JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN

JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN
Tips dari Adik Ipar


__ADS_3

Sore hari Nick tak sabar segera mengantar Khalisa ke RS memeriksakan kondisi Khalisa yang kini berstatus garis dua.


"Selamat Pak Nick dan Bu Khalisa, berdasarkan USG Transvaginal yang kita lakukan disini terlihat bahwa usia kehamilan Ibu Khalisa memasuki 5 minggu." Jelas Dokter.


"Alhamdulillah. Apakah kondisi janin dalam keadaan baik Dok?" Nick lanjut bertanya.


"Alhamdulillah sejauh ini kondisi janin normal, meski Bapak dan Ibu harus memperhatikan beberapa hal." Dokter menjelaskan lebih lanjut.


"Maksudnya apa Dok?" Kali ini Khalisa penasaran.


"Trimester pertama kehamilan masih sangat rentan bagi janin. Untuk itu Saya menyarankan sebaiknya Pak Nick untuk tidak melakukan hubungan seksual dulu, karena dikhawatirkan agar berpengaruh terhadap janin."


Mendengar jawaban Dokter Nick melongo membayangkan nasib Si Joni meski ia senang sekali bahwa ada makhluk kecil yang tumbuh dalam rahim Khalisa, buah cinta mereka.


"Tenang saja Pak Nick, tidak lama, kurang lebih hingga usia kehamilan 16 minggu ya nanti akan kita pantau lagi seperti apa perkembangan janinnya." Dokter bisa menangkap keresahan Nick yang banyak dialami para suami disaat puasa di awal kehamilan para istri.


Khalisa sedikit membulatkan matanya, malu ekspresi kemesuman suaminya terlihat Dokter.


"Untuk sementara Bu Khalisa juga harus banyak istirahat, mual di pagi hari wajar selama tidak sepanjang hari dan diusahakan masih bisa makan walau sedikit agar nutrisi janin tetap terjaga." Jelas Dokter lebih lanjut.


"Apa ada pantangan makanan selama kehamilan Saya Dok?" Khalisa ingin menjaga janin dalam rahimnya.


"Sebetulnya tidak ada, hanya saja makan dan minum secukupnya, dan hindari makanan instan, berpengawet dan jangan meminum minuman yang mengandung soda. Untuk buah-buahan yang berunsur panas sebaiknya dihindari dulu contoh seperti durian."


"Saya berikan resep vitamin dan asam volat untuk Ibu, selain itu Saya anjurkan konsumsi buah dan sayur serta protein setiap hari. Karena trimester awal janin dalam masa pembentukan otak memerlukan asupan gizi yang cukup agar dapat berkembang sempurna."


"Selain itu, hindari penggunaan kosmetik yang mengandung merkuri, pemutih karena dikhawatirkan akan berpengaruh pada tumbuh kembang janin."


Khalisa dan Nick memperhatikan setiap arahan Dokter demi kebaikan si jabang bayi.


"Mas, Kita mampir sebentar ya mumpung disini, Kita jenguk Pak Baskoro." Khalisa meminta pada suaminya.


Nick menyetujui permintaan istri tercintanya, menuntun Khalisa menaiki Lift menuju ruang rawat Pak Baskoro.

__ADS_1


"Assalamualaikum." Khalisa dan Nick mengucap salam saat masuk ke ruang rawat Pak Baskoro.


Terlihat ada Bunda Amelia, Ustadz Salman, dan Dira juga hadir menemani Pak Baskoro.


"Waalaikumsalam." Jawab serentak semua yang ada dalam ruangan.


Nick menyapa satu persatu dan kini duduk di dekat brangkar Pak Baskoro yang terlihat sudah segar dan tak lagi menggunakan infus.


"Apa kabar Pak Baskoro? Maaf Saya baru sempat menjenguk lagi sekarang." Nick menyapa mertua dari Kakak Iparnya.


"Tidak apa Nick, Alhamdulillah hari ini sudah diperbolehkan pulang." Terlihat bahagia di raut Pak Baskoro.


"Alhamdulillah. Kami senang mendengarnya. Semoga semakin sehat dan cepat pulih." Nick menyemangati.


"Ya, Insha Allah Aku akan semangat, apalagi melihat Dira dan Salman tentu sebagai orang tua Aku ingin lekas bisa berjalan kembali, agar kelak bisa main sama Cucu." Tawa Pak Baskoro membuat semua yang disana ikut tertular terkecuali yang namanya disebut malah terlihat kikuk salah tingkah.


"Kalian dari rumah?" Bunda Amelia kini yang berbicara.


Nick dan Khalisa saling tatap hingga Nich akhirnya memulai percakapan.


"Khalisa, Masya Allah. Selamat ya. Dira seneng banget dengernya." Dira memeluk Khalisa ikut merasakan kebahagiaan yang kini Khalisa dan Nick rasakan.


"Selamat Sayang, semoga lancar, sehat-sehat Ibu dan bayinya. Lancar pula hingga persalinan nanti." Bunda Amelia gantian kini memeluk Khalisa turut bahagia mendengar kabar tersebut.


"Dek, selamat ya. Semoga sehat selalu Ibu dan calon keponakan Om. Buat Daddynya jangan nakal-nakal." Ustadz Salman memeluk Adik tersayangnya sambil menggoda Nick.


"Wah senang sekali, pasti Abdullah sangat bahagia akan memiliki Cucu. Semoga Akupun akan menular. Sehat-sehat untuk ibu dan bayinya. Nick, Kau harus jaga betul istri dan anakmu." Pesan Pak Baskoro.


"Aamiin." Jawab kompak Khalisa dan Nick.


Sementara Bunda Amelia didalam ruang rawat sedang membantu Pak Baskoro berganti baju bersiap pulang, karena memang sudah diperkenankan oleh Dokter hanya tinggal melakukan rawat jalan terapi rutin melatih kaki agar kembali bisa berjalan seperti sedia kala.


Dan tak afdol rasanya bila double couple yang kini sedang ada di koridor RS tidak saling bersenda gurau.

__ADS_1


"Jadi bagaimana Kakak Ipar, apakah sudah berhasil mencetak gol?" Nick menggoda Ustadz Salman menyenggol lengan dengan tatapan keponya.


"Dira, apakah Kamu sudah coba kado yang Aku berikan? Bagaimana pasti Kakakku suka kan?" Tak kalah dengan sang Suami Khalisa melihat wajah merah Dira iseng ingin ikut menggoda.


"Kalian ini memang Adik yang jahil sekali, jangan buat Kakakmu ini makin penasaran." Kali ini seperti menceburkan diri dalam lubang yang salah.


Tentu saja Nick dan Khalisa penasaran dengan maksud Ustadz Salman.


"Jangan bilang, Kakak Ipar belum," Nick tak melanjutkan ucapannya.


Mendengar kata-kata Nick kedua pengantin dadakan itu dibuat malu.


Tanpa aba-aba, Khalisa membawa Dira menepi jauh dari kedua para pria itu.


Seakan gayung bersambut, kini Nick kembali tanpa malu menanyakannya pada Kakak Ipar rasa sahabat baginya.


"Jadi benar Kakak Ipar belum Cetak Gol?" Wajah kepo Nick terlibat sekali membuat Ustadz Salman geleng kepala akan kelakuan Adik Iparnya.


"Mana bisa, aksesnya sedang perboden!" Polosnya Ustadz Salman malah dijawab jujur membuat Nick semakin semangat.


"Maaf, Kakak Iparku Sayang. Aku tidak maksud meledek. Ah tenang Kakak Ipar. Justru ini bagus." Nick memang lebih pengalaman dalam dunia peranjangan maklum mantan duda.


"Bagus apanya?" Ustadz Salman membolakan mata tak paham maksud Nick.


"Kakak Iparku lucu sekali, jadi makin gemes! Begini, maksudnya setelah si tamu yang sekarang berkunjung sudah pulang nanti saat itu Kakak Iparku kan sedang masa subur, jadi sangat tepat waktunya untuk Kakak Iparku yang tampan ini mencetak gol. Aku doakan agar tokcer dan membuahkan hasil." Nick menepuk bahu menyemangati.


Di sisi Khalisa dan Dira tampak terjadi perbincangan yang tak kalah menarik.


"Ya Allah. Kasihan sekali Kakakku. Tapi gapapa Dira. Justru bagus, Setelah haid, kita akan memiliki masa subur, semoga Allah segerakan kalian memiliki keturunan." Khalisa tak seperti suaminya yang bar bar bila berurusan dengan peranjangan.


"Aamiin. Tapi Ca serius kado yang Kamu kasih ke Aku. Aku harus pakai baju seperti saringan tahu begitu?" Dira terbayang kado pemberian Adik Iparnya.


"Ya dipakai Dira, itu untuk menyenangkan suami. Pahala loh! Dijamin Kakakku pasti sangat senang Kamu pakai baju itu." Khalisa mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


Disaat bersamaan kedua couple itu saling melihat dan tentu saja Nick tersenyum pada Khalisa begitupun sebaliknya, sedangkan pasangan Dira dan Ustadz Salman malah terlihat senyum canggung teringat petuah-petuah dari Adik Ipar mereka masing-masing.


__ADS_2