
"Nah Kita sudah sampai. Ayo turun." Nick mengajak anak dan istrinya saat sudah tiba di depan sebuah restoran mewah.
"Bagus Mas tempatnya. Unik juga bangunannya." Khalisa kagum dengan gaya restoran milik rekan bisnis suaminya.
"Ayo!" Nick menggandeng Caca dan Khalisa di kanan dan kirinya.
"Selamat datang Tuan Nick dan keluarga. Mari Saya perkenalkan dengan istri dan putra Saya." Tuan Alex mengajak Nick dan keluarga kesebuah ruang VVIP.
"Selamat datang Tuan Nick. Perkenalkan Saya Hania, istri Alex. Ini putra Kami. Sayang ayo salam dengan Om dan Tante. Ini siapa cantik sekali?" Sapa istri Tuan Alex pada Nick, Khalisa dan Caca.
"Oh iya perkenalkan ini istri Saya dan ini putri Saya." Nick memperkenalkannya.
"Salam kenal Om, Tante. Aku Caca." Caca mencium tangan pada Tuan Alex dan Hania, istri Tuan Alex.
Caca menatap anak laki-laki yang wajahnya seperti kulkas 2 pintu.
"Sayang, salaman dengan Caca." Hania tampak membujuk putranya yang setelah bersalaman dengan Nick dan Khalisa tidak salaman dengan Caca.
"Aku sudah kenal Mom."
"Loh, Kalian sudah kenal? Dimana?" tanya Tuan Alex.
"Sayang, Kamu sudah kenal dengan putra Om Alex?" Nick juga bertanya dengan Caca.
"Iya." Jawab Caca dan anak Tuan Alex bersamaan.
Tenti saja kedua orang tua saling bertatapan dan kembali menatap keduanya meminta penjelasan lebih lanjut.
"Dia teman sekelasku Papi, Mami." Martin menjawab.
Saat Nick menatap Caca, anggukan dari Caca menjawab kebingungan Nick dan Khalisa.
"Wah bagus kalau begitu. Ya sudah kalian sudah kenal rupanya." Hania tampak senang dengan kenyataan yang ada.
Sementara Martin asik saja dengan buku yang ia bawa.
Berbincang sambil berbicara soal pekerjaan dan basa basi membuat suasana kekeluargaan tampak terasa.
"Martin, ajak Caca main di taman. Caca ikut Martin ya." Hania meminta putranya bermain dengan Caca.
"Sayang, gapapa. Sana main." Nick memberikan izin.
Caca melihat pada Bundanya dan Khalisa memberikan anggukan meski ia tahu Caca tak senang.
__ADS_1
"Martin, ayo Nak!" Tuan Alex menegur putranya yang masih asik saja tak menghiraukan.
"Baik Pi. Ayo!" Martin bangkit dari kursinya dan mengajak Caca.
Caca tak enak hati, demi Daddynya ia menuruti.
Sepeninggal dua bocah sekolah dasar itu para orang tua kembali membahas soal pekerjaan sedangkan Khalisa dan Hania asik berbincang obrolan seputar perempuan.
"Hei, Kau itu sedang dikejar-kejar setan ya!" Caca protes pada Martin yang berjalan dengan cepat seakan malas dan sengaja.
"Kau saja yang lelet seperti siput!" Martin asal menjawab.
"Dasar kulkas 2 pintu!" Caca dengan asal mengatai Martin.
Martin berbalik menatap tajam pada Caca.
"Lihat saja, matamu seperti mau keluar! Menyebalkan!" Caca memilih naik ayunan yang ada di taman restoran.
"Dasar kekanakan sekali. Memang waktu playgroup Kau tidak pernah naik ayunan!" Martin mendumel melihat Caca asik sendiri menikmati ayunan.
"Kau saja yang aneh! Anak-anak seperti Kita itu waktunya bermain, Kau malah jadi kutu buku!" Caca semakin enteng meladeni sikap ketusnya Martin.
"Kalau tahu rekan bisnis Papi adalah Daddymu Aku tidak mau datang." Martin memilih duduk di atas ayunan sambil membaca bukunya.
"Sembarangan sekali mengataiku kulkas 2 pintu. Kata Mamiku Aku tampan!" Martin dengan bangga mengatakan apa yang setiap hari Maminya bilang padanya meski Martin sendiri pusing mendengar pujian Maminya yang lebay.
"Mamimu berbaik hati saja. Kasihan, masa anak sendiri dikatain kulkas 2 pintu!" Caca kembali menangkis ucapan Martin.
"Aku heran, Bundamu mengapa melahirkan anak bermulut tajam sepertimu!" Martin tak habis memancing emosi Caca.
Caca tentu tersinggung dengan ucapan Martin. Bukan soal kata-katanya, Caca teringat mendiang Mommy Aurel yang meninggal setelah melahirkannya.
Caca menatap tajam pada Martin.
"Kau sangat menyebalkan!" Caca menjnggalkan Martin yang tampak bingung.
"Loh kok dia seperti mau menangis. Matanya berkaca-kaca?" Martin bingung sendiri karena sebelumnya ia dan Caca masih saling serang.
"Bunda, Daddy Kita pulang yuk." Caca kini merajuk pada Nick dan Khalisa.
"Sayang, ada apa?" Khalisa melihat mata Caca yang berbeda.
"Tuan Alex dan Nyonya Hania. Sepertinya Caca sudah lelah. Seharian Kami pergi. Lain waktu Kami akan mengundang Kalian ke rumah Kami." Nick mengakhiri pertemuannya dengan Tuan Alex dan keluarga.
__ADS_1
"Baiklah Tuan Nick dan Nyonya Khalisa. Terima kasih sudah berkenan hadir memenuhi undangan Kami. Terima kasih juga atas undangan ketempat Kalian. Kami sangat senang sekali." Tuan Alex bersalaman pada Nick dan Khalisa bercipika cipiki dengan Hania.
Sedangkan Caca hanya salim pada Tuan Alex dan Nyonya Hania sedangkan dengan Martin melihatpun Caca enggan.
"Kalau begitu Kami permisi. Assalamualaikum." Nick pamit.
"Waalaikumsalam." Tuan Alex dan keluarga menjawab salam keluarga Nick.
Di dalam mobil Caca diam saja tak bersuara.
Tentu saja Nick merasa ada sesuatu yang tak beres namun memilih diam karena sudah di kode oleh Khalisa.
Sementara Tuan Alex memanggil putranya Martin.
"Martin Kamu apakah anak Om Nick?" Tuan Alex paham betul perangai Martin yang jutek dan kurang humble pada orang lain.
"Sayang, jawab Papi. Kamu kenapa tadi dengan Caca?" Hania menanyai dengan lembut putranya yang asik saja membaca bukunya.
"Aku tidak melakukan apa-apa. Dia saja yang mudah tersinggung!" Martin merasa disalahkan sementara ia merasa tak ada yang salah dengan kata-katanya.
"Martin dengar Papi. Kamu kelak akan menjadi pewaris Papi satu-satunya. Papi senang Kamu pintar, cerdas. Tapi Papi lebih senang jika Kamu lebih mampu bersikap dalam menghadapi dan menghargai orang lain. Papi dan Mami tidak mau Kamu bersikap arogan!" Tuan Alex meninggikan suaranya.
Martin memilih meninggalkan kedua orang tuanya.
"Sayang, biar Aku yang bicara dan memberi pengertian kepada Martin. Kamu jangan emosi." Hania mengusap punggung suaminya yang sering tersulit emosi akibat sikap Martin putra mereka.
"Assalamualaikum." Nick, Khalisa dan Caca memasuki rumah memberi salam.
"Waalaikumsalam." Oma Marisa menyambut anak, menantu dan cucunya.
"Daddy, Bunda, Oma, Caca langsung ke kamar dulu ya." Setelah salim pada Oma Marisa ia langsung pamit ke kamar.
"Tidak biasanya Caca kalem begitu." Oma Marisa mengikuti langkah Caca dengan ekor matanya keheranan.
"Iya Mom, Khalisa susul Caca dulu ya Mom." Khalisa akan menyusul putrinya berbicara dari hati ke hati.
"Mom, Nick ke kamar ya, mau istirahat." Pamit Nick pada Oma Marisa.
Oma Marisa mengangguk dan menepuk lengan putranya.
Sementara Martin di kamarnya bertanya-tanya dalam hati mengapa Caca terlihat marah dan akan menangis.
"Aku akan tanya besok di sekolah!" Martin merebahkan dirinya di ranjang sambil kembali membaca buku.
__ADS_1