
" Jika kamu berbuat baik maka kamu berbuat baik pada dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu untuk dirimu sendiri."
(QS. Al-Isra :7)
*
Kini Alvin dan Bu Sari harus menerima segala perbuatan buruk yang mereka lakukan selama ini.
Terlebih dengan sikap dan segala hinaan Bu Sari pada Khalisa kini seakan semua berbalik kepada dirinya dan sang putra Alvin.
Tanpa perlu Nick sengaja membalas apa yang dilakukan mereka pada Khalisa nyatanya Alvin terseret pula dalam kasus Baskoro dan Max yang nyatanya mereka ada dalam kasus pencucian uang.
Max sendiri nyata nya masih dalam pengejaran karena berhasil kabur.
Sedangkan Baskoro kini sedang terbaring di RS dengan kondisi kritis berada dalam ruang ICU setelah menjadi sasaran tembak Max tepat didada Baskoro.
Sedangkan Alvin perusahaannya disegel dan disita oleh pihak Bank sebagai jaminan berikut juga aset dan harta benda mereka disita untuk melunasi hutang yang harus mereka tanggung terkait keterlibatannya dengan Max yang kini menjadi buronan interpol.
Hari berganti hari tak terasa acara pernikahan Khalisa dan Nick tinggal esok hari.
Khalisa juga sudah resign dari pekerjaannya, ia akan mengurus keluarganya, suami, anak dan mertuanya setelah menikah.
Meski Nick tak meminta Khalisa melakukan itu, tapi Khalisa menyadari jika ia memang harus merawat keluarganya karena memang tugas itama wanita sebagai seorang istri dan ibu adalah mengurus suami dan putra putrinya kelak.
Nick tidak akan melarang Khalisa bila ingin memiliki kegiatan atau bekerja sesuai dengan mintanya.
Nick memberikan kebebasan. Yang terpenting bagi Nick adalah kenyamanan Khalisa.
Kediaman Kyai Abdullah sudah tampak ramai sederet persiapan sudah dilakukan mengingat esok adalah hari ia akan menikahkan putrinya Khalisa Humairah.
__ADS_1
Khalisa dan Nick sepakat akad nikah akan dilaksanakan di kediaman Kyai Abdullah sedangkan resepsi akan diadakan di NBC Hotel.
Tentu pihak keluarga ikut membantu jalannya persiapan pernikahan Khalisa dan Nick esok hari.
Sejak pagi Nick dan keluarga sudah berada di lingkungan pesantren milik Kyai Abdullah.
Agar esok saat ijab kabul tak bisa segera dilaksanakan karena mempelai pria sudah berada di pesantren tak jauh dari kediaman Kiai Abdullah.
"Dek, kenapa melamun?" Ustadz Salman menghampiri Khalisa yang sedang berdiri di tengah kamarnya memandang sekeliling kamarnya yang sudah dihias layaknya kamar pengantin.
"Eh Kak, aku cuma ga percaya saja, Allah memberikan jodoh lagi untukku." Khalisa terkejut saat Salman menyapanya.
"Jodoh, rezeki dan maut adalah rahasia Allah SWT. Kita hanya bisa berusaha namun hasil akhirnya tetap kuasa Allah, seperti halnya esok adikku tersayang ini akan menjadi Nyonya Nicholas Bryan." Canda Salman.
"Kakak juga segeralah menikah. Abah juga sudah ingin melihat kakak memiliki pendamping. Bukankah disini banyak santri. Pasti salah satu ada dong yang buat kakak suka? Ayo cerita sama Caca Ka!" Kini gantian Khalisa yang menggoda Salman akan jodoh.
"Jika dia bukan seorang santri dan banyak hal yang mungkin saja menjadi keraguan bagi Abah untuk menjadikannya seorang menantu apakah masih boleh kakak berharap?" Mata Salman menerawang memikirkan sesuatu.
Khalisa juga tidak mau terlalu mencampuri persoalan pribadi Kakaknya.
"Kak, Abah itu memiliki pemikiran dan sikap yang bijaksana, Kakak tentu lebih mengenal Abah seperti apa. Memang sudah ada wanita yang membuat Kakakku yang ganteng ini gelisah hingga sering melamun?" Khalisa memberikan sarkasme karena memang ia beberapa kali mendapati Salman sedang termenung.
"Semoga saja Allah takdirkan bila memang ia jodohku maka akan datang dan Allah akan berikan jalannya, jika tidak kakak berharap akan ada jodoh yang terbaik menurut Allah bagi Kakak." Salman menggantungkan kata-katanya.
Di pesantren Nick dan keluarga sudah sampai. Mereka dipersilahkan dulu untuk beristirahat.
Oma Marisa melihat Nick seperti mencari sesuatu iseng menggoda putranya.
"Sabar duda, besok juga kamu akan puas melihat bidadari surgamu. Tapi sekarang Kamu lebih baik istirahat dan nanti kita menemui Kyai Abdullah dan Ustadz Salman." Oma Marisa mendorong Nick masuk ke dalam rumah yang disediakan untuk mereka.
__ADS_1
Saat malam, semua berkumpul hanya Khalisa yang tidak ada, karena memang dipingit. Sengaja agar tidak bertemu dulu dengan Nick.
Saat sedang duduk Nick seakan mencari-cari dimana keberadaan Khalisa banyak hilir mudik orang namun tak satupun Khalisa yang Nick lihat, semakin penasaran saja dan juga berdebar-debar rasa jantung hati Nick.
"Nick, cari siapa?" Sepertinya ada yang rindu berat Abah sama Khalisa?" Canda Ustadz Salman pada calon adik iparnya.
Kyai Abdullah hanya tersenyum melihat wajah malu Nick digoda oleh Ustadz Salman.
Ustadz Salman rasanya ingin kembali menggoda Nick bagai gayung bersambut, Caca yang sejak yadi ingin menemui Khalisa kini mengatakan ia ingin bertemu Bundanya.
"Eyang Caca kangen Bunda, boleh Caca menemui Bunda?" Caca langsung meminta izin dengan Kiai Abdullah.
"Boleh dong cucu Eyang yang cantik. Minta antar sama Om Salman ya." Kyai Abdullah mengusap lembut kepala Caca.
"Daddy Caca mau ketemu Bunda, Daddy mau titip salam ga?" Nanti Caca sampaikan pada Bunda." Caca tak ubahnya Oma Marisa ia senang sekali menggoda Daddynya saat ini.
"Sudah Ayo Oma juga mau bertemu calon menantu Oma, besok Daddy juga bertemu Bunda, jadi ga usah titip salam." Oma Marisa begitulah meski Nick putranya senang sekali menjadi bahan ledekan sang ibu.
Caca, Ustadz Salman dan Oma Marisa pergi meninggalkan Nick yang saat ini sedang berdua dengan Kiai Abdullah.
"Nak ada hal yang Abah ingin sampaikan kepadamu." Kyai Abdullah dengan mode serius meski wajahnya sangat adem dan teduh.
"Iya Abah, ada apa?" Nick menjawab.
"Abah betul-betul sedih dengan apa yang terjadi beberapa waktu lalu di butik. Sebagai orang tua tentu Abah kesal, marah dan sedih putri Abah direndahkan seperti itu, Abah hanya titip kepada kamu agar selalu menjaga Khalisa, lindungi dia, jaga kehormatan dan harga dirinya, terlebih kelak kamu adalah suaminya, imam dalam rumah tangga kalian. Abah percaya kamu bisa menjalankan amanah Abah ini. Abah juga tidak dendam dengan apa yang telah dilakukan mantan suami dan ibu mertua Khalisa dulu. Cukup Allah yang memberikan teguran bagi mereka." dengan perlahan dan runtun Kyai Abdullah menyampaikan apa yang menjadi rasa dihatinya pada pria yang insha Allah esok akan menjadi imam Khalisa Humairah putri tercintanya.
"Abah, insha Allah Nick akan memegang sepenuh hati amanah yang Abah berikan kepada Nick, doakan Nick ya Abah agar bisa menjadi imam yang baik bagi Khalisa. Maaf atas segala kekurangan Nick dalam semuanya, Nick sadar ilmu yang Nick miliki masih jauh dari kata cukup." Nick memohon bimbingan lada calon Ayah mertuanya.
"Rumah tangga bagaikan sebuah perahu yang siap berlayar di luasnya samudra. Kamu sebagai nahkoda harus mampu menyeimbangkan kapalmu agar tak karam ditengah terpaan ombak yang kencang. Terkadang dalam rumah tangga ego muncul hingga membuat kalian saling menyalahkan. Bila saat itu terjadi maka satu hal gang perlu kamu ingat, ketika ijab qabul terucap maka segala baik dan buruk pasangan adalah hal yang harus kita terima dengan ikhlas dan lapang dada. Jadikan kekurangan pasangan kita sebagai sarana untuk kita berintrospeksi diri, kelebihan yang kalian miliki jadikan rasa syukur yang senantiasa Allah beri atas rahmat dan anugrahnya.
__ADS_1
"Insha Allah Nick akan selalu mengingat pesan Abah." Nick betul-betul menyimak kata demi kata wejangan dari Kyai Abdullah selaku calon Ayah mertuanya.