
"Wangye, apa kita akan langsung kembali ke Xiao Wangfu?" tanya Huang Mingxiang.
Xiao Muqing menggeleng pelan, dia masih mendorong kursi roda Huang Mingxiang. "Kita akan mengunjungi Huangtaihou."
Huang Mingxiang tertegun, lalu menoleh untuk menatap pria itu. "Tetapi ... bukankah hubungan anda dja Huangtaihou tidak begitu baik?"
Xiao Muqing menaikkan alis kirinya, terus mendorong kursi roda Huang Mingxiang tanpa menunduk untuk menatap wajah bingung istrinya. "Bukankah Huangtaihou adalah orang yang kamu sayangi?"
Huang Mingxiang tertegun lagi, kemudian kembali ke posisi duduknya semula. Bibirnya tersenyum tipis. "Apa anda tidak masalah?"
Xiao Muqing tidak langsung menjawab, nada bicaranya seperti sedang berpikir. "Ya ... tidak terlalu jika itu untukmu." Senyum Huang Mingxiang semakin dalam saat mendengar ini. Xiao Muqing sudah melakukan banyak hal seperti melawan dirinya sendiri untuk Huang Mingxiang. Pria itu sudah pernah melawan traumanya, dan kini melawan hal yang dia benci agar Huang Mingxiang merasa senang.
"Wangye, apa anda masih membenci Huangtaihou?" tanya Huang Mingxiang lagi.
"Apa anda membenci Huangtaihou?" tanya Xiao Muqing, pria itu balik bertanya.
Huang Mingxiang menggeleng. "Tentu tidak. Beliau adalah bibi Mingxiang, dia merawat Mingxiang seperti anaknya sendiri sejak kecil. Walaupun bibi sering menceramahi Mingxiang, tetapi Mingxiang yakin itu untuk kepentingan Mingxiang sendiri."
Xiao Muqing mengangguk singkat mendengarnya. "Kalau begitu benwang tidak."
"Kenapa?" tanya Huang Mingxiang.
"Benwang tidak akan membenci apa yang kamu sukai," jawab Xiao Muqing, bibirnya tersenyum tipis saat mengatakan ini.
"Wangye ..." panggil Huang Mingxiang, nada bicaranya kali ini terdengar jauh lebih lembut.
"Ya?" tanya Xiao Muqing, kepala pria itu menunduk untuk menatap wajah Huang Mingxiang.
"Bagaimana jika kita berjalan-jalan di Ibu kota setelah selesai mengunjungi Huangtaihou?" tanya Huang Mingxiang, matanya mengadah menatap Xiao Muqing, memohon.
Xiao Muqing mengerutkan keningnya. "Tidak bisa. Tabib mengatakan bahwa kamu tidak boleh banyak beraktivitas. Melakukan kunjungan ke Istana sebenarnya sudah sedikit salah, namun benwang takut kamu terlalu jenuh berada di kamar terus menerus."
Huang Mingxiang menghela napas tipis. "Hanya sebentar, saya bersedia keluar menggunakan kursi roda seperti ini." Xiao Muqing tidak menjawab, pria itu tidak lagi menatap Huang Mingxiang dan hanya menampilkan raut wajah acuh tak acuh. Huang Mingxiang tidak menyerah, wanita itu sedikit menggerakkan lengan kain pakaian Xiao Muqing. "Wangye ...."
Xiao Muqing menghela napas gusar, memijat keningnya sebentar dan menatap Huang Mingxiang sulit. "Baiklah, tetapi tidak akan lama. Hanya lima belas menit."
Huang Mingxiang membelalakkan matanya saat mendengar Xiao Muqing memberikan waktu sesingkat itu untuk menikmati Ibu kota, namun dia tidak berani lagi membantah. Lima belas menit lebih baik dari pada tidak sama sekali.
Melihat raut wajah kesal Huang Mingxiang, Xiao Muqing tersenyum tipis. Sebelum benar-benar sampai di Istana kediaman Huangtaihou, pria itu sempat mengecup singkat ubun-ubun Huang Mingxiang dari belakang. "Setelah kamu sembuh benwang berjanji akan membawamu keliling Ibu kota, bahkan keluar Kekaisaran jika kamu mau."
__ADS_1
Huang Mingxiang membulatkan matanya, lalu menoleh dan menatap Xiao Muqing dengan senyum lebar. "Anda berjanji?"
Xiao Muqing mengangguk, tangan kanannya bergerak untuk mengusap kepala Huang Mingxiang singkat. "Tentu, sayang." Wajah Huang Mingxiang segera memerah saat mendengar panggilan 'sayang' dari Xiao Muqing. Dia belum terbiasa. Dia sudah terbiasa dengan ciuman atau perilaku lembut lainnya, kecuali panggilan 'sayang', karena memang pria itu jarang menggunakannya.
"Anda sudah berjanji, maka harus ditepati. Jika anda melanggar janji anda, maka anda harus membelikan Mingxiang sepuluh pohon mawar putih!" ucap Huang Mingxiang, dia mengatakan permintaan tidak bermutu sebagai ganti janji Xiao Muqing.
Xiao Muqing mengangguk ringan. "Iya, benwang akan menambahkannya menjadi seratus."
Huang Mingxiang terkekeh. "Maka pasti Xiao Wangfu akan terlihat sangat indah. Pemandangan Xiao Wangfu yang sangat indah, itu adalah ganti dari berkeliling ibu kota yang sepadan. Kita harus melihatnya bersama."
"Tentu. Jangan lupakan bakpao buatanmu," jawab Xiao Muqing, membuat Huang Mingxiang tertawa. Pria itu ternyata sangat menyukai bakpao buatan Huang Mingxiang.
Tak terasa, mereka kini sudah tidak di Istana kediaman Huangtaihou. Begitu kedatangan mereka terdengar, Huangtaihou segera berlari keluar dengan kakinya sendiri untuk menemui Huang Mingxiang. Wanita itu bahkan langsung berjongkok di depan kursi roda untuk mensejajarkan tingginya dengan Huang Mingxiang. Huangtaihou memeluk Huang Mingxiang, menangis.
"Aiya ... anak ini sejak kecil selalu membuat Aija khawatir sampai makan pun tak nafsu! Kamu sudah dewasa tetapi selalu membuat bibimu khawatir!"
Huang Mingxiang tersenyum, membalas pelukan bibinya dan mengusap punggung bibinya agar tenang. Huangtaihou tak lama melepas pelukannya, An Mama pun datang dan memberikan sapu tangan untuk mengelap air mata Huangtaihou.
"Sudah-sudah, ayo cepat masuk! Kalian berdua pasti lelah baru selesai menemui Kaisar." Huangtaihou berjalan masuk ke dalam ruangannya, Xiao Muqing mendorong kursi roda Huang Mingxiang mengikuti langkah wanita itu.
Sesampainya di dalam, Xiao Muqing duduk dan hanya meminum teh. Pria itu tidak banyak bicara, hanya mendengarkan perbincangan Huang Mingxiang dan Huangtaihou.
"Bibi, anda tidak perlu terlalu khawatir lagi. Mingxiang sudah kembali dan baik-baik saja, bukan?" tanya Huang Mingxiang.
Huang Mingxiang terkekeh, lalu mengusap lengan Huangtaihou. "Bibi, tenanglah. Mingxiang akui tindakan Mingxiang yang kemarin sangat nekat dan tidak berhati-hati. Tetapi, kini lihat. Mingxiang sudah kembali, setidaknya Mingxiang masih hidup dan tidak selamanya berada di kursi roda ini. Bibi tidak perlu terlalu khawatir lagi, maafkan Mingxiang karena sudah membuat bibi menangis karena khawatir."
Huangtaihou mendengus, lalu tak lama Wu Zeyuan dan Lu Fenghua muncul. Mereka berdua terkejut saat melihat di dalam ada Huang Mingxiang dan Xiao Muqing, mereka berdua segera membungkuk. "Salam, Huangtaihou Niangniang, yang mulia Xiao Wangye, dan Xiao Wangfei Niangniang."
"Wu Guifei, Lu Fei, kemarilah. Astaga ... bagaimana kabar kalian?" tanya Huang Mingxiang, bibirnya tersenyum. Sepertinya kedua wanita itu sudah menjadi sekutu di dalam Harem untuk melawan Huanghou. Itu bagus.
Wu Zeyuan dan Lu Fenghua tersenyum, mereka berdua berjalan mendekat dan duduk tepat di hadapan Huang Mingxiang, Huangtaihou, dan Xiao Muqing.
"Saya baik-baik saja, Wangfei Niangniang. Bagaimana kabar anda sendiri? Saya dengar anda baru kembali dari gunung Lang Tao yang sangat berbahaya itu. Saya sangat khawatir mendengarnya," tanya Wu Zeyuan.
Lu Fenghua mengangguk cepat. "Benar, Wangfei. Apa anda tahu? Wu Jiejie dan Huangtaihou selalu berkumpul dan mengucapkan kalimat kekhawatiran yang sama berulang-ulang kali. Mereka berdua sempat tidak tidur bersama karena khawatir akan terjadi sesuatu dengan anda di sana."
"Lu Meimei!" Wu Zeyuan mendengus kesal, wajahnya memerah.
"Apa kamu meledek Aija?" tanya Huangtaihou, membuat Lu Fenghua terbelalak dan menunduk dalam. Kepalanya menggeleng pelan. "Fenghua tidak berani ...."
__ADS_1
Huang Mingxiang tertawa melihat ini, kemudian disusul yang lain tertawa, kecuali Xiao Muqing. Pria itu fokus mengunyah camilan yang ada di atas meja.
Mereka berdua terus berbincang-bincang, sampai akhirnya Huang Mingxiang melihat Lu Fenghua terlihat sangat gelisah menatapnya. Seolah dia ingin mengatakan sesuatu, namun sulit untuk mengatakannya. Lu Fenghua sesekali melirik Xiao Muqing, kemudian kembali menatap Huang Mingxiang, seperti meminta pertolongan.
Huang Mingxiang bingung, akhirnya dia yang sudah sangat penasaran pun bertanya,"Ada apa Lu Fei? Apa anda yang ingin anda katakan? Wajah anda terlihat sangat gelisah."
Lu Fenghua tersenyum cerah saat Huang Mingxiang menotice gerak geriknya, kemudian raut wajah sedih segera muncul. Wanita itu pun tak lama berdiri dan berlutut di lantai, membuat semuanya terkejut.
"Lu -- Lu Meimei, ada apa?" tanya Wu Zeyuan bingung.
"Ma-- maafkan saya karena lancang, Xiao Wangye, Xiao Wangfei," ucap Lu Fenghua, membuat Huang Mingxiang bingung.
"Kelancangan apa, Lu Fei? Tolong segera berdiri, anda sedang hamil," jawab Huang Mingxiang, khawatir dengan kandungan Lu Fenghua.
"Niangniang, belakangan ini saya memiliki perasaan mengidam yang aneh. Ini sudah saya tahan dan sembunyikan selama tiga bulan, bahkan saat kandungan saya sudah membesar seperti ini, perasaan inginnya masih sangat terasa." Lu Fenghua menunduk semakin dalam, malu.
"Apa yang kamu inginkan? Sayang sekali perasaan mengidam ditahan, tidak bagus." Huangtaihou bertanya penasaran.
"Ini ... sa-- saya menginginkan tanda tangan Xiao Wangye ...." jawab Lu Fenghua, kedua matanya terpejam dalam, takut membuat Xiao Muqing kesal dan menendangnya keluar dari Istana Huangtaihou.
Semua orang tertegun, tak lama suara tawa paling kencang muncul dari Huang Mingxiang. Tangan kanan Huang Mingxiang reflek memukul punggung Xiao Muqing, membuat pria itu mengerutkan keningnya kesal.
Lu Fenghua malu, dia juga sebenarnya tidak ingin melakukan ini. Tetapi perasaan ngidam itu tak kunjung hilang, awalnya dia berpikir ini adalah pikiran dan keinginan konyol dari dirinya sendiri, namun ternyata tidak. Ini murni muncul karena dia mengidam tanda tangan Xiao Wangye!
"Aiya ... Lu Fei, mengapa anda harus sampai berlutut hanya untuk meminta sebuah tanda tangan? Cepat berdiri, Wangye adalah pangeran Adipati yang murah hati. Satu tanda tangannya tidak akan membuat Xiao Wangfu jatuh miskin. Saya pikir anda ingin mengatakan apa, ayo-ayo ... cepat kembali duduk di kursi anda." Huang Mingxiang meminta Lu Fenghua kembali berdiri, lalu menyenggol bahu Xiao Muqing dengan bahunya.
Xiao Muqing menatap kesal istrinya, dia tidak mau. Untuk apa? Permintaan itu konyol sekali.
Tetapi bukannya menuruti tolakan Xiao Muqing, Huang Mingxiang justru pertama kalinya melotot galak ke arahnya. Membuat Xiao Muqing kehilangan kata-kata dan akhirnya menurut.
An Mama memberikan secarik kertas dan kuas lengkap dengan tintanya untuk Xiao Muqing, bibirnya tersenyum senang melihat momen bahagia ini.
Xiao Muqing segera memberikan tanda tangan di atas kertas itu, lalu berkata,"Yang mulia, jika anda berkenan, tolong tulis nama anak selir ini, 'Xiao Jizhuali' di atasnya."
Xiao Muqing segera menulis nama anak Lu Fenghua di atas tanda tangannya, lalu menaruh kuas tersebut dan menatap tanda tangannya sendiri dengan aneh. Ini pertama kalinya ada orang yang berani meminta hal seperti ini padanya.
Lu Fenghua tersenyum cerah, dia sangat bahagia. Matanya berbinar, dia segera mengambil kertas itu dan menatapnya lekat. Lu Fenghua segera berdiri dan membungkuk singkat. "Terima kasih banyak, Yang mulia. Selain mengidam tanda tangan anda, selir ini sebelumnya juga sudah sangat mengagumi anda. Tidak hanya saya, namun juga seluruh keluarga saya. Saya harap anak saya akan tumbuh menjadi laki-laki yang kuat dan hebat seperti Wangye."
Xiao Muqing hanya mengangguk singkat, malas menanggapi. Sementara Huang Mingxiang ikut tersenyum bahagia. "Aiya, tentu saja. Pasti anak anda akan sangat tampan, ibunya sangat cantik."
__ADS_1
Lu Fenghua terkekeh. "Berikutnya saya akan menunggu anda, Wangfei."
Senyum Huang Mingxiang segera hilang, wanita itu langsung pura-pura sibuk memakan camilan di atas meja, membuat Huangtaihou, Wu Zeyuan, dan Lu Fenghua tertawa.