
Gusti membawa Nick dengan susah payah membopongnya ke Rumah Sakit.
Gusti segera melarikan Nick ke IGD.
Nick mabuk berat hingga ia tak sadarkan diri.
Sebelumnya ia muntah-muntah sebelum akhirnya pingsan.
Namun sebelum pingsan Nick masih sempat-sempatnya memarahi Gusti yang dianggapnya mengikuti dirinya.
Bukannya Gusti tidak mencegah Nick saat mabuk, namun bukannya berhenti Nick malah semakin menjadi.
Gusti sempat didorong oleh Nick hingga akhirnya Gusti mengalah dan memantau saja dari meja lain.
Hingga akhirnya Nick muntah Gusti kembali mendekat dan masih saja tangan Gusti di tepis Nick.
Tak lama Nick pingsan tak sadarkan diri.
"Keluarga Bapak Nick?" Dokter jaga IGD memanggil.
"Bagaimana keadaan boss Saya Dok?" Gusti khawatir karena sepanjang ia bekerja dengan Nick baru kali ini ia melihat boss nya seperti ini.
"Pak Nick harus kami rawat inap, karena kondisinya yang tak sadarkan diri dan lemah membutuhkan penanganan dan pengawasan. Kami juga telah membersihkan pencernaannya agar alkohol yang ada tidak semakin memperparah gerd yang dialami Pasien." Begitulah penjelasan dokter terkait kondisi Nick.
Gusti segera menghubungi Oma Marisa.
"Malam. Nyonya Oma. Maaf Saya baru mengabarkan. Tuan Nick saat ini sedang ada di RS. Karena pencernaannya tidak kuat dengan alkohol memicu gerdnya kambuh.
"Ya Allah Nick. Gus, tolong Oma jaga Nich, Oma malam ini tidak bisa kesana karena Caca sudah tidur. Besok Oma baru ke RS setelah antar Caca sekolah." Oma Marisa tentu saja bingung bagaimana Nick bisa begitu ceroboh membahayakan dirinya sendiri.
"Nyonya Oma tidak perlu khawatir. Saya akan menjaga Boss." Gusti dengan kesungguhannya.
"Sekali lagi terima kasih ya Gus. Oma titip Nick."
"Sama-sama Nyonya Oma."
Gusti mengakhiri panggilan telponnya dengan Oma Marisa dan kembali menjaga Nick yang belum sadarkan diri.
"Boss, kalau cinta itu ngomong, kenapa harus menyiksa diri sendiri." Gusti iba dengan kondisi Nick saat ini.
Malam panjang telah berlalu menyingkirkan gelap menjadikan kemarin menjadi masa lalu.
__ADS_1
Nick membuka bola matanya.
Kepala Nick terasa pusing, berat dan tak enak rasanya.
Nick menatap sekeliling dan mengerti kini ia berada di rumah sakit.
Nick merasa perutnya sakit, ulu hatinya begitu ngilu, saat Nick akan bangun ulu hatinya begitu berdenyut hebat.
Nick melihat Gusti di samping brangkarnya tertidur sambil duduk disisi Nick.
"Huh, aku sering menyusahkanmu Gus! Kamu pegawaiku yang sangat perhatian. Meski sering kali aku kasar dan memperlakukanmu seenak hati, tapi kau paling kuat dan loyal!" Gumam Nick melihat Gusti dengan tangan bersidekap saat tertidur.
"Gus! Gusti! Bangun!" Nick menheraskan suaranya namun efeknya ulu hati da perutnya terasa sakit.
"Ehm,,, Boss! Sudah bangun! Bagaimana kondisi Boss! Apa yang terasa sakit?" Gusti yang sadar mendengar panggilan Bossnya langsung memberondong Nick banyak pertanyaan.
"Kau bisa tanya satu per satu tidak! Perutku sakit jika bergerak." Nick meringis merasakan ulu hatinya ngilu.
"Maaf Boss. Boss haus?" Gusti menawari minum.
"Iya aku haus, makanya aku memanggilmu Gus."
Gusti membantu Nick minum karena gerakan Nick masih sangat terbatas.
"Saya merasa pusing, kepala terasa berat, dan yang paling tidak enak perut dan ulu hati, bergerak sedikit terasa sangat sakit." Jelas Nick itupun menahan nyeri saat berbicara.
"Gerd yang Pak Nick alami sudah akut. Saya sebagai dokter meminta Pak Nick menghentikan mengkonsumsi alkohol. Karena lambung dan pencernaan Pak Nick tidak bisa lagi mentoleransi alkohol dan sejenisnya. Hari ini kita akan lakukan endoskopi. Apakah Pak Nick sudah makan?" tanya dokter.
"Belum Dok. Baru minum sedikit air putih." Nick menjawab.
"Bagus. Jadi kita sekarang juga bisa melakukan endoskopi selagi perut Bapak masih kosong. Suster tolong siapkan ruangan dan peralatan untuk endoskopi."
"Kalau begitu Pak Nick bersiap nanti perawat akan membawa keruangan untuk dilakukan endoskopi. Semoga hasilnya tidak mengkhawatirkan."
"Terima kasih dok." Jawab Nick.
Nick sudah melakukan endoskopi dan kini ia kembali ke ruang rawatnya masih dalam keadaan dalam pengaruh obat bius.
Gusti masih setia menunggu si Boss.
"Siang Gus."
__ADS_1
"Om Gusti!"
"Siang Nyonya Oma, Nona Caca. Sudah pulang sekolah?" Gusti menyambut ibu dan putri Nick.
Caca segera duduk dipangkuan Gusti. Caca terlihat sedih melihat Daddy Nick terbaring di brangkar.
"Nick masih dalam pengaruh obat bius ya?" Selama belum sampai ke RS Oma Marisa terus berkomunikasi dengan Gusti mengenai perkembangan Nick.
"Iya Nyonya Oma. Paling sebentar lagi Boss segera sadar."
"Daddy, Om Gusti Daddy sakit apa? Apa Daddy sakit karena Caca?" Wajah cantik bocah itu membuat Gusti tidak tega.
"Nona, Daddy sakit karena memang sedang sakit. Bukan karena Nona Caca. Lebih baik Nona Caca doakan Daddy ya, agar Daddy segera sembuh." Gusti mengusap pucuk kepala Caca.
Nick perlahan membuka matanya. Bulu mata lentik dan panjang milik Nick, mengerjap beberapa kali sebelum kelopak mata terbuka sepenuhnya.
"Daddy! Daddy sudah bangun Oma!" Caca bahagia saat melihat Nick membuka matanya.
Caca segera memeluk Nick namun pelukan Caca membuat ulu hati Nick tertekan dan Nick merasakan ngilu.
"Maafkan Caca Dad, perut Dad sakit? Yang mana Dad?" Caca sangat khawatir melihat Nick menahan nyeri hingga matanya menyipit.
Nick mengangguk dan tersenyum pada putrinya yang begitu cemas tampak di wajah mungil itu kekhawatiran.
"Nick," suara Oma Marisa mendekat pada brangkat di sisi Nick.
"Mom, maafkan aku membuat Mom dan semuanya khawatir juga repot." Nick sadar karena ulahnya semua orang jadi direpotkan.
"Gus, bawa Caca keluar. Caca Oma mau bicara dengan Daddy ya. Caca ikut Om Gusti dulu." Oma Marisa memberi pengertian kepada Caca cucunya.
Caca tahu jikalau Omanya sudah berbicara dengan nada seperti itu dan wajah serius tandanya Oma memang ingin berbincang dengan sang ayah.
"Nona Caca, yuk ikut Om Gusti, kita makan siang. Pasti Nona belum makan kan?" Ajak Gusti.
"Daddy Caca minta maaf kalau sikap Caca kemarin membuat Daddy jadi marah dan sakit seperti ini. Caca janji Caca tidak akan meminta Tante Naya jadi Bunda Caca, Caca senang ko ada Daddy, Oma dan Om Gusti sama Caca. Bener kok Dad! Daddy cepat sembuhnya. I was worried when I heard you were sick, because I love you, Dad!" Caca kembali memeluk Nick.
Ada rasa hati di hati Nick, betapa ia sudah egois dengan tidak memikirkan hati banyak orang.
"Sayang, Daddy tidak sakit karena kamu, Daddy sakit karena tidak dengar nasihat Oma! You are the source of my happiness, so don't worry, Daddy will come back healthy. Ok?" Nick mengusap pucuk kepala Caca, mencium pipi putrinya kanan dan kiri.
"Promise?" Caca memberikan jari kelingkingnya pada Nick.
__ADS_1
"I'm promise baby!" Nick menautkan jari kelingkingnya pada Caca.