Istri Kesayangan Xiao Wangye

Istri Kesayangan Xiao Wangye
Bab 81. Naga Shenlong


__ADS_3

Langit terpantau akan berubah gelap, Huang Mingxiang, Yui, dan Baili Ruyi masih harus menempuh beberapa kilo meter lagi agar sampai di puncak.


Huang Mingxiang mencabut pedangnya dari badan serigala hitam, ini adalah hunusan pedangnya yang kesekian kali, tak terhitung. Setiap jarak setengah kilometer, mereka selalu bertemu dengan hewan-hewan abnormal. Seperti monyet berkepala elang, katak raksasa, nyamuk beracun, sampai ular putih yang menyerupai naga kecil mereka temui.


"Wangfei, apa tidak sebaiknya kita beristirahat untuk makan dan minum? Kita sudah terus bertarung sejak pagi begitu datang di kaki gunung. Saya yakin, tengah malam nanti kita sudah akan sampai di puncak." Yui duduk di bebatuan sambil mengelap pedangnya, wajahnya terlihat kelelahan. Berbeda dengan Baili Ruyi, wanita itu sangat penasaran dengan hewan yang baru saja mereka bunuh, ular yang menyerupai naga kecil. Wanita itu terus membedah bagian dalam organ tubuh sang ular untuk menemukan sesuatu yang baru saja berharga. Otak bisnis pelelangan-nya bekerja.


Huang Mingxiang mengangguk setuju. "Iya, kita akan beristirahat sebentar di sini. Kalian berdua silahkan beristirahat."


Yui dan Baili Ruyi mengangguk, mereka segera membersihkan diri mereka dengan air yang ada di aliran sungai kecil. Di gunung Lang Tao banyak sekali mata air, membuat mereka tidak kesulitan mencari air bersih. Tetapi suhu airnya sangat dingin, salju terus turun, namun anehnya air-air ini tidak membeku sama sekali.


Huang Mingxiang mengambil satu keping roti dari dalam tasnya, mereka bertiga segera makan bersama dengan roti masing-masing.


"Aku ingin membawa jantung ular putih itu," ucap Baili Ruyi saat masih mengunyah, matanya menatap ular putih mirip naga kecil tersebut.


Yui mengerutkan keningnya. "Untuk apa?"


Baili Ruyi tersenyum licik. "Tentu saja untuk dijual di pelelangan? Kapan lagi ada manusia yang sanggup mendekati puncak gunung dan membunuh hewan-hewan aneh secara berturut-turut seperti kita? Setelah aku periksa, jantung ular itu memang sangat berharga. Jantungnya bisa dijadikan obat jika direbus dan dijadikan perhiasan jika dijemur dan diolah khusus. Kau pernah mendengar berlian God Dragon?"


Yui mengangguk. "Iya, yang memiliki perhiasan itu adalah Huanghou Kekaisaran Barat."


Baili Ruyi menjentikkan jari. "Nah! Jantung itu adalah berlian God Dragon yang dimaksud!"


Huang Mingxiang membelalakkan matanya. "Sungguh? Harga perhiasan itu sangat fantastis, jika kita menjual mentahnya, kira-kira berapa banyak yang akan kita dapatkan?" tanya Huang Mingxiang, otak berbisnis pun ikut berjalan.


Baili Ruyi termenung sejenak, berpikir. Tak lama dia kembali menatap Huang Mingxiang dan menjawab,"Mungkin sekitar lima puluh juta tael emas, Wangfei."


Huang Mingxiang berhenti mengunyah saat mendengar ini, Yui pun demikian, wanita itu tertegun.


Baili Ruyi berdiri, dia sudah selesai memakan habis rotinya. Wanita itu mengambil kantung kosong yang ada di tasnya, kemudian menarik keluar jantung sang ular, lalu menyimpannya di dalam kantung tersebut.


"Kita akan membagi tiga hasil penjualannya nanti," ucap Baili Ruyi, tersenyum lebar ke arah Huang Mingxiang dan Yui. Huang Mingxiang dan Yui pun mengangguk antusias, siapa yang tidak mau uang?


Mereka bertiga pun terus berbincang, sampai akhirnya Yui dan Baili Ruyi memutuskan untuk tidur sebentar. Sedangkan Huang Mingxiang, wanita itu tetap terjaga sambil terus mengamati dan memberi tanda pada peta. Wanita itu tidak bisa tidur di situasi seperti ini, terlalu berbahaya. Untuk Yui dan Baili Ruyi mungkin situasi kasar seperti ini sudah biasa, mereka memiliki reflek yang bagus jika menerima serangan secara tiba-tiba saat tertidur. Tetapi Huang Mingxiang belum tentu demikian, dia masih pemula. Masih perlu banyak belajar, tindakan dan pencapaiannya hari ini saja tidak pernah dia sangka-sangka sejak dulu.


Saat Huang Mingxiang tengah memasukkan peta ke dalam saku bajunya, tiba-tiba dia merasakan bahwa tanah gunung itu bergetar. Huang Mingxiang segera berdiri, mengeluarkan pedangnya, memasang kuda-kuda dan menatap penuh waspada ke sekitar.


"Yui! Ruyi! Bangun!" Huang Mingxiang berseru, membuat Yui dan Baili Ruyi bergegas bangun dan menarik pedang mereka keluar.


Tanah semakin bergetar hebat, membuat ketiganya harus berpegang pada batang pohon agar tidak jatuh lalu terguling ke bawah. Dari kejauhan, Huang Mingxiang mendengar hembusan napas yang sangat dingin. Hembusan napas itu sangat besar, tidak mungkin ada manusia yang memiliki hembusan napas sebesar itu jika bukan sebuah hewan raksasa.


Tetapi, tak lama sosok misterius itu bersuara. "Xiao ... Muqing ...."

__ADS_1


Huang Mingxiang mengerutkan keningnya dalam, mengapa sosok itu menyebut nama Xiao Muqing?


Sebuah sekumpulan salju terjun bebas ke bawah, membuat Huang Mingxiang, Baili Ruyi, dan Yui melompat ke atas pohon. Pandangan Huang Mingxiang masih lurus, dia menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi? Bertepatan saat sedang fokus melihat ke depan, Huang Mingxiang menyadari bahwa puncak gunung Lang Tao yang ditutupi salju bergerak. Ada sesuatu yang bangkit dari puncak gunung itu.


"Na ... Naga!!" Baili Ruyi melotot ke arah puncak gunung, tubuhnya menegang. "Kali ini naga sungguhan, Wangfei!" sambung Baili Ruyi.


Ternyata puncak gunung Lang Tao yang terlihat seperti sedang ditutupi salju adalah sebuah kepala naga. Tubuh naga itu perlahan melepaskan dirinya dari gunung Lang Tao, lalu mendekat masuk ke dalam permukaan gunung seperti sedang mencari sesuatu.


Huang Mingxiang dan yang lain segera bersembunyi di balik batang pohon besar tempat mereka berpijak.


"Sembunyi yang benar! Itu Naga Shenlong!" Baili Ruyi berseru serius, Huang Mingxiang dan Yui segera bersembunyi dengan cepat. Mendengar Baili Ruyi yang berseru keras dan panik, sepertinya naga Shenlong memang sangat berbahaya. Jika sekelas wanita tengil penuh percaya diri seperti Baili Ruyi takut, maka kekuatan naga itu tidak perlu diragukan lagi. Jauh di atas mereka.


JEDARRR!!!


Petir besar muncul di langit, seketika hujan salju itu berubah menjadi air. Baik Huang Mingxiang dan yang lain, mereka semua merasa aneh. Mengapa tiba-tiba ada hujan air di tengah-tengah hujan salju? Ini tidak masuk akal!


Bertepatan dengan petir itu, di Xiao Wangfu, kini Xiao Muqing berhasil membuka matanya. Pria itu sadar dia belas jam lebih cepat dari perkiraan yang lain.


Xiao Muqing bangkit, menyentuh kepalanya yang terasa sedikit pusing karena terlalu lama tertidur. Pria itu memiliki efek menetralisir obat atau racun secara naluriah sejak dulu, jadi obat 'mainan anak kecil' seperti ini tidak akan berpengaruh lama pada dirinya.


Xiao Muqing menoleh, saat melihat kalung batu merah delima milik Huang Mingxiang, ingatan dan emosi pria itu kembali. Xiao Muqing meremas kalung itu, lalu melemparkannya ke lantai.


"Saya, Wangye!" Gu Sinjie masuk, tubuhnya menegang saat melihat Xiao Muqing sudah penuh dengan atmosfer membunuh.


"Di mana Xiao Wangfei?" tanya Xiao Muqing, matanya menatap tajam Gu Sinjie.


Gu Sinjie membungkuk. "Menjawab, Wangye. Baru-baru ini saya menerima laporan bahwa Wangfei Niangniang dan Yui menghilang begitu saja, pencarian masih--"


PRANG!!


"Kamu masih berani berbohong, Sinjie?! Apa kamu pikir benwang tidak pernah bisa menyadari kebiasaan menekuk jari milikmu saat berbohong?!!" Xiao Muqing melempar cangkir teh porselen yang ada di atas meja menggunakan tenaga dalamnya ke arah Gu Sinjie.


Gu Sinjie dengan cepat berlutut, menempelkan dahinya ke lantai. "Wangye! Sinjie pantas anda hukum!"


"Katakan semuanya dengan jujur, Sinjie. Atau benwang akan menyeretmu keluar dari Xiao Wangfu!" Xiao Muqing menatap Gu Sinjie ganas, hatinya sudah sangat marah. Bagaimana mungkin orang-orang terdekatnya bisa merencanakan sesuatu di belakangnya?!


Xiao Muqing masih belum mengetahui alasan dibalik Huang Mingxiang memberikan obat tidur padanya, namun yang pasti Xiao Muqing tahu bahwa rencananya itu dibantu oleh Gu Sinjie dan beberapa orang Xiao Wangfu lainnya.


Gu Sinjie memejamkan matanya erat, akhirnya sesuai apa yang diperintahkan Huang Mingxiang, dia harus jujur.


"Yang mulia ... Wangfei, Ruyi, dan Yui memutuskan untuk pergi menuju gunung Lang Tao bersama untuk mencari--"

__ADS_1


Brak!!


Blush!!


Sring!!


Kekuatan dalam Xiao Muqing aktif seratus persen, membuat seluruh jendela kamarnya terbuka, angin kencang karena hujan masuk ke dalam. Lalu, senjata-senjata yang tergantung sebagai hiasan segera melayang dan menunjuk Gu Sinjie.


"Sampah! Bagaimana bisa kamu membiarkan Xiao Wangfei pergi ke gunung gila itu?!!" bentak Xiao Muqing, kedua tangannya mengepal menahan amarahnya agar tidak semakin meledak.


Masih dalam posisi berlutut dan menempel pada lantai, Gu Sinjie menjawab,"Wangye! Kami semua melakukan ini demi kebaikan anda! Gejolak konflik di perbatasan semakin memuncak, peluang perang akan terjadi semakin besar! Jika kita tidak segera mengambil tindakan, maka--!"


"Jika Huang Mingxiang mati terbunuh di gunung itu, maka kamu harus membayar nyawanya dengan nyawamu, keturunanmu, orang tuamu, dan leluhurmu, Sinjie!" Xiao Muqing mengancam tajam, dia marah besar.


Gu Sinjie diam, tubuhnya mematung, tidak bisa lagi membalas. Xiao Muqing memijat keningnya pelan. "Naga Shenlong sangat berbahaya, Sinjie. Lihat keluar." Xiao Muqing melirik ke arah jendela.


Gu Sinjie menoleh, melihat ke luar. Hujan. Dia baru menyadari ini.


"Apa masuk akal hujan yang tiba-tiba turun di tengah salju seperti ini? Tidak, Sinjie! Shenlong saat ini pasti baru saja bangkit, naga itu adalah penjaga gunung Lang Tao sekaligus penguasa yang mengatur tanah serta air di bumi. Benwang pernah bertarung seri dengan naga itu, kamu tidak akan tahu cerita ini karena terluka parah dan hanya bisa menunggu di tengah-tengah gunung. Dia tunggangan sekaligus tangan kanan Utusan Agung." Xiao Muqing menceritakan Shenlong, makhluk paling berbahaya yang ada di gunung Lang Tao. Alasan Xiao Muqing tidak menceritakan makhluk itu dari jauh hari dan begitu juga dengan Gu Sinjie yang sengaja tidak menceritakan tentang apa-apa saja makhluk yang sudah dia temui di gunung Lang Tao karena memang peraturannya seperti itu. Tabu, bahkan akan terkena sial jika menceritakannya. Mitosnya naga Shenlong lah yang akan secara langsung mendatangi orang tersebut untuk memberinya karma.


"Kembalilah, Sinjie." Xiao Muqing mengusir keluar Gu Sinjie, membuat Gu Sinjie mengangkat kepalanya dan menatap Xiao Muqing.


"Wangye, tolong jangan menyusul Wangfei ...." Gu Sinjie mengerutkan keningnya, memohon. Kondisi Xiao Muqing saat ini sangat tidak memungkinkan untuk menyusul ke gunung Lang Tao, apa lagi tujuan mereka merencanakan urusan ini untuk membuat Xiao Muqing sehat, bukan babak belur bertarung di gunung Lang Tao.


"Kamu masih ada wajah untuk mengatakan itu pada benwang? Lalu apa kamu akan membiarkan Wangfei-mu mati begitu saja di gunung Lang Tao?!" Xiao Muqing kembali membentak.


Gu Sinjie kembali menempelkan dahinya di lantai. "Tengah malam! Jika tengah malam saya belum menerima sinyal petasan apa pun dari Wangfei, saya yang akan menyusul Wangfei Niangniang dan yang lain!"


Xiao Muqing mengerutkan keningnya, lalu membuang tatapannya ke luar jendela. "Keluar, Sinjie."


Gu Sinjie menggertakkan giginya, dia tidak bisa bicara banyak lagi. Gu Sinjie pun akhirnya berdiri, lalu membungkuk dan berjalan keluar. Sesampainya di luar, dia segera memanggil kepala penjaga Xiao Wangfu.


"Tutup seluruh jalan keluar yang ada di Xiao Wangfu, jangan sampai Wangye berhasil keluar dari Wangfu! Jika Wangye berhasil keluar, kepala kalian lah bayarannya!" Gu Sinjie memberi perintah, menatap penuh ancaman ke kepala prajurit Xiao Wangfu.


Kepala prajurit itu mengangguk. "Mengerti, Tuan Gu."


Langit semakin gelap, namun hujan sejak senja tadi tak kunjung reda. Seluruh orang merasa heran, mengapa bisa sampai turu hujan di tengah salju seperti ini? Sangat tidak masuk akal.


Saat semuanya sedang sibuk dengan urusan masing-masing dan Gu Sinjie yang sibuk mengawasi kediaman Xiao Muqing dan merasa usahanya sudah cukup, tanpa disadari siapapun ... kini Xiao Muqing telah berada di depan kandang kuda dengan kursi rodanya. Pria itu menatap dingin kuda hitam besar miliknya, kuda itu sudah bertahun-tahun Xiao Muqing tunggangi untuk berperang.


Tangan Xiao Muqing bergerak mengelus kepala kudanya yang bernama Longxia. Kuda itu memiliki mata berwarna biru, sama seperti Xiao Muqing.

__ADS_1


__ADS_2