Istri Kesayangan Xiao Wangye

Istri Kesayangan Xiao Wangye
Bab 93. Terus Menggigit


__ADS_3

Yui menenteng dua kantung besar bakpao hangat, bibirnya tersenyum lebar. Dia senang, karena akhirnya bisa bersantai dan pasar malam meriah Ibu Kota.


"Pencuri! Aiya! Pencuri!!" Suara teriakan seorang wanita tua terdengar, membuat Yui spontan menoleh dan mencari asal sumber suara tersebut.


Yui berlari menghampiri wanita tua yang sudah menangis pasrah tersebut. "Nenek, ke arah mana pencurinya pergi?" tanya Yui.


"Ke sana! Lurus ke sana! Aiya, nona! Dompet itu berisi pemberian dari cucukku!" Nenek tua itu menangis, tangannya menyentuh lengan Yui yang masih menggendong dua kantung besar bakpao hangat.


Yui segera meletakkan bakpao-nya di atas meja salah satu penjual di sana sembarangan, lalu berkata,"Tuan, saya titip ini." Lalu kepalanya menoleh ke arah nenek tua tersebut. "Nenek, anda tidak perlu cemas. Saya akan kembali dalam tiga menit."


Yui segera berlari cepat, matanya cekatan memperhatikan orang-orang di pasar. Begitu matanya melihat seorang pria yang berlari masuk ke dalam gang sempit, dia segera menyusul pria itu.


Berdiri di depan gang, lalu naik ke atas atap-atap kedai. Tangan kanan Yui bergerak lincah untuk mengambil belati yang tersimpan di dalam sakunya, saat sedang membidik, tiba-tiba pria itu tumbang. Di belakangnya muncul pria dengan pakaian berwarna ungu gelap, pandangan matanya dingin.


Yui mengerutkan keningnya, lalu saat dia masih kebingungan, tiba-tiba mata pria itu tertuju ke arahnya. Yui membelalakkan matanya terkejut, dalam sekejap mata, pria itu tiba-tiba berdiri di hadapannya.


"Ini." Pria itu menyodorkan dompet milik nenek tua kepada Yui.


Yui dengan ragu mengambil dompet itu, lalu menatap tajam pria tersebut. "Siapa kau?"


Pria itu tersenyum tipis. "Sepertinya bela diri Nona sangat luar biasa, saya harap kita bisa bertemu lagi di lain waktu."


"Aku bertanya. Siapa ... kamu?" tanya Yui, dia kesal karena pria itu tidak menjawab pertanyaannya dengan benar.


Pria itu melirik ke arah tanda lahir kecil berbentuk bunga teratai yang ada di leher Yui, hanya ada sedikit orang yang mengetahui tentang tanda lahir tersebut. "Ah ... putri dari dinasti sebelumnya, ya? Ternyata ... kamu, Xue Yuilean."


Yui membelalakkan matanya, Xue Yuilean ... pria itu mengetahui nama aslinya. Saat Yui belum sempat merespon, tiba-tiba pria itu melesat pergi dan menghilang begitu saja. Yui meremas dompet nenek tua itu, matanya menatap tajam ke arah mana pria itu pergi.


"Berengsek, siapa dia?" umpat Yui, dia kesal setiap kali ada orang yang mengetahui latar belakang aslinya.

__ADS_1


Yui dengan cepat berbalik dan menemui nenek tua tadi, lalu segera memberikan dompet tersebut. Nenek itu berterima kasih, membuat Yui tersenyum dan mengangguk.


Yui kembali menggendong dua bungkus besar bakpao-nya, lalu buru-buru berjalan menuju kedai manisan. Saat hendak masuk, dia langsung membungkuk dalam ketika melihat Xiao Muqing dan Huang Mingxiang sudah berjalan keluar dari kedai, tentu saja Huang Mingxiang masih didorong oleh kursi roda.


"Dari mana saja kamu, Yui? Aku dan Gu Sinjie menunggumu lama sekali!" tanya Baili Ruyi, karena dia harus berduaan dengan Gu Sinjie sangat lama. Saat ini Gu Sinjie sedang tidak bersama mereka, karena pria itu tiba-tiba pergi dan belum kembali.


Yui membungkuk. "Maafkan saya! Tadi ... saya harus mengejar pencuri dompet seorang nenek tua." Yui menghembuskan napasnya diam-diam.


Huang Mingxiang tersenyum. "Tidak apa-apa, Yui. Ayo, kita kembali. Kita nikmati bakpao yang kamu borong itu bersama-sama di Xiao Wangfu."


Yui kembali tersenyum, Baili Ruyi pun mulai sadar dengan dua kantung besar bakpao yang Yui beli. "Astaga! Banyak sekali!" Kedua mata Baili Ruyi berbinar.


Saya mereka sedang menuju kereta kuda, tiba-tiba Gu Sinjie muncul. "Wangye." Kedatangannya membuat mereka berhenti berjalan dan menatap Gu Sinjie.


Gu Sinjie mengedipkan kedua matanya dua kali, ini adalah sinyal bahwa ada pesan penting yang harus disampaikan oleh Xiao Muqing. Xiao Muqing menangkap kode Gu Sinjie, lalu melirik ke arah Huang Mingxiang yang sedang sibuk menikmati kembang api yang masih meledak di atas langit.


Xiao Muqing menggeleng pelan, lalu melirik Huang Mingxiang untuk memberikan kode kepada Gu Sinjie. Gu Sinjie mengerti, kepalanya mengangguk. Xiao Muqing tidak ingin merusak momennya dengan Huang Mingxiang, karena dia tidak tahu kabar penting yang ingin disampaikan oleh Gu Sinjie adalah baik atau buruk.


"Wangye, ayo kita kembali." Huang Mingxiang tiba-tiba menoleh ke arah Xiao Muqing, membuat pria itu buru-buru menghilangkan raut wajah seriusnya. Tetapi sayang, mata Huang Mingxiang tajam dan cekatan. Dia menyadari raut wajah itu, namun tidak bertanya. Huang Mingxiang diam, seolah tidak melihat apa-apa.


Xiao Muqing mengangguk. "Tentu, ayo." Pria itu kembali mendorong kursi roda Huang Mingxiang, mereka pun segera kembali masuk ke dalam kereta kuda. Kereta kuda itu perlahan berjalan menjauhi kedai manisan tersebut.


Saat mereka sudah tiba di Xiao Wangfu, Xiao Muqing mengembalikkan keadaannya seperti semula. Baju mereka kembali seperti semula dan bentuk serta hiasan kereta Xiao Wangfu juga kembali normal.


Xiao Muqing menatap wajah Huang Mingxiang yang sudah terlelap tidur, sepertinya karena efek obat tabib, dia jadi lebih mudah mengantuk dan terlelap. Xiao Muqing enggan membangunkannya, karena sekarang dia sudah bisa berjalan dengan kedua kakinya, dia segera menggendong Huang Mingxiang turun dari kereta kuda secara pribadi, tidak lagi seperti dulu.


Yui dan Baili Ruyi sedikit terkejut karena tiba-tiba Xiao Muqing menggendong Huang Mingxiang turun dari kereta, mereka mengira terjadi sesuatu dengan Huang Mingxiang, namun ternyata hanya tertidur di dalam kereta.


"Taruh seluruh manisan yang Wangfei beli di gudang makanan," ucap Xiao Muqing, lalu berjalan masuk ke dalam Xiao Wangfu menuju kediamannya.

__ADS_1


Xiao Muqing meletakkan Huang Mingxiang dengan hati-hati di atas kasur, lalu melepas sepatu wanita itu perlahan. Xiao Muqing kembali berjalan keluar kamar, Gu Sinjie sudah menunggu di sana.


"Apa yang terjadi?" tanya Xiao Muqing, matanya menatap dingin raut wajah gelisah Gu Sinjie.


"Jenderal Qin terluka parah saat melawan pasukan penyergapan Kerajaan Huan Tenggara. Wangye, saya khawatir pihak Istana akan memanfaatkan kabar ini untuk memaksa anda pergi ke perbatasan," ucap Gu Sinjie, tatapan matanya serius.


Xiao Muqing mengangguk singkat. "Entah cepat atau lambat, peperangan pasti akan terjadi. Mereka tidak akan pernah berhenti menggigit sampai benwang sendiri yang turun ke Medan perang secara langsung. Gu Sinjie ...." Xiao Muqing melirik Gu Sinjie dingin.


"Sepertinya tidak ada cara lain selain menanggapi mereka," sambung Xiao Muqing.


Gu Sinjie mengepalkan kedua tangannya erat. "Tetapi anda baru saja--!"


"Sebelum koyakan gigitan mereka semakin melebar, lebih baik kita tanggapi dan seret ke pertempuran sesungguhnya. Dekrit perang mungkin akan muncul beberapa hari lagi, persiapkan pasukan untuk membantu pasukan perbatasan. Lalu ... sisakan seribu pasukan untuk menjaga Xiao Wangfei." Kedua mata Xiao Muqing diam-diam melirik ke arah pintu kamarnya, lalu kembali menatap Gu Sinjie.


Gu Sinjie mengangguk, hatinya berat mendengar ini, namun dia tidak bisa membantah. Gu Sinjie pun akhirnya membungkuk. "Baik, Wangye. Kalau begitu ... saya pamit undur diri, selamat beristirahat."


Setelah Gu Sinjie pergi, Xiao Muqing segera masuk ke dalam kamar. Detak jantungnya sempat berhenti berdetak beberapa saat ketika melihat Huang Mingxiang sudah duduk di atas ranjang dengan mata terbuka dan raut wajah dingin.


Huang Mingxiang melirik ke arah Xiao Muqing. "Jadi peperangan itu akan benar-benar terjadi, ya?"


Xiao Muqing merilekskan hatinya, lalu berjalan ke arah ranjang mereka dan duduk di samping Huang Mingxiang. "Apa saja yang sudah kamu dengar?" Nada bertanya Xiao Muqing dingin.


Huang Mingxiang tidak takut lagi seperti dulu, dia segera menatap Xiao Muqing sama dinginnya. "Semuanya."


Xiao Muqing mengangguk singkat, menghela napas tipis dan menarik Huang Mingxiang ke dalam pelukannya. "Dekrit peperangan itu masih sebuah perkiraan, belum pasti kapan akan turun."


Huang Mingxiang tidak menjawab banyak, dia hanya mengangguk, kemudian melirik dingin ke arah kotak merah kecil berbentuk persegi panjang pemberian Rong Wangxia. Di dalam kotak itu berisi catatan gelap dan bukti-bukti aksi kriminal yang dilakukan oleh Rong Tagu selama menjabat sebagai Perdana Menteri. Huang Mingxiang diam-diam sudah membukanya saat Xiao Muqing sedang sibuk berbincang dengan Gu Sinjie di luar barusan.


Huang Mingxiang mendongak untuk menatap Xiao Muqing, lalu berkata,"Wangye, apa anda bisa berjanji untuk kembali dengan selamat?"

__ADS_1


Xiao Muqing mengangguk. "Tentu, aku bersumpah."


Huang Mingxiang tersenyum tipis. "Kalau begitu, aku ingin mengajukan sesuatu kepadamu."


__ADS_2