JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN

JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN
Tak Terduga


__ADS_3

Kanaya tampak sibuk didapur kecilnya. Memasak air hangat untuk membuat teh manis dan memasak nasi goreng.


Dira masih terlelap dengan nyaman dalam mimpi di kamar Kanaya.


Semalam Dira menginap dirumah kontrakan Kanaya karena ia belum membereskan kontrakannya.


Mencium wangi masakan Kanaya, Dira terbangun dari buaian mimpi.


Aroma sedap dari arah dapur Kanaya, membuat Dira merasakan perutnya keroncongan.


"Pagi Mbak masak apa? Enak banget wanginya." Dira yang menghampiri Kanaya dengan muka bantal masih menguap sambil meregangkan tubuhnya.


"Kebangun ya? Maaf ya. Aku bikin nasi goreng buat sarapan sama teh hangat. Kamu mau langsung makan atau mau mandi dulu?"


"Duh aku ga sabar Mbak, gapapa ya kalo aku makan dulu?"


"Ya gapapa kalau sudah laper Dir. Yuk makan." Ajak Kanaya.


"Duh aku jadi enak nih, nginap disini dapet sarapan gratis pula."


"Cuma nasi goreng aja Dir. Udah ayo makan."


"Makasi ya Mbak."


Saat makan, tiba-tiba raut wajah Dira terlihat murung.


Tanpa sadar airmata Dira menetes.


Kanaya yang melihat tentu saja segera memberikan tissue kepada Dira.


"Duh, maaf Mbak." Dira mengambil tissue pemberian Kanaya mengusap airmatanya.


"Maaf ya Mbak aku jadi lebay gini." Dira memaksakan tersenyum namun seperti menyimpan kesedihan.


"Gapapa Dira, menangislah kalau buat kamu menjadi lebih tenang. Jangan ditahan."


"Aku jadi inget almarhum Mama Mbak. Dulu, Mama sering buatin aku sarapan dan nyiapin begini setiap hari. Jadi keinget aja Mbak. Apalagi dulu aku cuma tinggal berdua aja sama Mama."


Kanaya memang tak pernah menanyakan latar belakang keluarga Dira.


Dirapun baru kali ini membicarakan orang tuanya.


"Ayo sambil dimakan Ra," Kanaya mengusap lengan Dira.


Dira melanjutkan sarapan bersama Kanaya.


"Dir, kamu mau beli apa saja memang untuk keperluan kamu?"


Kanaya dan Dira sudah siap menemani Dira membeli perabot untuk mengisi rumah petaknya.


"Ya ga banyak sih Mbak, paling kasur, terus dispenser, sama nanti lihat disana aja."


"Kalau begitu saran aku sih mending kita ke pertokoan yang menyatu dengan pasar. Disana harganya lebih murah. Kalau beli di swalayan harganya mahal."

__ADS_1


"Kalau begitu kita kesitu aja Mbak. Sekalian aku mau lihat-lihat ada apa saja disana."


Kanaya dan Dira kini masuk ke dalam mobil Dira berangkat menuju pasar yang di maksud oleh Kanaya.


Kanaya bukan tipikal pribadi yang senang mencampuri urusan orang lain, meski dekat dengan Dira, Kanaya tak usil menanyakan soal pribadi Dira.


Kanaya akan mendengarkan jika Dira bercerita. Namun untuk ia bertanya persoalan pribadi Dira, Kanaya merasa tidak pantas.


Dira antusias membeli beberapa kebutuhannya dan barang-barang lain yang memang ia butuhkan.


"Kira-kira apalagi ya Mbak yang harus aku beli? Soalnya dulu kan waktu kos semua disediakan oleh pemilik kosan. Jadi ga ada pengalaman beli-beli ini itu."


"Segini dulu aja cukup Dir. Nanti kalau ada kurang sesuatu gampang kita kesini aja lagi."


"Oke deh kalau begitu. Mbak Naya udah siang juga nih, aku pingin makan bakso deh. Disini ada yang jual bakso ga?"


"Ada. Tapi kita jalan kesana dulu ya. Disitu baksonya menurutku lumayan enak. Yang makan ramai juga biasanya."


"Ayo Mbak kita kesana. Aku jadi ga sabar."


Setelah memesan Kanaya dan Dira menunggu sambil duduk di warung bakso selagi pesanan bakso keduanya disiapkan.


"Mbak aku ke depan dulu ya. Tadi aku lihat di depan ada warung, aku mau beli kerupuk."


"Iya disini Bapaknya ga sedia kerupuk sih."


"Mbak mau?"


"Tunggu bentar ya Mbak."


Dira bergegas keluar warung bakso menuju warung di seberang jalan yang ia lihat menjual kerupuk.


Saat akan menyebrang, Dira melihat seorang wanita kisaran 50 tahunan akan menyebrang jalan namun dari arah sebaliknya tampak sepeda motor melaju sangat kencang.


Dira dengan sigap langsung melindungi wanita tersebut.


Dira berlari dan menggapai tubuh wanita itu dalam pelukannya agar terhindar dari tabrakan sepeda motor.


Posisi Dira kini berada dijalan dengan memeluk wanita tersebut.


Dira berhasil menolong wanita itu tidak tertabrak meski ia yang kini terbaring di aspal.


Dira bangun, sambil membantu wanita tersebut berdiri.


"Nak, kamu gapapa? Ya Allah baju kamu kotor semua."


"Ibu ada yang luka ga?" Dira memeriksa dan memastikan wanita yang ia selamatkan dengan seksama.


"Ibu gapapa Nak. Kamu malah yang jadi jatuh. Nama kamu siapa Nak?"


"Dira Bu." Dira mencium tangan wanita tersebut.


"Nyonya  maaf kami sedang kebelakang. Nyonya tidak apa-apa? Maafkan kami Nyonya. Tuan pasti marah pada kami."

__ADS_1


2 orang laki-laki bertubuh tinggi kekar menghampiri wanita itu dari tampilannya kedua pria itu tampak seperti bodyguard.


"Saya tidak apa-apa. Kalian tidak perlu khawatir. Jangan kasih tahu Tuan. Saya tidak apa-apa."


"Nak Dira. Ibu terima kasih ya kamu sudah menyelamatkan ibu. Maafkan ibu, baju kamu jadi kotor dan ada yang rusak. Sekali lagi terima kasih ya Nak. Bener kamu gapapa? Perlu kerumah sakit?" Wanita itu memegang tangan Dira memastikan Dira takut ada yang terluka.


"Tidak apa-apa Bu. Dira baik-baik saja."


"Oh iya. Dira boleh ibu minta no telp kamu?"


"Boleh. Mari Dira ketikan nomor Dira."


Wanita itu memberikan ponselnya dan Dira mengetikan nomornya.


"Makasi ya Dira. Itu tadi nomor ibu. Kalau ada yang kamu rasakan, karena kejadian tadi kabari ibu. Sampai ketemu lagi ya. Sekali lagi terima kasih."


"Ibu hati-hati ya. Pak ibu jangan lupa dijagain. Jangan ditinggal sendirian!" Pesan Dira pada 2 bodygard  wanita itu.


Kanaya mendengar suara ramai-ramai.


"Pak ada apa?"


"Ada yang hampir ke tabrak. Sepertinya teman Mbak."


Tentu saja Kanaya langsung keluar memastikan.


"Dira, kamu gapapa? Kamu tadi hampir ketabrak? Ya Allah, mana yang luka? Baju kamu sampai kotor begini! Kita ke rumah sakit sekarang ya!"


Kanaya yang panik melihat Dira dengan baju dan celana jeans nya kotor.


Kanaya memutar badan Dira sambil memastikan ada luka atau tidak dibadan Dira.


"Mbak. Tenang dulu. Aku gapapa. Tadi yang hampir ketabrak bukan aku. Aku hanya nolongin. Udah. Kita lanjut ngebaksonya yuk."


"Tapi Dira, itu baju kamu kotor dan siku baju juga robek. Kita ke rumah sakit ya?" Kanaya masih panik.


"Mbak. Aku gapapa. Lagi pula ga ada yang luka. Cuma robek aja."


"Ya Allah Dira. Maaf ya, karena Mbak nyaranin ke pasar kamu jadi begini."


Kanaya yang merasa bersalah karena ia yang mengusulkan ke pasar.


"Ga gitu Mbak. Yuk ah kita ke warung bakso. Nanti baksonya keburu dingin."


Dira menggandeng Kanaya yang masih menatapnya khawatir.


Sementara disudut tersembunyi tampak seorang pria menelpon seseorang.


"Boss, Saya melihat Nona saat ini sedang ada di pasar."


"Ikuti terus. Cari tahu dimana sekarang dia tinggal. Ingat jangan sampai lolos!"


"Siap Boss!"

__ADS_1


__ADS_2