JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN

JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN
Ustadz Salman Menjenguk Caca


__ADS_3

Kembali ke kantor segudang pekerjaan telah menanti Kanaya.


Seperti saat ini Kanaya sedang dalam proses syuting tausyiah yang di pimpin oleh Ustadz Salman sebagai pengisi acara.


Saat sedang bekerja, Kanaya tanpa sadar terbawa oleh lamunannya saat kemarin ia dan Nick yang terpergok oleh Gusti dan Oma Marisa manakala ia menyuapi Nick apel.


"Kenapa harus jadi salah paham begitu sih! Mana si Boss marah-marah setelahnya."


Kanaya menepuk kepalanya tanpa sadar tingkahnya mencuri perhatian Ustadz Salman yang sejak tadi memperhatikannya.


Kanaya hari ini lebih sibuk karena Dira rekan sekantornya sedang cuti selama tiga hari kedepan.


"Mbak Kanaya!" Suara memanggil membuat Kanaya sadar dari lamunannya.


"Eh, maaf ada apa Ustadz." Kanaya sedikit gelagapan saat tersadar dan ia baru saja terbangun dari lamunannya.


Senyuman sehangat wedang jahe milik Ustadz Salman manakala melihat jawaban terbata Kanaya.


"Mbak Kanaya kenapa kepalanya?" Gerak tangan Ustadz Salman menirukan Kanaya saat memukul kepalanya.


"Ya Allah, kenapa aku begitu bodoh!" Batin Kanaya merutuki tingkahnya yang tanpa sadar.


Ekspresi wajah Ustadz Salman masih menyiratkan rasa penasarannya.


Dering ponsel Kanaya mengalihkan obrolan keduanya.


Terlihat nomor Oma Marisa memanggil di ponsel Kanaya.


"Sebentar Ustadz, Saya jawab telp dulu."


"Silahkan."


Kanaya sedikit menjauh dari tempat Ustadz Salman berdiri menjawab telponnya segera.


"Assalamualaikum. Ada apa Nyonya Oma?"


"Waalaikumsalam Nak Naya. Maaf mengganggu, lagi sibuk ya?"


Pertanyaan Oma Marisa rasanya bagai buah simalakama bagi Kanaya.


"Maaf jika sedang sibuk dan mengganggu waktunya. Tapi ini, Caca terus mencari Nak Naya. Hari ini Caca sudah boleh pulang dari RS. Caca minta makanan yang Nak Naya masak. Duh Oma jadi serba salah." Oma Marisa tampak bingung namun senang ia memiliki alasan agar Kanaya bisa kerumahnya.


Belum sempat Kanaya menjawab terdengar suara Caca yang kini sudah mengambil alih ponsel milik sang Oma.


"Assalamualaikum Tante Naya. Tante, Caca hari ini sudah boleh pulang loh dari RS. Caca mau makan masakan Tante. Tante Naya maukan kerumah Caca, masakin Caca makanan?"


Satu sisi Kanaya harus melanjutkan pekerjaannya. Meski syuting sudah selesai namun pekerjaan lain sudah menunggunya.


Kanaya juga bingung, harus menjawab apa atas permintaan ibu dan putri dari boss killernya.


Ditengah kebimbangan Kanaya terdengar suara bariton yang sangat Kanaya hapal kini memanggil namanya.

__ADS_1


"Halo."


Kanaya tentu terkejut. Kini suara berat dan ngebass milik Nick terdengar di telinga Kanaya.


"Assalamualaikum Boss."


"Waalaikumsalam. Kanaya, kamu datang ke rumah Saya. Nanti Gusti akan mengantar kamu. Soal pekerjaan Saya akan minta Gusti mengurusnya."


Belum sempat Kanaya menjawab telp sudah diputus.


"Astagfirullah. Ya sudah yang penting si Boss sudah memberikan izin."


Kanaya beristigfar mengelus dadanya seolah menenangkan amarah yang hendak keluar.


"Ada apa Mbak Kanaya?" Ustadz Salman bertanya saat Kanaya kembali keposisi sebelumnya dan tingkah Kanaya yang sedang menyabarkan diri terlihat oleh Ustadz Salman.


"Ah, tidak apa-apa Ustadz. Tadi Saya hanya diminta Caca untuk datang kerumah. Karena Caca sudah boleh pulang dari RS."


Tentu saja Ustadz Salman terkejut, terlebih sebelumnya Caca terlihat baik-baik saja saat mereka bertemu.


"Ya Allah, semoga Allah pulihkan seperti sedia kala. Iman, setelah ini apa jadwal Saya?" tanya Ustadz Salman pada asistennya.


"Tidak ada Ustadz. Meeting dengan pengusaha Dubai dicancel." Jelas Iman sambil melihat ipad yang berisi agenda Ustadz Salman.


"Mbak Kanaya mau kapan kesana?"


"Sekarang Ustadz. Karena Caca tadi minta dimasakan makanan oleh Saya."


"Kalau begitu kita bareng saja. Saya mau menjenguk Caca sekaligus mendoakannya."


"Oh iya tak apa. Selesaikan saja dulu. Saya tunggu di ruangan Saya ya."


Kini, Kanaya, Ustadz Salman, Iman dan sopir berada di mobil milik Ustadz Salman.


Iman yang duduk di sebelah sopir, tentu saja Kanaya kini duduk berdampingan dengan Ustadz Salman di posisi tengah.


Mobil berukuran besar dengan posisi 2 baris dengan kapastitas 6 penumpang tampak nyaman.


"Mbak Kanaya temani Saya ya, Saya mau membawa buah tangan untuk Caca. Iman, kamu juga ikut ya." Ustadz Salman melakukan itu agar Kanaya bisa membantunya memilihkan apa yang pantas dan disukai oleh Caca sedangkan keberadaan Iman agar tidak menimbulkan fitnah.


Kini Kanaya, Ustadz Salman, dan Iman mampir disebuah Mall hendak mencari buah tangan untuk Caca.


Setelah memilih buah dan membuat parcel, mereka juga mampir ke sebuah toko cake terkenal untuk membelinya.


"Mbak Kanaya, bantu pilihkan kira-kira Caca suka yang mana."


Kanaya tampak melihat cake yang terpajang disana.


Kemudian pilihan Kanaya jatuh pada Strawberry Cheese Cake. Kanaya ingat Caca senang dengan Strawberry.


"Sebentar Mbak Kanaya, kita mampir kesini dulu."

__ADS_1


Ustadz Salman berjalan memasuki sebuah store diikuti Iman dan Kanaya.


Kanaya memperhatikan sekeliling toko yang mereka datangi.


Terlihat toko tersebut menjual beragam segala yang berkaitan dengan perlengkapan ibadah kaum muslim.


Tentu saja Kanaya begitu senang ia sendiri baru pertama kali masuk ke toko ini.


"Saya mau memberikan ini pada Caca, semoga Caca suka."


Kanaya melihat Ustadz Salman tengah memegang sebuah benda bentuknya seperti mainan namun ada al quran dan iqro serta alat yang Kanaya kurang tahu apa sebenarnya.


"Ini Mushaf Maqamat for Kids Mmkids alquran pen Al qolam. Mudah-mudah Caca suka, apalagi Caca kemarin bilang ingin bisa belajar mengaji."


Kanaya lantas paham apa yang kini berada dalam genggaman tangan Ustadz Salman.


"Masya Allah Ustadz. Tentu Caca akan suka. Dan ini sangat bermanfaat." Kanaya kagum dengan cara Ustadz Salman memberikan hadiah.


Bukan hanya sekedar kesenangan namun syarat makna dan bernilai.


"Apa sudah cukup atau ada lagi yang perlu kita bawa Mbak Kanaya?"


"Saya rasa ini sudah cukup Ustadz."


"Alhamdulillah. Kalau begitu ayo kita lanjut."


Dalam perjalanan beberapa kali Ustadz Salman menerima telpon.


Bukan maksud menguping, namun Kanaya yang duduk disebelah Ustadz Salman mau tak mau mendengar percakapan Ustadz Salman dengan penelpon yang menghubunginya.


Kanaya semakin yakin tidak hanya sebagai seorang pendakwah, Ustadz Salman juga memang seorang pembisnis yang memiliki banyak kesibukan.


"Ustadz, kita sudah sampai." Iman memberi tahu bahwa mereka telah sampai di kediaman Nick.


"Mari Mbak Kanaya."


Ustadz Salman mempersilahkan Kanaya.


Ketiganya kini mengucap salam saat memasuki kediaman Nick.


Pelayan yang membawa mereka masuk menuju ruang ruang keluarga.


Namun Oma Marisa yang sudah tahu kedatangan tamu-tamunya meminta pelayanan agar ketiganya langsung masuk ke kamar Caca karena Caca memang harus istirahat.


"Assalamualaikum." Salam ketiganya saat di depan pintu kamar Caca yang terbuka.


"Waalaikumsalam." Jawab kompak yang di dalam.


"Tante Naya, Om Ustadz, eh Om Iman. Ayo masuk!" Binar wajah Caca bahagia melihat kedatangan ketiganya.


"Wah, ada Nak Ustadz. Terima kasih sudah datang menjenguk Caca. Iman juga. Naya maaf Oma merepotkan." Oma Marisa menyalami tamu-tamunya.

__ADS_1


Ustadz Salman menangkupkan kedua tangannya didada begitupun Iman.


"Assalamulaikum Tuan Nick." Ustadz Salman menyapa Nick dan memeluk serta menepuk punggung Nick.


__ADS_2