
Xiao Muqing menoleh ke samping, Huang Mingxiang tertidur di sandaran pundaknya. Tangan kanan Xiao Muqing bergerak, mengeluarkan kekuatan tenaga dalamnya untuk membuat Huang Mingxiang melayang lembut dan mendarat di pangkuannya. Kursi roda pria itu bergerak tanpa bantuan dorongan siapapun, ini rahasia yang hanya diketahui Gu Sinjie.
Xiao Muqing meletakkan tubuh Huang Mingxiang dengan sangat hati-hati di atas kasur, bibirnya kembali tersenyum melihat wanita itu tertidur pulas.
Xiao Muqing menggenggam erat papan kayu ranjangnya, berusaha pindah ke atas kasur sendiri. Berhasil dengan mudah, pria itu kini telah berbaring rapi di samping istrinya.
Xiao Muqing menatap langit-langit kamarnya, dulu dia hanya menemukan kehampaan dan kegelapan setiap kali memperhatikan kamarnya. Tetapi, sekarang sebaliknya. Ketika melihat barang-barang Huang Mingxiang di dalam kamarnya, kehangatan diam-diam menjalar di seluruh tubuhnya.
Xiao Muqing menoleh kala merasakan Huang Mingxiang bergerak, wanita itu menggeliat dan kini meringkuk tepat di samping Xiao Muqing, menempel pada tubuh pria itu. Xiao Muqing mengangkat tangannya, kemudian meraih bahu Huang Mingxiang. Kening Huang Mingxiang yang mengerut karena udara dingin, perlahan mengendur. Wajah wanita itu kembali terlihat nyaman. .
"Wangye."
Suara Gu Sinjie terdengar dari balik jendela kamar yang dekat dengan tempat tidur Xiao Muqing, pria itu segera melirik ke arah sumber suara dan menjawab,"Katakan."
"Baru-baru ini saya mendapat kabar dari Jenderal Qin, bahwa perbatasan diserang oleh Kerajaan Huan Tenggara. Kerajaan yang dua tahun lalu sempat membuat keributan di wilayah baru Kekaisaran." Gu Sinjie kali ini menyampaikan laporan mengenai pekerjaan militer mereka.
"Tahan mereka semua, Sinjie. Izinkan Jenderal Qin untuk mengerahkan pasukan sebesar apa yang dia mau. Jika keributan ini menjadi semakin besar, Kaisar atau oknum lain akan menggunakan kesempatan ini untuk 'meminjam' pasukan kita dengan alasan keterbatasan fisikku yang tidak bisa ikut memimpin perang," jawab Xiao Muqing, tatapan matanya menjadi dingin kembali.
__ADS_1
Gu Sinjie mengangguk mengerti. "Baik, Wangye. Tetapi, tetap saja di serangan kali ini ada yang aneh. Bagaimana mungkin Kerajaan Huan Tenggara kembali berani setelah sebelumnya sudah dipukul mundur dengan sangat keras oleh pasukan kita? Kerajaan itu memang sangat gencar mengincar wilayah perbatasan kita karena di sana ada tambang emas besar milik Kekaisaran. Tetapi, jika dihitung ulang serangan mereka tidak cocok untuk ini. Wangye, ini seolah ada yang sengaja membukakan pintu untuk mereka masuk dan menyerang."
"Apakah itu Kaisar? Tetapi Kaisar tidak mungkin dengan bodohnya mencari masalah kembali dengan anda, kejadian tiga tahun lalu seharusnya cukup membuat dia merasa malu," sambung Gu Sinjie.
Xiao Muqing memejamkan matanya. "Tidak ada gunanya menebak-nebak, Sinjie. Yang menginginkan lima ratus ribu pasukan itu lepas dari tangan benwang sangat banyak, baik dari keluarga Kekaisaran ataupun pejabat besar dan kecil."
"Wangye, tetapi waspada dan menaruh mata-mata untuk beberapa orang yang kita curigai bukan pilihan yang buruk. Kaisar, Huangtaihou, Perdana Menteri Rong. Jika memang benar ada yang membuka pintu untuk mereka, hanya tiga orang itu yang bisa. Sedangkan Perdana Menteri Huang, pria itu tidak mungkin, karena Wangfei adalah anaknya. Dia tidak mungkin mengganggu anda karena itu akan berpengaruh dalam kebahagiaan serta hidup anaknya sendiri."
"Menaruh mata-mata di samping Huangtaihou dan Kaisar tidak mudah, Sinjie. Mereka pasti sudah berpengalaman, seperti kita. Benwang memiliki satu ide yang benwang sendiri enggan melakukannya," ujar Xiao Muqing, di akhir kalimat nada bicaranya menjadi sedikit rendah.
Gu Sinjie mengerutkan keningnya, termenung. Berusaha memikirkan sendiri apa itu ide yang dimaksud Xiao Muqing. Tetapi, tak lama kemudian dia tersadar. Kedua matanya terbelalak, setelah itu sedikit menunduk. "Wangye, saya yakin rencana itu adalah rencana yang paling baik. Ini semua dilakukan demi masa depan Xiao Wangfu, anda, dan Wangfei." Gu Sinjie lalu membungkuk dari balik jendela.
Gu Sinjie mengangguk, lalu menjawab,"Baik, Wangye. Untuk Perdana Menteri Rong, saya yang akan mengurusnya." Setelah itu dia berbalik dan pergi dari kediaman Xiao Muqing.
Gu Sinjie tidak bergegas kembali ke Gu Fu, rumahnya. Tetapi justru ke bibir lembah, tempat di mana Baili Ruyi berada. Pria itu menatap penuh perasaan khawatir ke dalam lembah, diam-diam berharap sosok Baili Ruyi akan muncul dan kembali.
Gu Sinjie duduk di sana, menghela napas gusar. Saat ini dia mengenakan mantel tebal berwarna cokelat, di tangannya pun ada mantel tebal cokelat lain. Mantel itu dia bawa untuk Baili Ruyi, karena wanita itu tidak membawa persiapan apa pun untuk musim dingin yang dadakan ini.
__ADS_1
"Segeralah naik ke permukaan, Ruyi. Lembah ini terlalu hening, seolah tidak ada makhluk hidup di dalamnya, seperti kau sudah mati, kalah telak. Jika iya, dengan cara apa kau mati? Melawan monster atau mati konyol kedinginan?" Bibir Gu Sinjie tersenyum hambar mengatakan ini, lalu dia berbaring di tanah, menatap bintang-bintang.
"Aku tidak bisa melihat jelas bintang-bintang itu karena salju terus turun, menghalangi pandanganku. Keduanya sama-sama putih, Ruyi. Apa di dalam sana kau bisa melihat salju?" Gu Sinjie berbicara sendiri.
"Perbatasan baru saja diserang, jika konfliknya semakin besar maka tikus-tikus yang selalu mengganggu Wangye akan semakin gesit bergerak. Bukankah impianmu adalah menghajar mereka semua yang mengganggu ketenangan Wangye, senior kita?"
"Ruyi, bagaimana jika aku mengatakan bahwa pertanyaan atas tawaranku untukmu menjadi Gu Furen bukan sebuah bualan? Apa kau masih akan menonjok perutku?"
Gu Sinjie menghela napas gusar lagi, keningnya terlipat. "Tetapi, aku meragukan kamu bisa mengurus urusan rumah dengan baik. Nilai keanggunanmu sebagai wanita bangsawan saja masih di bawah rata-rata."
"Tetapi, hei ... wanita bodoh. Aku selalu melihat sosok mendiang ibuku setiap kali kamu tersenyum. Perbedaanya hanya di sikap, mendiang ibuku jauh lebih sempurna dan anggun, sedangkan kamu seperti laki-laki!" Bahkan ketika sedang berbicara sendiri, Gu Sinjie tetap memakai Baili Ruyi, namun setelah itu dia tersenyum.
"Jika kita benar-benar menikah, aku akan memberikan kebebasan untukmu. Kau boleh tetap bekerja atau hanya mengurus rumah, keduanya pun boleh. Selama kau tidak merengek dan menangis, tidak masalah. Aku benci melihat wajahmu menangis, karena jelek seperti babi."
Gu Sinjie terkekeh sendiri, lalu berdiri dan menatap ke bawah lembah. "Kau harus kembali, Ruyi. Karena aku akan meminta Wangye untuk menurunkan surat titah pernikahan kita."
Gu Sinjie berbalik, bibirnya masih berbicara sendiri. "Tetapi bukan berarti aku benar-benar ingin menikah denganmu, wajahmu yang terlihat kelewat percaya diri benar-benar menyebalkan di ingatanku."
__ADS_1
Gu Sinjie berjalan pergi menjauh dari lembah, tangan kanannya menenteng mantel tebal Baili Ruyi. Lima belas meter setelah Gu Sinjie berjalan, sebuah tangan dari dalam lembah muncul. Tangan itu berusaha naik ke permukaan, terlihat kotor oleh tanah dan darah. Tangan itu gemetar, terlihat pucat dan kedinginan. Tak lama sebuah kepala dari sebuah makhluk asing yang terlihat sangat menyeramkan muncul. Hanya ada kepala, tidak ada anggota tubuh yang lain.
Setelah berusaha keras untuk naik ke permukaan, akhirnya sosok itu berhasil. Baili Ruyi, tatapan matanya menatap tajam dan dingin ke sekitar. Seluruh tubuh wanita itu gemetar, suhu dingin di bawah lembah benar-benar menusuk tulang. Tangan kirinya menenteng kepala makhluk asing menyeramkan tadi, dia berhasil kembali. Tetapi, tak lama kemudian tubuh Baili Ruyi jatuh ke tumpukan salju, tubuhnya lemas, tidak bisa bergerak. Ini sudah mencapai puncak batas kekuatannya, wanita itu tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Perlahan matanya terpejam, rasa kantuk, lelah, sakit, perih, takut, marah, semuanya bercampur menjadi satu.