
Xiao Muqing masih duduk di atas kasurnya, langit sebentar lagi akan gelap. Kemudian kepalanya menoleh ke samping, Huang Mingxiang tengah berbaring di sana dengan mata terpejam. Setelah puas menangis, melepas seluruh rasa sedih dan khawatirnya, wanita itu tertidur pulas dengan pelukan Xiao Muqing. Lalu Xiao Muqing dengan hati-hati merebahkannya di sisi tempat tidurnya yang kosong.
Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu. Xiao Muqing tahu itu Gu Sinjie, tanpa berlama-lama pun dia mengizinkan Gu Sinjie masuk.
Gu Sinjie, pria itu bergegas masuk saat Xiao Muqing mempersilahkannya. Dia dengan cepat membungkuk, lalu saat menegakkan dirinya kembali, jantungnya sedikit terkejut ketika melihat Huang Mingxiang tengah berbaring di samping Xiao Muqing.
"Sa-- salam, Wangye."
"Ada apa?" tanya Xiao Muqing, dia tidak peduli dengan tatapan terkejut Gu Sinjie.
"Bawahan ini hendak melaporkan kondisi kesehatan Tuan Huang kepada Wangfei, namun sepertinya ...." Gu Sinjie melirik Huang Mingxiang sekilas, kemudian kembali menatap Xiao Muqing.
Xiao Muqing mengangguk singkat. "Katakan, nanti benwang yang sampaikan."
Gu Sinjie mengangguk. "Baik. Wangye, Tuan Huang baik-baik saja, beliau beraktivitas ringan seperti biasa. Hanya saja memang tidak pernah keluar dari Huang Fu semenjak dekrit pernikahan itu. Pelayan bilang, nafsu makan Tuan Huang kini kian menurun, setiap hari sering didapati tengah merenung di paviliun besar Huang Fu."
Xiao Muqing mendengarkan semuanya, lalu kembali menatap Huang Mingxiang dan berkata,"Apa alasannya karena dekrit pernikahan wanita ini dengan benwang?"
Gu Sinjie menggertakkan giginya, kemudian berlutut di lantai. "Wangye, pasti ada kesalahpahaman."
Xiao Muqing tersenyum dingin. "Tidak perlu khawatir, Sinjie."
Tatapan mata Gu Sinjie berubah sedih, dia tidak bisa melakukan apa pun untuk ini.
"Apa yang harus benwang lakukan, Sinjie?" tanya Xiao Muqing, membuat Gu Sinjie terdiam. Dia bingung, tidak tahu apa yang dimaksud Xiao Muqing.
"Tentang hal apa, Wangye?" tanya Gu Sinjie, kedua sudut alisnya menyatu.
"Agar Tuan Huang menerima benwang sebagai menantunya," jawab Xiao Muqing, membuat Gu Sinjie hampir tersedak udara kosong. Apa dia tidak salah dengar? Ini seperti bukan berbicara dengan Wangye-nya.
"Apa pertanyaan anda ... sungguhan?" Gu Sinjie bertanya balik, takut-takut.
"Apa nada bicaranya terdengar sedang bergurau?" balas Xiao Muqing.
__ADS_1
Malam itu, menjadi malam yang membuat Gu Sinjie sampai tua tidak akan pernah tidak merinding jika mengingatnya. Mereka berdua mengobrol panjang, tentang bagaimana caranya menjadi menantu laki-laki yang didambakan. Tetapi dari seluruh saran Gu Sinjie, semuanya ditolak mentah-mentah oleh Xiao Muqing.
Keesokan paginya, Huang Mingxiang terbangun. Wanita itu mengerjapkan matanya pelan, cahaya matahari perlahan masuk dan menyinari wajahnya. Dengan malas Huang Mingxiang mengambil sikap duduk, namun saat kepalanya menoleh ke kiri, matanya dengan cepat terbelalak, hampir berteriak kencang.
Bagaimana bisa dia tertidur di kasur yang sama dengan Xiao Muqing?! Berusaha mengingat kejadian kemarin, ah ... si**an, dia menangis sampai tertidur lelap di sini. Tetapi mengapa Xiao Muqing tidak mengusirnya? Justru malah membiarkannya tidur di sini?!
"Puas tidur seenaknya di kasur orang?" Xiao Muqing yang tengah memejamkan mata tiba-tiba berbicara, membuat Huang Mingxiang terkejut dua kali. Dia pikir pria itu masih pulas tertidur.
"Wa-- Wangye, Mingxiang ... tidak sadar. Maaf." Hanya itu jawaban yang bisa Huang Mingxiang keluarkan, dia benar-benar baru terbangun dari tidur, tidak bisa berpikir jernih. Tetapi malah dihadapkan dengan kondisi seperti ini.
"Gu Sinjie semalam kemari dan menitipkan pesan," ujar Xiao Muqing, tidak mempedulikan kondisi canggung Huang Mingxiang yang sebelumnya.
Huang Mingxiang yang mendengar ini pun segera sedikit mendekat ke arah Xiao Muqing. "Benarkah? Lalu bagaimana keadaan ayahku?"
"Nafsu makannya turun, sering melamun," jawab Xiao Muqing, dia meringkas jawaban Gu Sinjie semalam.
Huang Mingxiang termenung mendengar ini, dia sedih.
"Anda ingin mengunjungi Huang Fu?" tanya Xiao Muqing.
"Bukankah seharusnya ada tradisi kau kembali ke rumah orang tuamu untuk mengucapkan terima kasih?" tanya Xiao Muqing, matanya kini telah terbuka menatap Huang Mingxiang.
"Tetapi itu butuh beberapa Minggu setelah menikah. Masih cukup lama," jawab Huang Mingxiang.
"Apa pedulinya? Bukan masalah jika waktunya dipercepat. Jika ada yang berkomentar, perintahkan dia berkomentar di depan wajah benwang," balas Xiao Muqing dengan aura acuh tak acuh.
Huang Mingxiang terdiam sejenak, jika dia memang ingin melakukan hal itu, Xiao Muqing harus ikut menemaninya ke Huang Fu sesuai tradisi. Mereka sudah sembarangan mempercepat waktunya, tidak mungkin mereka juga akan sembarangan melanggar peraturan paling penting dari tradisi tersebut.
"Apa anda akan menemani saya?" tanya Huang Mingxiang, membuat kini gantian Xiao Muqing yang merenung.
Xiao Muqing tidak tahu. Hatinya bimbang. Dia belum siap untuk kembali keluar dari Xiao Wangfu, namun ... diskusinya dengan Gu Sinjie mengatakan bahwa dia harus keluar untuk membuat Huang Dajie menerimanya sebagai menantu.
Melihat ekspresi ragu dari Xiao Muqing, Huang Mingxiang menghela napas gusar. Baiklah, pria itu tidak mungkin menemaninya mengunjungi Huang Fu. Rencana Huang Mingxiang belum matang untuk memancing pria itu keluar, kondisi kesehatan ayahnya yang memburuk di luar prediksi rencana-rencananya.
__ADS_1
"Anda tidak perlu memaksakan diri anda, Wangye. Mingxiang akan mengunjungi Huang Fu sendiri, namun tidak untuk melaksanakan tradisi tersebut. Mingxiang hanya memastikan kondisi ayah sebentar, jika memang buruk, maka Mingxiang akan menghadiri undangan dari Istana sendiri. Dan ... mungkin Mingxiang akan pulang terlambat, karena Mingxiang ingin kembali melihat ayah lagi setelah kembali dari Istana. Lalu, baru kembali ke Xiao Wangfu." Huang Mingxiang tersenyum, baiklah ... dia akan menjalani ini semua sendiri! Bukankah itu memang yang seharusnya dia lakukan?
Xiao Muqing memejamkan matanya kembali. "Kapan anda akan berangkat?" tanya Xiao Muqing.
Huang Mingxiang tersadar, sudah beberapa belas menit yang lalu sejak dia terbangun. Dia terlalu banyak mengobrol dengan Xiao Muqing sampai tidak sadar. Dengan cepat Huang Mingxiang menyingkap kelambu tidur Xiao Muqing, lalu melihat ke arah jendela. Bibir tersenyum saat melihat cahaya matahari hangat yang masuk ke dalam kamar Xiao Muqing.
"Sekarang, Wangye." Kepala Huang Mingxiang menoleh ke arah Xiao Muqing saat mengatakan ini.
Huang Mingxiang lebih dulu membantu Xiao Muqing untuk mandi dan berganti pakaian, setelah pelayan datang untuk mengantarkan sarapan, mereka berdua sarapan bersama. Tetapi tidak lama, Huang Mingxiang harus buru-buru karena dia wajib bersiap sebelum datang ke Istana.
Su Mama membantu Huang Mingxiang bersiap, dengan gesit tangannya merias dan menata pakaian serta rambut Huang Mingxiang. Selesai. Kini Huang Mingxiang memakai hanfu berwarna merah dengan tusuk rambut Phoenix mencolok di kepalanya.
Tidak ingin berlama-lama di hadapan cermin, Huang Mingxiang dengan cepat keluar dari halaman kediamannya dan melihat kereta kuda sudah terparkir rapi di hadapannya. Dengan cepat Huang Mingxiang naik ke dalam kereta, dibantu oleh Su Mama.
"Huang Fu terlebih dahulu, Su Mama. Katakan pada kusir," ujar Huang Mingxiang dan segera diangguki Su Mama.
Sementara itu di kediaman Xiao Muqing, Gu Sinjie dan Baili Ruyi berkumpul.
"Ck ... ck ... Wangye, bagaimana bisa anda membiarkan Wangfei secantik itu pergi ke acara romantis penuh kasih sayang seorang diri?" ucap Baili Ruyi, matanya menatap kereta kuda Huang Mingxiang yang sempat lewat.
"Ruyi, tutup mulutmu." Gu Sinjie melotot ke arah Baili Ruyi.
Baili Ruyi mengangkat kedua bahunya acuh. "Apa yang aku katakan benar. Dengar, di sana pasti ada banyak para bangsawan, baik yang sudah menikah atau pun belum. Nah, di antara para bangsawan itu pasti ada Tuan Muda Rong yang tampan. Mengingat sebelumnya mereka pernah memiliki rencana pertunangan, bagaimana jika hari ini mereka bertemu dan--"
"Sekali lagi bicara, aku akan melempar tubuhmu ke jurang!" Gu Sinjie semakin kesal, Baili Ruyi mulai mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal.
Xiao Muqing, pria itu tidak bereaksi apa pun. Matanya hanya menatap sulit ke arah luar, ke arah kereta kuda Huang Mingxiang yang semakin menjauh. Mendengar kalimat Baili Ruyi, tatapan matanya semakin rumit.
"Ruyi." Panggil Xiao Muqing, membuat tubuh Baili Ruyi dan Gu Sinjie menegang. Mereka berdua segera berhenti bercanda.
"Ya, Gege?" tanya Baili Ruyi.
"Awasi Wangfei dari kejauhan. Perhatikan seluruh momen yang dia miliki," jawab Xiao Muqing.
__ADS_1
Baili Ruyi terkekeh mendengar ini. "Baik, Gege. Ruyi akan pastikan Tuan Muda Rong tidak akan pernah bisa menyentuh Wangfei."
"Berhenti berbicara omong kosong, Ruyi. Ini bukan tentang Rong Wangxia, tetapi pembunuh," balas Xiao Muqing, ini pertama kalinya dia merespon ucapan menyebalkan Baili Ruyi. Membuat Gu Sinjie menggaruk bagian belakang lehernya yang tidak gatal.