
Pluk!
Gu Sinjie terkejut, sebuah bakpao tiba-tiba terlempar ke arahnya. Saat menoleh ke asal lemparan, dia melihat Baili Ruyi berdiri sambil bersandar pada dinding tembok tinggi. Bibir wanita itu tersenyum jahil.
"Ada apa dengan raut wajah lesu mu itu? Jelek sekali!" tanya Baili Ruyi, bibirnya tersenyum ke arah Gu Sinjie.
Gu Sinjie menghela napas kesal, di tengah kebingungannya ini dia justru malah bertemu Baili Ruyi yang hanya tahu mengajaknya berkelahi seperti laki-laki.
Gu Sinjie melanjutkan berjalannya menuju pohon besar tempat favorit-nya sambil berkata,"Berisik."
Baili Ruyi menaikkan alis kirinya, merasa heran. Ada apa dengan pria itu? Biasanya Gu Sinjie akan langsung membalas makiannya dengan cepat.
Baili Ruyi semakin penasaran, lalu memilih mengikuti Gu Sinjie. "Apa ada masalah?" tanya Baili Ruyi.
Gu Sinjie tidak menjawab, pria itu kini asyik mengunyah bakpao. Baili Ruyi terus mengikuti langkah pria itu, bahkan saat Gu Sinjie melompat ke atas pohon.
Gu Sinjie menghela napas gusar lagi, lalu menatap Baili Ruyi kesal. "Kenapa kau terus menggangguku?"
Baili Ruyi memutar bola matanya malas. "Aku tidak menggangumu! Aku hanya ingin tahu kau kenapa! Lagi pula bukankah yang sering mengganggu adalah dirimu?"
Gu Sinjie menghela napas lagi, entah ini sudah yang ke berapa kali. Dia sudah sangat lelah. "Ya, bicara saja semaumu. Aku malas berdebat."
Baili Ruyi yang mendengar ini semakin yakin bahwa Gu Sinjie memiliki sesuatu yang disembunyikan darinya, wanita itu segera memukul punggung Gu Sinjie keras dan berkata,"Bodoh! Kau kan memiliki aku sebagai temanmu! Mengapa kau tidak bercerita dan membagi keluh kesahmu padaku? Tidak bersyukur sekali! Bahkan di luar sana ada yang sampai bunuh diri karena frustasi tidak memiliki teman!"
Gu Sinjie mengaduh kesakitan, lalu mengelus punggungnya dan menatap Baili Ruyi kesal. "Percuma menceritakan semua ini padamu, kamu tidak akan mengerti dan hanya tahu cara memukuli orang!"
Baili Ruyi mendengus. "Tidak sopan! Padahal aku sudah berbaik hati ingin menjadi pendengarmu!"
Gu Sinjie terkekeh mendengar ini, kini Baili Ruyi lah yang terlihat seperti orang frustasi. Saat wanita itu hendak berdiri, Gu Sinjie tiba-tiba menahan lengannya dan berkata,"Baiklah, aku akan menceritakan semuanya."
Baili Ruyi menatap kesal Gu Sinjie, dasar pria aneh! Tidak berpendirian! Dia tidak bisa mengerti pola pikir Gu Sinjie.
Gu Sinjie menatap ke arah langit, tangannya masih menggenggam lengan Baili Ruyi, dia lupa untuk menarik genggamannya, sudah mulai terlarut dalam pikiran frustasinya.
"Perbatasan semakin buruk, Jenderal Qin terluka. Dekrit peperangan kemungkinan akan turun dalam beberapa hari ke depan," ucap Gu Sinjie, membuat kekesalan di wajah Baili Ruyi menghilang. Raut wajahnya berubah menjadi gelisah, keningnya terlipat, menatap Gu Sinjie.
"Apa kamu akan ikut turun ke Medan perang?" tanya Baili Ruyi, tatapannya seperti memiliki arti lain selain bertanya.
Gu Sinjie mengangguk, matanya masih menatap ke arah lain. "Tentu, karena aku harus berada di samping Wangye di setiap pertempuran. Itu sumpahku saat diangkat menjadi Jenderal Besar Kekaisaran."
__ADS_1
"Di peperangan sebelumnya apa kau terluka?" tanya Baili Ruyi lagi, dia tahu ini bukan perang pertama untuk Gu Sinjie dan Xiao Muqing.
Gu Sinjie mengangguk. "Tentu saja, peperangan tiga tahun lalu adalah peperangan yang sangat besar antara Kekaisaran Timur dan Utara. Wangye bahkan sampai kehilangan kemampuan berjalannya, dan aku sempat koma selama tiga Minggu. Tetapi luka berat itu tidak akan pernah membuat tekad bulatku melemah." Kedua sudut alis Gu Sinjie menyatu, matanya menunjukkan semangat yang berkobar.
Baili Ruyi diam, tidak menjawab. Matanya menatap dingin Gu Sinjie saat mendengar itu, diam-diam hatinya khawatir.
Merasakan Baili Ruyi terdiam, Gu Sinjie pun merasa aneh. Biasanya wanita itu berisik, sekarang tidak. Gu Sinjie pun akhirnya menoleh, kedua matanya terkejut saat melihat Baili Ruyi sudah diam menatapnya dengan air mata.
"H-- hei?! Ada apa?" tanya Gu Sinjie bingung, dia tidak mengerti mengapa Baili Ruyi menangis. Gu Sinjie segera mengambil sapu tangan dari saku bajunya, lalu mengelap air mata Baili Ruyi.
Baili Ruyi merampas kasar sapu tangan itu, lalu mengelapnya sendiri. "Mengapa dulu kamu tidak menceritakan apa pun bahwa luka yang kamu derita separah itu? Aku dulu sempat bertanya, bukan? Jawabanmu hanya luka sayatan biasa saat itu. Sebenarnya seberapa seram dan bahayanya Medan perang?"
Gu Sinjie tertegun, apa ... Baili Ruyi sedang menangis karena khawatir terhadap dirinya? Gu Sinjie mengerutkan keningnya, ada gejolak dan dorongan aneh dari dalam hatinya. Melihat Baili Ruyi menangis, aura kasar dan preman wanita itu menghilang. Kini Baili Ruyi terlihat seperti wanita lemah dan rapuh, Gu Sinjie entah bagaimana justru ingin memeluknya dan menjaga wanita itu.
"Tenanglah ..." Gu Sinjie masih berusaha menenangkan Baili Ruyi dan menenangkan dirinya sendiri agar bisa lepas dari dorongan aneh yang kini bersemayam di hatinya.
Menggertakkan gigi kesal, dorongan itu tak kunjung hilang. Gu Sinjie memejamkan matanya kesal, lalu tangannya menarik cepat Baili Ruyi ke dalam pelukannya. Seketika, tangis Baili Ruyi berhenti. Wanita itu hanya sesenggukan kecil.
Gu Sinjie dengan ragu dan tangan sedikit gemetar mengelus kepala Baili Ruyi. Wajah pria itu merah padam, jantungnya berdetak sangat kencang seolah akan meledak.
Baili Ruyi diam, keduanya sama-sama kaku di posisi ini. Gu Sinjie perlahan dengan gerakan patah-patahnya segera melepas pelukan mereka secara perlahan, wajah keduanya kini sama-sama memerah.
Baili Ruyi mengangguk, kepalanya menunduk dalam. Ini pertama kalinya Baili Ruyi terlihat benar-benar sedang malu-malu dan bersikap sangat lembut seperti perempuan normal.
Gu Sinjie merogoh saku bajunya untuk mengeluarkan sebuah tusuk rambut bunga sakura berwarna merah muda yang lembut. Saat di pasar malam dan keluar untuk menerima informasi dari perbatasan tadi, Gu Sinjie menyempatkan diri untuk membeli satu tusuk rambut untuk Baili Ruyi.
Gu Sinjie tersenyum tipis, lalu memasangkan tusuk rambut itu di ikatan sanggul kecil milik Baili Ruyi sambil berkata,"Jika aku tidak kembali, itu berarti aku sudah mati dan bahagia di surga. Aku tidak akan sedih, karena namaku akan dikenang sebagai pahlawan Kekaisaran. Dan kau, kau harus menggantikan aku untuk menjaga Xiao Wangfu."
Baili Ruyi membuang tatapannya ke arah lain, lalu menyentuh pelan tusuk rambut pemberian Gu Sinjie sambil bertanya,"Bagaimana jika kamu justru kembali? Apa yang harus aku lakukan?"
"Menjadi Gu Furen," jawab Gu Sinjie, pria itu terkekeh setelah mengatakan itu.
Baili Ruyi kembali menatap Gu Sinjie dengan ganas, lalu tangan kanannya mengepal, bersiap menonjok pria itu. Tetapi Gu Sinjie sudah lebih dulu menahan gerakan tangannya. "Hei, dengarkan dulu! Aku tidak bercanda! Aku bersumpah!"
"Maksudmu?" tanya Baili Ruyi, kedua sudut alisnya masih menyatu kesal. Dia masih menganggap ucapan Gu Sinjie adalah candaan membosankan yang kelewatan.
Gu Sinjie menggenggam lengan Baili Ruyi yang mengepal keras, perlahan kepalan wanita itu mengendur. Kondisinya kembali tenang.
"Aku melamar satu-satunya Nona dari Tuan pemilik perguruan Baili. Apa lagi?" tanya Gu Sinjie, matanya menatap Baili Ruyi serius.
__ADS_1
Baili Ruyi membelalakkan matanya, kemudian tangan kirinya bergerak cepat dan menampar Baili Ruyi.
PAA!!
"Kamu bercanda?!" tanya Baili Ruyi kesal.
Gu Sinjie mengaduh kesal, menatap Baili Ruyi tajam. "Kau pikir aku selalu bercanda, sialan?!"
Baili Ruyi tertegun, raut wajahnya melunak. Wajah wanita itu segera kembali tersipu, Gu Sinjie yang melihat ini pun segera tertawa keras sambil mengusap terus pipinya yang terasa pedas.
"Kamu malu?" tanya Gu Sinjie.
Baili Ruyi mendengus, lalu membuang tatapannya dari Gu Sinjie. "Tidak, berengsek! Jangan melihat ke arahku!"
Gu Sinjie masih terus tertawa, sampai akhirnya gelak tawanya perlahan berhenti. Raut wajahnya menjadi melembut, begitu juga dengan tatapannya yang kini semakin dalam menatap Baili Ruyi. "Ruyi, jadilah istriku. Jadilah nyonya Jenderal Besar untukku." Kini tidak ada raut wajah atau nada bicara bercanda dari Gu Sinjie.
Jantung Baili Ruyi terus berdegup kencang, dia kembali menatap Gu Sinjie. Keduanya saling melempar tatapan dalam, Baili Ruyi masih kesulitan menjawab. Mulutnya kelu, dia benar-benar terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa Gu Sinjie sungguh-sungguh melamarnya.
"Untuk apa kau melamarku? Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa aku tidak pantas menjadi wanita dan istri seseorang? Aku terlalu kasar dan semena-mena, tidak bisa menjadi feminim," ujar Baili Ruyi, dia tidak langsung memberikan jawaban pada Gu Sinjie.
Gu Sinjie terkekeh, lalu menjawab,"Jika pria yang kau nikahi bukan aku, tentu saja tidak akan cocok sampai kiamat datang sekalipun. Sayangnya, nona ... tipeku adalah yang pemberani sepertimu. Bukan hanya wanita feminim yang tahu cara berteriak meminta tolong sambil menangis. Aku menyukai wanita yang justru mematahkan leher seseorang saat dia ditindas."
Baili Ruyi memerah, dia tidak tahu bahwa gambaran dirinya di pandangan Gu Sinjie ternyata sekasar itu.
Gu Sinjie menelan ludah, dia sebenarnya khawatir Baili Ruyi menganggap tindakannya ini aneh dan menjijikkan. Karena baik dia dan Baili Ruyi dulu selalu menghina orang-orang yang menebar kemesraan. Tetapi Gu Sinjie tetap menampilkan tampilan tenangnya, tidak menunjukkan kekhawatirannya.
Jantung Gu Sinjie terasa berhenti setiap mata Baili Ruyi menatapnya tajam secara tiba-tiba.
"Kamu serius dengan seluruh ucapanmu?" tanya Baili Ruyi.
Gu Sinjie mengangguk mantap. "Tentu. Sebelum pergi ke Medan perang, aku tidak tahu apakah aku akan selamat atau tidak. Jadi ... aku ingin melamarmu sekarang, Ruyi. Aku tidak ingin membuang-buang waktu lagi, aku khawatir waktuku tidak lagi banyak di dunia ini."
Baili Ruyi mengepalkan kedua tangannya, mengambil napas dalam dan berusaha menenangkan dirinya sendiri. Tak lama, Baili Ruyi mengatakan,"Aku akan menerima lamaranmu, saat kamu benar-benar kembali ke Ibu Kota sepulang peperangan tersebut."
Senyum lebar tumbuh di bibir Gu Sinjie, pria itu segera menggenggam kedua tangan Baili Ruyi erat, mengangguk cepat. "Tentu! Aku berjanji akan langsung membicarakan ini dengan Wangye dan pihak keluargaku."
Baili Ruyi tersenyum tipis, Gu Sinjie saat ini terlihat seperti anak anjing yang kegirangan sambil mengibaskan ekornya ke kanan dan ke kiri secara cepat.
Baili Ruyi mengetuk dahi Gu Sinjie pelan, tertawa melihat raut wajah semangat pria itu. Gu Sinjie tidak ikut tertawa, pria itu kini hanya tersenyum tipis sambil menatap wajah Baili Ruyi. Tangan kanannya bergerak untuk menyingkirkan helai rambut Baili Ruyi yang menutupi sebagian wajah wanita itu. Kemudian Gu Sinjie mengelus pipi Baili Ruyi dan mendekatkan wajahnya ke wajah Baili Ruyi.
__ADS_1
Kedua mata mereka terpejam bersama-sama, untuk pertama kalinya, mereka berciuman. Ini adalah ciuman pertama untuk keduanya, dan ini juga pertama kalinya ada atmosfer damai serta cinta di sekitar mereka.