
Hari minggu rasanya menjadi hari bersantai bagi semua keluarga tak terkecuali Nick Family.
Khalisa baru saja menyusui Nabil dan Nadhif, kini kedua jagoan Nick itu sedang berjemur menikmati sinar hangat matahari pagi yang menyehatkan.
Tak absen Sang Kakak, Caca juga tampak antusias menemani adik kembarnya yang selalu membuat ia gemas.
Oma Marisa duduk sambil memandang 2 box bayi berisi kedua cucu tampannya tak henti senyum bahagia menyaksikan buah cinta Khalisa dan Nick yang kekenyangan selepas minum Asi dari sang Bunda.
"Masya Allah, anak-anak Daddy, Clarisa Aurora Bryan, Nabil Kaivan Bryan, Nadhif Kasyafani Bryan, kalian kesayangan Daddy." Nick mengelap keringatnya setelah ia selesai jogging di halaman belakang rumahnya.
"Jadi Bundanya ga kesayangan Daddy nih?" Khalisa mengambilkan air putih dan memberikannya kepada sang suami tercintanya.
"Sayang, Kamu itu bidadari surga Aku, jelas Aku menyayangimu sama seperti Sayangku kepada Mommy juga." mencari jawaban aman lebih baik daripada kembali mendapat protes dari sang Ibu, Oma Marisa.
"Nich, Khalisa, Mom bahagia sekali. Rasanya hidup Mom sangat sempurna. Punya cucu cantik dan tampan. Ah, kenapa Mom jadi melow begini." rasa haru bahagia hingga mata berkaca-kaca tak kuasa airmata kebahagiaan itu menetes di pipi wanita baya yang kini tak lagi muda meski masih cantik paripurna.
"Mom, Sehat selalu, dan panjang umur. Kami masih sangat membutuhkan Mom diantara Kami." Khalisa memeluk sang Ibu amertua mengusap pelan punggung wanita yang telah memberikannya surga dunia.
"Aamiin. Mom juga ingin selalu bisa mendampingi anak, menantu dan cucu-cucu Mom hingga melihat mereka dewasa bahkan menikah. Namun apakah usia Mom akan sampai hingga saat itu?" ada raut sendu dan parau terdengar dari suara Oma Marisa.
"Mom, Mom itu akan selalu sehat dan panjang umur. Kami semua selalu mendoakan kesehatan dan umur yang berkah bagi Mom." Nick kini memeluk cinta pertamanya yang menjadi madrasah pertama saat ia mengenal dunia.
"Oma, Caca dan Adik-adik sangat sayang pada Oma. Oma harus sehat dan melihat Kami tumbuh dewasa ya." Caca ikut memeluk sang Oma memnenamkan diri dalam dekapan sang nenek tercinta.
"Ah, pagi-pagi Oma sudah melow begini. Ga cocok sekali ya?" Oma Marisa menyusut airmatanya kembali tersenyum merasakan kebahagiaan yang selalu ia doakan agar tak pernah lekang oleh waktu.
Sementara di Kediaman Papa Baskoro, Dira dan Salman masih tinggal berpindah antara Kediaman Kyai Abdullah dan Papa Baskoro kini tengah menikmati sarapan bersama di akhir pekan.
"Dira, Salman. Ini." Papa Baskoro memberikan sebuah kunci kepada keduanya.
"Papa, ini,?"
__ADS_1
Sebuah kunci rumah diserahkan Papa Baskoro kepada Dira dan Salman.
"Sayang, Papa dan Bunda sengaja memberikan itu untuk Kamu. Bukan berarti Kami keberatan Kalian tonggal disini, namun Papa dan Mama hanya ingin berbagi rasa bahagia Kami atas kehamilan Kamu." Bunda Amelia menjelaskan saat melihat raut wajah Dira dan Salman yang bingung.
"Salman, Dira, anggap sebagai hadiah dari Kami. Adapun Kalian mau tinggal dimanapun Papa dan Bunda bebaskan saja. Kalian disini pun Papa dan Bunda senang. Apalagi nanti setelah triplet lahir, Papa sangat ingin sekali rumah ini akan semakin ramai tentunya." jelas Papa Baskoro.
"Benar itu Sayang, Bunda juga bersedia jika Kamu perbolehkan untuk menjaga Triplet. Bunda bahagia sekali, senang rasanya akan memiliki cucu apalagi triplet begini. Ah membayangkan saja Bunda gembira dan antusias sekali."
"Masya Allah, Papa, Bunda terima kasih. Sungguh Dira tak mengharapkan ini. Bagi Dira melihat Papa semakin sehat dan bajagia bersama Bunda sudah lebih dari cukup untuk Dira. Iya kan Kak?" Dira menoleh pada sang suami.
"Iya Pa, Bunda, Salman beryerima kasih atas apa yang Papa dan Bunda berikan. Semoga Papa selalu sehat dan Bunda juga. Sekali lagi semoga apa yang Papa dan Bunda berikan kepada Kami menjadi keberkahan dan rezeki untuk Kami."
"Sama-sama Nak. Ayo lanjutkan sarapannya. Oh ya Salman, Hari ini Papa mau ikut Kamu ke acara taklim, bolehkan?"
"Boleh dong Pa. Biar nanti Kita pergi saja bersama. Abah juga akan hadir disana." jelas Salman.
Sementara, Gusti yang Minggu ini bisa dengan nikmat bersantai karena tidak ada panggilan darurat dari si Boss memilih pagi hari mengisi dengan jogging disekitaran apartemennya.
Gusti menyelisik sekitar, siapa gerangan yang sudah membuat kepalanya dicium botol air mineral bekas.
"Maaf Mas! Saya ga sengaja! Tadi niatnya mau timpuk anjing yang bawa kabur sendal Saya."
Seorang wanita muda dengan rasa bersalah menghampiri Gusti dan meminta maaf.
"Mana anjingnya? Enak saja kepalaku ini bukan tong sampah! Kalau Saya gegar otak bagaimana!" Gusti memijat kepala bagian belakangnya yang berdenyut.
"Mas lebay banget! Ga sakit juga! Saya kan ga kenceng lemparnya!" wanita muda itu malah ngegas.
"Enak aja! Kamu ga rasain sih! Ini kepala Saya sakit! Benjol kayaknya!" Gusti menunjuk arah belakang kepalanya.
"Ya sudah, Mas maunya gimana? Ke Rumah Sakit?"
__ADS_1
"Ga usah!" Gusti malas memperpanjang memilih segera meninggalkan wanita itu.
"Dasar cowok aneh!"
Wanita muda itu pun berbalik arah melanjutkan lagi sesi joggingnya.
Gusti tak tahu ia akan melakukan apa dihari liburnya ini malah meraih ponsel yang tergeletak di meja apartemen dan menghubungi Iman.
"Man, sibuk ga?"
"Saya mau antar Ustadz Salman ada taklim. Ada apa Gus?" jawab Iman diseberang.
"Ah, Gapapa. Yasudah. Eh, bentar, Aku boleh ikut?"
Gusti sendiri tak mengerti kenapa ia malah mengajukan diri.
"Ya Kamu menyusul saja. Siapa saja boleh kok datang. Yakin?" Iman kini malah bertanya balik.
"Ya Aku sepi sendirian, lebih baik aku ikut Kamu saja. Ok. Share lock ya alamatnya."
Baru saja Gusti hendak meletakkan ponsel nyatanya si Boss seperti panas telinga menghubungi sang asisten setianya.
"Ya Boss?"Gusti menjawab panggilan Boss Besarnya.
"Kebetulan Boss, Saya juga tadi sudah minta share lock sama Iman. Ok Boss. Saya otw sekarang."
Rupanya Nick meminta Gusti mengantar mereka memenuhi ajakan Ustadz Salman dan Kyai Abdullah menghadiri taklim bersama.
Dengan rasa senang Gusti bergegas mandi dan bersiap menuju kediaman Boss Besar melaksanakan tugas sekaligus tempat yang akan ia kunjungi.
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." ( QS : At Tahrim Ayat 6).
__ADS_1
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma dalam sebuah majlis ilmu pernah berkata bahwa makna “jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” adalah lakukanlah ketaatan kepada Allah dan tinggalkan maksiat serta suruhlah mereka untuk berdzikir kepada Allah.