
Nick berulang kali menghubungi nomor HP Kanaya namun tak ada jawaban dan berakhir nomor yang Anda hubungi tidak aktif.
"Masa lupa mengecas lagi?"
Entah sejak pagi mood Nick jadi buruk memikirkan kemana Kanaya yang tak ada kabar.
Gusti paham betul kegundahan hati big boss terkillernya tanpa sepengetahuan sang boss Gusti mencari informasi lewat seorang informan yang biasa membantunya.
"Jadi dirumahnya mereka berdua tidak ada?"
Gusti mendengarkan penuturan informan yang mengatakan bahwa Dira terlebih dahulu tidak ada kemudian baru Kanaya.
Gusti juga menanyakan kepada pegawai lain apakah ada yang mendapatkan kabar dari Kanaya maupun Dira.
Nyatanya tak satupun yang tahu keberadaan keduanya.
Gusti melaporkan fakta yang baru saja ia temui kepada Nick.
Setelah melakukan kesepakatan Dira meminta agar ia meminta ikut membawa Kanaya sampai di rumah kontrakan mereka.
Dira juga ingin ia meninggalkan semuanya dalam keadaan normal tanpa ada kecurigaan apapun.
"Ingat Dira, kamu jangan coba-coba kabur atau lari dari Papa, karena Papa tidak akan segan melakukan hal gila lainnya."
"Aku bukan pengecut seperti mu tua bangka!"
Seorang pria baya dengan wajah dan tampilan gagah meski usianya tak lagi muda masuk sebuah rumah megah dan mewah.
"Bibi!"
"Dalem Tuan."
"Siapkan kamar dilantai atas, pilihkan semua perabot terbaik karena besok putri tunggalku akan tinggal disini."
"Mas sudah pulang. Apakah Indira sudah bersedia tinggal bersama kita?"
"Kau harus baik kepadanya. Dan satu lagi, aku mau kau urus putriku buat ia pantas menjadi putriku!"
"Aku senang jika Indira sudah mau tinggal disini bersama kita."
"Ya memang sudah seharusnya begitu, kau harus menganggapnya sebagai putrimu, karena kau tidak bisa punya anak!"
Betapa perih perasaan seorang istri yang berpuluh tahun mendampingi namun tak pernah sedikitpun dihargai karena ia tak bisa memberikan keturunan.
"Salman." Panggil Kyai Abdullah.
"Lusa tolong wakilkan Abah untuk bertemu klien kita Tuan Max di Singapura. Ingat kamu harus berhati-hati dengannya. Meski terdengar kabar ia pengusaha yang sering main kotor, namun kita tak boleh berprasangka buruk dahulu. Abah harap kamu bisa lebih waspada saja."
"Baik Bah. Abah tidak perlu khawatir, insha Allah Salman akan menanganinya."
"Oma, Omaaa." Caca memanggil Oma Marisa namun tak ia temui.
"Ada apa sih nyariin Oma?" Oma lagi di taman Sayang.
"Caca dari kemarin telpon Tante Naya, tapi kok nomornya ga aktif ya Oma?"
__ADS_1
"Bentar, Oma coba telp."
"Iya Sayang, nomornya ga aktif."
"Padahal Caca niatnya mau minta bantuan sama Tante Naya, soalnya Caca minggu besok ada ujian praktek story telling dalam bahasa mandarin."
"Kalau begitu bagaimana kita ke kantor Daddy saja. Siapa tahu Tante Naya hanya sedang sibuk jadi tidak bisa angkat telp."
"Tapi kalau Tante Naya sibuk Caca ga enak takut ganggu dong Oma?"
"Ya kan nanti bisa menunggu sampai Tante Nayanya ga sibuk. Gimana?"
"Telpon Daddy dulu saja Oma."
"Ga usah, kamu tahu kan Daddymu nanti ga dibolehin kalau kita bilang mau bertemu Tante Naya."
"Oh gitu ya Oma. Iya deh. Kalau gitu kita langsung ke kantor Daddy saja Oma."
"Ok. Let's Go!"
Meeting yang sedang berlangsung tidak membuat fokus Nick kembali.
Justru Nick tidak terlalu mendengarkan apa yang disampaikan para kepala divisi.
Untung saja Gusti yang melihat mengambil alih agar meeting tetap berjalan sesuai semestinya.
"Kenapa hanya karena tidak ada kabar mengenai keberadaan Kanaya aku jadi gelisah begini?"
"Bisa saja kan dia sengaja bolos sedang pacaran dengan mantan suaminya!"
"Ah! Menyebalkan! Membayangkannya saja membuat aku kesal!"
Nick beropini dalam benaknya yang terus memikirkan Kanaya.
"Assalamualaikum."
Nick yang tidak sadar meeting sudah selesai kini masih asik dengan pikirannya yang sedang berkelana.
"Boss, ada Nyonya Oma dan Nona Caca!"
Nick sadar ia melamun terlaku larut hingga saat ia melihat sekeliling ruang rapat sudah sepi tinggalah dia dan Gusti.
"Kau ini mau aku pecat! Kenapa haris teriak!"
"Habis si Boss sejak meeting ga fokus. Mikirin Bu Kanaya Boss?"
"Kau ini, pingin jadi pengangguran heuh!"
"Nick! Sedang apa kau disini? Kalian lebih cocok sebagai tom and jerry dibandingkan boss dan assisten."
"Daddy!"
"Sayang, kok kesini? Memang tidak ada les?"
Nick memangku putrinya mengecup pucuk kepala Caca dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Caca mau ketemu Tante Naya. Soalnya Caca ada tugas bahasa mandarin."
"Tante Naya? Kok ga telpon Daddy dulu?"
"Soalnya kata Oma,"
"Ah kamu ini Nick, sudah panggilkan saja Kanaya. Mom telp nomornya tidak aktif!"
"Kanaya hari tidak hadir. Dan tidak ada kabar mengapa ia tidak masuk kantor."
Gusti paham ada pembicaraan yang akan Nick bincangkan kepada Oma Marisa secara 4 mata.
"Nona, ikut Om Gusti yuk! Oh iya, di sekitar kantor ada gerai minuman yang ramai banget. Mau coba ga?"
"Boleh Om. Tapi izin dulu sama Daddy."
"Sayang, Daddy izinkan. Pergi ditemani Om Gusti ya."
"Makasi Daddy. Oma Caca ikut Om Gusti dulu ya."
"Ok. Dah Daddy, Dah Oma. Assalamualaikum."
"Jangan banyak-banyak ya Sayang makan ice creamnya. Nanti kamu demam!" Pesan Oma Marisa.
"Sip Oma!"
"Boss, Nyonya Oma Saya izin mengajak Nona Caca. Permisi!"
"Jaga putriku jangan sampai kenapa-kenapa! Awas kalau lecet, akan aku gantung kau di patung garuda wisnu kencana!"
"Ya Tuhan punya Boss sadis banget!" Gusti dalam hati.
"Siap Boss!"
Sepeninggal Gusti dan Caca tinggallah Oma Marisa dan Nick.
"Kanaya betul tidak masuk kantor Nick?"
"Iya Mom. Tidak ada keterangan pula."
"Kau gelisah ya?" Ledek Oma.
"Mana ada begitu! Aku cuma tidak habis pikir memang NCB punya bapak moyangnya bisa seenaknya tidak masuk kerja tanpa keterangan."
"Ya bukan punya Bapaknya sih, tapi punya calon suaminya!" Oma Marisa semakin meledek.
"Jangan ngaco Mom!"
"Oh siapa tahu Kanaya sedang menjenguk bu Fatma. Itu loh ibu panti yang merawatnya sejak kecil."
"Wait, Oma akan spik spik mau cari info ke bu Fatma."
"Jangan bikin orang lain ikut gelisah Mom, kalau Kanaya ada disana, kalau tidak bisa ikut cemas Bu Fatma memikirkan Kanaya!"
"Cie, katanya tadi ga gelisah tapi kok cemas amat sih! Bilang aja kamu khawatir kan pada Kanaya? Ah cinta itu namanya!"
__ADS_1
"Terserah Mom saja! Aku tak pernah menang jika berdebat dengan Mom!"
"Ya memang sebaiknya begitu Nick. Kau memang seharusnya dengarkan saja. Insting seorang ibu itu kuat Nick!"