penduduk tengah melakukan ritual doa di rumah masing-masing.


Suara sosok itu terdengar sangat lemah, Gu Sinjie yang namanya disebut pun terkejut. Pria itu segera berjalan mendekat, semakin dekat jaraknya dengan sosok itu, semakin cepat langkah pria itu melaju.


Jantung Gu Sinjie semakin berdegup kencang, dia tahu siapa sosok itu. Baili Ruyi ... Itu Ruyi!!


Gu Sinjie berlari, tidak lagi berjalan lambat atau cepat. Pria itu berlari sekuat tenaganya, kemudian membantu Baili Ruyi agar kembali bangkit.


"Ruyi! Ruyi!" Gu Sinjie menggoyangkan tubuh Baili Ruyi, pancaran khawatir terlihat jelas di matanya.

__ADS_1


Huang Mingxiang yang mendengar suara seruan khawatir Gu Sinjie pun segera mengangkat tirai jendela kereta kuda, melihat keluar. Matanya terbelalak, itu Ruyi!


"Tuan Gu! Cepat bawa Nona Baili masuk ke dalam kereta!!" Huang Mingxiang berseru, dia juga ikut khawatir. Hari ini salju turun sangat lebat, namun Baili Ruyi hanya mengenakan pakaian bisa, tidak ada mantel atau lapisan tebal apa pun. Baju wanita itu juga terlihat sedikit terkoyak di bagian bahu.


"Tetapi, Wangfei. Darahnya--"


"Bawa masuk dulu, Tuan Gu! Nona Baili harus segera mendapatkan pertolongan!" Huang Mingxiang memotong tegas, membuat Gu Sinjie sedikit tersentuh karena Huang Mingxiang sama sekali tidak keberatan jika harus menampung Baili Ruyi yang penuh darah.


Gu Sinjie dengan cepat melepas mantel tebalnya, mengenakannya ke tubuh Baili Ruyi. Gu Sinjie menggendong tubuh Baili Ruyi, setelah itu melirik ke arah Yui. "Yui, aku membutuhkan bantuanmu." Lalu matanya melirik ke arah kepala monster lembah yang tergeletak di atas salju. Menodai warna putih salju tersebut dengan bercak darah.


Yui mengangguk mengerti, kemudian segera membukakan pintu untuk Gu Sinjie agar dapat dengan mudah membawa masuk Baili Ruyi, setelah itu baru mengambil kepala monster incaran Baili Ruyi.


Gu Sinjie dengan hati-hati masuk ke dalam kereta, menaruh tubuh beku Baili Ruyi di sana. Huang Mingxiang meminta Gu Sinjie untuk meletakkan kepala Baili Ruyi di pangkuannya, Gu Sinjie tidak ada pilihan lain selain menurut. Dia juga merasa sangat terbantu dan lega karena Huang Mingxiang.


Gu Sinjie kembali turun, menutup pintu kereta kuda. Beruntung kereta kuda Xiao Wangfu sangat luas, kedatangan Baili Ruyi sama sekali tidak membuat ruangan sesak.


Gu Sinjie mengambil kepala itu dari Yui, lalu naik ke atas kudanya lagi dan melanjutkan perjalanan menuju Xiao Wangfu. Selama perjalanan matanya berkali-kali melirik ke dalam kereta kuda untuk melihat Baili Ruyi. Keningnya terus terlipat, hatinya gelisah.


Huang Mingxiang ikut melepaskan mantelnya, membuat Baili Ruyi benar-benar terlihat seperti bola karena dibungkus rapat oleh dua mantel tebal. Huang Mingxiang menggosokkan kedua telapak tangannya hingga hangat, lalu menempelkannya ke kedua pipi Baili Ruyi. Gerakan itu terus dia lakukan berulang kali, berharap Baili Ruyi merasa menjadi jauh lebih baik. Huang Mingxiang juga mengeluarkan sapu tangannya, membersihkan noda darah basah yang menempel pada wajah cantik wanita itu, dia tidak bisa tidak menghela napas. Ternyata, masih ada yang melewati jalan jauh lebih kejam dan menyeramkan dibandingkan dengan jalannya untuk mencapai kesuksesan.


Huang Mingxiang tersenyum ke arah Baili Ruyi, dia kagum.


"Tuan Gu, sesampainya di Xiao Wangfu anda harus memanggil tabib pribadi Xiao Wangfu untuk mengobati Nona Baili secara pribadi," ujar Huang Mingxiang.

__ADS_1


Gu Sinjie tertegun, kemudian dia mengangguk cepat. "Baik, Wangfei."


Tabib pribadi Xiao Wangfu hanya boleh digunakan oleh tuan rumah utama, seperti Xiao Muqing dan Huang Mingxiang. Bahkan sekelas pelayan senior dan Gu Sinjie pun tidak diizinkan memakai jasa tabib pribadi Xiao Wangfu. Tetapi kini Gu Sinjie mendengar Huang Mingxiang mengizinkan tabib pribadi Xiao Wangfu untuk mengobati Baili Ruyi secara pribadi, hatinya tersentuh. Entah bagaimana dia rasanya ingin menangis, dia bahagia dan khawatir. Bahagia karena Baili Ruyi kembali dengan napas yang masih berhembus dan kebaikan Huang Mingxiang, lalu khawatir karena luka yang dialami Baili Ruyi sangat parah. Jika dia terlambat datang dua jam saja, nyawanya tidak akan pernah bisa diselamatkan. Baili Ruyi kemungkinan besar akan mati membeku di tengah salju lebat dan infeksi luka yang serius.


__ADS_2