
Keesokan paginya, Huang Mingxiang bangun dan melihat Xiao Muqing tengah duduk di samping tempat ia berbaring. Pria itu terlihat sedang merenungkan sesuatu, pandangannya menatap kosong ke arah depan.
Huang Mingxiang bangun, mengambil sikap duduk. Xiao Muqing yang menyadari ini segera menoleh sekilas ke arah Huang Mingxiang dan menatap kembali lurus ke depan.
"Wangye?" Nada bicara khas bangun tidur milik Huang Mingxiang terdengar, wanita itu berusaha mengumpulkan kesadarannya hingga penuh.
"Kejadian semalam ...." Xiao Muqing menggantung kalimatnya, matanya tidak mau menatap Huang Mingxiang.
Huang Mingxiang tersenyum. "Ada apa dengan semalam? Saya di sini hanya untuk menemani suami saya." Huang Mingxiang tahu, Xiao Muqing tidak ingin dirinya mengungkit kejadian semalam. Pria itu sepertinya tidak senang jika ada orang lain yang tahu mengenai masalah kepribadiannya.
Kali ini Xiao Muqing menoleh ke arah Huang Mingxiang, tatapan matanya datar seperti biasa. Huang Mingxiang beranjak turun dari kasur, lalu berusaha merapikan sanggul rambutnya sebelum melayani Xiao Muqing nanti.
Setelah selesai merapikan rambutnya, Huang Mingxiang bergegas menuangkan air ke dalam gelas dan dia serahkan ke Xiao Muqing. Wanita itu duduk di tepi kasur, tidak jauh dari Xiao Muqing.
"Saya akan melayani anda pagi ini," ucap Huang Mingxiang, kemudian berdiri setelah Xiao Muqing menyerahkan gelasnya kembali ke Huang Mingxiang. Huang Mingxiang meletakkan gelas itu di atas meja, kemudian bergegas mengambil ikat rambut dan mengikat rambut panjang Xiao Muqing.
"Wangye, kemungkinan penanggung jawab baru dari Chuan Wuqi akan datang. Apa anda ingin ikut bertemu dengannya? Kita nantinya akan membahas pola bisnis dan promosi baru untuk toko. Saya baru-baru ini juga menerima laporan pemasukan besar untuk Xiao Wangfu dari toko, sekitar sepuluh sampai lima belas jut tael emas." Huang Mingxiang mulai membangun topik baru, berusaha menghilangkan kecanggungan di antara mereka berdua.
"Urus semaumu," jawab Xiao Muqing singkat, itu tandanya pria itu menolak ajakan Huang Mingxiang dan mempercayakan seluruh urusan Chuan Wuqi kepada Huang Mingxiang.
Huang Mingxiang tidak ingin memaksa, dia mengangguk, setelah itu mengulurkan tangannya ke arah Xiao Muqing untuk membantu pria itu pindah ke kursi roda.
Huang Mingxiang membantu Xiao Muqing bersiap di pagi hari ini, saat ini dia sudah selesai membantu Xiao Muqing mandi dan memakai baju. Sekarang saatnya menyisir rambut panjang hitam indah milik pria itu.
"Mingxiang." Di tengah-tengah fokus menyisir rambut Xiao Muqing, tiba-tiba pria itu menyebut nama Huang Mingxiang. Huang Mingxiang segera tersenyum dan bertanya. "Ya, Wangye?"
"Duduk." Perintah Xiao Muqing, matanya melirik ke kursi kosong yang ada di sebelah kursi rodanya.
Huang Mingxiang mengerutkan keningnya. "Duduk di samping anda?"
"Sekali lagi bertanya--"
"Iya-iya, baik. Mingxiang duduk," sela Huang Mingxiang, malas berdebat dan mendengar semprotan pedas Xiao Muqing. Wanita itu segera duduk di kursi kosong sebelah Xiao Muqing, diam. Pantulan sosok mereka berdua terlihat jelas di kaca tembaga besar milik Xiao Muqing.
Huang Mingxiang menahan tawa ketika melihat dirinya sendiri. Lihatlah, rambutnya sangat berantakan. Berbeda dengan Xiao Muqing yang sudah terlihat sangat rapih.
Xiao Muqing perlahan mengambil sisir yang ada di genggaman Huang Mingxiang, membuat wanita itu terkejut, tetapi tidak banyak bertanya. Hanya diam dan memperhatikan, menunggu. Kira-kira apa yang akan dilakukan Xiao Muqing.
"Kapan penanggung jawab baru itu datang?" tanya Xiao Muqing.
"Nanti siang. Kemungkinan lembaran berkas baru akan menumpuk di ruang kerja Mingxiang, karena kita benar-benar merombak ulang Chuan Wuqi," jawab Huang Mingxiang, kemudian menghela napas tipis.
Xiao Muqing mengangguk singkat, setelah itu memutar kursi rodanya dengan tangannya sendiri agar menghadap ke arah Huang Mingxiang. Tangannya dengan cepat melepas tusuk rambut Huang Mingxiang, membuat rambutnya menjuntai polos begitu saja.
__ADS_1
Xiao Muqing perlahan menyisir rambut Huang Mingxiang, raut wajah pria itu datar, tidak ada ekspresi apa pun. Seolah melakukan hal ini adalah kegiatan yang biasa.
"Wangye?" Huang Mingxiang mengerutkan keningnya, dia terkejut. Dari tadi malam dia tidak bisa berhenti terkejut. Xiao Muqing selalu menunjukkan sikap-sikap tidak biasa seperti ini.
"Katakan kesulitanmu kepada Sinjie saat bekerja, jika ada yang diperlukan langsung beritahu benwang. Yui sebentar lagi akan kembali, anda tidak hanya ditemani Su Mama mulai saat ini," ujar Xiao Muqing, nada bicaranya tetap dingin walaupun isi kalimatnya adalah perhatian yang hangat.
Huang Mingxiang mengangguk canggung. "Baik, terima kasih banyak, Wangye."
Xiao Muqing menyisir rambut Huang Mingxiang dengan sangat lembut, setelah selesai pria itu menyerahkan sisirnya lagi kepada Huang Mingxiang.
Huang Mingxiang tersenyum menatap cermin, rambutnya jadi jauh lebih rapi sekarang karena sudah disisir secara pribadi oleh Xiao Muqing. Kepala Huang Mingxiang menoleh, lalu berkata,"Terima kasih banyak, Wangye."
Xiao Muqing tidak menjawab dengan kalimat atau gerakan apa pun, pria itu hanya diam sambil memandang sosok mereka berdua di cermin.
Huang Mingxiang mengerutkan keningnya, lalu menyentuh rahang Xiao Muqing untuk membuat pria itu menoleh padanya. "Jika bisa menatap yang ini, mengapa anda harus menatap yang ada di cermin tembaga itu?"
Xiao Muqing menaikkan alis kirinya sekilas, kedua mata mereka saling pandang dengan waktu yang sangat lama. Huang Mingxiang menambahkan senyumnya, kedua mata mereka masih saling menatap.
"Terima kasih," ucap Huang Mingxiang.
"Anda terlalu banyak mengucapkan terima kasih," jawab Xiao Muqing, dia membiarkan jari-jari Huang Mingxiang yang masih menyentuh tulang rahangnya.
"Bagaimana tidak? Wangye membuat Mingxiang hidup menjadi jauh lebih bahagia. Apa yang Wangye katakan benar, orang-orang Istana itu konyol sekali." Huang Mingxiang terkekeh di akhir kalimatnya, sedangkan Xiao Muqing masih diam dan mendengarkan.
"Walaupun?" tanya Xiao Muqing.
"Walaupun saya tidak tahu seperti apa perasaan anda yang sesungguhnya untuk saya, yang mulia," jawab Huang Mingxiang.
Xiao Muqing menyentuh jari-jari Huang Mingxiang yang menempel di tulang rahangnya, kemudian menjauhkan itu dari rahangnya perlahan dan menggenggam jari-jari Huang Mingxiang.
"Seberapa bagusnya jika benwang mencintai anda?" tanya Xiao Muqing.
Jari-jari Huang Mingxiang yang dipegang Xiao Muqing mengambil alih, kini dia yang menggenggam jari-jari Xiao Muqing. Wanita itu menarik pelan jari-jari Xiao Muqing, lalu mengecupnya. "Sebagus apa? Tidak ada yang tahu. Tetapi Mingxiang dapat pastikan bahwa Wangye tidak akan mengalami kerugian apa pun."
Xiao Muqing menarik tangannya dari genggaman Huang Mingxiang, diam-diam kupingnya memerah. Xiao Muqing menggertakkan giginya, dia berusaha mengusir rasa kaku dari tubuhnya. Huang Mingxiang benar-benar rubah yang pandai menggoda, Xiao Muqing harus lebih mengerikan dibandingkan Huang Mingxiang agar dapat menjadi pemenangnya.
Xiao Muqing mencondongkan wajahnya ke wajah Huang Mingxiang, lalu berkata,"Tidakkah anda sadari bahwa anda sudah terlalu lama bermain-main dengan benwang?"
Huang Mingxiang tersenyum lagi. "Lalu bagaimana? Apakah anda menikmati permainannya?"
"Bagaimana jika benwang katakan tidak ingin lagi bermain?"
"Anda harus mau bermain dengan saya."
__ADS_1
"Benwang katakan tidak."
"Anda harus katakan iya!"
Huang Mingxiang mengerutkan keningnya, dia senang menggoda Xiao Muqing.
Xiao Muqing menatap dingin Huang Mingxiang, dia menyadari bahwa Huang Mingxiang benar-benar meremehkannya sehingga wanita itu sering sekali bermain-main dengan menggodanya. Walaupun sudah lama tidak muncul ke permukaan dan mengenal wanita, Xiao Muqing masih seorang pria normal.
Huang Mingxiang tiba-tiba tertawa, saat dia hendak menjauhkan wajahnya dari Xiao Muqing, tiba-tiba pria itu menahan gerakannya.
"Benwang tidak mengizinkanmu bergerak."
Huang Mingxiang membatu, alis kirinya naik sekilas. Ah ... sejak kapan pria ini berubah?
Huang Mingxiang menggeleng, kemudian kembali berusaha menjauhkan wajahnya. Tetapi sayang, semakin keras dia memberontak, maka semakin keras juga cengkeraman tangan Xiao Muqing yang menahan punggungnya agar tidak mundur.
Huang Mingxiang menyerah, baiklah. Dia akan mengikuti permainan pria kaku di hadapannya ini. Huang Mingxiang tersenyum tipis, matanya menatap mata biru tajam Xiao Muqing.
"Ada apa, Wangye? Anda ingin mencium bibir istri anda ini?" tanya Huang Mingxiang, dia mengatakan itu dengan maksud bercanda.
Xiao Muqing tidak menjawab, membuat Huang Mingxiang semakin bingung. Huang Mingxiang terkekeh. "Baiklah ... cukup, Wangye. Mingxiang tidak akan menggoda anda lagi. Jadi tolong lepaskan cengkeraman ini, Mingxiang harus bersiap-siap untuk mengurus pekerjaan."
Xiao Muqing tetap diam, dia tidak menggubris Huang Mingxiang sama sekali. Huang Mingxiang mulai kesal, mengapa tiba-tiba Xiao Muqing seperti orang mati? Pria itu tidak menjawab seolah tidak mendengar apa yang dia katakan.
Huang Mingxiang kembali berusaha melepaskan cengkeraman Xiao Muqing, namun kembali gagal. Saat Huang Mingxiang sibuk memberontak, tiba-tiba Xiao Muqing memegang kedua pipinya dan membuat Huang Mingxiang menatap Xiao Muqing.
Xiao Muqing mendekatkan lagi wajahnya, lalu perlahan mencium bibir Huang Mingxiang. Ciuman pagi ini berbeda dengan yang semalam. Pagi ini ciumannya terasa jauh lebih panas, membuat Huang Mingxiang kesulitan bernapas.
Huang Mingxiang mengerutkan keningnya, dia terkejut. Seketika badannya terasa sangat lemas, dia tidak mampu memberontak lagi. Huang Mingxiang perlahan mengalungkan kedua lengannya di leher Xiao Muqing, mulai mengikuti permainan.
Huang Mingxiang kembali tersentak kaget saat tiba-tiba Xiao Muqing mengangkat tubuhnya dan memindahkannya ke atas pangkuan pria itu. Belum sempat ia berseru, pria itu sudah kembali mencium bibir Huang Mingxiang.
Huang Mingxiang mengerutkan keningnya, ciuman Xiao Muqing benar-benar agresif. Dia kesulitan menyeimbangkan keagresifan pria itu.
Huang Mingxiang memeluk kepala Xiao Muqing kala pria itu sudah berpindah fokus, kali ini pria itu sibuk mencium leher jenjang Huang Mingxiang. Huang Mingxiang menahan mulutnya, dia tidak mau mengeluarkan suara apa pun. Khawatir orang-orang yang ada di luar akan mendengar mereka.
Ketika Xiao Muqing sedikit menggigit kulit leher Huang Mingxiang, Huang Mingxiang mengeratkan pelukannya kepada Xiao Muqing. Mulutnya juga tidak bisa menahan suara untuk keluar lagi.
"Nghh ... Hah!!"
Xiao Muqing melepas ciumannya, kedua napas mereka memburu. Keduanya saling tatap, Huang Mingxiang dan Xiao Muqing basah oleh keringat.
Xiao Muqing sedikit mendorong kepala Huang Mingxiang agar dapat dengan mudah mengecup kening wanita itu. Wajah Huang Mingxiang memerah, kemudian dia menyembunyikan wajahnya di pundak Xiao Muqing.
__ADS_1
Xiao Muqing mengelus lembut kepala Huang Mingxiang. Sial ... apakah dia mulai mencintai Huang Mingxiang? Belakangan ini dia tidak bisa menahan diri setiap kali melihat Huang Mingxiang.