JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN

JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN
Gengsi


__ADS_3

Nick duduk di singgasananya sementara 2 tersangka yang tak lain Kanaya dan Kepala Divisi Program tampak duduk dengan wajah tertunduk.


Sementara Gusti berada di belakang Big Boss nya siap sedia jika diperlukan.


"Kalian tahu apa salah kalian?" Nick ngaitkan jemarinya satu sama lain memajukan tubuhnya memberi tatapan mengintimidasi kedua pegawai NBC dihadapannya.


"Tuan Nick, maaf ini murni kesalahan Saya yang tidak lapor kepada Boss. Kanaya dalam hal ini tidak salah. Karena Saya meminta Kanaya karena MC yang biasa tidak dapat hadir karena suaminya meninggal dunia."


"Boss, maaf jika Boss menganggap kami lancang dengan pengambilan keputusan tanpa memberi tahukan dulu kepada Boss, namun Kepala Divisi mengambil keputusan tersebut mengingat kejadiannya terjadi secara mendadak. Kami baru dikabarkan bahwa MC tidak bisa hadir syuting 1 jam sebelum syuting dimulai." Kanaya angkat bicara ia merasa tak enak jika semua kesalahan dilimpahkan kepada Kepala Divisi.


Sebetulnya jauh di lubuk hati Nick ia tak masalah mengenai siapa dan apa penyebab digantikan MC tersebut.


Nick sendiri seolah menyadari kalau reaksinya berlebihan.


Tapi readers tahu dong kalau Boss Nick gengsinya setinggi gunung dan seluas samudera hindia.


Pantang bagi Nick mencabut keputusannya.


Kemarahan Nick terjadi manakala ia melihat Kanaya dan Ustadz Salman begitu serasi dan terlihat kompak saat bekerja bersama.


Terlebih tanggapan sutradara hingga crew yang bertugas disana mengatakan keduanya terlihat pasangan serasi dan sweet.


Terkadang hati sering tak tahu diri memilih jatuh hati tanpa permisi.


Itulah yang Nick rasakan kini.


Ada marah yang ia rasakan, meski sadar tak pantas karena siapa dirinya kini.


Namun bukan Boss Nick namanya kalau tak merusuh demi melampiaskan kekesalan dihatinya.


"Tetap saja, tindakan ini tidak dibenarkan. Seharusnya konsultasikan dulu. Ini menyangkut rating acara. Program Ustadz Salman memiliki rating bagus. Jangan sampai keputusan ceroboh yang diambil membuat rating turun."


Iya kan saja ya readers, ngelawan orang yang sedang panas hati ga bakal menang, kalo hati kebakar cuma bisa dipadamkan dengan air cinta. Eh, maaf Babang Nick, Author suka kepo. Piss dulu lah!


Tok, Tok, Tok!"


"Saya keluar dulu Boss. Siapa yang datang." Gusti berinisiatif membuka pintu karena tak ada telp yang mengabarkan ada tamu yang akan datang.


"Assalamualaikum. Apakah Saya mengganggu? Bolehkah Saya ikut berbicara?"


Kedatangan Ustadz Salman diantara ketiganya membuat situasi terasa semakin memanas.


Jangan tanya bagaimana raut wajah Nick yang menahan kesal sekaligus tetap mempertahankan citra diri.


"Ustadz maaf kami sedang berbicara secara internal. Ini tidak ada kaitannya dengan Ustadz." Nick dengan maksud tersirat ingin Ustadz Salman keluar.


"Tentu jika ini soal program tausyiah, Saya ikut terlibat didalamnya. Izinkan Saya menyampaikan pendapat Saya."

__ADS_1


Nick yang tak mau dianggap tak profesional di depan rival cintanya, ups, bukan rival kerja maksudnya, maaf author sering salah, maklum udah emak-emak jadi gitu. Piss lah Babang Nick.


"Silahkan." Nick mempersilahkan Ustadz Salman menyampaikan pendapatnya.


"Saya pribadi tidak merasa keberatan dengan pergantian MC saat syuting tadi. Sepanjang proses yang kami berdua jalani, Alhamdulillah berjalan dengan lancar. Saya memahami kekhawatiran Tuan Nick mengenai respon pemirsa yang berimbas pada naik turunnya rating acara. Bagaimana jika kita melihat dulu respon dari pemirsa, jika ratingnya tetap bagus maka tidak ada masalah, namun jika rating turun maka menjadi evaluasi bagi kita agar kedepannya memiliki rencana cadangan apabila hal seperti saat ini terjadi lagi."


Saran Ustadz Salman terdengar cukup bijak dan tak menyalahkan baik dari pihak pegawai maupun pihak pemilik NBC.


"Baik. Kita akan menunggu share rating dari divisi program. Maaf sudah membuat Ustadz Salman ikut terlibat dalam persoalan internal kami. Maaf atas ketidaknyamanan ini." Nick mengakui kesalahannya kepada Ustadz Salman.


"Tidak ada yang salah Tuan Nick, kita semua adalah bagian dalam program ini. Saya pribadi ikut bertanggung jawab atas keberhasilan program tausyiah kita."


"Kau bisa kembali ketempat." Perintah Nick pada Kepala Divisi program.


"Terima kasih Boss, terima kasih Ustadz Salman. Kalau begitu Saya permisi." Pamit kepala divisi kepada Nick dan Ustadz Salman.


Kanaya baru acara berucap namun Nick segera menahan.


"Untuk kamu Kanaya tetap disini."


"Ustadz Salman Saya rasa masalah ini sudah selesai. Maaf jika Ustadz ada keperkuan lain tidak apa silahkan." Nick terdengar mengusir Ustadz Salman meski begitu halus.


"Baiklah kalau begitu. Maaf jika kehadiran Saya sedikit lancang, namun tidak ada maksud apapun hanya sebagai bentuk rasa tanggung jawab." Ustadz Salman tanpa emosi ia berkata kepada Nick dengan santai dan tetap santun.


"Mbak Kanaya, terima kasih ya. Saya senang dan kagum bisa bekerjasama. Saya serius loh, Mbak Naya berbakat sebagai pembawa acara. Lain waktu Saya akan meminta bantuan Mbak sebagai MC jika Saya sedang mengisi tausyiah secara off air. Saya serius loh menawarkan ini, tolong dipertimbangkan tawaran saya Mbak Naya. Oh iya, Mbak Naya dapat titipan salam dari Abah Saya."


"Alhamdulillah. Terima kasih Mbak Naya. Kalau begitu sekalian saja Saya pamit. Tuan Nick, Saya permisi, Saya duluan ya Mbak Kanaya, Assalamualaikum."


Ustadz Salman menangkupkan tangannya di dada memberikan ucapan salam kepada semua yang ada diruangan Nick.


Nick yang sejak tadi kesal sampai keubun-ubun melihat interaksi Kanaya dengan Ustadz Salman tetap mampu mengontrol sikapnya mengantar Ustadz Salman dengan segaris senyuman di wajah.


Kepergian Ustadz Salman menyisakan Gusti, Nick dan Kanaya dalam ruang itu.


Nick kembali diam melanjutkan pekerjaannya melihat dokumen diatas meja, memeriksa dan menandatanganinya.


"Boss, Saya permisi." Gusti tampak paham keadaan membiarkan Boss nya berdua dengan Kanaya agar lebih leluasa berbicara.


Kanaya menjadi tak nyaman sepeninggal Gusti karena kini ia hanya berdua dengan Nick dalam ruangan sedangkan si Boss asik meneruskan pekerjaannya sementara ia dicuekin.


Nick meletakkan pulpennya, menutup dokumen terakhir yang ia tanda tangani.


Tatapan mata Nick terlihat teduh, tak ada sorot tajam seperti saat ia komplain mengenai pergantian MC.


"Ada apa Boss? Apakah ada yang salah?" Kanaya bingung tak ia kembali berbuat kesalahan terhadap pemilik NBC di hadapannya.


"Soal kemarin," Nick belum selesai berbicara Kanaya justru langsung meminta maaf panjang lebar sekaligus berjanji tak akan terulang kejadian seperti kemarin.

__ADS_1


Nick yang ucapannya belum tuntas namun sudah disela oleh penjelasan panjang lebar Kanaya melihat dengan antusias wanita yang begitu cantik dihadapannya.


"Boss sedang apa?" Kanaya yang selesai memberikan penjelasan melihat apa yang sedang dilakukan oleh Boss nya saat memasang sarung tangan karet dikedua tangannya.


Nick membuka laci meja kerjanya, mengeluarkan sebuah benda berbentuk seperti salep.


Kanaya masih belum paham dengan apa yang Nick lakukan.


Nick yang kini bangkit dari kursi kebesarannya dan duduk dimeja berhadapan tepat di depan Kanaya.


"Cepat berikan tanganmu!"


Kanaya yang masih kaget kini Nick duduk dimeja dengan Kanaya dikursi posisi Nick yang lebih tinggi membuat Kanaya sedikit menegakkan kepalanya.


Melihat Kanaya yang tak menuruti permintaannya, Nick menarik pelan tangan Kanaya.


Tentu saja Kanaya terkejut dan menarik lagi namun segera ditahan Nick.


"Maaf, aku hanya ingin mengobati luka ditanganmu."


Kanaya masih dibuat tak percaya dengan kata-kata manusia killer dihadapannya.


"Lihat, ini akan berbekas kalau tidak diberi salep. Sini aku contohkan. Nanti kamu rutin pakai. Agar lukamu tak meninggalkan bekas."


Nick dengan telaten mengolesi bekas luka memar ditangan Kanaya sementara Kanaya terus menatap dan memastikan apakah benar orang yang dihadapannya adalah Nicholas Bryan, Boss Killer sedingin kulkas 2 pintu.


"Ambil ini, pakai secara rutin agar tidak berbekas lukamu."


Nick memberikan salep ditangan Kanaya sambil kedua netranya mebikmati wanita yang hari ini menggunakan polesan diwajahnya.


Kanaya sadar Nick memperhatikannya segera menunduk, entah ada rasa panas dikedua pipinya.


"Assalamualaikum. Daddy, Nick!"


Meski salam diucapkan namun tak menunggu jawaban pintu ruang kerja Nick yang tak dikunci Gusti saat keluar kini terbuka.


"Ups, Sorry Nick, Mom tidak tahu, kalau kalian sedang sibuk! Daddymu sedang sibuk Sayang, sebaiknya kita pulang saja." Oma Marisa dan Caca kini berdiri didepan pintu ruangan Nick terkejut dengan posisi Nick dan Kanaya yang membuat Oma Marisa berpikir ambigu.


"Saya akan keluar Nyonya Oma, Silahkan." Kanaya langsung berdiri namun ia lupa dihadapannya Nick yang duduk di meja tentu saja terbentur oleh dirinya yang secara tiba-tiba bangkit."


"Aow!" Dagu Nick terbentuk pucuk kepala Kanaya sementara Kanaya yang limbung hendak terjatuh namun tertahan oleh tangan kiri Nick menahan pinggang Kanaya.


"Ups, adegan 17+, kamu belum boleh lihat ya Sayang!" Oma Marisa reflek menutup mata Caca.


Kanaya semakin salah tingkah, kesal karena Oma Marisa jadi salah paham.


Kanaya dan Nick segera melepaskan diri menjauh, sungguh suasana yang tidak terhindarkan membuat canggung keduanya.

__ADS_1


__ADS_2