Istri Kesayangan Xiao Wangye

Istri Kesayangan Xiao Wangye
Bab 97. Chen Taifei Agung


__ADS_3

"Zhen tidak akan memaksa paman Kekaisaran, namun ... jika ingin semuanya berjalan lancar dan Xiao Wangfei baik-baik saja, paman Kekaisaran seharusnya setuju. Zhen mengatakan ini tanpa melibatkan perasaan pribadi, benar-benar murni untuk kebaikan Kekaisaran ini."


Hari ini setelah selesai rapat dengan para pejabat bangsawan, Xiao Jihuang diam-diam mengundang Xiao Muqing untuk bertemu di Istana tempat tinggal Wu Zeyuan, hanya ini satu-satunya tempat agar mereka dapat nyaman berdiskusi.


Wu Zeyuan duduk di samping Xiao Jihuang, lalu menuangkan teh untuk Xiao Jihuang dan Xiao Muqing. Setelah selesai, wanita itu segera pergi dan memberikan ruang untuk keduanya berdiskusi. Raut wajah Xiao Muqing sangat terlihat jelas bahwa pria itu tidak menyukai ajakan diam-diam Xiao Jihuang, namun Xiao Jihuang tidak peduli. Ini bukan tentang ego atau bertarung merebut kekuasaan, namun tentang keselamatan dan kesejahteraan Dinasti Kekaisaran yang sedang dia pimpin.


"Jadi ... Anda memaksa benwang untuk mengikuti rencanamu dengan membawa nama Xiao Wangfei?" tanya Xiao Muqing setelah Xiao Jihuang sudah selesai bicara.


Xiao Jihuang mengerutkan keningnya, menggeleng pelan. Bukan itu maksudnya. "Paman Kekaisaran salah mengerti. Tetapi, anda pasti mengerti kegentingan yang dalam diam terjadi belakangan ini. Kita semua tahu, seluruh bahaya itu tidak hanya mengancam Kekaisaran, namun Xiao Wangfei. Dia adalah target utama dalam serangan ini, Xiao Wangye."


Xiao Jihuang melirik Kasim Yi, kemudian pria itu segera meletakkan sebuah botol kecil yang berisi pil berwarna hitam. Tidak ada yang tahu pil apa itu, entah obat atau racun.


Xiao Muqing tidak mengatakan apa pun, matanya diam memperhatikan Xiao Jihuang.


"Ini adalah racun yang akan menghentikan kesadaran dan beberapa titik aliran darah membeku sesaat. Orang yang mengkonsumsi pil ini akan pingsan dan koma, tidak akan sadarkan diri untuk beberapa waktu dengan waktu yang tidak ditentukan." Xiao Jihuang menatap pil berwarna hitam itu dingin.


Xiao Muqing tersenyum dingin, lalu menjawab,"Jelaskan seluruhnya, setuju atau tidaknya, benwang akan menjawab nanti."


Xiao Jihuang tidak tersinggung dengan sikap acuh Xiao Muqing, dia sudah terbiasa.


"Huangtaihou sudah menceritakan seluruh diskusi anda dengan beliau kemarin, itu rencana yang bagus. Dan kini, Zhen akan menawarkan diri untuk ikut serta. Kita akan bicara apa adanya, lupakan soal gelar dan gengsi serta masa lalu. Sesuai yang anda tahu, saat ini urusan politik dikuasai oleh marga Rong. Huanghou dikirim sebagai bidak utama untuk 'menggunakan'ku. Sekarang ini, Zhen tidak bisa bergerak bebas karena diikat oleh keluarga Rong. Jika Zhen asal bergerak, maka kekacauan besar akan terjadi di mana-mana, lingkup perang semakin luas, rakyat yang tidak tahu menahu mengenai masalah ini akan ikut terkena dampak sengsara. Zhen tidak bisa menolak permintaan Huanghou dan keluarga Rong, namun juga tidak ingin melakukan hal tersebut. Satu-satunya cara untuk memblokir seluruh jalan keluarga Rong saat ini adalah ketidaksadaran Zhen."


Xiao Muqing menaikkan alis kirinya sekilas saat mendengar ini. "Jadi, Kaisar ingin meminum pil itu?" Mata Xiao Muqing melirik dingin pil hitam tersebut.


Xiao Jihuang mengangguk. "Selagi anda, Xiao Wangfei, Huangtaihou, dan Chen Taifei Agung bergerak, saya akan 'menidurkan' diri agar pihak Rong tidak dapat meminta izin akses apa pun. Tanpa izin Kaisar, maka keluarga Rong tidak akan bisa berbuat apa pun. Dan lagi, Chen Taifei Agung dan Huangtaihou akan otomatis berkuasa di Istana Kekaisaran menggantikan Zhen, sehingga Huanghou tidak akan bisa berkutik. Peran Chen Taifei Agung akan sangat penting, karena beliau tidak terikat dengan keluarga Rong dan mempunyai latar belakang yang kuat, yaitu anda dan keluarga Chen. Keluarganya Chen masih cukup aktif di pemerintahan dan militer, ada sekitar tiga puluh persen prajurit atas nama keluarga Chen yang turut menjaga Ibu Kota. Dengan ini, kita bisa memblokir serangan Huanghou. Mengandalkan Huangtaihou tidak akan cukup, karena Huanghou masih dapat mengancam beliau karena saya adalah anaknya. Tetapi berbeda jika situasinya Chen Taifei Agung kemari dan mengambil alih kekuasaan Kekaisaran. Xiao Wangfei juga pasti akan lebih aman di sisi Chen Taifei Agung, sehingga beban dan kecemasan anda selama di peperangan akan berkurang. Sore ini, Zhen terpaksa harus menurunkan dekrit perang ke Xiao Wangfu. Paman Kekaisaran, kita sudah tidak memiliki waktu lebih banyak lagi." Xiao Jihuang menatap serius Xiao Muqing.


Belum sempat Xiao Muqing menjawab, Xiao Jihuang sudah mengeluarkan sebuah plakat emas dari dalam sakunya. "Ini adalah plakat Kekaisaran, jika sebuah perintah atau keputusan dikeluarkan bersama dengan plakat ini, maka berat perintahnya sama dengan perintah Kaisar. Anda harus memberikan ini kepada Xiao Wangfei, berjaga-jaga jika Huanghou berhasil menembus kekuatan Chen Taifei Agung."


Xiao Muqing mengambil plakat tersebut, matanya menatap dingin plakat tersebut. Sekarang dia semakin membenci situasi saat melihat plakat ini, karena plakat ini hanya muncul jika masalah atau keributan yang sangat besar terjadi di Kekaisaran. Melihat plakat ini muncul, berarti masalahnya sudah semakin serius.


Xiao Muqing memasukkan plakat itu, lalu mata dinginnya menatap Xiao Jihuang. Xiao Muqing mengangguk, lalu berkata,"Jika ini bisa menjadi keselamatan Huang Mingxiang selama benwang pergi berperang, maka tidak ada alasan untuk benwang menolak. Chen Taifei Agung akan tiba sore ini, kemungkinan akan datang bersamaan dengan Kasim Yi yang mewakili Kaisar untuk menyampaikan dekrit perang."


Xiao Jihuang mengangguk puas, dia lega karena ternyata Xiao Muqing setuju.


Xiao Muqing berdiri, lalu berlenggang pergi begitu saja tanpa membungkuk atau berbasa-basi dengan Xiao Jihuang. Xiao Jihuang lagi-lagi tidak tersinggung, pria itu sudah terbiasa dengan semua ini.

__ADS_1


"Mingxiang, ini adalah tindakkan terakhirku yang membuktikan bahwa aku mencintaimu. Setelah ini, mari kita anggap semuanya telah berlalu. Biarkan cinta ini terpendam padam jauh di bawah sana, biarkan dia membeku seperti kepingan es di tengah badai salju."


Sementara itu, Huang Mingxiang masih sibuk tidak berbuat apa pun menunggu Xiao Muqing. Dia ingin melakukan sebuah pekerjaan, namun seluruh pelayan di Xiao Wangfu ini melarangnya. Mereka berkata seluruh larangan ini adalah perintah Xiao Muqing, yang benar saja! Semuanya jadi terasa membosankan!


Saat sedang asyik membalikkan halaman novel bacaannya, Su Mama tiba-tiba masuk dan berkata,"Niangniang! Niangniang! Di-- di depan! Di depan ada Chen Taifei Agung!"


Huang Mingxiang mengerutkan keningnya. Siapa itu?


"Siapa itu Su Mama? Chen Taifei ... Agung?! Chen Taifei Agung?!!" Huang Mingxiang segera melempar buku novelnya ke lantai, lalu berdiri dan berlari ke arah kaca. Huang Mingxiang buru-buru membenarkan seluruh penampilannya dan dibantu oleh Su Mama. Tak lama Baili Ruyi dan Yui masuk dan menyampaikan berita yang sama. Mereka berempat ribut.


"Su Mama! Tolong bersihkan seluruh buku yang berserakan di lantai dan meja!" ucap Huang Mingxiang, kemudian berlari keluar kamar menuju gerbang Xiao Wangfu.


Saat sampai di sana, Huang Mingxiang melihat sosok wanita berpakaian hanfu putih dengan bordiran Phoenix berwarna ungu. Wanita itu menggunakan tudung penutup wajah, begitu Huang Mingxiang muncul, dia segera melepas tudung tersebut untuk menatap Huang Mingxiang lebih detail.


"Kamu ...."


"Salam, Chen Taifei Agung. Saya Huang Mingxiang, istri Xiao Wangye." Huang Mingxiang membungkuk, bibirnya tersenyum.


Chen Taifei Agung tersenyum melihat Huang Mingxiang, kemudian berjalan mendekat ke arah Huang Mingxiang dan menggenggam lengannya. Chen Taifei Agung lalu mengelus pipi Huang Mingxiang. "Aiya ... cantik sekali."


"Di mana ... Qing'er?" tanya Chen Taifei Agung, matanya mencari sosok Xiao Muqing.


Huang Mingxiang tersenyum lalu menjawab,"Wangye masih berada di Istana, Niangniang. Yang mulia akan kembali tidak lama lagi."


Chen Taifei Agung mengangguk mengerti. "Ah ... seperti itu. Mingxiang, tolong jangan panggil Mufei seperti itu. Kamu tidak perlu formal, cukup memanggil 'Mufei', sama seperti apa yang Qing'er lakukan."


Huang Mingxiang mengangguk senang. "Baik, Mufei. Eh ... bagaimana jika kita menunggu Wangye di ruang tamu? Anda pasti sangat lelah karena sudah seharian berada di kereta kuda."


Chen Taifei Agung mengangguk, lalu segera mengikuti langkah Huang Mingxiang yang berjalan di sampingnya. Seluruh pelayan Xiao Wangfu berlutut begitu melihat Chen Taifei Agung, Chen Taifei Agung selalu tersenyum dan membalas sapaan mereka dengan lembut serta elegan. Chen Taifei Agung benar-benar terlihat sangat jernih dan damai, siapapun yang menatap lalu berbicara dengannya akan merasakan kedamaian yang sulit dijelaskan di dalam hatinya.


Huang Mingxiang menuangkan teh ke dalam cangkir Chen Taifei Agung, di tengah ini tiba-tiba Chen Taifei Agung berkata,"Aku sudah tahu seluruh cerita tentangmu, Mingxiang. Huangtaihou menjelaskan semuanya di dalam surat, termasuk alasan kau dan Qing'er bisa menikah. Keluarganya Rong ternyata mulai benar-benar berkuasa, seharusnya hari itu aku tidak langsung termakan ancaman mereka."


Huang Mingxiang hanya tersenyum, sebenarnya sudah banyak sekali pertanyaan menumpuk di kepalanya. Terutama alasan dia meninggalkan Xiao Muqing sendirian di masa terendahnya, pasti ada alasan. Melihat sosok Chen Taifei Agung saat ini, wanita itu sama sekali tidak terlihat seperti wanita tega dan jahat. Chen Taifei Agung tidak mungkin meninggalkan Xiao Muqing begitu saja tanpa alasan yang kuat. Pasti ada cerita lain di balik ini. Tetapi, sekarang bukan saatnya yang tepat. Huang Mingxiang akan mencari tahunya nanti.


Chen Taifei menyeruput halus teh pemberian Huang Mingxiang, lalu kembali tersenyum lembut dan menggenggam lengan Huang Mingxiang. "Terima kasih, nak. Kamu benar-benar anak yang baik, Tuhan pasti sangat menyayangimu."

__ADS_1


Huang Mingxiang mengerutkan keningnya, lalu balas tersenyum lembut dan meletakkan tangannya di atas tangan Chen Taifei Agung yang menggenggamnya. "Berterima kasih untuk apa, Mufei? Mingxiang sama sekali tidak merasa telah melakukan sesuatu yang besar, Mingxiang hanya menjalani tanggung jawab dan kewajiban sebagai istri Wangye agar terus membantu pria itu."


Chen Taifei Agung menggeleng, perlahan air matanya keluar. Hatinya benar-benar selembut kapas. "Tidak, nak. Kamu telah melakukan banyak sekali hal untuk Qing'er. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Qing'er mengizinkan Mufei kemari dan bersedia bertemu. Semuanya berkatmu, bahkan kaki Qing'er yang sudah didiagnosa lumpuh permanen pun kini sembuh total berkat tekad dan cintamu. Mufei seharusnya berlutut untuk mengucapkan terima kasih padamu. Kamu telah menemani dan mengajak Qing'er kembali bangkit, jika bukan karena dirimu mungkin saat ini tidak akan ada perubahan apa pun dan Kekaisaran akan semakin kacau."


Huang Mingxiang menggeleng, tersenyum semakin dalam untuk menenangkan Chen Taifei Agung. "Mufei, tolong jangan berkata seperti itu. Mingxiang akan dikutuk karena membuat orang tau berlutut. Mingxiang hanya mengharapkan kebahagiaan dan kesejahteraan Wangye, tidak lebih. Kebahagiaan dan kesejahteraan Wangye adalah satu dengan Mingxiang. Jika Wangye bahagia, maka Mingxiang pun demikian. Setelah menikah dan menjadi menantu di Xiao Wangfu, menemani Wangye di kondisi terpuruk dan melangit pun sudah menjadi kewajiban Mingxiang sebagai istrinya."


"Mingxiang." Suara berat dan dingin terdengar, membuat mereka berdua teralihkan dan menoleh cepat ke arah pintu.


"Qing'er ..." Air mata Chen Taifei Agung tumpah total saat melihat Xiao Muqing berdiri di depan pintu, namun Xiao Muqing benar-benar dingin. Pria itu tidak bergeming bahkan saat ibunya menangis, sepertinya kekecewaan Xiao Muqing sangat besar. Di situasi ini Huang Mingxiang tidak bisa menyalakan sikap acuh Xiao Muqing, karena hubungan antara pria itu dan Chen Taifei Agung memiliki kesalahpahaman besar.


"Mingxiang, kamu tidak dengar benwang memanggil namamu?" Xiao Muqing menatap tajam Huang Mingxiang, membuat Huang Mingxiang tersadar dan segera berjalan cepat menghampiri pria itu.


"Anda sudah kembali? Mau bergabung untuk beris--" Belum selesai Huang Mingxiang bicara, Xiao Muqing sudah memotong.


"Kemabli beristirahat di kamar, benwang akan memanggilmu untuk makan malam nanti. Mengerti?" ucap Xiao Muqing, lalu mengelus kepala Huang Mingxiang lembut.


Huang Mingxiang mengerutkan keningnya tidak setuju, namun ... dia tidak bisa melawan. Sepertinya Xiao Muqing dan Chen Taifei Agung membutuhkan ruang untuk saling bicara dan bertemu setelah bertahun-tahun tidak bertemu. Tetapi tetap saja Huang Mingxiang tidak setuju, dia khawatir dengan Chen Taifei Agung. Bagaimana jika Xiao Muqing pecah dan mengamuk di sini karena masa lalu sakit hatinya? Itu sangat berbahaya.


Xiao Muqing mengecup kening Huang Mingxiang di depan Chen Taifei Agung, membuat wajahnya tersipu malu. Xiao Muqing gila, bagaimana bisa pria itu melakukan hal seperti itu di depan Chen Taifei Agung?!


"Tenang, tidak akan terjadi apa-apa. Benwang hanya membutuhkan sedikit ruang dengan Chen Taifei Agung. Beristirahatlah." Xiao Muqing kemudian melirik Su Mama.


"Su Mama, bawa Wangfei kembali ke kamar," perintah Xiao Muqing.


Su Mama mengangguk, lalu segera membawa Huang Mingxiang kembali ke kamarnya.


Xiao Muqing menatap punggung Huang Mingxiang yang perlahan menjauh dari ruang tamu, lalu kembali menatap Chen Taifei Agung. Tatapan matanya tidak lagi selembut dan sehangat saat masih ada Huang Mingxiang di sini, mata pria itu kembali mendingin penuh kebencian.


"Qing'er ...." Chen Taifei Agung tersenyum menatap putranya, saat dia hendak berjalan menghampiri Xiao Muqing, Xiao Muqing sudah lebih dulu berjalan menuju kursi dan duduk berhadapan dengan wanita itu.


"Tidak perlu berbasa-basi. Anda pasti sudah menerima penjelasan lengkap dari surat Huangtaihou, benar?" tanya Xiao Muqing, matanya menatap wajah ibunya yang kini sudah semakin menua. Tetapi, aura kecantikannya masih benar-benar ada. Wajah Chen Taifei Agung masih tergolong sangat cantik di antara jajaran wanita seusianya.


Chen Taifei Agung terlihat sedih saat Xiao Muqing bersikap begitu dingin dengannya, namun dia tidak bisa berbuat banyak. Semua ini terjadi juga karena kesalahannya sendiri.


Chen Taifei Agung mengangguk lemah. "Benar, tetapi ... Apa peperangan sungguh-sungguh akan terjadi?" tanya Chen Taifei Agung, matanya menatap penuh khawatir ke arah putranya. Dia benar-benar khawatir, takut Xiao Muqing akan terluka parah seperti perang tiga tahun lalu yang menyebabkan kaki anaknya lumpuh total.

__ADS_1


__ADS_2