
Seluruh daratan Kekaisaran Timur sudah kembali terang sempurna karena cahaya matahari. Hari ini, untuk pertama kalinya sejak pernikahan Xiao Muqing dan Huang Mingxiang, Xiao Wangfu terlihat sangat sepi.
Tetapi kesepian itu berubah menjadi keributan besar kala Su Mama menyadari Huang Mingxiang tidak ada di dalam kamarnya. Seluruh pegawai Xiao Wangfu, baik pria maupun wanita, mereka semua gaduh.
"Anda tidak boleh masuk Su Mama, Wangye masih tertidur di dalam. Tidak ada Wangfei di sini." Gu Sinjie menahan gerakan Su Mama yang ingin menerobos masuk ke dalam kamar Xiao Muqing, kedua mata wanita tua itu sudah basah karena air mata.
"Tuan Gu! Justru kita harus membangunkan Wangye! Wangfei pagi ini menghilang, Yui juga! Sepertinya semalam Wangfu kita diserang oleh orang luar dan menculik Wangfei serta Yui!" Su Mama meremas pergelangan tangan Gu Sinjie yang menahan gerakannya.
"Cukup, Su Mama. Jangan mengganggu tidur Wangye, segera kembali ke pekerjaan anda. Maafkan saya, ini perintah Wangye untuk tidak mengganggunya," ujar Gu Sinjie, lalu mendorong pelan tubuh Su Mama agar keluar dari kediaman Xiao Muqing.
Su Mama terduduk di tanah, menangis. Dia bingung, ke mana Huang Mingxiang dan Yui pergi? Mengapa Wangye tidur melebihi jam biasanya? Apa yang sebenarnya terjadi? Jika Wangfei-nya pergi dan tak akan pernah kembali lagi, Xiao Wangfu pasti akan kembali ke masa-masa kegelapan seperti dulu.
Sementara itu di tempat Huang Mingxiang, mereka sudah benar-benar sampai di kaki gunung Lang Tao. Matanya menatap dingin puncak gunung Lang Tao, di sana lah Utusan Agung berada.
"Wangfei, untuk berjaga-jaga gunakan ini." Baili Ruyi memberikan satu kantung kecil, saat Huang Mingxiang memegangnya, rasanya seperti ada kumpulan batu gundu kecil. Baili Ruyi juga memberikan satu kantung yang sama pada Yui.
"Apa ini?" tanya Huang Mingxiang.
"Ini adalah bom kecil praktis terbaru buatan perguruan Baili, asli dibuat oleh murid perguruan Baili. Bom ini memiliki ledakan yang cukup kuat untuk membuat gentar musuh, baunya juga tidak sedap. Jika nanti saat bertarung di gunung kita bertemu dengan manusia atau hewan yang celah serangannya sulit ditembus, anda bisa menggunakan ini untuk memukul mundur mereka, setelah itu baru merangsek maju dan membalas serangan. Tapi usahakan anda tidak mencium bau asap dari bom kecil yang berwarna merah, itu ada efek melemahkan otot," jawab Baili Ruyi, menjelaskan semuanya.
"Merah? Apa ada dua warna?" tanya Yui, lalu segera membuka kantung pemberian Baili Ruyi.
Baili Ruyi mengangguk. "Benar, ada dua warna. Merah dan Biru. Warna merah asapnya sangat berbahaya, kita tidak boleh menghirupnya barang sedikit. Sedangkan yang biru hanya menghasilkan ledakan dan bau, asapnya tidak berbahaya."
Huang Mingxiang mengangguk paham. "Terima kasih banyak, Ruyi. Aku mengerti." Dia segera menggantung kantung itu di pinggangnya, lalu kembali menatap puncak gunung Lang Tao dengan keyakinan penuh. "Kalau begitu, ayo. Kita berangkat masuk ke dalam gunung!"
"Ya!" jawab Yui dan Baili Ruyi secara bersamaan.
Lima belas menit kuda mereka berusaha menanjak gunung, tetapi tidak ada bahaya apa pun. Mereka bertiga tidak tahu seperti apa hewan berbahaya yang ada di gunung ini, karena Gu Sinjie tidak menceritakannya sama sekali. Baili Ruyi sebelumnya sempat bertanya mengenai kondisi lokasi gunung dan jenis-jenis hewan berbahaya seperti apa yang ada di gunung Lang Tao, namun pria itu hanya tersenyum dan berkata,"Kau akan mengetahuinya nanti. Sulit dijelaskan, intinya tetaplah berhati-hati dan membantu Wangfei. Jangan terlalu banyak bercanda di sana."
__ADS_1
Huang Mingxiang dan yang segera menghentikan langkah kaki kuda mereka setelah mendengar suara auman beruang besar dari kejauhan. Mendadak angin kencang bercampur salju berhembus kencang, dahan-dahan pohon bergerak, burung-burung yang bertengger di atas pohon pun berterbangan.
Huang Mingxiang, Yui, dan Baili Ruyi segera saling tatap, kemudian mereka sepakat untuk diam di tempat dan menatap penuh waspada ke arah depan.
Huang Mingxiang memegang gagang pedangnya, begitu juga dengan yang lain. Tak lama, sosok beruang mengamuk terlihat. Beruang itu berwarna hitam besar, namun yang membuat ngeri bukan badan besarnya, melainkan matanya yang berwarna merah menyala.
"Beruang macam apa itu?" Baili Ruyi mendesis, raut wajah serius wanita itu mulai muncul.
Sring!
Yui sudah menarik pedangnya keluar, lalu berkata,"Wangfei, anda dan Baili Ruyi bersembunyi di balik pohon. Saya akan menyerang dari depan untuk mengalihkan fokus beruang itu, setelah itu Baili Ruyi muncul dan menyerang dari belakang beruang. Dia akan sibuk dengan kami berdua, dan di kesempatan ini anda bisa menikamnya dari atas. Gunakan Qinggong anda sebaik mungkin, ini bisa menjadi pemanasan untuk anda."
Huang Mingxiang mengangguk, dia dan Baili Ruyi segera mengambil posisi masing-masing. Yui tetap di tempat, turun dari kudanya dan menatap beruang itu tanpa berkedip.
"Kemari." Yui melambaikan tangannya, matanya menatap dingin beruang mengerikan itu.
Beruang itu mengaum lagi, marah. Dia mengira Yui sedang meremehkannya, beruang itu segera berlari cepat dengan tubuh besar gempalnya, mata merahnya melotot marah.
Beruang itu mengaum, Yui mengambil langkah mundur. Saat beruang itu hendak berbalik untuk menyerang Baili Ruyi, dari atas, Huang Mingxiang melayang dan terjun sambil menghunuskan pedangnya lurus.
Krack!
Pedang Huang Mingxiang menancap sempurna di kepala beruang itu, darahnya mengenai kain penutup wajah Huang Mingxiang. Huang Mingxiang mendarat turun menginjak tanah sambil membawa tubuh beruang itu terbangting menghantam tanah.
Huang Mingxiang memejamkan matanya, merasakan cipratan darah kecil milik sang beruang. Kedua mata merah beruang itu mendadak putih, dia mati dengan mata terbuka.
"Jasadnya mengerikan," ucap Yui, mengerutkan keningnya dalam. Ini pertama kali dia melihat hewan mati secara mengenaskan, berbeda dengan manusia. Responnya akan berbeda jika manusia yang seperti ini, Yui lebih terbiasa melihat manusia mati dari pada hewan mati.
"Apa hewan-hewan di sini memiliki masalah yang tidak kita ketahui? Walaupun gunung Lang Tao adalah gunung sakral dan suci, namun bukan berarti hewan yang ada di sini mempunyai mata yang abnormal seperti itu. Apa ada yang mempengaruhi mereka hingga menjadi seperti ini?" ucap Baili Ruyi, dia mengelap pedangnya karena terkena darah saat menyayat punggung beruang itu.
__ADS_1
Huang Mingxiang menggeleng pelan sambil berjalan mengambil pedangnya yang tertancap di kepala beruang. "Tidak ada yang tahu, Ruyi. Lagi pula, apa Tuan Gu tidak menceritakan apa pun padamu?"
Baili Ruyi mendengus. "Pria itu sama sekali tidak mau membagi informasi mengenai kondisi gunung ini sama sekali, seolah ada yang dia tutup-tutupi. Padahal kita perlu informasi itu agar bisa menghindari bahaya"
Huang Mingxiang mengelap pedangnya, tidak menjawab apa pun. Dia merasa aneh diam-diam, mengapa Gu Sinjie tidak mau membagi informasi apa pun? Sebenarnya apa yang ada dan terjadi di gunung ini?
Tidak ingin membuang-buang waktu, mereka bertiga kembali naik ke atas kuda masing-masing dan melanjutkan perjalanan. Semakin mendekati puncak, maka langkah kaki kuda mereka semakin berat. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk berhenti kembali saat telah berhasil berada di tengah gunung.
"Sebaiknya kita meninggalkan kuda di sini, terlalu berat bagi mereka jika terus menanjak ke atas sambil membawa kita." Huang Mingxiang turun dari kuda, lalu mengelus kepala kuda itu. Wajah sang kuda sudah terlihat sangat lelah. Wajar, mereka sudah berpergian dan berlari menjadi tunggangan ratusan kilo meter.
"Saya setuju." Baili Ruyi mengangguk, dia juga tidak ingin memaksakan kudanya. Yui pun mengangguk, dia setuju.
Huang Mingxiang, Yui, dan Baili Ruyi akhirnya melanjutkan perjalanan mereka naik ke atas gunung dengan berjalan kaki. Mereka sengaja tidak mengikat kuda mereka di batang pohon agar jika ada bahaya, kuda mereka bisa berlari untuk melindungi diri. Terlalu kejam jika terus menerus mengikat kuda mereka di tengah salju dingin ini, terlebih ini di gunung Lang Tao, sangat berbahaya.
Ada sekitar satu jam mereka berjalan, tetapi lagi-lagi jalanan gunung sengang. Tidak ada hewan buas atau tanda-tanda bahaya, namun ... saat mereka sedang sibuk dengan pikiran masing-masing, tiba-tiba Huang Mingxiang mendengar suara gesekan salju.
Huang Mingxiang segera berhenti, menahan langkah Yui dan Baili Ruyi.
"Ada apa, Wangfei?" tanya Yui bingung, Baili Ruyi pun mengangguk bingung.
Huang Mingxiang meletakkan jari telunjuknya di atas bibir. "Shhtt ... dengarkan baik-baik."
Yui dan Baili Ruyi otomatis hening, mereka mencoba fokus mencari suara yang dimaksud Huang Mingxiang. Tak berselang lama, pendengaran mereka menyadari bunyi tersebut. Ada suara gesekan di salju, seperti ada makhluk hidup yang merayap atau bergerak di antara salju-salju tebal ini.
Huang Mingxiang mengepalkan kedua tangannya saat melihat ada sesuatu yang bergerak dari bawah tumpukkan salju dan kini menuju arah mereka. Dia segera mengirim sinyal kode untuk Yui dan Baili Ruyi agar melihat apa yang dia lihat.
Saat sesuatu itu bergerak semakin cepat dan ganas mendekat ke arah mereka, Huang Mingxiang, Yui, dan Baili Ruyi segera melompat tinggi ke atas dan bertengger di batang-batang pohon tinggi.
Srak!
__ADS_1
Salju berhamburan ke mana-mana saat sesuatu itu merangsek keluar. Huang Mingxiang merinding, dia tidak pernah melihat hewan seperti ini. Di hadapan mereka bertiga kini ada ular hitam besar yang memiliki dua kepala. Mata ular itu merah, seperti beruang tadi. Ular itu terus mendesis marah, membuat Huang Mingxiang dan yang lain ragu untuk menyerang.
"Wangfei, hati-hati. Kemungkinan dia adalah ular yang memiliki racun. Air liurnya bisa saja sangat berbahaya," seru Baili Ruyi, memberi peringatan. Dia kembali menarik pedangnya, menatap tajam ular berkepala dua tersebut.