
Track!
Xiao Muqing menancapkan ujung pedangnya di atas tanah, seluruh tubuhnya gemetar menatap berat badannya sendiri. Kedua kaki Xiao Muqing masih sangat lemah, namun sudah jauh lebih baik setelah meminum obat kelopak Gold God.
Di tangan kiri Xiao Muqing terdapat kalung batu merah delima milik Huang Mingxiang, raut wajah pria itu tetap datar meskipun sekujur tubuhnya terasa sangat sakit sekali.
"Mingxiang ..." gumam Xiao Muqing, pria itu menatap tajam puncak gunung Lang Tao. Sedikit lagi, sedikit lagi dia akan sampai di puncak. Tetapi ... ada yang aneh. Di mana Naga menyebalkan itu? Di mana Shenlong? Biasanya kepala putih naga itu menyamar menjadi puncak gunung, namun ini sama sekali tidak terlihat. Itu adalah puncak gunung asli.
Xiao Muqing melirik tajam ke samping saat mendengar sesuatu mendekat. Kedua matanya menatap heran, itu adalah kuda Xiao Wangfu. Sepertinya Huang Mingxiang dan yang lain membiarkan kuda mereka bebas berkeliaran di gunung agar dapat melarikan diri jika terjadi bahaya.
Xiao Muqing kembali menyatukan fokusnya, dia harus fokus mencapai puncak.
"Agghh ...." Pria itu mendesah pelan, keningnya sedikit terlipat untuk menatap kakinya. Dia terjatuh lagi, seluruh pakaiannya kini sudah basah kuyup dan kotor. Hujan baru saja berhenti, selama hujan turun Xiao Muqing sama sekali tidak menghentikan perjalanannya. Dia menerobos hujan dengan gila. Kuda pria itu dia tinggal di dekat kaki gunung, jalanan semakin licin saat hujan, hanya akan menambah kemungkinan berbahaya jika dia membawa masuk kudanya.
"Grr ... Grrr ...." Suara dengkuran serigala terdengar, membuat Xiao Muqing memberhentikan langkahnya dan melirik ke belakang.
Berjarak sepuluh meter darinya, seekor serigala putih abu-abu berdiri di belakangnya. Serigala itu memiliki mata biru, warnanya hampir mirip dengan mata Xiao Muqing. Serigala itu memiliki dua sayap di tubuhnya, sedikit aneh namun terlihat indah. Tubuh serigala itu sangat besar, setengah ukuran kuda dewasa.
"Faxia?" ucap Xiao Muqing, matanya menatap dingin serigala yang memiliki nama Faxia itu. Faxia adalah serigala yang sempat ditolong Xiao Muqing, saat dia hendak melahirkan dulu, seekor ular berkepala dua entah dari mana datang dan berusaha memakan anaknya. Kebetulan Xiao Muqing berpapasan di pertempuran mereka, pria itu membantu Faxia untuk memukul mundur sang ular.
"Ggrrr ... Auuu ...." Faxia melolong, lalu dengan hati-hati berjalan mendekati Xiao Muqing. Faxia mengeluskan kepalanya di kaki Xiao Muqing, lalu mencium-cium pakaian Xiao Muqing.
Xiao Muqing mengelus kepala Faxia. "Faxia, apa kamu melihat tiga orang wanita aneh naik ke atas gunung? Salah satu dari mereka mengenakan cincin di jari manis."
Faxia mengangguk. "Auuu ...." Faxia kembali melolong untuk menjawab, membuat Xiao Muqing semakin yakin bahwa dia memilih jalan yang sama seperti Huang Mingxiang.
Faxia adalah satu-satunya hewan yang memiliki mata berwarna biru, itu tandanya dia adalah hewan yang pernah mendapat berkat dari Utusan Agung. Dulu pertama kali Xiao Muqing mengunjungi gunung itu, kedua mata Faxia masih memiliki warna yang sama seperti penghuni gunung Lang Tao lainnya.
Faxia berjalan tiga langkah di depan Xiao Muqing, lalu melolong lagi dan memberikan isyarat bahwa Xiao Muqing boleh menungganginya.
Xiao Muqing tersenyum tipis melihat Faxia, kemudian beranjak naik ke atas punggung Faxia. Keningnya kembali terlipat, dengkulnya sudah berlumuran darah, ini pasti karena terlalu sering terjatuh dan terus memaksakan kakinya untuk berjalan.
"Auuu ...." Faxia kembali melolong, setelah itu berlari cepat menuju puncak gunung sambil membawa Xiao Muqing.
BOOM!!
Xiao Muqing menghancurkan sebuah batu besar. Celah yang dihasilkan batu itu sangat kecil, hanya bisa dilalui oleh manusia, tubuh besar Faxia tidak akan muat untuk masuk. Maka dari itu, Xiao Muqing menghancurkan batu besar itu menjadi butiran pasir.
Faxia terus berlari, sedangkan Xiao Muqing menghancurkan penghalang yang ada di depan. Seluruh hewan di gunung Lang Tao tidak ada yang berani keluar, setiap kali Xiao Muqing lewat, mereka akan bersembunyi di belakang pohon atau batu besar.
Sesampainya di puncak gunung, maish tersisa empat puluh meter lagi, Xiao Muqing melihat sebuah naga besar bertengger di hadapan gerbang pintu masuk Istana Utusan Agung.
__ADS_1
"Shenlong ...." gumam Xiao Muqing, matanya menatap dingin naga Shenlong.
Naga Shenlong yang sudah menunggu kedatangan Xiao Muqing segera menghembuskan napas panas, udara panas pun berhembus menerpa wajah Xiao Muqing dan Faxia.
Faxia tidak berhenti berlari, serigala itu terus maju sampai akhirnya mereka benar-benar sampai di depan pintu gerbang Utusan Agung.
Xiao Muqing turun dari tunggangan Faxia, menggunakan pedang lagi sebagai tumpuan badannya. Kaki pria itu masih gemetar, namun Xiao Muqing tetap bersikukuh untuk berdiri dengan kedua kakinya sendiri.
Naga Shenlong yang melihat ini tertawa keras. "Lucu sekali! Kakimu gemetar namun tetap mamaksakan diri! Setelah dulu datang dengan pikiran 'Jika tidak berhasil aku dapatkan, maka gunung ini akan aku hancurkan'. Kini, kamu kembali dengan pikiran 'Jika mereka berani menyentuh istriku, maka gunung ini akan aku bakar menjadi abu'. Huh! Kamu tetap sombong, Xiao Muqing!"
Xiao Muqing melirik Shenlong tajam, dia tidak ada waktu untuk meladeni Shenlong. Dan lagi, mengapa naga itu tidak menyerangnya? Dengan sifat mudah mendidih miliknya, seharusnya Shenlong langsung mengajaknya bertarung. Tetapi itu tidak penting, dia harus segera masuk dan menarik Huang Mingxiang keluar.
Xiao Muqing langsung membuka pintu besar Utusan Agung, pria itu masuk mengejutkan para pelayan Istana Utusan Agung. Saat melihat itu adalah Xiao Muqing, mereka segera menatap penuh permusuhan. Mereka mengenal dan mengingat Xiao Muqing. Pria itu pernah membuat Istana Utusan Agung setengah hancur, bahkan naga Shenlong pun sempat terluka parah karena bertarung dengannya. Kedatangan pria itu adalah ancaman besar.
Xiao Muqing tidak peduli dengan tatapan mereka, dengan kaki gemetar, Xiao Muqing segera menuju ruangan Utusan Agung. Tidak ada yang berani menahan Xiao Muqing, semua itu karena perintah Utusan Agung dan mereka sendiripun tidak berani berurusan dengan Xiao Muqing.
Sampai di depan pintu Utusan Agung, Xiao Muqing membukanya kasar dengan pedangnya.
"Huang Mingxiang!" Xiao Muqing menyerukan nama istrinya, matanya melihat Utusan Agung tengah bermain alunan musik kecapi seorang diri.
"Di mana istriku?!" tanya Xiao Muqing, matanya menatap tajam Utusan Agung.
Utusan Agung berhenti dari permainannya, lalu menatap Xiao Muqing dan tersenyum. "Sepertinya cinta sudah melembutkan hatimu, ya?"
"Jangan terlalu keras saat bicara, Xiao Muqing. Istrimu tengah berbaring di sana, dia sedang tertidur." Jari telunjuk Utusan Agung menunjuk ke arah sebuah kasur besar yang dihiasi oleh bunga mawar putih. Di sana Huang Mingxiang tergeletak tak sadarkan diri seperti tidur.
Xiao Muqing mencengkeram gagang pedangnya, menatap Utusan Agung dengan penuh amarah. Jika Huang Mingxiang benar-benar terluka, Xiao Muqing akan meledakkan gunung Lang Tao!
"Istrimu menukarkan setengah nyawanya dengan bunga Gold God untuk kesembuhan kakimu. Astaga, dia sangat mencintaimu ternyata," ucap Utusan Agung, pria itu berdiri dan berjalan ke arah Huang Mingxiang.
Splash!!
Boom!!
Xiao Muqing melempar serangan kecil ke arah Utusan Agung untuk menghentikan langkah pria itu. "Menjauh dari istriku."
Raut wajah Utusan Agung sedikit terkejut, kemudian dia melirik Xiao Muqing dan menyeringai tipis. "Sepertinya hatimu sudah tidak semati dulu, Xiao Muqing?'
Xiao Muqing berjalan tertatih menuju Huang Mingxiang, darah dari dengkulnya terus mengalir keluar mengotori lantai putih bersih Utusan Agung.
Melihat Xiao Muqing dengan kondisi menyedihkan seperti itu, Utusan Agung terkekeh. "Jika terus dipaksakan, satu kelopak bunga Gold God yang sempat kau minum itu tidak akan berefek dengan baik."
__ADS_1
Xiao Muqing tidak peduli, dia terus berjalan melewati Utusan Agung sampai akhirnya tiba di samping Huang Mingxiang. Pria itu duduk di tepi kasur, lalu memasangkan kalung batu merah delima kembali ke leher Huang Mingxiang. Saat ini istrinya seperti sedang tertidur pulas, namun tubuhnya terlihat kaku.
"Setengah nyawa istrimu sudah ditukarkan dengan Bunga Gold God, dia akan terus koma sepanjang hidupnya. Dia tidak mati, dia hidup. Tetapi matanya akan terus tertutup," ucap Utusan Agung, lalu kembali duduk ke tempatnya semula.
Xiao Muqing menggertakkan giginya, pria itu mengangkat tangan Huang Mingxiang dan menciumnya.
"Mengapa anda rela berbuat sejauh ini? Wanita bodoh!" gumam Xiao Muqing, matanya terpejam erat saat mengatakan itu.
Trang!
Xiao Muqing menjatuhkan pedangnya ke lantai, kedua tangannya kini fokus menggenggam tangan dingin Huang Mingxiang.
Diam-diam, kedua mata Xiao Muqing memerah. Air mata berlinang di mata pria itu, ini adalah yang pertama kalinya setelah sekian lama. Pria itu luluh, pria itu melembut!
"Mingxiang ...." Xiao Muqing memanggil nama Huang Mingxiang, seperti anak kecil yang berharap ibunya segera terbangun saat sedang tertidur.
Xiao Muqing mengelap air matanya kasar, dia tidak akan membiarkan Utusan Agung menyadari ini. Tetapi justru Utusan Agung sudah mengetahuinya, pria itu tersenyum tipis melihat Xiao Muqing menangis. Cinta seperti air, dia mengalir tanpa diduga, dia juga secara perlahan dapat membuat sebuah batu keras menjadi lapuk dan bolong jika konsisten menetes pada batu tersebut.
"Kembalikan setengah nyawa istriku, ambil kembali bunga Gold God milikmu," ucap Xiao Muqing, lalu kembali berusaha mengambil pedangnya dan berdiri.
Utusan Agung menggeleng. "Aku tidak bisa mengingkari janjiku. Aku tidak bisa menarik kembali apa yang telah diberikan. Apa lagi Huang Mingxiang adalah manusia pilihan kesayangan Tuhan, aku tidak bisa sembarangan."
"Manusia pilihan kesayangan Tuhan?" Xiao Muqing mengerutkan keningnya, ini pertama kalinya dia mendengar hal konyol. Bukankah manusia kesayangan Tuhan hanya ada satu di setiap kehidupan? Yaitu seorang Utusan Agung. Ini pertama kalinya Xiao Muqing mendengar ada dua manusia kesayangan Tuhan dalam satu kehidupan.
Utusan Agung tersenyum tipis melihat Xiao Muqing bingung. "Ini adalah kehidupan kedua Huang Mingxiang, bukan yang pertama kali. Dengan kata lain, wanita itu sebelumnya pernah mati dan dipilih Tuhan sebagai manusia pilihan kesayangan yang hanya muncul seribu tahun sekali. Manusia pilihan kesayangan Tuhan dapat melakukan reinkarnasi kilat ataupun kembali hidup di waktu sebelum kematiannya tiba."
Xiao Muqing mencengkeram kuat lagi gagang pedangnya. Apakah itu alasan mengapa Huang Mingxiang dulu sering bertanya mengenai kematian dan keputusasaan padanya? Wanita itu sempat membicarakan kematian seolah dia pernah mengalami kematian sebelumnya. Ternyata ....
"Aku memiliki satu solusi untukmu, Xiao Muqing. Tetapi syaratnya adalah ... kau harus berlutut padaku." Utusan Agung menguji ego Xiao Muqing, pria itu dulu pantang sekali untuk berlutut kepada orang lain. Tetapi jika Xiao Muqing rela berlutut padanya saat ini, berarti perasaan cinta mereka sama-sama besar. Perasaan mereka tulus, mereka memang ingin saling membantu dan membahagiakan masing-masing.
Xiao Muqing menatap tajam Utusan Agung, lalu kepalanya menoleh untuk melihat Huang Mingxiang. Pria itu menggertakkan giginya, kemudian kembali menatap Utusan Agung.
Xiao Muqing menjatuhkan pedangnya, perlahan merendahkan posisi tubuhnya dan kemudian berlutut sempurna menghadap Utusan Agung.
"Tolong segera katakan solusi apa yang anda maksud." Suara berat Xiao Muqing yang menahan emosi terdengar, cara bicara pria itu berubah menjadi sedikit sopan.
Utusan Agung tertawa melihat ini, membuat Xiao Muqing menatapnya semakin kesal.
Utusan Agung segera mengambil bunga Gold God, kemudian berkata,"Aku akan mengambil satu kelopak bunga Gold God, dengan hilangnya satu kelopak ini kakimu tidak bisa sembuh seratus persen. Kamu memang sudah bisa berjalan, berlari, bahkan berkelahi secara normal, namun tetap harus rutin menemui tabib. Dengan kata lain, kakimu hanya sembuh delapan puluh persen, selebihnya harus kamu usahakan sendiri cara penyembuhannya. Lalu satu kelopak bunga Gold God yang sangat berharga ini akan ditukar dengan setengah nyawa untuk Huang Mingxiang, bagaimana?"
Xiao Muqing tanpa ragu segera menjawab,"benwang setuju!"
__ADS_1
Utusan Agung tersenyum, kemudian segera memanggil salah satu pelayannya untuk segera mengolah bunga Gold God itu menjadi obat.