
"Assalamualaikum." Oma Marisa, Khalisa dan Caca saat tiba diruang rawat RS tempat Pak Baskoro menjalani perawatan.
"Waalaikumsalam." Jawab Nyonya Amelia dan Dira.
"Jeng, Apa kabar? Bagaimana Kondisi Pak Baskoro? Maaf Saya baru menjenguk." Oma Marisa bercipika cipika cipiki saat berjumpa dengan Nyonya Amelia.
"Alhamdulillah sudah lebih baik. Sekarang sudah dpindahkan diruang rawat sebelumnya masih di ruang ICU. Saya terima kasih sekali Jeng Marisa sudah menyempatkan menjenguk kesini."
"Sayang, Dira, Selamat ya Sayang, Oma senang sekali dengar Kamu nikah dengan Nak Ustadz." Oma Marisa memeluk Dira memberikan ucapan selamat ikut merasakan kebahagiaan.
"Iya Oma. Maaf tidak mengabari. Terima kasih Oma." Dira kini merasakan kehangatan dari orang-orang sekitarnya begitu bahagia.
"Assalamualaikum." Ustadz Salman yang baru bergabung mengucap salam dan menyapa semuanya.
"Waalaikumsalam." Jawab semua yang ada disana.
"Nah ini dia pengantin barunya, selamat ya Nak Ustadz. Oma doakan semoga Kamu dan Dira selalu bahagia dan jadi keluarga yang bahagia. Ah senang sekali rasanya." Oma Marisa yang terlihat bahagia.
"Tante Dira dan Om Salman beneran sudah menikah? Selamat ya Tante, Om. Semoga bahagia selalu." Caca memeluk kedua Om dan Tantenya.
"Makasi Sayang." Dira balas memeluk Caca.
Tanpa sengaja baik Salman dan Dira yang kini akan memeluk Caca secara tak sengaja wajah keduanya kini dalam posisi sangat dekat.
"Jeng, boleh Saya masuk melihat Pak Baskoro?" Oma Marisa malah sengaja membiarkan posisi strategis bagi kedua pengantin baru.
"Mari Jeng Marisa." Bunda Amelia mengajak Oma Marisa dan Khalisa masuk ke ruang rawat Pak Baskoro.
"Bunda Caca mau masuk!" Caca mengikuti Khalisa meninggalkan Ustadz Salman dan Dira yang kikuk karena tak sengaja hampir saling memeluk saat keduanya akan memeluk Caca.
"Pa, ada Jeng Marisa dan Khalisa, dan ini Caca putri mereka." Nyonya Amelia memberitahu Baskoro kedatangan kerabatnya kini.
"Pak Baskoro bagaimana sudah enakan?" Oma Marisa bertegur sapa.
"Alhamdulillah sudah lebih baik. Terima kasih Nyonya Marisa sudah datang menjenguk Saya." Pak Baskoro bahagia ia kini di kelilingi orang-orang yang baik.
"Alhamdulillah. Semoga segera lekas sembuh biar bisa kembali berkumpul. Pasti menyenangkan ya Jeng Amelia kita suatu saat bisa berkumpul bersama-sama. Kita liburan bareng-bareng." Oma Marisa senang kini semakin bertambah kerabatnya.
__ADS_1
"Tuh Pa, semangat sembuh, nanti kita liburan bareng, pasti menyenangkan." Timpal Nyonya Amelia menyemangati suaminya.
"Ini anak cantik siapa namanya?" Pak Baskoro menatap sambil tersenyum kepada Caca.
Mendapat kode dari Oma dan Bundanya Caca mendekat brangkar Pak Baskoro mendekati dan salim.
"Aku Caca Opa. Opa semoga cepat sembuh ya. Nanti kalau sudah sembuh, Opa main ya kerumah Caca dan kerumah Eyang Abdullah. Opa minta diantar sama Tante Dira dan Om Salman."
"Pinter banget Kamu Nak, Daddy Nick pasti senang memiliki putri cantik dan pintar seperti Kamu. Makasi ya sudah mendoakan Opa." Pak Baskoro bahagia dan jadi ingin pula memiliki Cucu.
"Pak Baskoro, Kami pamit pulang dulu, Banyak istirahat Pak Baskoro, semiga lekas sembuh." Oma Marisa sengaja tak lama agar tak menggangu waktu istirahat pasien.
"Terima kasih Nyonya Marisa, Khalisa dan Caca. Aamiin."
"Pa, Aku keluar sebentar ya, sekalian ingin bilang agar Salman dan Dira pulang, mereka belum istirahat sejak kemarin."
"Iya. Ma."
"Sayang, Nak Salman. Ini ada hadiah kecil dari Oma untuk kalian." Oma Marisa menyerahkan sesuatu.
Baik Dira maupun Ustadz Salman saling melihat kemudian tak tahu apa yang diberikan oleh Oma Marisa.
"Wah, kalian bisa pakai hadiah dari Jeng Marisa setelah resepsi pernikahan kalian." Bunda Amelia kini angkat suara.
Dira dan Ustadz Salman kembali bingung.
"Bunda sudah bicara dengan Papa, Papa semangat sembuh, karena Papa ingin membuat resepsi untuk pernikahan kalian berdua. Sudah terima, itu rezeki kalian berdua dari Jeng Marisa." Bunda Amelia melihat wajah bimbang pengantin dadakan itu.
"Nah betul itu Dira, Salman. Kalian bisa pakai setelah resepsi. Ah senang sekali ya Jeng Amelia. Saya jadi inget masa-masa saat dulu dengan Daddynya Nick."
Kedua Oma-Oma itu kini malah cekikikan mungkin terbayang masa-masa saat mereka menjadi pengantin baru.
Khalisa sengaja mengalihkan Caca agar tak mendengar ucapan sang Oma yang bernuansa 21+.
"Dira, Salman. Kalian pulang saja dulu. Ganti sekarang Bunda yang jaga Papa. Kalian kan belum istirahat sejak kemarin. Papa juga kondisinya sudah baik. Kalian jangan khawatir." Bunda Amelia sedih melihat kedua pengantin baru yang malah malam pertama di RS menjaga Pak Baskoro.
"Oh iya Kak. Abah juga sudah berangkat. Kakak ajak Dira kerumah saja. Biar sekalian kenal lingkungan pesantren." Khalisa memberikan ruang bagi keduanya agar bisa quality time.
__ADS_1
Mendengar ucapan semuanya baik Dira dan Salman menjadi canggung.
"Duh, kalian ini bikin gemes. Oma jadi terbawa happy lihat pengantin baru ini!" Begitulah Oma Marisa yang terkadang bar bar sendiri.
"Bagaimana Dira?" Kini Ustadz Salman menanyakan pendapat Dira.
"Terserah Ustadz saja." Dira masih belum terbiasa.
Melihat interaksi Dira dan Salman membuat Oma Marisa, Nyonya Amelia, Khalisa tersenyum.
"Kakak Ipar, sudah ikut saja. Dijamin aman. Kak Salman baik kok!" Khalisa malah menggoda Dira yang wajahnya kini merona.
"Sayang, Jangan khawatir. Kalau ada apa-apa dengan Papa Bunda akan segera mengabari kalian. Lebih baik sekarang Kamu ikut Salman." Bunda Amelia merangkul putrinya.
"Nah, kalau gitu Kami pamit ya Jeng Amelia. Semoga Pak Baskoro segera sehat dan bisa pulang kerumah. Soal liburan bersama Saya ingin bisa terwujud. Pasti seru."
"Aamiin Jeng Marisa. Sekali lagi makasi ya. Jadi merepotkan. Iya Pasti akan seru sekali keluarga besar kita berkumpul."
"Kalau gitu Kami pamit ya. Dira, Salman kalian juga, jangan buang waktu. Harus sat set, biar cepat! Hahaha." Begitulah Oma Marisa dengan ceplas ceplosnya.
"Jeng Marisa ini, bikin dua anak ini jadi merona begitu. Tapi benar loh, kalian memang harus menikmati moment yang tertunda itu. Kelak akan jadi kenangan saat sudah tua. Benar kan Jeng Marisa?" kini Bunda Amelia tertular Oma Marisa jadi bar bar.
"Oma, Nyonya Amelia, jangan di goda terus, mereka sudah merona, malu sepertinya." Khalisa mengingatkan kedua Oma yang selalu menjurus.
Khalisa menuntun Dira mengajak sedikit menepi dari keramaian.
"Dir, ini ada hadiah dari Aku. Semoga Kamu suka. Kalau Kak Salman dijamin suka kalau Kamu pakai ini. Oh iya. Aku senang sekali sekarang kita jadi saudara. Aku percayakan Kak Salman denganmu. Aku yakin, kalian akan bahagia. Siapkan dirimu, jangan malu. Santai saja!" Khalisa membisikan kalimat terakhirnya di telinga Dira.
"Kok Aku curiga ya, isi kado Kamu. Ga aneh-aneh kan?" Dira menduga sepertinya ia paham apa yang diberikan Khalisa.
"Tidak aneh. Justru itu akan membuat suami lebih bahagia!" Khalisa menepuk bahu Dira.
"Aku pamit ya."
"Mari semua Kami pamit. Nak Salman semangat, pelan-pelan saja." Oma Marisa masih saja menggoda kedua pengantin dadakan itu.
"Assalamualaikum." Oma Marisa, Khalisa dan Caca pamit pulang.
__ADS_1
"Waalaikumsalam."