Istri Kesayangan Xiao Wangye

Istri Kesayangan Xiao Wangye
Bab 100. Perang Sesungguhnya Akan Segera Dimulai


__ADS_3

Kabar mengenai kehamilan Huang Mingxiang menyebar ke seluruh penjuru Kekaisaran. Baik bangsawan kelas tinggi hingga rakyat biasa, mereka semua mengetahui kabar ini.


Sekarang, Huang Mingxiang tengah berdiri menatap Xiao Muqing yang sudah mengenakan baju zirah. Persis di depan gerbang masuk Ibu Kota, di belakang Xiao Muqing sudah berdiri ratusan ribu pasukan. Wajah mereka semua tidak ada yang tersenyum, semuanya terlihat sangat serius. Terdengar banyak sekali suara tangis dari dalam ibu kota, di belakang Huang Mingxiang. Mereka yang menangis adalah keluarga atau kerabat prajurit-prajurit yang akan melakukan tugas di perbatasan.


"Satu tahun, Mingxiang. Benwang berjanji." Xiao Muqing memeluk Huang Mingxiang, matanya terpejam erat, tangannya mengelus lembut kepala Huang Mingxiang.


Huang Mingxiang membalas pelukan Xiao Muqing, bulir air mata mulai muncul di ujung mata wanita itu. "Baik, saya akan selalu menunggumu kembali."


Lima langkah di belakang Huang Mingxiang, berdiri seluruh anggota inti keluarga Kekaisaran, termasuk Rong Xuan. Para pejabat Kekaisaran juga berbaris rapi di belakang Xiao Jihuang, mereka turut mengantar kepergian Xiao Muqing dan ratusan ribu pasukannya.


Xiao Muqing melepas pelukannya, mencium kening Huang Mingxiang, lalu berlutut di hadapan Huang Mingxiang untuk mencium lama perut Huang Mingxiang yang masih datar.


"Aku dan dia akan selalu menunggu anda, Wangye. Tidak peduli kekalahan atau kemenangan, itu tidak akan mengubah fakta bahwa dia memiliki ayah yang sangat hebat." Huang Mingxiang mengelus kepala Xiao Muqing lembut.


Xiao Muqing tersenyum, lalu kembali berdiri. Seluruh adegan yang kini dia lakukan disaksikan oleh banyak orang. Di detik terakhir kebersamaannya dengan Huang Mingxiang, Xiao Muqing sudah tidak peduli lagi dengan pandangan orang-orang. Dia mencium kening dan memeluk istrinya tanpa sungkan atau malu, membuat seluruh orang yang menyaksikan ini benar-benar merasa bahwa Xiao Muqing sudah sangat berubah. Tidak ada lagi Xiao Muqing yang dingin tak tersentuh, yang mereka lihat kini hanya Xiao Muqing berhati hangat dan bertekuk lutut mencium perut istri kesayangannya.


Xiao Muqing kembali berdiri, mengelus pipi Huang Mingxiang sekali lagi sambil menyunggingkan senyum tipis. Tak lama, dari belakang Huang Mingxiang muncul Chen Taifei Agung yang berjalan mendekat dengan raut wajah ragu dan khawatir.


"Qing'er ...."


Xiao Muqing menggeser tatapannya, dia perlahan melepas sentuhannya dari pipi Huang Mingxiang dan beranjak berlutut ke arah Chen Taifei Agung. Ini adalah berlutut dan pemberian hormat pertamanya untuk Chen Taifei Agung, sejak mendengar perbincangan Huang Mingxiang dan Chen Taifei Agung beberapa waktu lalu, hati Xiao Muqing mulai tergerak. Dia menyingkirkan seluruh kebenciannya untuk Chen Taifei Agung, kini hanya ada rasa bersalah karena kesalahpahaman tersebut.


Chen Taifei Agung tertegun, ini ... Putranya berlutut padanya? Putranya memberi hormat padanya? Ini di luar dugaannya, dia pikir Xiao Muqing sama sekali tidak akan meliriknya seperti biasa. Belakangan ini memang sikap Xiao Muqing sedikit menunjukkan perhatian padanya, namun hari ini dia tidak menyangka bahwa Xiao Muqing akan berlutut padanya.

__ADS_1


"Mufei, saya izin pamit untuk membela Kekaisaran di perbatasan." Nada dingin dan tegas Xiao Muqing terdengar, membuat Chen Taifei Agung meremas hanfu-nya kencang. Kedua mata wanita itu segera mengeluarkan air mata, dengan cepat dia mendekat tanpa ragu ke arah Xiao Muqing dan menyentuh kedua bahu putranya.


"Berdiri, Qing'er ... berdiri, nak." Chen Taifei Agung menatap wajah dingin putranya, ada siluet kehangatan dari tatapan Xiao Muqing. Raut wajah dan tatapannya sudah mulai mencair, tidak sekeras saat awal-awal kedatangannya ke Xiao Wangfu.


Rong Tagu yang melihat ini terkejut, dia tidak menyangka bahwa Xiao Muqing akan berlutut ke arah Chen Taifei Agung ibunya yang sudah banyak orang ketahui, bahwa hubungan mereka telah rusak. Tatapan mata Rong Tagu mendingin, dia tidak melakukan apa pun saat ini, hanya menonton menggunakan mata tajam.


Chen Taifei Agung segera memeluk Xiao Muqing, lalu pria itu membalas pelukan ibunya dengan ragu. Huang Mingxiang tersenyum melihat ini, dia sendiripun tidak menyangka bahwa Xiao Muqing benar-benar melembutkan hatinya untuk Chen Taifei Agung.


"Mufei, tolong jaga diri anda di Ibu Kota. Saya harap Mufei dan Mingxiang akan saling mendukung dan menguatkan, apa pun yang terjadi." Xiao Muqing berbisik pelan di telinga Chen Taifei Agung, lalu tangan kanannya membentang ke arah Huang Mingxiang. Huang Mingxiang yang melihat ini tersenyum semakin dalam, lalu mendekat ke arah mereka dan ikut berpelukan. Kini di pelukan Xiao Muqing ada dua wanita yang sangat dia cintai. Ibunya dan istrinya, Huang Mingxiang.


"Tentu, Qing'er. Mufei dan Mingxiang sudah seperti ibu dan anak kandung, kamu tidak perlu khawatir. Kita berdua akan baik-baik saja di Ibu Kota," ucap Chen Taifei Agung, dia kemudian ikut memeluk Huang Mingxiang.


Pelukan mereka tak lama kemudian selesai, lalu untuk terakhir kalinya Xiao Muqing kembali memeluk Huang Mingxiang lagi. Hal ini membuat mereka yang menonton semakin terenyuh, sebegitu berat kah hati seorang Xiao Wangye yang terkenal dingin meninggalkan istri kesayangannya?


"Gunakan ini setelah semuanya berjalan. Ini akan menjadi senjata utama untukmu melawan Huanghou, Xiang'er," bisik Xiao Muqing, membuat Huang Mingxiang terpaku di posisinya. Dia terpaku karena dua hal, pertama karena Xiao Muqing berkata bahwa apa yang dia pegang ini adalah 'senjata utama' dan yang kedua karena pria itu memanggilnya Xiang'er untuk pertama kali.


Xiao Muqing melepas pelukannya, matanya menatap mantap Huang Mingxiang. Pria itu mengangguk singkat untuk meneguhkan keyakinan di kedua hati mereka. Huang Mingxiang mengintip sebentar ke logam tersebut, matanya sedikit terbelalak saat mengetahui bahwa itu adalah Plakat Kekaisaran. Huang Mingxiang menoleh sekilas ke belakang untuk melihat Xiao Muqing, pria itu tersenyum tipis penuh arti ke arahnya, lalu Huang Mingxiang kembali menatap Xiao Muqing.


Melihat ini, Huang Mingxiang yakin bahwa Xiao Jihuang dan Xiao Muqing sudah diam-diam bersatu untuk bergabung di dalam pertarungan ini.


Xiao Muqing mengelus pipi Huang Mingxiang sekali lagi. "Semuanya sudah diatur, Xiang'er. Kamu hanya harus bertindak berani dan penuh keyakinan, serta jangan pernah ragu dan menyerah. Seluruh alur ceritanya sudah benwang dan Kaisar atur, kamu hanya perlu berusaha bertahan sampai akhir. Mengerti?"


Huang Mingxiang tersenyum, lalu menimpa lembut tangan Xiao Muqing yang mengelus pipi kirinya. Wanita itu mengangguk mantap, matanya menatap Xiao Muqing penuh dengan keyakinan. "Saya sudah pernah melewati kematian dan menerjang gunung Lang Tao. Anda tidak perlu khawatir, Wangye. Saya berjanji akan mempertahankan kehormatan Xiao Wangfu untuk kita berdua."

__ADS_1


"Bahkan jika Xiao Wangfu hancur, kamu harus selamat. Kamu tidak boleh hancur, Mingxiang. Benwang tidak pernah menghendaki hal seperti itu." Xiao Muqing menatap Huang Mingxiang tegas, membuat wanita itu tersenyum semakin dalam dan mengangguk pelan.


Xiao Muqing melepas sentuhannya, lalu berjalan mundur sepuluh langkah. Pria itu kemudian membungkuk ke arah seluruh anggota keluarga kerajaan, ini bukan keinginannya, namun memang sudah tradisi dan aturan yang harus dilaksanakan, yaitu saling memberikan penghormatan. Karena kita tidak tahu kapan penghormatan terakhir tiba.


Setelah Xiao Muqing dan ratusan ribu pasukan lainnya berlutut, kini seluruh orang yang menonton, termasuk pejabat dan keluarga Kekaisaran lainnya balas berlutut. Kecuali Xiao Jihuang, Rong Xuan, Huangtaihou, Chen Taifei Agung. Mereka semua hanya membungkuk untuk membalas penghormatan Xiao Muqing dan prajurit lainnya.


Setelah selesai, Xiao Muqing berdiri dan naik ke atas kudanya. Angin berhembus cukup kencang, membuat jubah dengan logo Xiao Wangfu yang Xiao Muqing kenakan bergerak elegan.


Bendera lambang Kekaisaran dan Xiao Wangfu mulai dikibarkan dengan tombak tinggi, detik ini juga pasukan sudah siap berangkat.


Xiao Muqing menoleh sejenak ke arah Huang Mingxiang sebelum akhirnya pria itu benar-benar bergerak maju menuju barisan paling depan untuk memimpin rombongan pasukan menuju perbatasan.


Huang Mingxiang menatap hampa dan dingin sosok Xiao Muqing yang pergi menjauh darinya menuju perbatasan, hatinya saat ini benar-benar seperti diremas. Di kehidupan sebelumnya, takdir telah merenggut dirinya sendiri, namun di kehidupan saat ini, takdir hendak merebut sosok yang dia sayang.


Huang Mingxiang meremas keras plakat emas Kekaisaran diam-diam dari dalam lengan hanfu-nya yang panjang, kemudian berbalik dan langsung menatap Rong Xuan. Tatapan penuh kasih dan hangat Huang Mingxiang menghilang, kini hanya tatapan dingin dan aura seperti hasrat ingin membunuh yang kuat.


Rong Xuan menyadari tatapan Huang Mingxiang, wanita itupun tersenyum. Matanya melempar kebencian yang besar ke arah Huang Mingxiang, dia sudah menyiapkan segalanya untuk mengupas habis kulit Huang Mingxiang hingga membuat wanita itu berlutut selagi Xiao Muqing tidak ada di Ibu Kota.


Baili Ruyi, wanita itu berdiri tidak jauh dari Huang Mingxiang. Wanita itu masih terpaku pada posisinya, matanya menatap dingin dan penuh kesepian ke arah para tentara yang perlahan menjauh dari lokasi mereka sebelumnya. Mata Baili Ruyi fokus ke arah sosok pria dengan jubah ungu dan baju Zirah berwarna perak. Gu Sinjie, sosok itu adalah Gu Sinjie.


Baili Ruyi menggenggam erat liontin kalung pemberian Gu Sinjie yang pernah diberikan pria itu sebelum dia terjun ke dalam lembah untuk memburu Tao Tie. Kalung itu tidak sungguh-sungguh hilang dimakan Tao Tie, dia menyimpannya dengan sangat baik. Baili Ruyi sangat menyayangi dan menjaga kalung ini sangat baik lebih dari yang dipikirkan siapapun.


Hari ini, ada banyak sekali orang selain Baili Ruyi dan Huang Mingxiang yang merasa kehilangan karena kepergian kekasih mereka ke perbatasan. Hari ini, baik di dalam Ibu Kota maupun luar Ibu Kota, perang sesungguhnya akan benar-benar dimulai. Perang yang akan menentukan siapa sosok yang akan berkuasa dan berhasil menjadi pemenang. Perang yang akan menentukan senyuman dan takdir jutaan manusia Kekaisaran Timur.

__ADS_1


__ADS_2