Istri Kesayangan Xiao Wangye

Istri Kesayangan Xiao Wangye
Bab 110. BonChap: Rong Xuan 3


__ADS_3

Keesokan harinya, Rong Xuan sudah membantu Xiao Jihuang dan mengurus pria itu. Saat ini dia tengah menemani Xiao Jihuang duduk di kasur sambil membaca berkas-berkas pekerjaan miliknya. Rong Xuan duduk di kursi yang semalam dia tarik, tangan wanita itu sedang menyulam sapu tangan dengan nama suaminya.


Ketika sedang asyik menyulam, tiba-tiba pengumuman mengenai kedatangan Huanghou tiba. Begitu berdiri dan menoleh, dia tidak hanya melihat Huanghou, namun juga Huang Mingxiang. Wanita itu ... datang menjenguk Xiao Jihuang.


Rong Xuan membungkuk ke arah Huanghou, lalu berdiri, setelah itu disusul Huang Mingxiang yang membungkuk ke arah Rong Xuan. Rong Xuan tersenyum dan mengangguk.


"Yang mulia, bagaimana kabar anda?" Suara Huang Mingxiang terdengar, Rong Xuan segera melirik ke arah Xiao Jihuang untuk melihat ekspresi pria itu.


Xiao Jihuang terlihat biasa saja, namun mata pria itu tidak bisa berbohong. Kedua mata Xiao Jihuang menatap dalam ke arah Huang Mingxiang, seolah tatapan lembutnya semalam tidak pernah ada dan hanya ada untuk Huang Mingxiang.


Rong Xuan menahan rasa sakit dan cemburunya, dia diam. Memperhatikan interaksi mereka. Xiao Jihuang, Huang Mingxiang, Huanghou, mereka semua berbincang-bincang hangat. Rong Xuan seketika merasa seperti orang asing yang tersingkirkan, wanita itu hanya diam di belakang mereka.


Rong Xuan menarik napasnya dalam, lalu bergegas berjalan keluar. Sepertinya memang dia tidak diharapkan bergabung, lagi pula memang mereka sudah bersama-sama sejak dulu, bukan?


Rong Xuan juga tidak ingin merusak suasana hangat mereka karena kehadirannya, jadi lebih baik dia keluar. Lagi pula berada di sana hanya akan membuat hatinya semakin sakit, dia akan melihat interaksi-interaksi antara Xiao Jihuang dan Huang Mingxiang yang tidak perlu.


"Yang mulia, mengapa anda harus keluar? Anda adalah Putri Mahkota-nya!" Pelayan pribadi Rong Xuan tidak terima, dia tahu mengenai masalah dan perasaan hati majikannya. Melihat Rong Xuan saat ini mundur dan membiarkan Huang Mingxiang serta Huanghou mengambil alih kondisi, wanita itu tidak terima.


Rong Xuan tersenyum tipis. "Apa maksudmu? Aku hanya ingin berjalan-jalan di luar. Ah ... bagaimana jika kita melihat--"


"Yang mulia." Suara Tuan Ming terdengar, membuat Rong Xuan yang baru saja hendak keluar dari gerbang Istana kediaman Putra Mahkota berhenti.


"Iya, Tuan Ming?" tanya Rong Xuan bingung.


"Yang mulia memanggil anda untuk kembali," jawab Tuan Ming, bibir pria itu tersenyum.


Rong Xuan sedikit bingung, mengapa pria itu memanggilnya lagi? Bukankah ini adalah momen yang tepat untuk menikmati waktu 'keluarga' bersama Huang Mingxiang tanpa ada kehadiran dirinya?


Tidak banyak bertanya, Rong Xuan segera mengangguk dan berjalan kembali ke dalam. Sesampainya di dalam, Xiao Jihuang tersenyum ke arahnya, membuat Huang Mingxiang dan Huanghou menoleh. Raut wajah Huanghou nampak tidak begitu senang ketika menyadari Rong Xuan kembali, sedangkan Huang Mingxiang hanya tersenyum tipis dan biasa saja.


"Ke mana kamu akan pergi? Bukankah saat ini kamu harus membantuku untuk meminum obat?" tanya Xiao Jihuang, lalu tangan kanan pria itu melambai, memberikan instruksi agar Rong Xuan mendekat ke arahnya.


"Obat? Jika hanya itu tidak perlu sampai membuat repot Putri Mahkota, karena Mingxiang bisa membantu kamu, nak." Huanghou kembali tersenyum lalu melirik ke arah Huang Mingxiang.


Raut wajah Huang Mingxiang terlihat tidak nyaman saat Huanghou mengatakan hal itu, lalu matanya menatap Rong Xuan dengan tidak enak.


Rong Xuan tersenyum membalas tatapan Huang Mingxiang, wanita itu sama sekali tidak menunjukkan perasaan tidak suka atau cemburunya kepada Huang Mingxiang. Dia masih mampu bersabar.


"Tidak perlu, itu memang sudah menjadi tugas utama Putri Mahkota. Wanita itu berjanji akan merawat saya sangat baik, Muhou. Jadi dia tidak boleh lepas dari janjinya begitu saja," jawab Xiao Jihuang, lalu tertawa. Pria itu kemudian mengambil mangkuk obat dari pelayan yang mengantar obat ke kamarnya, lalu menyodorkannya ke arah Rong Xuan.

__ADS_1


Rong Xuan dengan ragu berjalan mendekat, lalu mengambil mangkuk obat tersebut dan duduk di tepi ranjang Xiao Jihuang.


Huanghou terlihat sangat tidak senang, wanita itu segera berdiri dan berkata,"Kalau begitu kamu harus banyak beristirahat, Muhou tidak akan mengganggu lagi karena kebetulan sebelumnya ada panggilan Kaisar. Ayo, Mingxiang." Huanghou merasa kesal karena Xiao Jihuang menolak usulannya mengenai Huang Mingxiang barusan.


Huang Mingxiang membungkuk ke arah Xiao Jihuang dan Rong Xuan sebelum akhirnya benar-benar mengikuti Huanghou dari belakang.


Xiao Jihuang masih terus tersenyum, sampai akhirnya ibu dan Huang Mingxiang benar-benar hilang dari ambang pintunya, senyum pria itu menghilang. Ada perasaan berat dan sakit di hatinya ketika melihat Huang Mingxiang, apa lagi jika ibunya sudah bertindak seenaknya.


Xiao Jihuang kembali menoleh ke arah Rong Xuan, bibirnya kembali tersenyum. Senyum pria itu seolah mengatakan,"Baik-baik saja, kamu tidak perlu seperti tadi. Kamu adalah istriku."


Hari-hari berjalan begitu saja, tidak ada perubahan sama sekali di Istana. Bahkan setelah Xiao Jihuang sembuh total, Rong Xuan masih sering merasakan sakit hati walaupun pria itu terus-menerus memberikan dukungan tersirat kepadanya.


Huanghou yang tidak henti-hentinya melawan dan membandingkannya dengan Huang Mingxiang benar-benar membuatnya muak. Setiap malam Rong Xuan hanya akan menghabiskan waktunya dengan menangis, bukan beristirahat tenang. Wanita itu mengalami penurunan berat badan bertahap karena stres berat serta tekanan besar yang dia hadapi di Istana. Dia sudah tiga kali terkena hukuman cambuk Huanghou karena melakukan kesalahan. Baiklah, dia tahu itu salahnya. Tetapi ... haruskah tetap membawa nama Huang Mingxiang lalu membandingkan dirinya? Dia benar-benar lelah. Dia sudah berusaha belajar dan memperbaiki semuanya, namun harus tetap kalah karena nama Huang Mingxiang.


Seperti hari ini, dia sedang dihukum di dalam altar leluhur untuk merenung selama satu Minggu tanpa makanan, hanya air putih. Dia dihukum karena dituduh mendorong Huang Mingxiang ke dalam kolam teratai, padahal jelas justru dialah yang hendak menolong Huang Mingxiang. Setiap kali mengingat kejadian itu, Rong Xuan benar-benar merasa sakit hati. Karena tidak hanya Huanghou yang menghakiminya, namun Xiao Jihuang yang biasanya memberikan ketenangan untuknya ikut serta menunjuk salah dirinya.


"Tidak, Niangniang! Aku bersumpah! Bukan aku yang mendorong Huang Junzhu! Aku justru yang hendak membantu Huang Junzhu!!" Rong Xuan berlutut, menangis. Di belakangnya sudah ada dua pelayan senior wanita yang memaksa tubuhnya untuk membungkuk ke arah Huanghou, karena sejak awal wanita itu melawan untuk tidak membungkuk dan mengaku salah, karena memang bukan dirinya yang salah! Di kejadian ini, Rong Xuan benar-benar kehilangan wajahnya sebagai Putri Mahkota!


"Yang mulia! Yang mulia! Tolong percaya padaku!" Rong Xuan menoleh cepat ke arah Xiao Jihuang, menatap suaminya dengan penuh permohonan. Tetapi yang ditatap justru hanya membuang muka dan memasang wajah marah.


"Putri Mahkota, kamu dihukum berlutut dan merenung di altar leluhur selama satu bulan penuh! Kamu benar-benar sering mengecewakanku!" ucap Huanghou, menurunkan hukuman untuk Rong Xuan. Setelah itu Rong Xuan segera diseret menuju altar leluhur.


Rong Xuan saat ini hanya duduk di depan tugu-tugu kecil. Pakaiannya putih polos, wanita itu hanya menyanggul simpel rambutnya dengan tusuk rambut giok berwarna putih. Wajahnya polos dan terlihat lemas, dia tidak merias dirinya sama sekali.


Hari ini adalah hari ke dua puluh tujuh dia berada di altar leluhur. Setiap hari hanya merenung dan beroda, walaupun begitu malam tiba Rong Xuan seperti biasa menghabiskan waktunya untuk menangis karena tidak kuat menahan beban berat hidup di Istana.


Ketika Rong Xuan sibuk merenung, tiba-tiba pintu ruangan altar leluhur luas milik Istana terbuka, menampilkan sebuah pelayan senior laki-laki dengan pakaian serba putih berjalan masuk menghampirinya.


"Yang mulia, saatnya keluar. Hukuman anda sudah dicabut, karena hari ini ... yang mulia Kaisar meninggal dunia."


Deg!


Rong Xuan membelalakkan matanya. Kaisar meninggal dunia? Cepat sekali! Dia belum genap satu tahun menjadi Putri Mahkota, baru sebelas bulan setengah, namun Kaisar sudah pergi?!


Rong Xuan segera berdiri, lalu berlari cepat keluar dari altar leluhur. Di luar, wanita itu berhenti sejenak. Salju, salju turun. Ini adalah salju akhir tahun pertama tahun ini.


"Yang mulia ...." Pelayan pribadi Rong Xuan mendekat, lalu memakaikan mantel tebal untuk majikannya.


Rong Xuan tersenyum, lalu berjalan keluar dari gerbang altar leluhur. Di depan, sebuah tandu putih sudah menunggunya. Rong Xuan segera naik ke atas tandu, lalu tandu tersebut bergegas bergerak cepat menuju Istana duka.

__ADS_1


Sesampainya di Istana Duka, Rong Xuan bergegas turun dan berjalan masuk ke dalam. Di sana sudah sepi, hanya ada Huangtaihou dan ... Huang Mingxiang. Sepertinya Xiao Jihuang masih berada di luar Istana Duka untuk mengurus sesuatu.


Suara tangis pilu Huanghou terdengar jelas, lalu tak lama wanita itu berkata,"Jika saja kamu adalah Putri Mahkota-nya, maka pasti Kaisar akan pergi dengan tenang. Kaisar selalu keras kepala menolak usulanku dan tetap memilih wanita itu!" Huanghou mengatakan itu sambil menatap Huang Mingxiang dan mengelus lembut pipi Huang Mingxiang.


Rong Xuan menghentikan langkahnya, menatap mereka berdua yang duduk memunggunginya menghadap peti mati putih milik Kaisar.


Huang Mingxiang terlihat memeluk lebih erat Huanghou dan menjawab,"Bibi, anda tidak boleh berbicara seperti itu. Mingxiang yakin, mendiang Kaisar memiliki rencana lain yang sangat baik."


Rong Xuan menundukkan kepalanya, mengepalkan kedua tangannya. Dia tahu kalimat yang diucapkan oleh Huang Mingxiang sama sekali tidak ada undur kebencian atau merendahkannya, namun ... hati Rong Xuan sudah benar-benar marah dan sakit sekarang. Ledakan emosinya muncul saat kejadian kolam beberapa waktu lalu.


"Yang mulia ...." Suara Rong Tagu, ayahnya terdengar. Hal ini membuat Rong Xuan, Huang Mingxiang, dan Huanghou menoleh.


"Ayah?" tanya Rong Xuan, dia terkejut karena tiba-tiba melihat ayahnya muncul. Kemudian mata wanita itu kembali menatap Huanghou dan membungkuk.


Huanghou berdiri, dibantu oleh Huang Mingxiang, setelah itu dia berjalan pelan keluar dari ruang duka melewati Rong Xuan tanpa menyapa menantunya. Tangannya sibuk menghapus air mata menggunakan sapu tangan.


Rong Xuan diam, matanya hanya menatap dingin Huanghou. Wanita itu kemudian menarik napas dan menghembuskannya, setelah itu melanjutkan langkahnya menuju peti mati Kaisar.


Rong Xuan berlutut di hadapan peti mati Kaisar dalam sebanyak tiga kali, kemudian berdoa dan berbicara sendiri di dalam hati mengenai harapannya kepada mendiang Kaisar dengan mata terpejam. Saat Rong Xuan kembali membuka matanya, dia segera mengambil kertas dupa dan membakarnya. Matanya menatap kosong ke arah peti mati Kaisar.


Di belakang, Rong Tagu tiba-tiba bertanya,"Sejak kapan putriku menjadi sekurus ini?"


Rong Xuan menoleh, lalu dia tersenyum. "Benarkah? Rong Xuan tidak merasa begitu ...."


"Apa kamu bahagia, nak?" tanya Rong Tagu lagi, membuat senyum Rong Xuan hilang. Kedua matanya menatap ayahnya kosong, ada jeda hening sekitar lima detik, kemudian dia mengerjapkan matanya dan kembali menatap peti mati Kaisar.


"Aku ... bahagia ... aku pikir ...." jawab Rong Xuan, kemudian kedua tangannya dia letakkan di depan dada. Kedua mata wanita itu terpejam erat.


Rong Tagu menatap sedih putrinya, lalu berdiri dan duduk di dekat putrinya. Pria itu memeluk hangat Rong Xuan, mengelus lembut kepalanya seperti anak kecil.


Rong Xuan diam, dia tidak bergerak. Tatapannya masih kosong saat matanya kembali terbuka tadi. Hatinya masih kuat menahan sakit, dia yakin, dia tidak boleh menangis di hadapan ayahnya.


"Apakah kamu bahagia menjadi istri Putra Mahkota, nak?" tanya Rong Tagu lagi.


Ah ... pertanyaan ini ... ini pertanyaan yang tidak pernah Rong Xuan harapkan muncul. Pertanyaan ini benar-benar langsung menusuk hatinya.


Istri Putra Mahkota? Dirinya? Bahagia? Suaminya? Huang ... Mingxiang? Huanghou? Kata-kata itu langsung berkeliaran di kepala Rong Xuan.


Rong Tagu masih mengelus lembut kepala putrinya. "Menangis lah, nak. Kali ini kamu memiliki tempat untuk bersandar. Mereka yang melihatmu menangis akan beranggapan kamu sedih karena Kaisar telah tiada, bukan masalah pribadi hatimu. Dengar, nak. Jangan pernah sekalipun kamu menunjukkan kelemahanmu di hadapan mereka. Mengerti?" Kemudian Rong Tagu mengecup singkat kening putrinya.

__ADS_1


Tubuh Rong Xuan bergetar, wanita itu mulai menangis sesenggukan di pelukan ayahnya. Dia benar-benar lelah, dia benar-benar sedih. Hatinya sakit, dia tidak sanggup lagi menahan seluruh tekanan Istana. Tugas seorang Putri Mahkota, masalah internal rumah tangganya mengenai perasaan Xiao Jihuang dengan wanita lain, dan ... Ibu mertua yang membenci menantunya. Rong Xuan benar-benar mengalami tekanan besar di Istana, dia sangat lelah.


__ADS_2